Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
10. TAK TERDUGA


__ADS_3

Ardian menyelinapkan tangannya untuk meraih pinggang ramping Arsha. Ketika gadis itu hendak menjauh. Gerakan Ardian yang begitu gesit. Berhasil membuat Arsha tersentak kaget. Gadis itu terkejut dengan tindakan Ardian.


"Ar ...," lirih Arsha bergumam.


Tubuh keduanya kembali merapat. Ardian menatap wajah Arsha lekat-lekat. Tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain.


"Katakan sekali lagi! Apa yang kamu ucapkan baru saja itu kebenaran, Arshavina?"


Ardian berbicara dengan suara lembut. Arsha terus menatap mata Ardian. Tanpa berniat untuk mengalihkan pandangannya.


"Ucapanku yang mana, Ar?"


Arsha bertanya dengan suara pelan. Tangan Ardian semakin mengeratkan pelukannya.


"Tentang perasaanmu padaku. Apa itu benar? Jawablah, Sha," ucap Ardian menuntut penjelasan dari Arsha.


"Ar ...," panggil Arsha dengan lembut. "Aku benar-benar mencintaimu. Lebih dari apapun. Cintaku padamu diatas segalanya.


"Aku sudah berusaha untuk menekan perasaanku padamu. Tapi, semakin aku menolak dan mengabaikan. Perasaan ini justru tumbuh semakin subur. Aku tidak bisa lagi memberontaknya, Ar."


Arsha dengan sendu menguraikan perasaannya kepada Ardian. Tatapan mata keduanya terus terkunci. Tanpa berniat untuk memutus kontak.


"Apakah sebesar itu perasaanmu padaku, Sha? Apa kamu tidak pernah berpikir. Bagaimana perasaanmu jika aku tidak bisa membalasnya?"


Ardian bertanya dengan tatapan serius. Namun, Arsha tersenyum simpul menanggapinya.


"Aku sudah pernah mencoba untuk abai. Tapi, sekarang aku sudah pasrah. Apapun keputusanmu. Aku akan menerimanya, Ar. Cukup aku mengutarakannya, kamu tidak perlu membalasnya."


Arsha berbicara dengan menahan kegetiran didalam hatinya.


"Aku pasti akan menyakiti perasaanmu, Sha. Jika aku tidak bisa membalasnya."


Ardian berucap dengan tatapan mata yang sulit untuk ditebak. Namun, Arsha tetap saja mengulum senyum. Menahan perih yang mulai merayapi hatinya.

__ADS_1


"Apa yang bisa aku lakukan, selain pasrah dan merelakan?"


Tidak tahu harus menjawab apa, Arsha hanya bisa berucap seperti itu. Sementara Ardian yang mendengar jawaban Arsha, secara perlahan mulai menundukkan wajahnya. Arsha ingin menghindar, tapi semuanya itu hanya angan-angan semata.


Tak pernah berharap terlalu banyak. Namun, apa yang Ardian lakukan benar-benar membuat Arsha terkejut. Reflek tangannya mencengkeram pakaian Ardian dengan erat. Ketika sebuah benda kenyal berhasil mencubit dan membungkamnya.


Merasakan sentuhan yang begitu lembut. Arsha memilih untuk memejamkan matanya. Merasakan setiap gerakan yang memberikan belaian terlembut. Desakan yang menciptakan gelenyar aneh didalam jiwa.


Gerakan yang mendesak untuk saling bertukar rasa dan perasaan. Menikmati dan mencecap manisnya cinta. Hingga menumbuhkan dorongan untuk melakukan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang menuntut kepuasan tersendiri.


Ardian segera mengurai jarak dengan Arsha. Ketika merasakan pasokan oksigen mulai habis. Keduanya terlihat terengah-engah. Tangan Ardian bergerak untuk mengusap jejak yang ia tinggalkan disudut b*b*r Arsha.


"Ar," panggil Arsha lirih. Mata gadis itu terlihat sayu. Perasaannya campur aduk saat ini. Senang, karena Ardian membalas c**m*nnya. Namun juga bingung, apa maksud laki-laki itu melakukannya.


"Apa kita bisa memulainya? Aku sangat egois. Apa kita bisa menjalin hubungan ini lebih lanjut?"


Bukan Arsha yang bertanya, melainkan Ardian. Jujur saja, tindakan yang Arsha mulai telah membuat Ardian menginginkannya. Karena selama menjalin hubungan dengan Zafia. Ardian sama sekali belum pernah berciuman dengan Zafia. Ataupun melakukan kontak fisik secara intim.


"Maksud kamu apa, Ar?" tanya Arsha mengerutkan keningnya.


"Bagaimana dengan Zafia, Ar?" Arsha kembali bertanya kepada Ardian.


