Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
41. HANCUR BERKEPING-KEPING


__ADS_3

Dunianya terasa hancur. Kesedihan yang sempat melanda, kini kembali dengan hantaman yang lebih besar. Sakit sekali. Bahkan rasa percaya itu semua seakan hancur berkeping-keping. Seperti hatinya yang terluka.


Sambil berlari dengan bercucuran air mata, Zafia menumpahkan rasa sesaknya. Butiran air matanya menandakan betapa kecewa perasaannya. Sosok ayah yang selama ini dibanggakan olehnya. Nyatanya hanyalah seorang laki-laki bi4dab.


Penipu ulung yang nampak berwibawa. Seperti layaknya pemain sandiwara di atas pentas. Zafia benar-benar tidak menyangka, jika sikap berwibawa ayahnya selama ini. Tak ubah hanya sebuah kamuflase.


Bruk.


"Maaf," ucap Zafia pada orang yang ditabraknya.


Belum sempat orang yang ditabraknya memberikan jawaban. Zafia pergi begitu saja. Meneruskan langkahnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Tempat yang membuatnya mengetahui semua kebenarannya. Kebenaran yang menyakitkan hatinya.


Kebenaran yang membuatnya merasa bodoh. Ya, Zafia merasa bahwa dirinya benar-benar bodoh. Karena sosok ayah yang dulu sangat dihormatinya. Sosok ayah yang selalu dibanggakan. Dikira laki-laki yang bertahta sebagai ayah baginya, adalah sosok yang membanggakan karena berjuang demi keluarga. Tapi kenyataannya tak seperti itu.


"Maaf, Bos. Nona Zafia terlihat menangis."


Lapor orang yang memantau Zafia pada Arbhy. Orang itu melaporkan hasil pengintaiannya melalui panggilan telepon.


"Apa yang terjadi? Apa kamu tahu, apa yang membuatnya menangis?" tanya Arbhy diseberang telepon.


"Kami juga tidak tahu, Bos. Karena kami hanya membuntutinya yang memasuki bangunan hotel mewah. Namun, beberapa saat kemudian, Nona Zafia keluar sudah dengan berurai air mata."


Menjelaskan dengan hati-hati sambil terus mengikuti Zafia. Orang itu berbicara dengan Arbhy.


"Lakukan yang terbaik. Cari tahu apa yang membuatnya menangis!" tegas Arbhy memberikan perintah.


Orang itu kembali mengantongi ponselnya, setelah menerima perintah dari Arbhy. Kembali membuntuti Zafia yang pergi dengan menggunakan sebuah taksi.


"Kamu pergilah ikuti taksi itu. Nona Zafia berada di dalamnya. Jangan sampai kehilangan jejak. Aku akan mengurus sesuatu disini!" titahnya pada rekannya yang menunggu di luar gedung.


Sementara di tempat lain Arbhy dibuat gelisah, setelah mendapatkan kabar tentang Zafia.


"Ada apa?" tanya Hamdani yang sedari tadi memperhatikan Arbhy.


"Ada sedikit masalah." Arbhy menjawab dengan raut khawatir.


"Masalah apa?" kening Hamdani berkerut merasa heran.


"Entahlah." Arbhy nampak gusar.


Pemuda itu tidak bisa lagi duduk dengan nyaman di tempatnya. Sementara rekan bisnis yang mereka tunggu tidak juga datang.

__ADS_1


"Bang," panggil Arbhy.


"Hm," Hamdani hanya menanggapi dengan deheman.


"Apa orang dari client kita masih lama?" tanya Arbhy.


Hamdani melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya.


"Kita tunggu lima menit lagi. Memang ada apa?" tanya Hamdani.


"Ah, tidak apa-apa." Arbhy berusaha menutupi masalah Zafia dari Hamdani. Pria muda itu tidak mau Hamdani kembali mengejeknya nanti.


♡♡♡


"Aku kehilangan jejak." Seseorang memberitahu rekannya melalui sambungan telepon.


"Bagaimana bisa?" suara rekannya terdengar marah di seberang sana.


"Aku terjebak lampu merah," keluh orang tersebut menahan kesal.


"Astaga! Dasar tidak berguna. Bagaimana caranya aku memberitahu Tuan Arbhy jika begini, Max?" tanya rekannya terdengar frustasi.


"Aku juga tidak tahu, Dante. Aku akan mencoba mencarinya," ucap Max mencoba meyakinkan rekannya.


