
Hah! Helaan napas gadis itu kembali mengudara. Apa yang Mayra tebak semuanya memang kenyataan. Zafia benar-benar gelisah karena apa yang telah dia lakukan dengan Arbhy.
"Mayra aku bingung."
Zafia berucap dengan lesu, gadis itu memajukan bibirnya. Mayra menatap wajah Zafia dengan serius.
"Apa yang membuatmu bingung? Jika kamu tidak menjelaskan padaku. Aku tidak bisa membantumu.
"Bagaimana aku mencarikan solusinya. Jika tidak tahu apa masalahnya," ujar Mayra.
Wanita yang sudah seperti kakak bagi Zafia itu, berusaha untuk mengorek informasi dari Zafia.
"Aku memintanya untuk melupakan semuanya."
Zafia menceritakan kepada Mayra, jika dirinya meminta Arbhy, untuk melupakan apa yang telah mereka lakukan. Mayra menggeleng pelan.
"Lalu, apa tanggapan lelaki itu?" tanya Mayra.
"Dia setuju dan berjanji padaku. Dia akan melupakan semuanya," aku Zafia dengan jujur.
"Lantas kenapa kamu gelisah? Bukankah dia sudah memenuhi keinginanmu? Seharusnya tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan."
Mayra dengan santai menanggapi cerita Zafia. Jika diantara keduanya sudah sepakat untuk saling melupakan. Kenapa masih menjadikannya beban pikiran? Hanya membuang-buang waktu saja. Pikir Mayra.
"Masalahnya tidak semudah itu, May." Zafia mengeluh. "Aku tidak bisa melupakannya. Sepanjang malam aku terus mengingat ... ah!"
Gadis dihadapan Mayra itu mend*sah dengan lesu. Wajah murung itu tertutup oleh kedua telapak tangan. Zafia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia merasa malu sendiri.
Bisa-bisanya menyuruh Arbhy melupakan apa yang telah mereka lakukan. Sementara kenyataannya, dirinya sendirilah yang tidak bisa melupakan kejadian itu.
'Sungguh memalukan,' rutuk gadis itu terus membatin.
"Maksudmu, kamu menyesali ucapanmu? Kamu menyesal telah menyuruhnya melupakanmu?" tanya Mayra mencari pembenaran.
"Entahlah, May. Aku bingung dengan perasaanku sendiri."
Zafia kembali mengeluh pada Mayra. Mayra hanya bisa menghela napas. Tidak tahu harus bagaimana menyikapi tindakan gadis dihadapannya itu.
"Sudahlah, dari pada dirimu pusing dan kehilangan semangat hidup seperti ini. Lebih baik kamu bersiap. Kita akan melihat tempat pendidikanmu.
"Bukankah kamu ingin meneruskan kuliahmu?"
Mayra memilih untuk mengganti topik obrolan mereka. Karena tidak terlalu penting membicarakan masalah Zafia dengan Arbhy. Karena mereka tidak mengenal siapa orang itu.
__ADS_1
Seperti apa kata Zafia sebelumnya. Lebih baik mereka menganggap pertemuan mereka tidak pernah terjadi. Itu akan lebih baik. Dari pada harus buang-buang waktu. Hanya karena orang asing yang tidak jelas identitasnya.
"Hah! Kenapa harus sekarang sih. Aku 'kan sedang tidak bertenaga," keluh Zafia dengan lesu.
Namun, gadis itu tetap beranjak dari duduknya. Dia tidak ingin membantah ajakan Mayra. Karena Mayra adalah orang yang paling mengerti dirinya. Meskipun, yah ... kadang-kadang sangat tegas.
Zafia menurut apa yang Mayra perintahkan. Hari ini semua aktivitasnya sudah dijadwalkan oleh Mayra.
Ditempat lain seorang pemuda baru saja selesai melakukan pertemuan bisnis. Dia tidak sendirian. Selalu ditemani dengan asisten sekaligus kakak iparnya. Siapa lagi jika bukan Arbhy.
Laki-laki itu meminta kakaknya untuk mencari tempat makan. Tempat yang tidak membosankan katanya. Tentu saja Hamdani bingung dibuatnya. Mereka harus mencari makan dimana? Tempat yang tidak membosankan katanya? Ada-ada saja, pikir Hamdani mendengus dalam hati.
Pada akhirnya Hamdani memutuskan untuk mencari tempat makan, yang menyajikan makanan asia. Tidak terlalu sulit baginya. Dengan bermodalkan informasi dari internet. Hamdani mengarahkan kendaraannya menuju sebuah restaurant.
Restaurant yang Hamdani pilih adalah sebuah restaurant yang menyajikan masakan Indonesia. Karena Hamdani memang ingin makan makanan dari Indonesia saja. Masalah Arbhy, dia tidak peduli lagi.