"Jangan biarkan Zafia tahu tentang kita. Cukup kita berdua yang tahu tentang hubungan ini," ungkap Ardian.


"Kamu ingin menjadikanku kekasih gelap mu, Ar?" tanya Arsha nampak sendu.


Arsha merasa kecewa dengan ucapan Ardian. Bagaimana mungkin Ardian menjadikan dirinya sebagai kekasih gelap.


"Hanya untuk sementara, Sha. Sampai saat nanti aku mengakhiri hubunganku dengan Zafia. Aku akan menjadikanmu satu-satunya. Satu-satunya ratu didalam hatiku."


Arsha memandang lekat wajah tampan Ardian. Apakah ucapan Ardian bisa dipercaya?


"Aku menjalin hubungan dengan Zafia karena suatu alasan. Alasan yang tidak bisa aku ceritakan padamu. Tapi, percayalah ..., setelah semua urusanku tercapai. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Zafia. Secepatnya!"

__ADS_1


Ardian mencoba untuk meyakinkan Arsha. Supaya Arsha percaya kepadanya. Arsha sepertinya terpengaruh dengan ucapan Ardian. Perlahan, gadis itu mengangguk.


Ardian mengulas senyum bahagia melihatnya. Tanpa ragu, Ardian kembali memberikan serangan kepada Arsha. Ardian dengan penuh n*ps* mengulum b*b*r Arsha, yang membuatnya merasa candu.


Awal yang hanya sebuah c**m*n biasa, lama kelamaan berubah menjadi sebuah g**r*h. Ada sebuah dorongan yang menuntut untuk dipuaskan. Ardian kembali mengurai jarak dengan Arsha.


Tanpa meminta persetujuan, laki-laki itu mengangkat tubuh Arsha. Ardian mengangkat tubuh Arsha seperti pengantin baru. Membawanya menuju sebuah kamar.


Ardian dengan perlahan merebahkan tubuh Arsha ke pembaringan. Kembali ia tanamkan c**m*n di b*b*r manis Arsha. Saat b*b*r keduanya saling berbagi kenikmatan. M*l*m*t dan memperdalam c**m*n. Tangan Ardian tak tinggal diam begitu saja.


Sambil terus menikmati s*ns*s* dari c**m*n yang mereka lakukan. Tangan Ardian mengembara dan menjelajahi setiap lekukan tubuh Arsha. Merabanya dengan lembut sambil menyalurkan h*sr*tnya.


Malam yang kian larut dan dingin tidak mempengaruhi kegiatan keduanya. Semua pakaian yang keduanya kenakan telah berhamburan. Semua tercecer dilantai yang dingin. Sedangkan pemiliknya masih terus berperang diatas ranjang.


Mengadu kekuatan yang diiringi dengan suara d*s*h**. Tangan Ardian mulai merangkak menaiki bukit yang membuatnya semakin bersemangat. G**r*hnya kian membara seiring dengan pendakiannya, yang ia lakukan secara bergantian. Dari satu bukit ke bukit lainnya. Sampai mencapai puncak tertinggi.


Di puncak bukit yang begitu indah, Ardian menemukan gundu yang membuatnya semakin bersemangat. Tangan Ardian memainkan temuannya itu dengan sesekali memberikan pijatan.


Arsha menggeliatkan tubuhnya, menahan setiap sentuhan lembut yang Ardian berikan. Lenguhan indah terus keluar dari bibir Arsha. Dengan diiringi d*s*h*n kecil yang begitu merdu. Ardian paling bisa membuat angannya melayang.


Merasakan desakan yang sudah tidak bisa lagi ditahan. Membuat Ardian menekankan tubuhnya ke tubuh Arsha. Ardian mencoba memasuki bagian kelembutan yang Arsha miliki.


Arsha mencengkeram erat kain seprei, ketika merasakan sesuatu mendesak hendak memasukinya. Sesuatu yang begitu keras. Berusaha menerobos benteng karang yang ada pada dirinya.


"Ar ...!" rintih Arsha dengan suara indahnya.


"Sedikit lagi, Sha. Bertahanlah!" ucap Ardian yang masih berusaha menerobos kerasnya batu karang.


Semakin kuat tekanan yang Ardian berikan. Semakin erat pula tangan Arsha yang mencengkeram kain seprei. Sudut mata Arsha bahkan sampai berair. Karena menahan desakan yang sedikit menyiksanya.


Sampai pada akhirnya, Ardian berhasil menembus karang itu dengan sekali sentakan. Setelah mengumpulkan kekuatannya beberapa kali. Ardian mend*s*h pelan. Berhenti sejenak untuk memberikan kenyamanan kepada Arsha.


♡♡♡

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2