
Ardian mengajak Arsha keluar untuk jalan-jalan. Itu ia lakukan sebagai bentuk permintaan maafnya. Karena telah berbuat kasar pada wanita itu.
"Aku minta maaf," ucap Ardian seraya memegang tangan Arsha.
Wanita itu hanya diam tanpa kata. Arsha tidak bisa bersuara. Lebih tepatnya ia malas menjawab ucapan lelaki itu. Jiwa Arsha benar-benar terguncang. Tatapan matanya terlihat kosong.
Telinganya mendengar kalimat maaf yang Ardian ucapkan. Namun, dia enggan menjawabnya.
"Sampai kapan kamu akan mendiamkan ku seperti ini?"
Ardian mend*sah pelan ketika wanita yang diajaknya bicara diam saja. Laki-laki itu tidak menyangka jika perbuatannya yang kasar, telah melukai perasaan wanitanya. Sungguh, saat itu Ardian sedang dalam kondisi emosi.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku janji ... aku tidak akan melakukannya lagi. Tolong bicaralah!"
Ardian berbicara dengan nada yang lebih lunak. Berharap bisa membuat wanita yang duduk disampingnya itu mengeluarkan suaranya.
"Biarkan aku pulang!" Arsha segera memalingkan wajahnya, setelah mengutarakan keinginannya.
Ardian kembali memasang wajah dingin ketika mendengar ucapan Arsha. Membiarkannya pulang? Itu tidak akan mungkin. Jika urusannya belum selesai, maka Ardian tidak akan membiarkan Arsha pulang.
"Jika itu keinginanmu. Maka, jangan pernah berharap aku mengabulkannya."
Ardian berucap dengan tegas. Lelaki itu melepaskan tangannya. Ia memilih fokus untuk menyetir. Mengabaikan sikap acuh wanita disebelahnya.
"Kamu jangan egois, Ar!" sergah Arsha menatap tajam kearah Ardian.
"Siapa yang kamu sebut egois?" tanya Ardian dengan acuh.
Arsha tertawa sumbang. Benar-benar menyebalkan. Sepertinya Arsha telah jatuh cinta pada seseorang yang salah.
"Aku benar-benar menyesal sudah mencintaimu, Ar."
Cit!
BRAK!
Tubuh Ardian dan Arsha terantuk ke depan. Karena Ardian yang mengerem mendadak. Kemudian kendaraan mereka terhantam kendaraan lainnya dari arah belakang.
"Ardian! Apa yang kamu lakukan! Kamu ingin mengajakku mati, hah!"
Arsha tak kuasa memendam amarahnya. Wanita itu memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Karena terpentok dasbor mobil.
"Jangan salahkan aku. Ini semua terjadi karena kamu!" sergah Ardian.
"Kenap ...."
"Diam! Jangan banyak bicara lagi!"
__ADS_1
Ardian segera menyela ucapan Arsha, laki-laki itu bahkan membentak wanita itu dengan suara keras. Arsha tersentak dibuatnya. Wanita itu terdiam seketika.
"Benar-benar s*al!" umpat Ardian seraya keluar dari mobilnya.
Membanting pintu mobilnya dengan kesal. Ardian berjalan hendak melihat keadaan bagian belakang mobilnya.
"Astaga!"
Ardian melebarkan matanya kala melihat bagian belakang mobilnya ringsek. Kedua tangannya berkacak pinggang.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja, karena Anda tadi berhenti tiba-tiba."
Seseorang menghampirinya sambil mengucapkan permintaan maaf. Ardian menoleh kearah pemilik suara tersebut.
"Lalu bagaimana ini? Mobil Saya ringsek karena tertabrak mobil Anda!" ucap Ardian suaranya masih diliputi dengan amarah.
"Ya, bagaimana baiknya. Apa yang Tuan inginkan? Karena ini juga bukan sepenuhnya kesalahan Saya. Jika Tuan tidak berhenti mendadak.
"Mungkin kendaraan Saya tidak akan menabrak mobil, Tuan."
"Jadi Anda ingin mengatakan jika ini semua karena salah Saya? Begitu?" tanya Ardian dengan meninggikan suaranya.
"Sudahlah, Bang. Berikan saja ganti rugi padanya. Jangan membuat keributan," seseorang dengan suara malas menyela.
Ardian mengalihkan perhatiannya kepada pemilik suara malas itu. Sejurus kemudian keluar decakan dari bibir Ardian.
"Astaga, ternyata laki-laki tidak tahu diri ini lagi. Ternyata dunia ini begitu sempit. Benar-benar s*al sekali aku hari ini.
Ardian berucap dengan nada sinis. Orang yang tadinya meminta maaf kepada Ardian, mengerutkan keningnya. Apa maksud orang ini? Pikirnya merasa heran.
"Hei, siapa namamu? Kita bahkan belum sempat berkenalan. Dasar pebinor," sinis Ardian.
