Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
19. SUASANA MEMANAS


__ADS_3

Zafia mengepalkan tangannya lebih erat. Ketika melihat senyuman sinis yang tergambar di wajah Ardian. Sangat memuakkan bagi Zafia.


"Apa bertunangan harus memakai cincin dan memamerkannya pada orang lain?"


Arbhy mencoba untuk bersuara. Tapi ucapannya tidak membuat keadaan membaik. Ardian justru lebih gencar lagi memberikan ejekan.


"Kau dengar Zafia, lelaki disebelah mu itu bahkan tidak tahu bagaimana pentingnya sebuah cincin. Bagaimana bisa lelaki seperti itu kamu pilih sebagai tunangan?


"Sebuah simbol saja dia tidak mengerti. Bagaimana bisa dia membuatmu bahagia?"


Tawa Ardian berderai sarat akan ejekan. Zafia hanya menatapnya datar. Otak gadis itu masih buntu. Sedangkan Arbhy, laki-laki itu kembali berucap yang tidak-tidak.


"Astaga aku baru tahu kalau cincin itu bisa digunakan sebagai simbol. Sayang kenapa kamu tidak memberitahuku tentang ini?


"Kau ini bagaimana, seharusnya kau memberitahuku. Jadi aku bisa memberikanmu cincin dengan batu permata yang indah diatasnya."


Ardian merasa panas dihatinya kala mendengar ucapan Arbhy. Lelaki itu terdengar sombong kala mengucapkan kata-katanya.


"Aku baru ingin mengatakannya. Tapi aku lupa ketika kita makan malam tadi. Karena kamu begitu romantis. Dengan mempersiapkan makan malam bertaburan kembang api.


"Jadi aku tidak sempat mengingatnya."


Zafia berucap dengan suara manja. Gadis itu bahkan sudah bergelayut di lengan Arbhy. Membuat api cemburu semakin bergemuruh di dada Ardian.


"Cih, hanya kembang api saja. Aku bisa memberikannya untukmu. Bahkan lebih meriah dari yang laki-laki itu berikan."


Zafia tersenyum sinis kepada Ardian.


"Sayang sekali, aku tidak lagi berminat. Lebih baik kamu berikan semua itu pada kekasih penghangat ranjangmu itu."


Sakit sekali ketika Zafia kembali mengingatkannya tentang perselingkuhannya.


"Zafia, aku dan Arsha melakukannya karena khilaf. Kumohon mengertilah!"


Ardian memasang wajah memelas dan penuh harap. Namun, usahanya sama sekali tidak membuat Zafia luluh.


"Hei, Bung. Zafia sudah tidak ingin kembali padamu lagi. Seharusnya Anda bisa menghargai keputusannya."


Arbhy bicara dengan suara tegasnya.


"Kau orang asing diam 'lah! Aku tidak percaya kamu dengannya sudah bertunangan."

__ADS_1


Lelaki yang tidak terima melihat Zafia dengan laki-laki lain itu tetap bersikeras. Menolak kenyataan jika Zafia tidak menginginkannya lagi.


"Apa yang harus aku buktikan, supaya kamu percaya?" tanya Zafia.


Gadis itu benar-benar muak melihat dan mendengar laki-laki pengkhianat dihadapannya itu.


"Cih, apa kau yakin bisa melakukannya?" tantang Ardian.


"Kenapa tidak. Katakan saja?" ucap Zafia dengan tegas.


"Apa kamu berani berc**m*n dengannya. Di depanku sekarang!" tegas Ardian.


Laki-laki itu tersenyum sinis kearah Zafia. Ardian yakin, bahwa Zafia tidak akan melakukannya. Karena selama berpacaran dengannya. Gadis itu tidak pernah mau berc**m*n dengannya.


Mereka hanya bersentuhan tangan. Sekedar berpelukan biasa dan cipika-cipiki alias cium pipi kanan dan kiri. Tidak lebih dari itu.


Berpikir jika dia telah menang. Karena ucapannya tidak mungkin Zafia sanggupi. Ardian tersenyum penuh ejekan.


"Kamu kira aku tidak bisa melakukannya?"


Zafia tersenyum sinis kearah Ardian. Ardian masih menunjukkan senyum meremehkan.


"Tentu saja. Karena kamu tidak mungkin melakukannya. Bukankah prinsipmu sangat kuat. Tidak akan melakukannya sebelum terikat sebuah janji pernikahan?"


"Jangan melakukan sesuatu yang akan membuat harga dirimu jatuh, Nona," bisik Arbhy merasa khawatir.


Arbhy sangat khawatir Zafia terpengaruh dengan provokasi yang dibuat oleh Ardian. Tapi Zafia sama sekali tidak mendengarkan ucapan Arbhy.


