Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
30. FILE DI GALERI


__ADS_3

Zafia mengintip dari lubang yang ada di pintu apartemennya.


Hah! Helaan napas lega keluar dari bibir gadis itu.


"Siapa?" tanya Mayra dari tempatnya duduk.


"Tukang delivery. Kamu pesan makanan?" Zafia beralih menoleh kepada Mayra.


Gadis itu masih ragu untuk membuka pintu.


"Nggak."


Mayra menjawab dengan singkat.


"Terus siapa yang pesen?" tanya Zafia merasa bingung.


"Penggemar rahasia kamu mungkin. Kamu 'kan punya penggemar rahasia."


Mayra menjawab dengan santai. Zafia nampak termenung ditempatnya. Tanpa ada niat untuk membuka pintu. Sampai ketukan kembali terdengar.


"Udah jangan banyak mikir. Cepetan itu dibuka pintunya. Kasihan orang yang nunggu dibalik pintu itu!"


Mayra berseru sehingga membuyarkan lamunan Zafia.


"Iya, iya!"


Zafia segera membuka pintu apartemennya.


"Permisi, Nona," ucap seorang pria yang berdiri dengan menenteng sebuah paper bag.


"Ya," sahut Zafia dengan ramah.


"Saya ingin mengantarkan pesanan makanan atas nama Nona Zafia."


Pria itu berbicara dengan ramah juga sopan.


"Maaf, tapi saya tidak merasa memesan makanan." ujar Zafia hendak menolak, ketika pria itu mengangsurkan paper bag berisi makanan itu padanya.


"Yang memesannya Tuan Arbhy, Nona. Tuan Arbhy berpesan untuk mengirimkan pesanannya kepada alamat, Nona."


Mendengar nama Arbhy disebutkan. Mau tidak mau Zafia akhirnya menerima paper bag itu. Pria itu segera pergi dari sana setelah tugasnya selesai.


Zafia menutup pintu apartemennya. Berjalan sambil membawa makanan yang dipesan Arbhy untuknya.


"Apa itu?" tanya Mayra mengernyit.


"Makanan." Zafia menjawab singkat.


Gadis itu segera duduk di sisi Mayra setelah meletakkan bawaannya diatas meja.


"Dari siapa?" kembali Mayra bertanya seraya membuka paper bag itu.


"Arbhy."


Mendengar nama Arbhy disebutkan membuat Mayra mengangguk beberapa kali.

__ADS_1


"Perhatian juga Tuan Mesum itu, padamu."


Mayra berucap dengan tenang sementara Zafia mendengus. Perhatian yang Arbhy berikan sama sekali tidak membuat gadis itu senang.


"Aku sudah menyuruhnya untuk melupakanku. Tapi kenapa dia malah mengirimkan makanan seperti ini."


Zafia menggerutu sendiri.


"Mungkin dia sudah jatuh cinta padamu. Dan tidak bisa melupakanmu. Makanya mengirimkan makanan untukmu. Sebagai bentuk perhatiannya. Ku rasa itu bukan masalah yang besar."


Tapi pemikiran Mayra berbeda jauh dengan Zafia. Gadis itu tetap tidak nyaman diperhatikan oleh pria bernama Arbhy itu.


"Tetap saja aku tidak nyaman." ujar Zafia cemberut.


"Nyaman tidak nyaman. Makanan sudah datang lebih baik dimakan saja. Dari pada dibiarkan saja. Bisa basi dan mubazir."


Mayra mengeluarkan makanan dari dalam paper bag itu.


"Kamu lihat, dia bahkan memesan dua porsi burger. Perhatian bukan. Pria itu tahu kalau kamu tidak sendirian."


Mayra memberikan burger itu kepada Zafia. Dan satu lagi Mayra memakannya sendiri.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Sudah makan saja dan nikmati. Tidak baik menolak rezeki."


Malas mendengar ucapan Mayra yang terlalu banyak. Zafia memilih untuk memakan burger yang ada ditangannya.


Saat gigitan pertama, Zafia dapat merasakan sensasi nikmat dari daging dan juga selada yang berbaur menjadi satu. Racikan yang pas di lidahnya.


"Tidak terlalu buruk," ucap Zafia pelan.


Zafia mengangguk setuju.


Selesai memakan makanan yang dipesankan oleh Arbhy. Keduanya memilih untuk membersihkan diri. Tentunya di kamar mandi yang berada di kamar masing-masing.


♡♡♡


"Bagaimana?" tanya Arbhy ketika menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"Sudah beres, Tuan." ucap seseorang diseberang telepon.


"Kerja bagus. Terimakasih atas bantuannya," ucap Arbhy dengan puas.


