MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
S2 - BAB 2: ISTANA AMÌOS


__ADS_3

"Sistem."


Leila yang dalam kondisi berbaring di kamarnya termenung diam. Karena sedang memikirkan masa depan bagaimana akan berjalan.


Si kembar tidak menjadi antagonis seperti yang dia tulis.


Bahkan mereka menempuh pendidikan di akademi. Terlebih Adrian memiliki bakat sihir yang tinggi seperti Noah miliki. Atlas yang lihai menggunakan pedang dan juga Arden mulai mengurusi beberapa dokumen yang Noah berikan. Meskipun kebanyakan di dalam cerita 'Sungai Emas Everuz' Arden lebih banyak menggunakan sihir.


Yah, mereka unggul dibidang masing-masing.


Leila mendengar tentang kabar dari Desa Kilkast.


"Aku dengar itu hampir rata oleh tanah. Bahkan seperti tempat terbengkalai di sana," bisik seorang pelayan yang membahas tentang desa diwilayah menjadi saksi bisu terbentuknya negeri ini.


"Bagaimana mungkin itu hancur dalam semalam?"


"Apa mungkin karena serangan musuh?"


"Aku tahu dari surat kabar, di sana sering sekali perang saudara, tapi bukankah itu berjarak dua dataran dari sini?"


Itu tidak mungkin.


Desa Kilkast tidak menerima kemalangan itu. Desa itu diancam dan beberapa bangunan dirobohkan untuk membuat warganya membayar upeti dengan menyandera para wanita dan anak kecil.


Bukannya hancur total.


Leila ingin sekali pergi ke sana dan mengecek apa Aria baik-baik saja dan jangan lupakanlah bagaimana adik kecilnya apakah masih di sana atau tidak.


Ini buruk.


Sangat, sangat buruk.


Leila sudah beberapa kali mencoba keluar dari wilayah mansion, tapi membuatnya terpental masuk lebih dalam dan peringatan sistem terus menggema dipikirkannya.


Leila yang mulai merasa putus asa dan menyesal. 


Dia punya kesempatan untuk memberitahu warga Desa Kilkast. 


Dia punya kekuatan yang bisa membuat bencana itu tidak terjadi. 


Kenapa dia tidak bisa pergi melewati dinding pembatas s**l*n ini?!


Rasanya Leila ingin berteriak dan marah. Memberitahu kepada dunia dan mengatakan semua masa depan yang akan terjadi dalam waktu dekat.


"Aku harap kau kuat Aria."


Karena semua yang dia sayangi seharusnya masih hidup sekarang telah tiada.


Jika dilihat dari alurnya sepertinya Aria mulai berlatih dengan pedangnya dan mungkin juga dalam perjalanannya yang tidak mungkin ke Hutan Kematian yang sekarang bernama Hutan Berkabut. Aria akan menemukan rekan seperjuangannya yang sudah Leila konfirmasi tahun lalu.


Bahkan jika masa depan tidak berjalan seperti semestinya, setidaknya jangan buat seisi desa tiada. Aria akan sangat depresi. Ingin sekali Leila memeluk gadis itu dan terus mengatakan ribuan kata maaf tanpa membuat alasan yang tidak jelas.


Ding!


Leila kembali tersadar akan suara khas itu.


[PEMBERITAHUAN]


[ANDA AKAN SEGERA DIPINDAHKAN KE ISTANA AMÌOS DALAM SEPULUH DETIK DARI SEKARANG.]


"APA?!!"


[8... 7—]


"S**l*n! Jangan katakan si kembar memanggilku!"


[4... 3—]


"Sudahlah."


Seperti yang Leila kira dia berubah menjadi ribuan data dan perlahan menghilang menyatukan dengan udara dan berpindah tempat ke tempat yang sama sekali tidak Leila ketahui. Perasaan melayang dan dibawa berputar membuat Leila menggembung kedua pipinya tanpa sadar dan mencoba mencari tempat teraman membuang sisa makan malamnya. Leila melihat sekitar lingkungannya yang kosong dan melihat jika ada sebuah vas kosong setinggi sedada. Leila memutuskan membuangnya di sana.


"Huekk! Uhuk! Huekk—"


Bahkan sebelum Leila puas membuang semua isi makanannya seseorang meneriakinya.


