
Ardian sedang berdiri di balkon, dia nampak lelah. Entah mengapa akhir-akhir ini hidupnya terasa berat. Setelah menghubungi asistennya untuk menghandle pekerjaannya. Ardian memilih untuk menyendiri di balkon.
Sejenak ia melihat kearah ranjang. Terlihat seorang wanita, sudah meringkuk dengan nyaman di bawah selimut. Siapa lagi jika bukan Arsha.
Setelah sampai di hotel yang diinginkannya. Arsha langsung tidur sehabis membersihkan diri. Ardian mendesah pelan, mengingat perdebatannya dengan Arsha.
Arsha dengan kekeh menginginkan untuk menginap di Sydney Cosmopolitan CBD Apartment. Karena tidak ingin menambah sakit kepala, Ardian menuruti saja apa maunya.
"Benar-benar wanita manja yang tidak bisa mengalah."
Ardian menggumam sambil berdecak. Arsha sangat berbeda jauh dengan Zafia. Zafia sangat patuh jika Ardian melarang atau tidak menyukai sesuatu yang Zafia tunjukkan. Tidak dengan Arsha, wanita itu selalu ingin menang sendiri.
Anehnya, Ardian selalu menuruti semua keinginannya. Apa pun yang menjadi keinginan Arsha, Ardian selalu memberikannya. Tak jarang Ardian sering mengalah. Seakan kepuasan Arsha adalah yang diutamakan oleh laki-laki itu.
"Bagaimana caraku untuk menghindari Arsha. Apa yang harus kulakukan, untuk mengalihkan perhatiannya?"
Ardian nampak sedang berpikir keras. Matanya terus memperhatikan Arsha yang sedang tertidur.
"Aku tidak mungkin meninggalkannya terus-menerus, dengan alasan pekerjaan."
Ardian bergumam seperti sedang berbisik. Ia tidak ingin suaranya terdengar oleh Arsha. Meskipun Arsha sedang tidur. Merasa tidak menemukan jalan keluar. Ardian membalikkan badannya.
Pandangan matanya menatap luasnya hamparan langit malam. Dimana bintang berkelip memancarkan cahayanya. Ingatannya melayang jauh ke masa lalu.
Saat itu Ardian sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Bali adalah tujuannya bertemu dengan kliennya. Perusahaan yang Ardian pimpin adalah perusahaan yang berjalan di bidang makanan dan minuman kemasan.
Dia sedang mencoba untuk memperkenalkan produknya ke berbagai kota. Selain itu, Ardian bermaksud untuk memperbanyak relasi bisnisnya.
Setelah selesai melakukan pertemuan disebuah hotel bintang lima. Ardian yang saat itu sedang berjalan hendak kembali ke apartemen yang disewanya. Tiba-tiba melihat seorang wanita yang tidak asing dimatanya.
Wanita itu terlihat sedang dipaksa oleh seorang laki-laki. Laki-laki itu terlihat menyeret wanita itu. Ardian yang merasa penasaran, memutuskan untuk mengikutinya.
Tepat saat laki-laki itu akan membuka sebuah kamar hotel. Wanita itu tiba-tiba menggigit tangan laki-laki itu. Hingga akhirnya tangannya terlepas dari laki-laki itu. Wanita itu langsung berlari dan menabrak Ardian yang tadi membuntutinya.
"Tuan tolong saya!"
Wanita itu berucap dengan panik ketika menabrak Ardian. Saat itulah Ardian bisa melihat siapa wanita itu dengan jelas.
"Arsha! Kamu sedang apa disini?"
Arsha melihat ke arah Ardian, sepersekian detik kemudian ia langsung memeluk Ardian.
"Ar, tolongin aku. Laki-laki itu memaksaku untuk memuaskannya."
Arsha terisak dalam dekapan Ardian.
"Apa? Maksudnya apa, Sha?"
__ADS_1
Ardian nampak terkejut sekaligus bingung.
Belum sempat Arsha memberikan penjelasan kepada Ardian. Laki-laki yang dimaksudkan mendekat.
"Heh! Siapa kamu? Kembalikan wanita jal4ng itu padaku!"
Laki-laki itu berucap dengan lantang. Membuat Ardian yang mendengarnya merasa geram. Ardian mengurai jarak diantara Arsha. Menarik tubuh Arsha untuk berlindung dibelakangnya.
"Siapa yang Anda maksud dengan wanita jal4ng, Tuan?"
Ardian memasang wajah dingin dan juga datar saat itu. Laki-laki yang mengejar Arsha tertawa seakan meremehkan.
