
Tidak peduli dengan sikap acuh dan tidak bersahabat yang Ardian tunjukkan. Mobil derek sudah dihubungi oleh Hamdani. Mereka cepat datang dan membawa mobil Ardian. Hamdani juga sudah menghubungi pihak terkait. Melakukan pembayaran secara elektronik. Mengabaikan suara protes yang Ardian serukan.
Hamdani memilih meninggalkan Ardian. Kembali memasuki mobil yang dikendarainya. Setelah menyelesaikan semua urusan dengan Ardian.
"Bagaimana, Bang?"
Arbhy bertanya kepada kakak iparnya itu. Ketika Hamdani sudah duduk dengan sempurna dibalik kemudinya.
"Sudah beres. Aku sudah membayar semuanya. Bagaimana kalian bisa bertemu?"
Hamdani akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Arbhy.
"Kami bertemu saat selesai makan malam. Saat aku pergi bersama dengan Zafia malam itu. Dia adalah mantan kekasih gadis itu."
"Kau yakin, Bhy. Kalau mereka itu benar-benar sudah putus dan menjadi mantan?"
Hamdani nampak ragu mendengar cerita Arbhy. Dia sepertinya melupakan wanita yang bersama dengan Ardian tadi. Arbhy berdecak kesal.
"Apa Abang tidak melihat siapa yang bersama dengan pria itu tadi?"
Hamdani merajut alisnya. Lelaki itu nampak sedang mengingat sesuatu. Beberapa detik kemudian ....
"Astaga! Aku baru ingat, pria itu tadi membawa seorang wanita."
Hamdani berdecak kemudian yang disambut dengan kekehan dari Arbhy.
"Sudahlah! Jangan membahas mereka lagi. Mending kita cepat pergi dari sini. Aku sudah lelah, ingin segera istirahat."
Arbhy menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya.
"Haish! Perasaan, kamu cepat sekali merasa lelah, Bhy. Apa kamu habis begadang tadi malam?"
Hamdani bertanya seraya menghidupkan kendaraannya. Melajukan kembali mobil yang mereka gunakan.
"Aku tidur setelah hampir dini hari."
Hamdani mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan adik iparnya itu.
"Kenapa begitu?" tanya Hamdani. "Tumben sekali."
"Ada seseorang yang mengganggu pikiranku. Dia membuatku susah tidur," keluh Arbhy.
"Siapa? Apa gadis kecilmu itu? Yang berasal dari keluarga Estell?"
Hamdani hanya asal menebak. Karena terakhir kali, adiknya pergi dengan gadis bernama Zafia. Yang setelah diselidiki olehnya gadis itu ternyata berasal dari keluarga Estell. Tepatnya anak sulung dari Tuan Damiant Estell dan Nyonya Kartika Dewi.
Mata Arbhy langsung terbuka. Pemuda itu memicing kearah Hamdani.
__ADS_1
"Sepertinya Anda mengetahui sesuatu, Tuan Asisten."
Hamdani berdehem sebelum menjawab ucapan Arbhy. Memutar otak untuk memberikan alasan yang tepat kepada adik iparnya itu.
"Hem. Aku menyelidikinya. Sebagai seorang asisten yang baik. Sekaligus kakak ipar yang ditugaskan mengawasi mu. Aku harus gerak cepat dalam banyak hal."
Hamdani dengan tenang memberitahu Arbhy. Alasan yang ia berikan terdengar masuk akal. Arbhy tahu betul bagaimana kakak iparnya itu sangat patuh kepada kedua orang tuanya. Pasti orang tuanya sudah memberikan mandat khusus untuk kakak iparnya itu. Hingga Hamdani sampai mencari informasi tentang gadis yang dekat dengannya.
Tapi, tanpa Hamdani ketahui. Arbhy juga telah mencaritahu informasi tentang gadis itu.
"Apa yang Abang ketahui? Apa Abang mendapatkan banyak informasi tentang gadis itu?" tanya Arbhy.
Arbhy pura-pura bertanya kepada Hamdani. Guna mengorek informasi yang telah Hamdani dapatkan.
"Tidak terlalu banyak. Aku hanya tahu jika dia mempunyai seorang adik laki-laki."
"Adik laki-laki?" ulang Arbhy.
Hamdani menganggukkan kepalanya.
"Elvaro Estelld Guind adalah nama adik Zafia. Nama lengkap gadis kecilmu itu Zafia Amita Estella. Sesuai dengan perkenalkan waktu kapan hari itu, kita bertemu dengannya."
"Syukurlah, jika dia tidak memalsukan identitasnya. Aku bisa dengan mudah mencarinya nanti."
Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Arbhy. Tanpa sadar Arbhy menyunggingkan senyumannya. Hamdani meliriknya sekilas. Sebelum kembali fokus pada tugasnya mengemudi.
Mereka kembali berbincang, tapi membicarakan topik yang berbeda dari sebelumnya. Mereka tidak lagi membahas tentang Zafia. Hanya beberapa obrolan ringan.