"Aku akan berusaha." Max langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Sementara itu Zafia yang mereka cari kini baru saja sampai di mension. Gadis itu berlari sambil menangis. Membuka pintu mension dengan tergesa-gesa. Sehingga membuat suara gaduh.


"Zafia!" ucap Mayra nampak heran. Sementara Zafia terperanjat mendengar panggilan Mayra.


"Mayra!" Zafia memanggil dengan suara bergetar.


Menyadari jika Zafia sedang menangis, Mayra langsung bergegas berdiri dari duduknya. Menghampiri Zafia dengan perasaan cemas.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Mayra khawatir.


Zafia tak memberikan jawaban apapun. Gadis itu langsung berhambur dan memeluk Mayra erat-erat. Ditumpahkan semua kesedihannya saat itu juga. Zafia menangis sejadinya, sambil memeluk Mayra.


"Hei, Fia! Kamu kenapa menangis seperti ini?" tanya Mayra dengan penuh perhatian.


Tak hanya itu, tangan wanita itu mengelus lembut bahu Zafia yang bergetar. Berharap dengan begitu bisa membuat Zafia merasa tenang.

__ADS_1


"Apa seseorang membuat masalah dengan mu? Coba beritahu aku, siapa dia! Biar aku menghajarnya," Mayra mengira Zafia ada masalah dengan teman kuliahnya.


Tapi Zafia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Menyangkal perkiraan yang Mayra tebak. Karena Zafia menangis bukan karena teman kuliahnya.


"Lalu, mengapa kamu menangis? Apa kamu kehilangan sesuatu?" tanya Mayra merasa was-was.


"Apa seseorang telah melecehkan mu?" berbarengan dengan pertanyaannya yang terakhir, Mayra berusaha mengurai jarak dengan Zafia.


Zafia kembali menggeleng dengan sesenggukan. Seakan suaranya tercekat di tenggorokan. Zafia tidak bisa bersuara untuk memberikan jawaban pada Mayra.


"Lalu apa yang membuatmu menangis seperti ini, Zafia?" tanya Mayra dengan nada tidak sabaran.


"A-aku melihat Pa-pa, May. Dia ... dia menginap di hotel bersama salah satu mahasiswi di tempatku kuliah," terang Zafia dengan suara sesenggukan.


Mayra membeku di tempatnya. Tatapan matanya berubah menjadi sendu. Kembali ia meraih tubuh Zafia. Gadis itu kembali menangis dalam rengkuhan Mayra.


"Apa kamu yakin? Kalau itu Om Damiant?" tanya Mayra hati-hati.


"Aku sangat yakin, May. Karena aku sudah memastikannya sendiri. Aku mengikutinya. Dan ...." Zafia tidak bisa lagi berkata-kata.


Gadis itu kembali teringat bagaimana suara erotis itu terdengar. Suara ayahnya yang sangat familiar di telinganya. Sungguh jijik rasanya ketika suara itu terus terngiang di telinga Zafia.


Karena itu kembali mengingatkan Zafia pada pengkhianatan, yang dilakukan oleh Ardian padanya. Memaksa luka itu kembali terbuka. Bahkan kali ini lebih parah dari sebelumnya.


"Kenapa, May? Kenapa mereka begitu jahat padaku?" tanya Zafia disela-sela isak tangisnya.


"Apa salahku pada mereka, May? Kenapa mereka begitu tega membuatku terluka sampai seperti ini?


"Pantas saja. Pantas saja Ardian mengkhianati ku. Pasti, ini semua karma dari Tuhan. Iya, pasti apa yang menimpaku adalah karma dari Tuhan. Karena Papa," racau Zafia.


"Cukup, Zafia! Tenanglah! Itu semua tidak benar," Mayra berusaha menenangkan Zafia.


"Tidak, May! Ini semua pasti karma yang harus ku terima, karena perbuatan Papa. Aku benci padanya, May! Aku benci!" Zafia kembali meracau.


Menggelengkan kepalanya, Mayra benar-benar tidak sependapat dengan ucapan Zafia. Dia segera mengurai jarak dan membingkai wajah Zafia dengan kedua tangannya.


"Zafia, dengarkan aku!" titah Mayra dengan tegas. "Lihat aku! Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan. Kamu mengerti?"


"Bagaimana bisa aku melakukannya, May?" tanya Zafia sendu. "Hatiku sangat sakit. Aku benar-benar merasa hancur berkeping-keping," imbuh Zafia putus asa.


♡♡♡

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2