"Hei, Bung! Nampaknya Anda juga tertarik dengan wanita itu."
Laki-laki itu melihat ke arah Arsha. Arsha bersembunyi di balik tubuh Ardian. Ia mencengkeram erat jas yang Ardian kenakan.
"Ar, aku takut!" bisik Arsha saat itu.
Merasakan ketakutan dari Arsha, Ardian langsung menatap tajam ke arah laki-laki yang masih mengincar gadis tersebut.
"Wanita ini milikku! Jangan pernah Anda mengganggunya. Lebih baik Anda mencari wanita lain. Masih banyak wanita yang bisa memuaskan Anda, Tuan."
Dengan dingin Ardian berbicara pada laki-laki dihadapannya. Laki-laki itu nampak terkekeh kecil.
"Kalau aku tidak mau? Bagaimana?"
Menyadari tatapan menjijikkan dari laki-laki itu. Ardian menjadi geram.
"Berapa uang yang sudah Anda keluarkan?" tanya Ardian dengan dingin.
Senyum culas nampak muncul dibibir laki-laki itu.
"Anda rupanya sangat perasaan, Tuan," ucap laki-laki itu memuji Ardian.
"Tidak usah bertele-tele. Berapa yang Anda inginkan?"
Menahan rasa muak dengan sikap laki-laki dihadapannya. Ardian dengan tegas bertanya.
"Sepuluh juta! Bayar ditempat, Saya tidak ingin cek."
Jawab laki-laki itu tersenyum miring.
'****!'
Ardian mengumpat didalam hatinya. Bukan karena jumlah uang yang begitu banyak. Melainkan karena ia tidak membawa uang tunai sebanyak itu.
"Ada apa Tuan? Apa Anda tidak mempunyai uangnya?"
__ADS_1
Terlihat senyum meremehkan begitu kentara dibibir laki-laki itu. Ardian mengepalkan tangannya. Ia paling benci jika diremehkan. Laki-laki dihadapannya itu benar-benar membuatnya geram.
"Aku tidak punya uang tunai sebanyak itu."
Laki-laki dihadapan Ardian itu nampak tersenyum menyeringai. Kesan merendahkan begitu jelas, dapat Ardian lihat dalam pandangannya.
"Tidak punya? Kalau begitu, serahkan wanita itu padaku! Sekarang juga!"
Laki-laki itu berucap dengan tegas memerintah Ardian. Ardian tidak menghiraukannya. Tangan Ardian merogoh saku celananya. Sebuah benda pipih telah berada di genggamannya.
"Mau apa kamu? Jangan bilang Anda ingin menghubungi polisi. Astaga! Tidak kusangka ternyata nyali Anda begitu ciut."
Laki-laki itu mencibir kearah Ardian, dengan sikap santainya. Namun, apa yang laki-laki itu sangka nyatanya tidak terbukti. Ardian justru mengangsurkan benda pipih itu.
"Tulis berapa nomor rekeningmu. Aku akan langsung mentransfernya."
Meskipun awalnya laki-laki itu terlihat bingung. Nyatanya ia segera mengambil benda pipih itu. Segera ia mencatatkan nomor rekeningnya. Setelah itu, ia mengembalikan benda itu kepada Ardian.
Kliring.
Terdengar suara bunyi telepon genggam berdering, sesaat setelah Ardian menerima benda pipihnya.
"Sepuluh juta sudah ku kirimkan, Tuan. Jadi, sekarang wanita ini milik Saya. Anda juga tidak berhak mengganggunya dilain hari. Apa Anda mengerti?"
Laki-laki itu nampak tersenyum senang ketika melihat telepon genggamnya. Notifikasi sejumlah uang baru saja masuk ke nomor rekeningnya.
"Terimakasih, Tuan. Senang sekali berbisnis dengan Anda. Silakan Anda bawa wanita itu. Saya sudah tidak tertarik lagi dengannya."
Apa yang diucapkan oleh laki-laki itu membuat Arsha melebarkan matanya.
'Dasar laki-laki munafik,' pikir Ardian mencemooh.
Merasa sudah tidak ada urusan lagi. Ardian langsung mengajak Arsha pergi dari tempat itu.
"Ayo pergi!"
Arsha mengikuti Ardian dengan pasrah. Tanpa tahu kemana Ardian akan membawanya.
"Ar, kita mau kemana?"
Arsha bertanya kepada Ardian ketika mereka berada di dalam mobil.
"Aku akan mengantarmu. Katakan saja dimana kamu menginap sekarang."
♡♡♡
Bersambung ....
__ADS_1