
Arbhy tersenyum menyeringai. Lelaki itu kemudian berdiri dari duduknya. Berpindah tepat disebelah kanan Zafia. Membuat Zafia sedikit gugup dan juga takut.
"Anda mau apa, Tuan?"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
Ucapan Arbhy membuat Zafia mengerutkan keningnya.
"Sesuatu?" beonya.
Arbhy menganggukkan kepalanya.
"Yups! Aku ingin memastikan. Apakah obat bius ku sudah bereaksi. Atau belum."
Mendengar Arbhy mengucapkan tentang obat bius. Membuat wajah Zafia pucat seketika. Dan Arbhy terlihat menikmatinya.
"Masih satu menit. Tinggal beberapa detik lagi."
Arbhy melihat jam dipergelangan tangannya. Zafia merasa napasnya sesak tiba-tiba.
"Lima, empat, tiga, dua dan ...."
Arbhy menjeda hitungannya.
"Satu!"
Lelaki itu menjentikkan tangannya tepat didepan wajah Zafia. Seketika membuat gadis itu mengerjapkan mata karena terkejut.
"Lihatlah!"
Arbhy menunjuk kearah langit. Zafia pun menurut dan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Arbhy.
Duarrr!
Suara dentuman dari ledakan kembang api mengudara. Diikuti dengan percikan api kecil-kecil yang menghiasi langit. Pemandangan yang begitu indah dan romantis.
Zafia bisa melihat puluhan kembang api yang menghiasi langit. Memancarkan percikan kecil-kecil yang membentuk lingkaran. Sama seperti bunga dandelion.
"Sangat indah," gumam Zafia.
"Apakah ini berkesan, Nona?" bisik Arbhy tepat disisi Zafia.
"Ini sangat berkesan. Apalagi jika Tuan tidak menggangguku untuk menikmatinya."
Arbhy menggeleng sambil tersenyum masam.
"Wanita memang sulit dimengerti."
"Terserah apa katamu, Tuan."
Keduanya terdiam setelah saling memberi kritikan. Menikmati indahnya pemandangan yang disuguhkan oleh kembang api yang mengudara.
Ditempat lain, seorang laki-laki terlihat sedang mondar-mandir. Tangan kirinya terlihat memegang telepon genggam, yang menempel di telinganya.
"Astaga, Arbhy! Kemana sebenarnya adik ipar sialan itu."
Hamdani benar-benar dibuat kesal luar biasa. Lantaran adik iparnya tidak bisa dihubungi sedari tadi.
"Hei, Nona! Apa sahabatmu bisa dihubungi?"
Wanita yang ditanyai oleh Hamdani hanya menggelengkan kepalanya. Tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya, Tuhan! Kenapa Kau mempertemukan ku dengan wanita sepertinya? Tidak bisakah dia itu menjawab dengan mulutnya?
"Benar-benar malam yang menyebalkan!"
Lelaki itu terus menggerutu dengan suara yang lebih pelan. Mayra yang sedang memeriksa benda ditangannya, tidak menghiraukan gerutuan Hamdani.
__ADS_1
"Tenanglah, Tuan. Aku tidak bisa menghubungi Zafia. Tapi, aku sudah mendapatkan posisi kendaraannya."
Mendengar ucapan Mayra, Hamdani langsung mengalihkan pandangannya pada wanita itu.
"Benarkah? Dimana?"
Mayra tidak menjawab pertanyaan Hamdani. Wanita itu segera melangkah hendak pergi dari tempatnya saat ini.
"Hei, Nona? Kau mau kemana?"
Hamdani segera mengantongi telepon genggamnya. Lelaki itu segera mengikuti Mayra.
"Bisakah Anda memberitahu ku. Dimana mereka sekarang?"
Mayra tetap tidak menjawab pertanyaan Hamdani. Ia memilih terus melangkahkan kakinya.
"Nona, apakah Anda kehilangan pita suara? Bisakah Anda tidak mengabaikan ku? Aku ini sedang bertanya padamu!"
Hamdani berseru sambil mengimbangi langkah wanita dihadapannya. Karena Mayra berjalan begitu cepat. Padahal Mayra adalah seorang wanita. Tapi, Hamdani merasa kewalahan mengikutinya.
"Simpanlah semua pertanyaanmu itu, Tuan. Jika ingin tahu dimana adik ipar Anda berada. Anda bisa mengikuti Saya. Tanpa harus banyak bertanya.
"Anda ini berisik sekali!"
Hamdani langsung terdiam, begitu mendengar ucapan Mayra yang terdengar sinis. Lelaki itu bahkan merasa kesulitan, meski hanya untuk menelan ludahnya sendiri.
Tak ingin kembali mendengar nada sinis dari Mayra. Hamdani memilih untuk diam dan mengekor dibelakang wanita itu.
Mayra menghentikan sebuah taksi yang melintas. Ketika mereka berada disisi jalan raya. Wanita itu segera masuk kedalam taksi tersebut. Disusul Hamdani setelahnya.
