MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
S2 - BAB 13: HARI PERBURUAN (2)


__ADS_3

Ding!


[DEWA KEMATIAN SEDANG MENGAWASI ANDA.]


Ya, Dewa gabut itu hari ini muncul.


"Leila."


Pemilik suara yang dulunya terdengar sangat ceria khas anak-anak perlahan berubah karena faktor pubertasnya. Leila yang terdiam sejenak tadi menatap Atlas yang sudah bekerja keras hari ini.


Leila mengelus surai semerah wine itu dan mengecup dahinya, "Tidurlah."


"... Malam, Leila."


"Selamat malam, kesatria kecilku."


Leila yang telah menata semua kamar si kembar dan sepertinya Noah tidak berperikemanusiaan kepadanya dan menyuruhnya untuk datang ke kamar malam-malam. Tentu saja Leila menolaknya, sudah cukup kehebohan tadi pagi, tidak untuk malam ini juga.


Lebih baik aku main ke Tanah Suci saja dari pada menjadi tukang pijat pria gagal move on itu.


Setelah berhasil menyelinap keluar Leila mendapati suara pria dari balik punggungnya. "Mau kemana kau malam-malam begini?"


Rindangnya pepohonan membuat wajah pria itu tidak terlihat jelas. Tapi, dalam penglihatan Leila, dia bisa mengenal siapa orang yang baru saja mengehentikannya.


Leila berbalik dan melihat pria yang memiliki warna netra yang langka itu.


"Calix."


Hembusan angin malam seakan berbisik membiarkan surai mereka yang tergerai begitu saja. Bisa Leila lihat raut wajahnya. Leila berinisiatif mengambil langkah mendekat dan membiarkan jarak diantara mereka berdua hanya tiga langkah saja. "Kau butuh istirahat."


Calix melirik kesamping, tak ingin melihat wajah Leila. Jujur saya apa yang dikatakan Leila sangat dia butuhkan.


"Aku dengar kau pendongeng yang handal." Suara lirih Calix masih bisa Leila dengar.


"Kata siapa?" Karena setahu Leila hanya para penghuni mansion D'Arcy yang tahu.


Sepertinya Calix tidak bisa menolak pesona wanita di depannya ini. "Angin yang berbisik barusan." Tersenyum diakhirnya berharap Leila terpesona olehnya juga.


Leila hanya diam dan membiarkan hembusan angin malam datang lagi. Bahkan dalam sikap diamnya saja ditambah dukungan angin malam saat ini. Pesona yang wanita itu miliki berhasil membuat Calix terpesona. Bahkan pesona yang Leila miliki membuatnya seakan membayangkan seorang malaikat yang turun dari langit malam membawa keberadaan yang sangat hangat seperti matahari dikala awal hari.


Ding!


[DEWA KEMATIAN RASA INGIN MENUSUK KEDUA MATA ANDA KARENA TERUS MENATAPNYA TANPA BERKEDIP.]


"Sial*n!"


"Hah?"


Apa yang baru saja Leila lakukan?


Dia baru saja mengumpati Raja ke-64 Everuz.


Ini semua salah si stalker itu!!!


Ding!

__ADS_1


[DEWA KEMATIAN MENYUKAI KEBODOHAN ANDA.]


Rasanya ingin sekali Leila cakar wajah si stalker itu.


Kenapa juga Leila kecepolasan dan mengumpati Calix.


"I-itu bukan kau. Itu, itu untuk orang yang dibelakangmu itu!" Gelagat Leila yang terlihat ketakutan adalah hiburan untuk Calix. Calix yang dengan percaya menoleh dan memperhatikan siapa orang yang Leila maksud.


Calix pikir Leila hanya tak ingin memperpanjang masalah ini, tapi nyatanya memang ada orang dibelakang mereka. Seorang gadis muda yang terlihat terdiam memperhatian mereka berdua dari jarak empat meter dari tempat mereka bedua berdiri.


Calix kembali menatap Leila yang masih menghibur sekali raut wajahnya. Tidak bisa menahan senyumannya, Calix mengambil langkah maju dan membisikkan sesuatu yang membuat Leila semakin malu, "Terima kasih untuk pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan, Leila."


Leila ingin berteriak.


Leila ingin mengubur wajahnya sekarang juga.


Semua laki-laki sama saja menyebalkan. Tidak Noah, Calix, bahkan yang lebih parah lagi penyebab masalah ini.


Ding!


[DEWA KEMATIAN RASA INI SEMUA KESALAHAN ANDA SENDIRI.]


DIAM KAU! INI SEMUA SALAHMU TITIK! HUWAAA, MAU TARUH DIMANA MUKAKU?!


