MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
S2 - BAB 8: ARIA GREY (5)


__ADS_3

Author triple up hari ini, soalnya udah 2 minggu engga up, hehe


Udah baca bab 6+7? Kalau belum baca gih biar paham sama bab ini


Cuss langsung baca aja(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)




Bahkan jika Leila dan Aria tidak bisa saling berkunjung mereka akan bisa bertemu di tempat yang tak terduga. Seperti bagaimana mereka bertemu didepan sebuah pohon tempat dimana Leila pernah singgah disini sebelum bertemu Noah.



"Leila!" Sapaan ceria khas Aria membuat Leila tersenyum tanpa sadar dan membalas lambaian tangan Aria.



"Sedang ada urusan disini?" Tanya Aria yang menyadari jika Leila tidak membawa keranjang yang berarti dia tidak sedang berbelanja.



"Hanya mencari udara segar."



"Di kota ini?"



Aria menatap heran bagaimana bisa Leila mencari udara segar di kota yang padat ini.



Mereka berdua terus mengobrol. Bahkan disaat seperti ini pun Aria masih mencoba mencari informasi dari Leila untuk mudah membunuh itu.



"Apa kau masih berkerja disana?"



"Ya, aku nyaman bekerja disana." Karena aku bisa bolos pergi ke Tanah Suci jika Ryuu memanggil.



"Aku lihat mansion disana sangat besar. Apa kau tidak tersesat?"



"Tidak, jika kau sudah terbiasa. Lagi pula aku juga sering mengantar si kem—, Tuan Muda ke kelas selanjutnya."



"Aku dengar disana seperti labirin. Aku jadi takut kesana."



"Tenang saja Aria. Kau tidak akan tersesat jika mudah mengingat semua sudut mansion."



"Memangnya sudut mansion ada apanya?"



"Ada... Hantunya hii~" Memainkan tangannya menakuti Aria.



"Jangan menakutiku!"



Leila hanya tersenyum karena tahu jika ketakutan terbesar Aria adalah hantu. Karena sering dikagetkan saat di reruntuhan kuno. Itu yang membuat Aria cukup kesal sekaligus trauma pergi kesana, tapi pada ekspedisi pertamanya itu dia sendirian dan seiring berkembang waktu dia akan bertemu teman seperjuangannya.



"Hehe, jika kau melihat lukisan Duke terdahulu terpanjang sepanjang lorong mata mereka akan mengikutimu." Aria mulai merinding membayangkan lukisan-lukisan tua itu. "Dan, saat kau mendengar helaan napas dibelakangmu. Jangan menoleh! Kalau kau menoleh maka kau dibawa pergi oleh mereka." Ucap Leila berhasil menakut-nakuti Aria.



Seseorang tiba-tiba menepuk bahu Leila dan berkata, "Jangan mulai lagi."



Itu suara milik Adrian yang terlihat memakai pakaian resminya karena harus mengganti ayahnya melapor ke istana.



"Ayolah, itu kenyataannya." Ucap Leila kesal memautkan bibirnya.



Adrian menatap datar Leila karena cerita itu juga benar, dan hantu itu adalah Leila sendiri yang lelah setelah kembali dari Tanah Suci.


__ADS_1


Adrian masih mengingat gadis di depannya ini orang yang sering mengirim Leila surat. Meskipun setiap surat yang datang selalu si kembar dan kadang juga Noah baca dulu, sebelum sampai ditangan si penerima.



"Selamat siang, Tuan Muda Adrian." Sapa Aria dengan ramah meskipun sangat berbeda dengan hatinya yang terus mengatakan sumpah serapah kepada iblis ini.



"... Ya." Jawab Adrian yang terdiam awalnya untuk menilai sejenak Aria.



Untuk seorang gadis yang sok akrab, dia masuk kategori gadis bodoh dilistnya.



Mengingat semua tamu undangan Aria sudah si kembar buat sadar diri akan derajat mereka, dengan membuat masalah disetiap daerah. Sepertinya contohnya membuat gosip yang beredar dengan fakta yang ada. Seperti jika keluarga dari Marques Goldroot itu bekerja sama dengan perdagangan anak.



Kemampuan dibidang sihir Adrian semakin meningkat setiap tahunnya. Bahkan Noah berkata jika anak-anak bisa selamat dari serangan bom mana yang dimana itu daya ledaknya hampir sama seperti bom nuklir.



"Kita bisa pergi sekarang." Ucap Adrian menatap Leila.



"LEILA! AYO CEPAT!" Seru Atlas yang berada di dalam kereta kuda tak mempedulikan volume suaranya yang menggema.



Leila hanya bisa tersenyum masam mendengarnya. "Seperti yang kau lihat. Aku harus pergi."



Leila berpamitan kepada Aria dan dengan Adrian yang menuntun Leila dengan merangkulnya. Melihat tindakan Tuan Muda D'Arcy membuat sebagian besar orang bertanya-tanya dan membuat spekulasi.



"Kau lihat itu."



"Bukankah dia pelayan ya?" Melihat dari pakaian yang Leila kenakan.



"Apa Tuan Muda D'Arcy jatuh cinta ke pelayannya sendiri?"