"Kenapa Zafia? Kamu pasti tidak akan melakukannya. Aku sangat tahu betul seperti apa kamu."


Arbhy merasa tidak senang dengan ucapan Ardian. Dia segera menyahut dengan suara tegasnya.


"Tidak semua hubungan harus ditunjukan dengan berc**m*n didepan umum, Tuan! Aku bahkan tidak akan me ...."


Belum sempat Arbhy meneruskan kalimatnya. Zafia sudah membungkamnya dengan sebuah kelembutan. Membuat Arbhy melebarkan matanya. Begitu pula dengan Ardian.


Laki-laki itu dibuat panas dan sakit sekaligus. Tangannya terkepal erat melihat pemandangan didepannya.


Bagaimana mungkin gadis polosnya dulu bisa melakukan hal seperti itu. Begitu agresif. Kedua tangannya bergelayut manja pada leher lawan jenisnya.


Laki-laki yang diklaimnya sebagai tunangan itu di perangkapnya dengan begitu erat. Tak mengindahkan keberadaan Ardian yang matanya terasa memanas disana.

__ADS_1


Zafia seakan menulikan telinganya. Menutup mata hatinya. Menolak kehadiran orang yang telah menorehkan luka. Zafia hanya memikirkan cara untuk mengusirnya.


Meskipun harus melakukan tindakan yang sangat memalukan. Zafia rela melakukan asalkan Ardian berhenti mengejarnya.


Arbhy awalnya terkejut dengan tindakan gadis disebelahnya itu. Akan tetapi, serangan dan sentuhan dari b*b*r mungil itu benar-benar membuatnya tergoda.


Tanpa sadar, lelaki itu membalas apa yang Zafia lakukan. Dengan lembut membelai sesuatu yang sudah memberikan cubitan termanisnya. Cubitan mesra meskipun terasa kaku. Tapi ini sangat mengesankan.


Arbhy pun membalasnya dengan selembut mungkin. Menciptakan kenyamanan dengan caranya sendiri. Tak menghiraukan sekitarnya yang memanas. Tangan lelaki itu bahkan dengan beraninya berpindah pada pinggang ramping gadis itu.


Memeluknya lebih erat dengan mengikis jarak diantara mereka. Menyalurkan perasaan yang tanpa sengaja memberikan rasa nikmat. Tanpa keduanya pikirkan bagaimana nanti kelanjutan hubungan mereka.


Mereka hanya bertindak untuk hari ini. Mencoba mengendalikan situasi. Dengan menjalankan peranan masing-masing. Mematahkan keangkuhan dan keegoisan seseorang. Yang selalu merasa paling benar sendiri.


Ardian merasakan dadanya sesak. Panas dan juga sakit. Dia tidak menyangka jika Zafia nya telah berubah drastis. Didepan matanya sendiri Zafia berani melakukan tantangan yang Ardian berikan.


Bahkan mereka saat ini sedang berada ditempat umum. Tapi Zafia terlihat tenang dan tidak memperdulikan sekitar.


Gadis itu dengan mesranya bercumbu didepan matanya. Berbagi kelembutan dengan seorang laki-laki. Gadis itu bahkan memperlihatkan kesan bahwa ia sangat menikmati perannya.


Sampai terlihat begitu luwes dengan decakan yang tercipta samar. Lenguhannya terdengar begitu menggelikan bagi Ardian.


Tak tahan menyaksikannya, Ardian memilih pergi dari sana. Dengan emosinya yang memuncak. Kedua tangan terkepal erat. Sampai buku-buku tangannya memutih.


Arbhy merasakan udara disekitarnya terasa sesak. Lelaki itu mengurai jarak dengan Zafia. Ia melirik sekilas kearah dimana Ardian sudah tidak ada.


"Dia sudah pergi," bisik Arbhy dengan suara lembutnya.


Lelaki itu hendak menghapus jejak yang ditinggalkannya. Namun, Zafia segera menjauhkan tubuhnya.


"Maaf," ucap Zafia sambil menundukkan kepalanya.


Gadis itu tidak berani menatap wajah Arbhy. Malu rasanya dengan tindakan yang telah dilakukannya. Bagaimana bisa dia begitu nekad. Hanya karena terpancing oleh ejekan yang Ardian berikan.


'Kamu benar-benar bodoh, Zafia! Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mengatakan laki-laki ini sebagai 'Tuan Mesum'. Tapi nyatanya kamu lebih mesum darinya. Bisa-bisanya kamu menc**mnya di depan umum,' batin Zafia mengutuk diri sendiri.


Kedua pipinya memerah ketika mengingat apa yang telah ia lakukan. Zafia merasa kehilangan muka didepan Arbhy. Sehingga membuat gadis itu terus menundukkan kepalanya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


Arbhy nampak khawatir dengan perubahan sikap Zafia.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2