Ding!


[DEWA KEMATIAN MENYARANKAN ANDA UNTUK DATANG BERKUNJUNG JIKA ANDA MERASA MALU UNTUK HIDUP LAGI.]


GA GITU JUGA!


Melihat wajah pasinya membuat Calix tidak bisa menahan kekehannya, dan kembali melirik dari balik bahunya gadis itu masih belum pergi juga. Cukup berani untuk seorang Nona muda yang mengintip mendengar pembicaraan Rajanya.


"... S-saya, tolong maafkan saya hina dan tidak sopan ini, Yang Mulia."


Saat gadis itu hendak berbalik pergi suara Calix yang tidak terdengar ramah bisa Leila dengar. Leila tidak merasa terintimidasi sama sekali, karena itu bukan tertuju padanya.


"Kapan aku mengizinkanmu pergi?"


Gadis itu yang sudah berbalik dan memunggi mereka semakin mengeratkan selendang yang tersampir dikedua bahunya. Tubuhnya yang gemetar hebat karena rasa takutnya lebih besar dari rasa dinginya malam membuat Leila menyentuh lengan Calix untuk berhenti.


Calix yang menyadari itu melihat Leila sejenak sebelum kembali menatap gadis itu.


"Pergi sebelum aku berubah pikiran."


"T-terima kasih, Yang Mulia. Saya undur diri, permisi."


Gadis itu dengan rasa takut yang masih terasa pergi dan diikuti Leila yang menyelinap pergi meninggalkannya.


Perkataan Noah kala itu sekarang membuatnya mengerti, "Leila pandai menyelinap pergi. Kau bahkan tak akan menyadarinya."


Sepertinya Calix harus memberikan hadiah kepada orang pertama yang berhasil menyelinap pergi dari hadapannya. Bahkan liontin permata bermuatan inti mana bahkan tak bisa mendeteksinya.


"Siapa kau sebenarnya, Leila?"


Ini semakin membuat Calix semakin penasaran dan ingin semakin dekat mengorek informasi pribadi tentang wanita itu. Bahkan dalam pencarian informasi yang dia dapatkan. Hanya meninggalkan jejak jika Leila berada di desa selatan, hidup di perbatasan Hutan Berkabut sebelum Noah menjemputnya. Terlalu sedikit informasi tidak Calix suka.

__ADS_1


Ding!


[DEWA KEMATIAN RASA ANDA BUTUH SUASANA BARU.]


Leila yang dalam sekali gerakan berpindah meninggalkan Calix bersama seorang gadis dan tak ingin mengganggu mereka berdua.


Diantara pepohonan yang rindang Leila berjalan menikmati suasana malam. Leila memasuki kawasan wilayah perburuan yang dimana tidak mungkin seseorang ada disini tengah malam.


Ding!


[DEWA KEMATIAN MULAI MERASA BOSAN DENGAN ANDA.]


"Kerja sono!"


Leila sudah muak dengan semua pesan masuk itu.


Ding!


[DEWA KEMATIAN MENGAJAK ANDA DALAM SEBUAH PERMAINAN.]


Oh, Tuhan. Jangan lagi.


[ILMU PENGETAHUAN ADALAH HARTA TERTINGGI.


KECERDIKAN ADALAH HAL YANG TAK SEMUA ORANG PUNYA.


DALAM HAL INI ANDA HARUS MENGHIBUR DEWA KEMATIAN.]


Jangan bilang—


[‼️SELAMAT‼️]


[DEWA KEMATIAN BARU SAJA MEMBERKATI ANDA.]


Aku harap ini sesuatu yang bagus.


['KAMI ADALAH DUA MATA KOIN YANG TIDAK BISA DILEPAS. BAHKAN DALAM MAUT SEKALIPUN, KAMI AKAN TETAP SALING TERHUBUNG.']


[ MENGINGINKAN SEBUAH HIBURAN SEKARANG.]


[ANDA AKAN DIPINDAHKAN SECARA PAKSA KE RUANG TAHTA TARTARUS.]


Perlu waktu sesaat sebelum Leila berteriak tidak terima yang membuat sebuah rumor mengatakan sebuah monster baru saja muncul dimalam hari pertama perayaan.


Permainan baru apa yang akan mereka berdua mainkan malam ini?


Dewa Kematian menginginkan sebuah kejutan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sedangkan Leila sendiri menginginkan kehidupan tenangnya yang damai lagi.


.


.


.


Hahahaha begadang tuh mereka berdua buat main

__ADS_1


Makasih banyak ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


See you next chapter guy's 👋😽


__ADS_2