Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
14. HAMDANI DIUSIR ARBHY


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Arbhy hanya bisa menggerutu didalam hatinya. Semua rencananya yang telah disusun rapi. Tidak sesuai dengan ekspektasi. Kenyataannya semuanya ambyar begitu saja.


Sebelumnya kakak iparnya ikut dengan dalih ingin melihat keindahan malam Sydney Opera House. Dan sekarang ... Arbhy melirik dua wanita yang sedang duduk di kursi penumpang bagian belakang.


'Astaga! Kenapa hariku menjadi s*al seperti ini?' batin Arbhy menggerutu kesal.


Lelaki itu melirik kesamping tepat dimana kakak iparnya sedang mengemudi. Hamdani yang tanpa sengaja juga melihat kearah Arbhy, menaikkan bahunya. Kemudian kembali fokus pada tugasnya. Yaitu mengendara tanpa lengah karena padatnya kendaraan malam ini.


Saat Arbhy sedang bingung dengan segala macam rencana yang berantakan. Di kursi penumpang bagian belakang, dua orang gadis sedang berdiskusi dengan suara yang cukup pelan.


"May, apa kamu yakin akan berhasil?"


Wanita yang ditanya oleh gadis disampingnya itu perlahan mengangguk.


"Tentu saja. Kamu tenanglah, jangan terlihat tegang. Aku akan selalu mengawasi kalian nantinya."


Mendengar jawaban lawan bicaranya Zafia merasa lega. Gadis itu sedari tadi merasa gelisah, karena melihat perubahan masam pada wajah Arbhy.


'Semoga saja pria mesum itu tidak marah. Meskipun aku yakin, dia pasti sedang kecewa saat ini.' Zafia berbicara dalam hatinya.


Sempat merasa tidak enak kepada Arbhy. Tapi, mau bagaimana lagi. Rasa takutnya jika Arbhy berbuat macam-macam padanya. Membuat Zafia meminta perlindungan kepada Mayra. Yang ternyata tanpa Zafia minta. Mayra sudah memiliki rencananya sendiri.


"Ekhem. Tuan Sopir, tolong nanti berhenti di kafe terdekat dengan gedung Opera."


Ucapan Mayra sontak saja membuat Arbhy tergelak.


"Anda dengar Tuan Sopir? Nona dibelakang meminta Anda menurunkannya di kafe terdekat dengan gedung Opera. Jangan sampai terlewat. Kalau tidak ingin memundurkan mobil Anda kembali kebelakang."


Arbhy berucap sambil terkekeh kecil. Sementara Hamdani hanya bisa mengumpat didalam hati. Tanpa mengurangi rasa hormatnya. Hamdani membalas ucapan Arbhy.


"Apakah Anda pernah melihat mobil mundur kedepan, Tuan Arbhy Yahya Arabica? Anda tidak perlu khawatir tentang daya ingat dalam kepala Saya. Khawatirkan saja rencana kencan Anda malam ini.


"Sepertinya, malam ini akan terasa melelahkan."


Arbhy hanya mendengus kesal mendengar ucapan Hamdani. Senyum kemenangan terlihat terukir sekilas diujung bibir kakak ipar Arbhy itu.


"Lelucon yang sangat hambar," pungkas Arbhy terdengar datar.


Hamdani hanya menaikkan bahunya. Terus fokus mengemudikan kendaraannya. Lima menit berlalu, Hamdani berhenti tidak jauh dari lokasi gedung Opera. Sesuai dengan permintaan Mayra.


Mayra kemudian turun dari dalam mobil yang ditumpanginya.


"Terimakasih atas tumpangannya, Tuan. Semoga kencan Anda menyenangkan."


Setelah berucap seperti itu, Mayra berlalu pergi menjauh. Arbhy yang berada di dalam mobil melirik kearah Hamdani.


"Bukannya Abang mau mencari kulineran disekitar Sydney Opera House?"


Arbhy menampilkan seringai licik ke arah Hamdani. Hamdani mendengus sebelum turun dari mobilnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata. Lelaki itu tidak berniat untuk membantah ataupun menyanggah ucapan Arbhy.

__ADS_1


"Berhati-hatilah, Bang. Jangan sampai tersesat."


Arbhy melemparkan senyuman kepada Hamdani, ketika kaca jendela mobilnya masih terbuka.


"Tidak perlu mengkhawatirkan ku. Lebih baik khawatirkan dirimu sendiri. Ingat Arbhy ... kau membawa anak gadis orang. Jangan sampai lalai menjaganya."


Hamdani berucap dengan tegas, sebelum berlalu meninggalkan tempat dimana mobil Arbhy berhenti.


"Cih, apa maksud ucapannya itu. Yang benar saja. Dia kira aku ini pria macam apa? Enak saja bicara seperti itu."