"SIAPA DISANA?!"


"T-tung—, huek!"


Leila bisa merasakan jika seseorang berdiri di depannya. Entah siapa itu, tapi biarkan dia muntah.


"Huft, akhirnya, wah!" Leila bangkit dari posisi membungkuknya dan menyeka mulutnya sembari melihat siapa orang yang murah hati membiarkannya menyelesaikan masalahnya terlebih dulu.


"Pen—, hmph!"


Leila lekas membekap mulut orang itu dan terlihat pakaian resmi laki-laki dan terlihat keren dia pakai.


"Shhtt, aku bukan penyusup. Tolong diamlah."


Pria yang masih tidak dia ketahui itu menatapnya tajam. Karena merasa jika wanita di depannya ini sedang berbohong. Leila melihat pria itu mulai tenang perlahan melepas bungkamnya.


"PENJAG—"


"Sudah aku katakan diam!" bisik Leila yang mulai merasa tertekan dan sekali lagi harus dia bungkam.


Cahaya bulan yang awalnya bersembunyi dari balik awan perlahan mengintip menampakkan wujudnya yang terlihat hanya setengah saja. Cahaya bulan perlahan merayap masuk ke dalam lorong dan membuat surai pria itu terlihat bercahaya diikuti warna netranya yang tak biasa.

__ADS_1


Surai platinum?


Netra amethyst?


Sepertinya aku pernah melihatnya?


"... Calix, kan?"


Leila menatap pria yang sudah hampir setengah dekade tidak pernah dia temui semenjak Festival Lampion yang berakhir menjadi bencana karena Ryuu.


Tatapan Calix yang menelisik seperti sedang menilai dirinya, "Lancang sekali kau mengendap-endap di belakangku dan sekarang kau menyebut namaku dengan entengnya?"


Leila tidak tahu apa yang membuat kepala Calix tidak berfungsi malam ini, tapi Leila dengan baik hatinya mau membantunya agar cepat mengingatnya.


"Ini aku bodoh! Apa kau melupakan apa yang kita habiskan di Festival Lampion malam itu?"


Calix yang baru saja mendapatkan pukulan di kepalanya meringis dan mencoba mengingat apa yang Leila katakan. Calix menatap jepit rambut yang terlihat tidak biasa itu. Bentuk daun Laurel berwarna emas. Pemilik netra seperti langit siang tak berawan itu berdiri depannya. Mengepalkan tangan geram dan mungkin saja pukulan kedua akan datang.


"Ini aku, Leila! Apa kau lupa?"


Calix menatap linglung wanita yang berani sekali memukulnya itu, "Leila? Leila!"


"Ya, ini aku! Bagaimana kabarmu? Apa kau ada urusan di istana malam ini?" Leila tersenyum senang melihat jika Calix tidak melupakannya.


Calix lupa jika Leila mengira jika dirinya ini seorang manager, bukan seorang Raja, "Ya, aku harus bertemu dengan seorang teman malam ini." Mengusap kepalanya yang masih terasa sakit bekas Leila pukul.


"Wow, lihat pakaianmu itu." Leila berlari mengitarinya seperti anak kecil melihat penampilannya. "Kau terlihat luar biasa dengan pakaian formal ini. Kau terlihat seperti seorang bangsawan. Pasti temanmu itu kaya raya, ya."


Temanku duda tiga anak dan sayangnya aku lebih kaya darinya, Leila, batin Calix menatap Leila yang terlihat senang melihat pakaiannya.


"Aku tidak tahu kau bekerja di istana ternyata. Aku ingat kalau kau bekerja sebagai pengasuh, bukan?" tanya Calix yang mengingat jelas apa yang Leila beritahukan saat malam itu.


"Tidak, tidak." Leila mengibaskan tangannya yang diikuti kekehannya, "Aku datang karena panggilan."


"Panggilan?"


"Ya, tepatnya seseorang? Tidak, lebih tepatnya mereka."


Calix bisa melihat ekspresi Leila yang awalnya cerita menjadi murung dan terlihat dia sangat kesal, "Mereka?"


"Hanya sekumpulan anak. Jangan terlalu dipikirkan."