"Ah ... ya! Bagaimana kalau aku memanggilmu, 'Tuan Pebinor'? Aku rasa itu sangat cocok untuk laki-laki sepertimu.
"Laki-laki yang suka merebut kekasih orang lain," cibir Ardian dengan sinis.
Laki-laki yang terus disindir oleh Ardian hanya terkekeh kecil. Membuat bingung orang yang berada dihadapan Ardian. Kenapa adik iparnya itu terlihat santai ketika ada orang yang menyebutnya sebagai 'Pebinor'? Pikirnya lagi dengan alis yang dirajut.
"Astaga, rupanya Anda belum bisa move on juga. Tuan Ardian!" kekeh orang tersebut dengan nada penuh ejekan.
Ardian mengepalkan tangannya erat-erat.
'Kurang ajar! Laki-laki ini benar-benar memuakkan!' batin Ardian bergejolak.
"Apa Anda bilang? Move on? Yang benar saja. Itu sangat konyol. Aku hanya berusaha mengambil kembali milikku yang kamu rebut!" tegas Ardian berusaha berkilah.
Laki-laki yang Ardian ajak beradu mulut itu terkekeh. Gelengan kepalanya beberapa kali terlihat begitu ringan. Tidak menyangka jika seorang Arbhy Yahya Arabica harus memiliki rival seperti Ardian.
__ADS_1
"Baiklah, supaya Anda tidak mati penasaran. Akan Saya beritahu Anda tentang identitas Saya. Anda dengarkan baik-baik Tuan Ardiansyah!
"Nama Saya adalah Arbhy Yahya Arabica. Ahli waris dari Arabica Groups. Putra satu-satunya Tuan Abraham Arabica."
Arbhy berbicara dengan suara berwibawa. Ardian tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan konglomerat. Seorang pewaris pengusaha kopi terbesar dari negaranya. Sungguh ini sangat luar biasa.
Tapi mirisnya, pertemuan mereka bukan sebagai rekan bisnis. Melainkan sebagai rival. Ardian tersenyum miris dalam hatinya. Benar-benar sangat disayangkan.
"Cih, tidak kusangka. Jika seorang Tuan Muda dari Arabica Groups suka merebut milik orang lain. Padahal dengan kekayaan yang Anda miliki. Anda bisa mendapatkan banyak wanita yang masih single di dunia ini.
"Anehnya, Anda malah tertarik dengan kekasih orang."
Ardian tersenyum mencemooh kearah Arbhy. Berharap bisa memprovokasi lelaki itu. Tanpa berpikir panjang, bagaimana nanti akibatnya.
"Bang Hamdan! Sepertinya tabrakan dari mobilmu, telah membuat kepala Tuan Ardian terbentur dengan keras.
"Lihatlah! Dia sampai Amnesia seperti itu," cibir Arbhy.
"Tidak keras, Bhy. Hanya sedikit kuat," Hamdani menyahut sambil meringis.
Ardian berdecak kesal, kembali laki-laki itu melayangkan tatapan tidak bersahabat kepada Arbhy.
"Apa Anda lupa, Tuan Ardian? Nona Zafia sudah putus hubungan dengan mu. Sebelum kami memutuskan untuk bertunangan.
"Jadi, aku tidak merebut dia darimu. Karena saat itu kalian sudah putus."
Arbhy berbicara dengan suara datar.
"Ar, bagaimana? Apa kerusakannya sangat parah?" tanya Arsha yang sudah keluar dari mobilnya.
"Lagi pula, aku dengar dari Zafia. Jika hubungan kalian sangat dekat. Bahkan kalian sudah saling berbagi kehangatan di atas ranjang. Benar begitu 'kan, Nona?" Arbhy melirik sekilas kepada Arsha.
"Bukankah sangat egois jika Anda masih terus berharap kembali dengannya? Asal Anda tahu, Tuan Ardian. Wanita tidak ada yang ingin DIDUAKAN! Camkan itu!"
Arbhy berbicara dengan ekspresi yang sulit dipahami. Namun bagi Ardian apa yang Arbhy ucapkan hanyalah sebuah cibiran.
Arsha masih larut dalam keterkejutannya. Ketika menyadari siapa yang berbicara dengan Ardian.Ternyata mereka kembali dipertemukan dengan lelaki yang bersama Zafia malam itu.
"Bang, urus semuanya! Bila perlu hubungi tukang derek mobil terbaik disini. Biayai semua servisnya.
"Aku tidak mau dianggap orang tidak bertanggung jawab. Apalagi oleh rival," ucap Arbhy dengan sinis.
Lelaki itu segera masuk kembali kedalam mobilnya. Sementara Hamdani segera melakukan tugasnya. Menghubungi teknisi terbaik yang bisa memperbaiki kerusakan mobil Ardian.
Ardian mengepalkan tangannya dengan geram.
"Dasar sombong!" desis Ardian menahan amarahnya.
__ADS_1
♡♡♡
Bersambung ....