Terlalu asik berbincang jarak yang mereka tempuh terasa begitu singkat. Kini Arbhy dan Hamdani sudah sampai di penginapan. Hamdani sudah memarkirkan mobilnya dengan benar. Mereka segera pergi ke unit masing-masing.
Arbhy memutuskan untuk segera membersihkan diri. Setelah itu berganti pakaian rumahan. Arbhy mengambil gawainya. Menghubungi seseorang yang sudah disewanya.
Begitu besar ketertarikannya pada gadis bernama Zafia itu. Sampai membuat Arbhy menyewa seseorang untuk memata-matai gadis itu. Tak tanggung-tanggung. Arbhy menyewa seseorang yang sudah profesional di bidangnya.
Dengan begitu, Arbhy tidak perlu khawatir, tentang keakuratan data yang diterima olehnya. Karena orang yang disewanya menjamin kwalitas kerja mereka.
"Bagaimana?" tanya Arbhy setelah sambungan teleponnya terhubung dan diangkat oleh seseorang.
"Nona Zafia hari ini pergi bersama Nona Mayra. Mereka mendatangi sebuah perguruan tempat pendidikan. Sepertinya Nona Zafia mendaftar untuk kuliah, Tuan."
Seseorang diseberang sana melaporkan hasil pengintaian nya kepada Arbhy.
"Dari dulu orang mendaftar ke lembaga pendidikan itu untuk kuliah. Memang pernah kalian mendengar orang ke tempat pendidikan untuk berc*nta?"
Diluar dugaan orang yang Arbhy hubungi. Berharap informasinya diterima dengan baik. Nyatanya Arbhy mengucapkan kata-kata yang membuat mereka tersentak kaget. Apa ada yang salah dengan informasi yang mereka sampaikan? Pikir orang tersebut dengan bingung.
"Hah! Sudahlah. Kerja kalian sudah bagus. Terus awasi gadis itu. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya.
__ADS_1
"Jika dia mengalami kesulitan. Bantu dia dari balik layar!"
Arbhy memberikan tugas tambahan kepada orang-orang itu.
"Lalu, bagaimana dengan bayaran kami?" tanya orang tersebut dari balik telepon.
Arbhy berdecak kesal dibuatnya.
"Bukankah aku sudah memberikan kalian bayaran yang cukup banyak? Apa itu masih kurang?"
Arbhy berbicara dengan suara keras. Suaranya menggema di udara. Wajahnya sampai memerah karena marah.
"Anda baru membayar setengahnya, Tuan. Apa Anda lupa?" tanya orang itu berusaha mengingatkan Arbhy.
Arbhy terdiam ketika mendengar ucapan orang sewaannya.
"Benarkah?" beonya tampak linglung.
"Astaga, Tuan! Cobalah Anda ingat-ingat lagi. Bila perlu cek transaksi terakhir Anda. Anda akan tahu. Apa Anda benar-benar sudah membayar kami dengan full atau belum."
Arbhy terlihat salah tingkah. Pemuda itu menggaruk kepalanya sendiri. Sungguh demi apa, untung Arbhy bicara melalui sambungan telepon. Bagaimana kalau bicara secara tatap muka. Pasti malu sekali rasanya.
'Bisa-bisanya aku lupa. Pakai acara ngotot pula,' batin Arbhy merutuki diri sendiri.
Arbhy berdehem guna menetralkan pikirannya yang tiba-tiba oleng. Lelaki itu duduk dipinggir ranjangnya.
"Baiklah aku akan mengeceknya. Jika memang belum aku kirimkan semuanya. Aku akan segera melunasinya. Aku juga akan mengirim bonus tambahannya."
Berbicara dengan suara tegas berharap bisa mengembalikan kesan kewibawaannya. Arbhy memberitahu orang sewaannya itu. Tentang memberikan mereka bonus. Tentu hal itu disambut dengan rasa gembira oleh mereka.
"Tentu saja, Tuan. Anda tidak perlu sungkan. Jangan khawatir, kami pasti menjalankan misi dengan baik!" tegas orang sewaan Arbhy itu dengan mantap.
"Hem. Ya sudah kalau begitu. Selamat bekerja kembali. Aku mau istirahat dulu. Ingat segera hubungi aku jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!"
"Baik, Tuan!"
Arbhy memutuskan sambungan teleponnya. Setelah apa yang ingin diketahuinya sudah didengar. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya pada kasur king sizenya yang empuk.
Arbhy menatap langit-langit kamarnya. Senyum tipis terbit begitu saja di bibirnya.
"Tidak peduli dengan permintaanmu. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku. Hanya milikku!" gumam Arbhy.
"Aku akan terus mengintai mu. Dengan begitu, tanpa harus muncul di hadapanmu. Aku tetap bisa mengetahui keadaanmu. Zafia."
Arbhy sudah memutuskan untuk mengawasi Zafia. Meskipun dia sudah berjanji pada Zafia akan melupakannya. Namun, Arbhy tidak bisa melakukannya. Karena lelaki itu telah jatuh cinta pada gadis itu. Sejak pandangan pertama mereka bertemu.
♡♡♡
__ADS_1
Bersambung ....