Leila yang mulai merasa tidak nyaman hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan semua orang. Adrian bahkan tak mempedulikannya dan melirik Aria dari sebelah matanya. Bisa Adrian rasakan aura pembunuh yang terpancar dari Nona muda itu. Bukan tertuju kepada Leila, tapi padanya.



Bahkan ketika Adrian hanya meliriknya sebentar saja. Aria hanya memberikan senyuman manisnya. Itu menjijikkan.



"Orang aneh." Batin Adrian yang mulai memikirkan bagaimana cara Leila bisa menjauh dari gadis ini tanpa membuatnya curiga.



Aria yang melihat tatapan Adrian yang masih sama seperti sebelum dia terlahir kembali. Ingin sekali dirinya mengambil belati yang tersembunyi dibalik rok berendanya dan mecungkil mata itu. Setelahnya Aria akan berlari menendang dada pria itu dan mengambil kembali belatinya. Kemudian menusuk bertubi-tubi dada iblis itu.



Bahkan dia berdoa selalu agar mereka bertiga ditempatkan jauh lebih buruk dari neraka.



Leila yang sudah berada di kereta kuda yang hanya ada dirinya dan si kembar kecuali Arden. Sepertinya Noah memberikan tugas baru untuk anak itu.



"Kenapa kau sangat lama tadi? Apa yang kau bicarakan memangnya?" Cetus Atlas yang kesal dan ingin tahu isi pembicaraan Aria yang dimana si kembar dan Noah memang punya maksud tersembunyi. Bahkan dalam suratnya Aria pernah bertanya mengenai mereka.



Atlas dan Adrian yang duduk di depan Leila membuat Leila berhasil menggerutu dalam hati karena selalu merasa diganggu saat berhubungan dengan Aria. Meskipun begitu apa yang mereka bicarakan itu obrolan biasa. Jadi, tidak ada yang perlu disembunyikan.



"Aria takut jika nantinya dia berkunjung akan tersesat."



Atlas melirik sekilas Adrian yang membuat si kembar tanpa sadar mengangguk bersamaan.



"Lalu? Aku dengar tentang hantu tadi." Ucap Atlas sekali lagi karena sebenarnya Atlas menguping pembicaraan mereka berdua.


__ADS_1


"Oh! Itu, kata Aria mansion sangat besar dan seperti labirin. Jadi, aku berkata disetiap sudut ada hantunya dan dia takut, hahaha."



Lebih tepatnya disetiap jalan di dalam mansion ada pilar yang terlihat sama dan yang membuat berbeda adalah pada pola karpet yang digunakan dan Leila tahu itu. Leila juga tidak bodoh memberikan informasi kepada seseorang bahkan jika itu Aria sekali pun. Leila senang bisa mengobrol dengan Aria, tapi bukan berarti dia akan mengatakan semua yang Aria tanyakan.



Leila menatap langit siang hari ini. Sama terangnya seperti warna netranya. "Aku tidak tahu apa yang dia mau sebenarnya, tapi sudah cukup bermainnya anak-anak."



Atlas dan Adrian hanya bisa tersenyum mendengarnya. Leila mereka tidak bodoh dan bukan wanita selalu baik hati. Jangan lupakan identitas tersembunyi Leila.





Seseorang yang bisa membuat kerajaan ini rata oleh tanah dalam sekejap ada di depan mereka dan sudah merawat mereka lebih satu dekade lamanya.



"Dan sepertinya—" Leila menyadari kemana Arden pergi sejak awal. "—Arden pergi untuk bermain lebih banyak, kan?"



"Seperti yang bisa diharapkan dari Leila kami." Ucap Atlas dengan bangga karena kekuatan sudah mencapai seperti yang ada dalam novel 'Sungai Emas Everuz'.



Leila melihat Adrian yang sepertinya adalah otak dari semua surat kabar bulan ini.



"Ayolah, anak-anak. Tidak bisakah kalian bertingkah seperti Tuan Muda yang baik-baik saja?" Leila sudah lelah harus membereskan masalah si kembar yang terkadang membuat kepalanya sakit.



Atlas menyilakan kedua tangannya kebelakang kepala dan berkata, "Apa enaknya hidup seperti itu? Lebih baik menjadi diri sendiri saja."



"Ya, tapi kalian juga harus mengerti batasan juga atau haruskan kita bermain lempar tangkap lagi." Ucap Leila tersenyum ramah yang membuat tubuh keduanya tersentak seketika.



Mendengar pernyataan itu sontak mereka berdua langsung menolak.



"Kenapa? Kan tidak sulit."



Ya, benar itu tidak sulit, tapi perasaan mual disaat Leila melempar mereka hingga menembus awan membuat mereka trauma.



"Tidak, kami akan menjadi anak baik." Ucap Adrian dan Atlas dengan suara lesuh dan aura suram. Bahkan perasaan mual tiba-tiba datang.



"Bagus! Ingat perkataan kalian hari ini dan jangan lupa beritahu Arden juga." Suara Aria yang terdengar ceria dengan senyuman manisnya membuat mereka berdua semakin takut.



"Baik, Leila."



Melihat mereka berdua menurut membuat Leila senang dan tak ambil pusing. Karena jika mereka berdua membuat onar Leila yang sakit kepala.



.



.



.



Aria... Kamu protagonis loh 🙃



Oke makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^



See you next chapter guy's 👋😽

__ADS_1


__ADS_2