Leila baru saja sadar jika dia tadinya hendak ke Tanah Suci mengecek beberapa tugas yang sudah Leila berikan kepada Ryuu. Beruntungnya dia tidak dalam pakaian pelayan ke istana dan memakai gaun yang biasanya dia gunakan selama lima tahun terakhir.


Ini hadiah dari si kembar.


Beruntungnya mereka pengertian memberinya gaun sederhana, bukannya gaun berat penuh pernak pernik yang membuatnya kesulitan berjalan.


"Jadi, apa ada orang lain di sini?" Leila mencoba mencari seseorang selain mereka berdua di Istana Amìos. Itu tidak mungkin ada. Karena ini istana pribadi milik Raja dan Ratu.


"Calix."


"Kenapa sunyi sekali di sini? Aku dengar ada upacara kedewasaan? Apa itu cuma rumor?" Pasalnya Leila tidak mendengar suara musik maupun gemerlap pesta yang seharusnya terdengar sampai ke tempatnya.


"Tidak, itu di istana lain." Mendapat tatapan penuh tanda tanya itu Calix berkata, "Kau tahu kan, kerajaan tidak hanya punya satu istana."


"Maksudmu, ada lebih dari satu istana. Berarti ada dua?"


"Lebih tepatnya ada lima dan beberapa kastil."


"L-LIMA?!!"


"Ya, kenapa kau sangat terkejut? Bukan kah itu wajar dan bukan rahasia umum lagi."


"S-seberapa kaya Raja itu sebenarnya?" Leila bisa membayangkan tanahnya bisa lebih luas dari milik Noah atau mungkin Tanah Suci.


"Lebih kaya darimu yang pasti," ucap Calix diakhir kekehan melihat ekspresi Leila yang seperti bukan rakyat dari kerajaannya saja.


"Aku tahu dan jangan ingatkan aku miskin, Calix."


"Hahaha, lucu sekali."


"Lucu dari mananya coba. Aku sedang sedih sekarang."


Ini lucu. Calix hanya memikirkan sekilas dan membayangkan Leila lebih jelas dari biasanya dan Leila muncul secara tiba-tiba.


Leila mencoba memperluas pencarian sepanjang wilayah istana menggunakan sistem dan tidak menemukan si kembar maupun Noah disekitar sini, "Kalau begitu, aku pergi. Sepertinya ini kesalahan aku berada di sini." Terkutuk kau sistem, s**l*n!


"Kenapa buru-buru? Kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana dengan jalan-jalan malam di istana?"


Leila berpikir sejenak dan memikirkan Ryuu bisa menunggu nanti. Hitung-hitung simulasi jika dia pergi lebih lama.


"Boleh? Ini istana loh?"


"Tenang, aku punya kuncinya."


Leila senang karena bukan Noah yang pertama kali mengajaknya keluar setelah sekian lama. Lagi pula bagaimana bisa dia bisa bersama pria gamon itu. Bisa-bisa nanti yang dia bahas Leila-nya terus.


Calix bahkan dengan baik menjelaskan semua sebagian besar isi istana.


"Kau seperti pemilik istana ini saja, Lix."


"Lix?"


"Panggilan dariku, apa kau tidak suka?"


Calix tersenyum tanpa sadar, "Tidak, teruslah memanggilku seperti itu kedepannya."

__ADS_1


"Tentu saja, kau juga panggil aku senyaman mungkin juga."


Ditengah perbincangan mereka berdua seseorang datang mengganggu obrolan ini.


"Yang—" Calix lekas menatapnya tajam seakan menyuruhnya untuk diam, "Maaf mengganggu waktu Anda, permisi!"


Leila melihat seorang prajurit lari terbirit-birit bertanya, "Kenapa dia?"


"Bukan apa-apa. Apa kau ingin ke rumah kaca?" Calix tersenyum ramah menatap Leila yang sangat jelas menyadari perubahan itu.


Apa benar ini baik-baik saja?


Tunggu, rumah kaca katanya? "Ada di sini?!"


"Tentu saja."


Leila tersenyum lebar karena di mansion Noah tidak ada rumah kaca. Tapi, siapa sangka jika dia akan bertemu dengan Noah sana.


"Leila? Apa si kembar memanggilmu?"