Arbhy menggerutu seiring dengan menghilangnya siluet Hamdani di kejauhan.


"Berpindah 'lah ke depan, Nona. Jangan menganggap ku sebagai sopir pribadimu."


Arbhy berbicara dengan suara datarnya. Zafia yang berada di bangku belakang sedikit tersentak. Namun, gadis itu dengan konyolnya langsung berpindah. Duduk di bangku depan tanpa harus keluar dari mobil lebih dulu.


Gerakan gadis itu begitu gesit. Tidak terlihat kesulitan sama sekali. Ketika melangkah berpindah ke bangku bagian depan. Tepatnya disebelah Arbhy yang sudah duduk dibalik kemudi.


Arbhy yang melihatnya sampai dibuat menganga. Karena kelakuan Zafia yang menurutnya ... luar biasa menakjubkan.


Suasana tiba-tiba hening. Zafia yang begitu tidak sadarnya dengan kelakuan konyolnya. Dan Arbhy yang masih larut dalam keterkejutan.


Zafia yang merasakan tidak adanya pergerakan, dari kendaraan yang ditumpanginya, segera menoleh kearah Arbhy. Saat itulah Zafia melihat betapa konyolnya wajah terkejut seorang Arbhy.


"Tuan, kapan kita berangkat? Kenapa Anda tidak melajukan kendaraannya?"


"Tuan! Hei, Tuan Mesum!" seru Zafia dengan suara keras. Tak hanya itu, gadis itu juga melambaikan tangannya didepan wajah Arbhy.


"Ah, i-i-iya. Ada apa?"


Dengan bodohnya Arbhy melontarkan pertanyaan yang konyol pula. Zafia sampai geleng-geleng kepala karenanya.


"Sampai kapan kita akan disini? Apa kita tidak jadi ke Sydney Opera House?"


Pertanyaan Zafia tentu membuat Arbhy gelagapan. Lelaki itu segera menghidupkan mobilnya. Tanpa menghiraukan panggilan Zafia yang kembali memanggilnya 'Tuan Mesum'.


♡♡♡


"Huh! Dasar adik ipar kurang ajar. Dia kira siapa dirinya itu. Bisa-bisanya membuatku keluar dari mobilnya."


Hamdani menggerutu sambil memasuki sebuah kafe. Pandangan matanya beredar di seluruh penjuru ruangan. Tatapan matanya berhenti pada meja paling ujung.


Matanya menyipit kala melihat siluet seseorang yang sepertinya pernah dilihatnya.


"Seperti kenal," gumamnya.


Lelaki itu kemudian berjalan kearah meja tersebut. Perlahan tapi pasti, langkah Hamdani yang tidak menimbulkan suara, tidak membuat orang itu terusik.


"Boleh Saya bergabung disini, Nona?"

__ADS_1


Hamdani bertanya dengan sopan ketika sampai didekat meja yang ia tuju. Orang yang duduk disana mendongakkan wajahnya.


"Tuan Sopir!"


Nampak wanita itu terkejut melihat kehadiran Hamdani.


"Bisakah Anda tidak memanggilku dengan sebutan 'Tuan Sopir', Nona? Terkesan tidak enak di pendengaran Saya."


Hamdani tersenyum masam, sambil duduk di kursi yang terletak berseberangan dengan wanita itu.


Wanita dihadapan Hamdani nampak kaku. Kehadiran Hamdani yang tiba-tiba, membuat konsentrasinya buyar seketika.


"Saya harus memanggil Tuan siapa? Bukankah kita memang tidak saling mengenal sebelumnya?"


Hamdani kembali tersenyum mendengar jawaban lawan bicaranya. Lelaki itu segera mengulurkan tangannya. Tidak lupa Hamdani menyebutkan namanya.


"Hamdan."


Wanita dihadapannya memandang dengan heran uluran tangannya. Tak lama kemudian wanita itu menyambut uluran tangannya.


"Mayra."


"Senang berkenalan dengan Anda, Nona Mayra."


"Terimakasih banyak Tuan, Hamdan."


"Apa Saya mengganggu Anda, Nona?"


"Ah, tidak."


Mayra terlihat canggung ketika Hamdani bertanya sambil memandanginya.


"Syukurlah," gumam Hamdani pelan.


Hah! Lelaki itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kenapa Anda berada disini, Tuan?"


Mayra bertanya dengan raut wajah keheranan. Hamdani tersenyum simpul mendengar pertanyaan Mayra.


"Biasalah, Tuan Muda mengusirku. Dia merasa terganggu dengan kehadiranku."


"Benarkah begitu?" gumam Mayra pelan.


'Bagaimana dengan Zafia? Jika orang kepercayaan lelaki itu disini. Bagaimana caraku melacak keadaan Zafia. S*al! Ini benar-benar tidak menguntungkan!" batin Mayra menggerutu.


♡♡♡


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2