Terlihat senyum sumringah begitu jelas di wajah pria itu. Arbhy segera memutuskan panggilan teleponnya. Setelah apa yang ingin didengar sudah didapatkan informasinya.


Pria itu segera merebahkan tubuhnya diatas pembaringan. Mengusap layar ponselnya. Membuka file yang tersimpan di galeri. Arbhy menyimpan begitu banyak foto Zafia. Entah bagaimana ceritanya pria itu bisa memiliki semua potret ketika dirinya makan malam dengan Zafia.


"Untung saja saat itu aku mempunyai ide cemerlang." gumam Arbhy seraya memperhatikan gambar dirinya dan Zafia.


"Meskipun harus mengeluarkan banyak uang. Tapi hasilnya sangat memuaskan."


Gerakan tangan Arbhy berhenti ketika memutar sebuah video. Senyum mengembang dibibir pria itu.


"Tidak sia-sia aku membayar jasa untuk mendokumentasikan pertemuan kita."


Arbhy memperhatikan video dirinya dan Zafia saat berciuman. Sungguh, pria itu benar-benar puas dengan hasil dokumentasinya. Seseorang yang dibayarnya dengan harga fantastis. Telah memberikan file momentum yang membuat Arbhy merasa puas.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah lupa denganmu. Meskipun kamu memintaku untuk melupakanmu. Bagiku, kamu adalah separuh jiwaku. Yang sementara waktu terpisah dariku."


Arbhy mengecup foto Zafia dengan lembut. Kerinduan Arbhy hanya bisa dihalau dengan foto dan video yang disimpan oleh pria itu. Karena Zafia memintanya untuk tidak lagi menemui gadis itu.


"Aku akan menemuimu ketika istana yang kamu inginkan sudah siap dihuni."


Arbhy masih mengingat obrolannya bersama gadis manis itu. Tentang istana seperti di negeri dongeng. Senyum Arbhy merekah. Dalam hati pria itu telah bertekad.


"Setelah pulang dari sini, aku akan segera memerintahkan seseorang untuk membuat istana yang kamu inginkan. Aku akan meminta seseorang untuk terus mengawasi mu."


Arbhy sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Tentang rencananya ke depan. Tapi, tak ada satu orang pun yang tahu. Apa yang terjadi kedepannya setelah ini. Manusia hanya bisa berencana. Sementara apa yang akan terjadi. Semua kembali kepada takdir.


Apakah langkahnya akan berjalan sesuai rencana atau tidak. Tidak ada yang tahu.


♡♡♡


Malam telah datang ketika tidak bisa tidur lebih awal. Zafia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar barang sebentar. Sambil menunggu rasa kantuk datang. Gadis itu sudah izin dengan Mayra.


Mayra pun ikut bersama dengan Zafia. Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa adik kecilnya. Mayra memilih untuk meninggalkan tugas-tugasnya. Menemani Zafia itu lebih penting.


"Maafkan aku ya, May. Karena banyak menyusahkan kamu."


Mayra tersenyum lembut kepada Zafia.


"Tak perlu sungkan. Ayo jalan. Bukankah kamu merasa bosan berdiam diri di dalam ruangan."


Mayra segera menyeret lengan Zafia dengan lembut. Mengusir perasaan tidak enak yang Zafia rasakan.


Namun, baru beberapa langkah mereka meninggalkan unit apartemennya. Zafia disuguhi sebuah pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh.


"Ar ...."


D*sahan itu keluar dari bibir seseorang yang sedang bertukar c*uman. Tepat didepan sebuah unit apartemen yang akan Zafia dan Mayra lewati.


Mayra menatap datar kedua manusia, yang tanpa merasa malu berc*uman didepan pintu itu.


"Cih, benar-benar menjijikkan."


Mayra berdesis mencemooh kelakuan kedua manusia itu. Sementara Zafia, hanya menatap kosong keduanya. Sungguh, tidak dipungkiri oleh gadis itu. Meskipun sudah tahu hubungan perselingkuhan Ardian dan Arsha. Tapi, Zafia tetap merasakan sakit juga nyeri dihatinya. Kala menyaksikan keduanya bercumb* secara langsung seperti ini.


Begitu lama Zafia dan Mayra menonton keduanya yang terus bertukar saliva. Tanpa peduli lingkungan sekitarnya. Sedang berada dimana mereka saat ini.


Sampai pada akhirnya Mayra berdecak dengan suara kerasnya.


"Tidak bisakah kalian berc*mbu didalam kamar?"


Kedua pasangan yang sedang asik mem*ngut itu nampak terkejut. Ketika mendengar suara Mayra.


"Sungguh menjijikkan!" desis Mayra.


Sementara Zafia menatap keduanya dengan datar.


♡♡♡


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2