
Ruangan yang begitu luas dengan meja yang berbentuk lingkaran yang disetiap sisinya ada tempatnya duduk untuk para pejabat kerajaan ini. Nuansa mewah dengan lambang kerajaan yang berada di atas kursi yang paling mencolok dari yang lain.
Pintu terbuka lebar dengan menampilkan penampilan pria bernetra amethyst dengan wibawa berjalan menuju tempat khusus untuknya. Tepat dibawah bendera lambang kerajaan dia duduk.
Melihat sang Raja telah mengambil duduk salah seorang yang duduk disana berdiri dan mulai menjelaskan alasan rapat ini diadakan. Dia adalah perdana menteri negeri ini dan mulai menjelaskan program kerja mereka yang mulai terealisasikan. Hingga sampai topik permasalahan yang sedang melanda negeri ini.
"Wabah virus yang melanda bagian timur mulai menyebar. Kami mengira jika wabah virus ini dibawah oleh para pedagang."
Sang Raja dengan santai mendengar keluhan itu sembari melihat dokumen yang tersebar di depannya.
"Musim kemarau akan segera datang dan kita tidak akan atau berapa lama musim kemarau ini akan berlangsung. Ditambah jumlah penduduknya yang lebih banyak dua kali lipat dari sebelas tahun terakhir."
Pemilik netra amethyst itu melirik pria yang duduk tidak jauh darinya itu dan kembali melihat menteri keuangan yang tengah menjelaskan keuangan kerajaan yang berjalan dengan stabil. Meskipun dia agak ragu sebenarnya.
"Minta penyihir menara untuk menyelidikinya. Aku tidak ingin ada campur sihir dalam wabah virus yang masih belum kita ketahui ini." Menunjuk kertas yang berisikan data tentang rangkuman setiap masalah kerajaan karena faktor alam. "Aku ingin semua orang mulai berhemat dan mengenai sistem irigasi kita yang sudah berkembang dan dilihat ada hasilnya ini akan menjadi sumber penghasilan kita tetap stabil meskipun datangnya musim kemarau."
Setelah menjelaskannya pria bersurai hitam legam dengan netra hijau emerald-nya mengangkat tangannya.
"Izin berpendapat, Yang Mulia."
"Silakan."
Noah berdiri dan mengatakan pendapatnya mengenai negeri ini yang sudah dia lihat dari nol hingga sampai sejauh ini.
"Bagaimana jika menambah bangunan pendidikan? Khususnya bagi—"
Brak!
"Kita sudah membahas ini berulang kali Duke D'Arcy."
Pria yang menjabat sebagai Marquees yang menjaga wilayah bagian utara kerajaan Everuz memotongnya lagi. Noah tak mempermasalahkan. Hanya saja jika dia marah dan mengingat usia aslinya sekarang membuatnya merasa bertingkah seperti anak kecil.
Noah menundukkan kepalanya kepada Raja, "Tolong pertimbangan pendapat saya, Yang Mulia."
Raja mengiyakan dan berpikir juga jika para rakyat diberikan akses lebih lebar, maka mereka pasti akan meminta lebih dan lebih. Bahkan kudeta pun bisa saja terjadi dimasa depan. Dirinya tidak ingin ada orang bertindak seperti itu dimasa depan. Keluarga kerajaan Fjord adalah orang yang pantas memimpin Kerajaan Everuz ini.
Rapat yang dilaksanakan sesuai jadwal itu akhirnya tepat sebelum jam makan siang. Semua orang lekas keluar dan mengobrol satu sama lain dengan fraksi mereka masing-masing.
Bahkan dua orang yang paling terkenal se-Everuz tak terkecuali menjadi topik yang masih saja hangat diperbincangkan. Siapa lagi kalau bukan pria yang menyandang genius abad ini dan Yang Mulia mereka.
"Aku penasaran putra Duke D'Arcy," ungkap seorang yang pria yang berpakaian rapi yang ikut ambil dalam rapat tadi.
"Yah, dikatakan mereka kembar bukan dua, tapi tiga," timpal pria yang berwajah teduh mendengar ucapan pria disampaikan.
"Mereka sekilas mirip Duke kecuali pada bagian rambutnya."
Temannya yang mendengar itu mengerjit tidak paham, "Kenapa dengan rambutnya?"
"Itu mirip mendiang Putri Baron Seena," timpal pria yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka.
"Baron Seena?"
__ADS_1
"Apa kau lupa mendiang istri Duke D'Arcy? Siapa lagi keluarga yang memiliki surai semerah darah dan memiliki paras seperti bangsawan itu, huh?"
Akhirnya dia bisa ingat. Seorang pedagang yang kaya raya akhirnya bisa membeli gelar bangsawan Seena dan menyandang sebagai Baron diwilayah yang cukup terpencil. Sebelum semuanya dalam keluarga utama itu tiada.
Karakteristik keluarga mereka tidak sama seperti bangsawan lainnya. Dikatakan keluarga Seena memiliki paras seperti selayaknya seorang bangsawan dan dalam tahap keluarga mereka baru saja terbentuk. Putra dari kepala keluarga D'Arcy sebelumnya—Eugene Leonar D'Arcy—tiba-tiba saja ingin mengikat satu-satunya anak di keluarga Seena.
Berita menghebohkan itu tidak bisa disembunyikan. Mengingat jika Noah menyandang nama genius abad ini membuat mereka yang ingin mengirimkan undangan lamaran berhasil diurungkan. Eugene yang awalnya mempermasalahkan, tapi setelah berbicara secara empat mata dengan putranya tiba-tiba dia setuju saja, dan pernikahan muda itu dilaksanakan.