"Wah, Bang. Pilihan tempatnya bagus. Rekomendasi dari mana?" tanya Arbhy.
Mereka melangkah kedalam restaurant dengan santai. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Untuk mencari tempat duduk. Restaurant yang mereka kunjungi kali ini sangat berbeda dari biasanya.
"Dari internet," jawab Hamdani singkat.
Arbhy hanya ber 'o' ria. Mereka kemudian duduk dan segera memesan makanan yang mereka inginkan.
"Benar-benar fantastis harganya, Bang."
Hamdani menggeleng pelan.
"Tidak akan membuatmu bangkrut, Bhy. Dari pada perut lapar. Lagian ini luar negeri jangan samakan dengan Indonesia.
"$10 perorangan itu termasuk ramah dikantong, Bhy. Setidaknya kita bisa makan masakan Indonesia. Sesuai dengan rasa nikmatnya," kelakar Hamdani tertawa ringan.
"Kau bisa bilang seperti itu, Bang. Karena tidak mengeluarkan uang. Kenapa tadi tidak dirimu saja yang membayar tagihannya?
"Kenapa harus meminta uang padaku?"
Arbhy dengan sinis menyanggah ucapan kakaknya. Hamdani menampilkan senyuman bodohnya. Dengan deretan gigi putihnya.
"Kau adalah Boss-nya, Bhy. Jadi, memberiku makan itu adalah kewajibanmu. Sudah tanggung jawabmu mentraktirku. Karena aku adalah bawahanmu."
Hamdani dengan fasih-nya membuat Arbhy kehabisan kata-kata.
"Tapi lain kali Abang harus mentraktirku. Karena Abang itu kakak iparku. Kau lebih tua dariku, Bang.
__ADS_1
"Jangan terus memanfaatkan pangkatku. Tidak ada salahnya bawahan mentraktir atasannya. Itu sah-sah saja."
Arbhy menggerutu sambil memasuki mobil.
"Nantilah, Bhy. Kalau aku sudah menjadi Sultan. Aku akan mentraktir mu. Makanya sering-seringlah memberiku bonus. Supaya aku cepat kaya.
"Jadi kita bisa gantian mentraktir saat makan diluar. Bagaimana?"
Hamdani menaik turunkan kedua alisnya. Arbhy tersenyum menyeringai.
"Kau sedang merayuku, Bang? Apa kau pikir itu bisa membuatku luluh?"
Arbhy dengan sinis menjawab ucapan Hamdani. Ternyata umpan yang Hamdani tebar tidak termakan. Lelaki itu mendengus kesal. Arbhy geleng-geleng kepala melihatnya.
"Sungguh malang sekali dirimu, Bang. Aku heran, bagaimana kak Delima dulu bisa suka denganmu. Sungguh sangat mencurigakan." sinis Arbhy.
"Jangan membahasnya, Bhy. Apa kau tidak kasihan padaku?"
Wajah Hamdani nampak berubah saat itu juga. Lelaki itu memasang wajah yang sulit dimengerti.
"Sampai saat ini ... kakakmu masih setia disini, Bhy. Bagaimana aku bisa bertemu dengan kakakmu. Semua itu adalah takdir Tuhan.
"Dan kau tahu, Bhy. Aku sangat bahagia bertemu dengannya. Meskipun waktu kami untuk bersama hanya beberapa tahun saja."
Arbhy tersenyum tipis mendengar ucapan Hamdani. Betapa beruntungnya kakaknya. Karena mendapatkan suami seperti Hamdani. Sayang sekali takdir begitu kejam memisahkan keduanya.
"Maaf, Bang. Tapi, aku berharap Abang bisa memulai hidup baru. Delima juga membutuhkan sosok ibu.
"Ya, mungkin sekarang ia masih belum mengerti dengan sosok ibu. Tapi, lambat laun dia pasti membutuhkan kasih sayang seorang ibu."
Hamdani tersenyum masam kala mendengar nasehat dari Arbhy. Tidak semudah itu bagi Hamdani untuk mencari pengganti.
"Entahlah, Bhy. Aku belum berpikir sejauh itu. Fokus ku saat ini adalah untuk membesarkan Delima. Itu saja."
Arbhy memandang kakak iparnya dengan sendu. Begitu besarnya cinta Hamdani kepada kakaknya yang bernama Delima. Sampai ia memberikan nama itu kepada putri mereka. Buah cinta mereka, supaya nama kakaknya selalu mereka ingat setiap saat. Setiap detik dan setiap waktu.
Saat keduanya sedang tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba kendaraan didepan mereka berhenti mendadak.
BRAK!
♡♡♡
Bersambung ....
__ADS_1