Mayra memberitahu kepada sopir taksi kemana tujuannya. Sopir taksi yang mengerti segera mengangguk. Kendaraan itupun segera bergerak. Melesat ketempat yang Mayra tunjukkan.
♡♡♡
Seorang wanita sedang bergelayut manja di lengan kekasihnya. Keduanya sedang berdiri didalam restaurant. Menatap pemandangan indah sebuah pelabuhan.
"Indah sekali, Ar."
Wanita itu berbisik dengan suara manjanya.
"Apa kamu merasa senang sekarang?"
Wanita itu mengangguk, lelaki yang bertanya pada wanita itu mengelus rambutnya dengan lembut.
"Arsha," panggil lelaki itu pelan.
Wanita bernama Arsha itu mendongak. Melihat wajah lelaki yang disayanginya. Terlihat begitu tampan malam ini. Membuat Arsha semakin mencintainya.
"Ada apa, Ar?"
"Besok aku ada pekerjaan. Kuharap, kamu bisa mengerti. Jika aku tidak bisa menemanimu."
Wanita itu tersenyum manis kearah lelaki itu.
"Ardian sayang," suara wanita itu mengalun begitu manjanya.
"Aku tidak masalah, jika besok kamu tinggal bekerja. Asalkan, kamu pulang secepatnya. Kalau semua urusanmu sudah selesai."
Lelaki itu tersenyum mengangguk, tangannya kembali tergerak untuk mengusap helaian rambut wanita itu.
Lama keduanya kembali terdiam menikmati indahnya malam. Sampai suara seorang pelayan menghampiri mereka.
"Tuan, hidangannya sudah siap."
Ardian menganggukkan kepalanya. Lelaki itu kemudian beralih kepada Arsha.
"Kita makan dulu, ya. Aku sudah lapar," bisiknya kepada Arsha.
__ADS_1
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Tanda setuju dengan ajakan lelaki itu. Keduanya kemudian berjalan menuju meja yang sudah mereka pesan.
Disana sudah tersedia banyak ragam makanan olahan dari laut. Arsha menatapnya dengan wajah berbinar.
"Wah, ini kelihatannya enak sekali."
Ardian hanya terkekeh melihat wajah berbinar Arsha. Lelaki itu segera menarik kursi untuk wanita itu duduk.
"Terimakasih, Ar," ucap Arsha dengan tulus.
Ardian tersenyum sambil mengusap pucuk kepala wanita itu. Lelaki itu beralih pada kursi yang ada diseberang Arsha.
"Ayo kita makan," ajaknya pada wanita di seberangnya.
Arsha mengangguk.
Keduanya segera memakan makanan mereka dengan lahap. Sambil sesekali saling menyuapi. Benar-benar terlihat romantis. Sangat-sangat romantis.
Tak berapa lama keduanya telah menyelesaikan makan malam mereka. Dengan meminum minuman terakhir mereka.
"Ah, Ar. Ini benar-benar enak. Perutku benar-benar kenyang."
Arsha tanpa rasa malu mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Terimakasih banyak ya, Ar."
Arsha berucap dengan tulus.
"Ini bukan apa-apa, Sha. Buat kamu apapun akan aku belikan. Selama aku mampu dan selama aku bisa. Pasti aku berikan untukmu."
Arsha nampak terharu mendengar ucapan manis Ardian.
"Ar, kamu so sweet sekali. Aku jadi semakin cinta sama kamu."
"Aku juga."
Keduanya saling melempar senyuman manis. Si wanita dengan perasaannya yang tulus. Sedangkan yang laki-laki ... entahlah, semua masih nampak semu dan kelabu.
"Sha, bagaimana kalau kita kembali sekarang?"
Ardian membujuk kekasihnya itu dengan lembut.
"Kembali ke penginapan?"
Wanita itu nampak enggan.
"Iya, hari semakin larut. Aku ingin istirahat lebih awal. Supaya besok tidak terlambat."
Ardian berusaha memberikan pengertian kepada wanita itu.
"Baiklah. Karena kamu sudah memberikan kesan yang indah malam ini. Maka, aku akan menurut.
"Ayo!"
Arsha lebih dulu berdiri dari duduknya. Wanita itu juga menampilkan senyuman termanisnya.
Ardian segera berdiri dan memanggil pelayan. Lelaki itu membayar tagihan makanan yang dipesannya. Setelah itu, keduanya berjalan untuk pergi dari sana.
Keduanya berjalan beriringan sambil mengobrol. Tanpa memperhatikan jalan didepannya. Sampai pada akhirnya mereka bertabrakan dengan seseorang.
Bruk!
Aw!
Suara rintihan seorang gadis terdengar mengalir di udara. Sedetik kemudian, baik Arsha maupun Ardian hanya bisa diam mematung ditempatnya.
♡♡♡
__ADS_1
Bersambung ....