Dan tak lama setelah pernikahan yang berjalan dua tahun. Kematian keluarga Seena satu persatu terdengar, hingga Rumi Seena yang berstatus istri Noah saat itu juga menjemput ajalnya. Dikatakan jika Noah adalah dalang dibalik semua kematian beruntun itu.
"Selain menyandang julukan genius abad ini. Dia juga menyandang nama 'Duke Yang Tidak Sempurna'."
Semua yang mendengar itu tentu saja diam seketika. Julukan itu bukan hanya karena dicetuskan begitu saja. Alasan Noah bisa mendapatkan julukan itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena tempat Duchess yang sedang kosong dan mengingat segala aspek Noah bisa kecuali sihir.
Seseorang yang bisa melakukannya sihir otomatis disebut sebagai penyihir dan akan langsung dikirim ke dua tempat di kerajaan ini.
Menara Sihir dan Gereja.
Noah yang masih merapikan lembar kertas dan beberapa catatan yang dicatat selama rapat bisa mendengar pembicaraan para pejabat diluar ruangan. Dengan kemampuan pendengarannya yang dia tingkatkan dengan kemampuan sihirnya.
"Aku ingin Yang Mulia lekas memilih seorang wanita."
Noah puas mendengarnya karena tidak hanya dirinya saja yang dijadikan bahan gosip para pejabat.
Noah melirik sekilas pria yang menyandang nama Fjord itu yang ternyata juga sedang meliriknya. Kilat permusuhan tidak bisa disembunyikan. Seorang kepala pelayan istana sudah terbiasa melihatnya.
Sejak pertemuan pertama keduanya yang begitu canggung berujung saling bercakap dengan ringan. Yang ternyata adalah saling menghina yang tersemat setiap kata yang mereka keluarkan.
Mereka berteman baik, batin kepala pelayan istana itu yang sesaat melupakan tujuan awalnya.
"Buang! Aku tidak ingin melihat amplop itu lagi! Sekalian saja bakar dan buang abunya, Bel!" Seru Calix yang sudah tertekan dengan semua tawaran pernikahan itu.
Abel mengangguk paham dan Noah yang tidak bisa menahan seringainya.
"Terus saja kau tahan, Noah. Aku tahu kau sedang menertawaiku," gerutu Calix bersamaan kepergian Abel.
Noah mengangkat bahunya dengan sikap tidak pedulinya, "Baguslah kalau kau sadar."
"Dimana sopan santunmu kepada Rajamu ini, hah?" Rahangnya semakin mengeras dan urat dilehernya terlihat sekarang.
"Kau mungkin Rajaku, tapi sekarang kau bocah yang keras kepala menolak semua lamaran menguntungkan itu," mulai merapikan laporannya.
"Hei!" Tunjuk Calix tidak terima yang selalu diperlakukan anak kecil di depan Noah.
"Sayangnya itu kebenaran yang tidak bisa kau tutupi," ucap Noah dengan entengnya yang sudah selesai merapikan barangnya.
"Si*l*n kau, Noah!"
"Tolong, bahasanya Rajaku." Noah tersenyum ramah melihat bocah di depannya berhasil dia buat kesal.
"Kau juga! Cari istri sana!"
__ADS_1
"Saya tidak butuh. Saya sudah punya penerus—"
"Yah, kau harus berterima kasih padaku," ucap Calix dengan bangga setelah apa yang telah dia perbuat.
"Atau tidak sama sekali," menatap dengan datar Calix dengan mengingat kenangan dimasa lalu.
"Hei, karna ku kau punya tiga anak sekaligus tau!"
"Terus?"
"Kau—"
"Baiklah, terima kasih. Jadi, kapan anda akan punya penerus, hm?" Noah tidak akan kalah semudah itu dari Calix.
"Tutup mulutmu, Noah!"
"Ah, Rajaku ternyata masih polos, ya." Noah benar-benar menikmati ini.
"Aku tidak polos bodoh!"
"Apa Anda memerlukan saran dari orang yang sudah berpengalaman ini?"
"Tidak perlu. Urus saja urusanmu sendiri."
"Hoho, sesuai keinginan Anda Yang Mulia."
"Ugh! Pergi kau dari hadapanku!" Calix menahan untuk melempar Noah kursi yang dia duduki sekarang ini.
"Ah, saya merasa sedih Yang Mulia mengusir saya yang sudah berpengalaman ini loh padahal." Dengan mengeluarkan air mata buayanya mendengar perkataan Calix yang sangat pedas, tapi padahal tidak baginya.
"Berpengalaman apanya, hah! Kau itu orang yang tidak tau terima kasih dan juga pria br*ngs*k yang sudah—"
"Tolong jaga ucapan Anda yang Mulia. Anda adalah Aeleen (cahaya matahari) kami. Masa depan Everuz berada di mulut Anda." Apa pun yang Noah katakan selalu membuat darah Calix naik.
"Dimulut matamu!"
"Ya ampun Rajaku." Noah menutup mulutnya seakan tidak menyangka.
"Pergi tidak!!!"
"Sesuai keinginan Anda Yang Mulia, semoga Eilidh—matahari—semakin lama bersinar. Permisi."
Melihat Noah sudah pergi Calix menyandarkan punggungnya dan menggerutu kesal yang masih bisa dia dengar jelas Noah yang sudah pergi dari ruang rapat dengan suasana hati yang bahagia.
.
.
.
Seru ya lihat mereka berdua adu mulut 😂
__ADS_1
Btw itu dari bahasa Skotlandia yang aku ambil yaa^^
See you next chapter guy's 👋😽