Leila melototi kebodohan Noah yang bicara tanpa pikir panjang.


"Dan, bagaimana bisa kau bisa bersama bocah ini?" Noah berbalik menatap Calix yang terlihat urat kekesalan sudah keluar.


"Bocah? Dia Calix, Noah." Leila menunjuk Raja disampingnya seperti seorang teman lama.


"Ya ingat Calix yang sering kita bicarakan. Itu dia."


"Benarkah?" Leila merasa ragu, "Tapi, dia terlihat lebih tinggi dari yang aku bayangkan."


"Tentu saja karena dia seorang Raja."


"Tunggu sebentar, dia? Raja?" Leila menatap Calix lebih teliti sekarang. Dari atas ke bawah berulang kali dan kembali menatap Noah. Ekspresi yang dia berikan tidak berubah yang artinya dia sedang tidak berbohong.


"Kau tidak berpikir nama mereka hanya kebetulan sama, kan?" Noah menyipitkan matanya. Pasalnya apa pun yang Leila lakukan atau informasi apa pun yang dia punya pasti dia anggap sepele.


"Hehe, itu... mungkin ya?" Leila hanya bisa tertawa diatas kebodohannya.


"Kau harus membuang kebiasaan burukmu itu."


"Hei, ketidaktahuan terkadang adalah sebuah berkah."


"Dan juga diikuti sebuah kemalangan, hahh... ." Satu hal inilah yang membuat Noah lupa jika Leila itu seorang Penjaga.


"Tunggu! Kau mengenal dia Noah?" potong Calix yang tidak tahan melihat keakraban keduanya mulai bersuara dan apa-apaan dengan obrolan mereka ini.


Dia ini seorang Raja.


Bagaimana bisa mereka berdua mengobrol membahas tentangnya di depan matanya tanpa merasa berdosa sama sekali?


"Tentu saja," jawab Noah yang menatap Calix dengan datar. Seakan berkata apa dia bodoh dan tak melihatnya?


"Kenapa kau tidak memberitahuku?!"


"Kau tidak pernah bertanya."


Salah dirinya juga karena tidak pernah mengatakan siapa gadis yang selama ini Calix cari.


"Jadi, Yang Mulia, kurasa. Maaf untuk yang tadi ya," lirih Leila yang merasa malu karena baru menyadari kastanya di sini.


"Tidak, panggil aku Calix saja tak apa," ucap Calix dengan ramah tidak seperti dia berbicara dengan Noah.


"Dia lebih baik hati dari yang aku kira," ucap Leila dengan aura bunga-bunga dan merasa lega sekarang.


"Kau belum tahu saja isinya nanti bagaimana," timpal Noah ingin sekali membongkar semua rahasia Calix di depan Leila.


"... Kau benar." Karena Leila tahu bagaimana penampilan bisa menipu seseorang.


"Tidak bisakah kalian tidak membicarakan orang yang kalian bicarakan di depannya?" Calix tidak bisa membiarkan mereka berdua asik membicarakannya.


"Ohh, dia sadar." Leila melihat Calix yang seperti bocah. Sama seperti Noah. Mungkin karena sudah melihat ribuan kehidupan dan kematian mental mereka melihat siapa pun seperti anak kecil.


"Syukurlah." Noah menyinggung senyum yang berhasil membuat Calix semakin naik pitam.


"SUDAH CUKUP DENGAN NOAH, TIDAK KAU JUGA LEILA!"


"Ohh, ayolah, ini menyenangkan. Kau temanku, begitu juga Noah."


Lihat sekarang.


Hal yang Calix khawatir terjadi.


Dua Noah ada di depannya. Tidak, lebih tepatnya dua iblis kecil yang menyebalkan ada di depannya sekarang.


.


.


.


Apakah ada kemungkinan ada korban kedua seperti bibi si kembar yang terkena jebakan Batman seperti di awal 😭😂


Awalnya aku engga ekspet sih kalau Leila bakal ketemu Noah juga pas sama Calix dan posisinya juga disini Calix kek kena buli mereka berdua ga sih 😭


Maaf ya, Lix


Kapan lagi bisa buli Raja, ya ga, hahaha 😭🤚

__ADS_1


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


See you next chapter guys 👋😺


__ADS_2