Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
6. ARSHA MEMBUNTUTI ARDIANSYAH


__ADS_3

Setelah mengantarkan Arsha pulang, Ardian langsung mengarahkan kendaraannya ke arah rumahnya. Ia akan bersiap untuk mengepak pakaiannya. Setelah mendapatkan informasi dari informan yang disewanya. Ardian akhirnya tahu dimana keberadaan Zafia.


Ardian memarkirkan mobilnya di depan rumahnya. Langkah kakinya terlihat terburu-buru. Ketika memasuki rumahnya, bahkan ia tidak menghiraukan sapaan dari bibi yang bekerja dirumahnya.


"Tuan Ardian kenapa, ya?"


Bibi itu bergumam saat melihat punggung lebar Ardian, yang kini telah menghilang dibalik pintu.


"Ada apa, Bik?"


Ibu dari Ardian tiba-tiba menegur si Bibi.


"Eh, Nyonya. Itu ..., Tuan Ardian baru pulang."


Si bibi menjawab dengan sedikit terjingkat karena kaget. Nyonya Maryam yang menjadi ibu dari Ardian itu hanya mengangguk. Nampak acuh begitu tahu siapa yang pulang.


"Apa Tuan besar belum pulang, Bik?"


Nyonya Maryam kembali bertanya kepada si bibi.


"Tuan besar belum pulang Nyonya."


Mendengar jawaban si bibi, Maryam nampak tidak kecewa. Terlihat dari wajahnya yang nampak masam.


"Ya sudah, kalau begitu Saya mau kembali ke kamar. Bibi boleh istirahat kalau sudah tidak ada kerjaan lagi."


"Baik, Nyah."


Maryam kembali ke kamarnya setelah berbicara dengan si bibi.


"Loh, Tuan mau kemana?"


Si bibi nampak terkejut ketika melihat Ardian sudah membawa sebuah koper.


"Saya ada perjalanan bisnis keluar kota, Bik. Tolong nanti kalau Mama tanya, Bibi bilang saja seperti itu."


Si bibi menganggukkan kepalanya.


"Baik, Tuan."


Ardian berlalu melanjutkan langkahnya. Tiga puluh menit lagi penerbangannya menuju Aussie akan segera landing. Oleh karena itu, Ardian mempercepat langkahnya. Memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil. Setelah itu, ia segera masuk dan duduk dibalik kemudi.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tepat saat Ardian berbelok di tikungan depannya. Dari arah kanan jalan yang dilewatinya, sebuah mobil berhenti tiba-tiba.


"Loh, itu 'kan mobilnya Ardian. Dia mau kemana?"


Ternyata di dalam mobil itu yang menyetir adalah Arsha. Arsha dengan cepat menghidupkan mobilnya. Menyusul ke arah dimana mobil Ardian melesat. Tak ingin kehilangan jejak, Arsha segera menambah kecepatan mobilnya.


"Ardian! Kamu mau kemana malam-malam begini."


Arsha bergumam dengan diliputi rasa penasaran.


Sementara Ardian sama sekali tidak begitu memperhatikan kendaraan yang ada dibelakangnya.


"Loh, ini 'kan mau ke arah bandara. Jangan bilang kalau Ardian mau pergi. Tanpa ngasih tahu aku? Nggak! Ini gak bisa dibiarkan begitu saja."


Arsha dengan geram terus mengejar mobil Ardian. Tanpa berniat untuk mendahului. Karena Arsha ingin menangkap basah Ardian.

__ADS_1


Hanya beberapa menit saja, kini Ardian sudah sampai didepan bandara. Ardian langsung turun dan mengeluarkan kopernya. Tanpa menyadari bahwa gerak geriknya sedang diawasi oleh seseorang.


Ardian sedang berbicara pada seorang petugas. Terlihat Ardian memberikan kunci mobilnya kepada petugas itu. Setelah itu, Ardian memasuki bandara dengan menyeret kopernya.


Saat itu Arsha bergegas keluar dan membuntuti Ardian. Beberapa langkah Arsha sudah bisa menyusul Ardian. Tanpa aba-aba, Arsha meraih tangan Ardian.


"Ar!"


Ardian nampak terkejut saat berbalik dan mendapati Arsha dihadapannya.


"Sha?"


Suara Ardian tercekat di tenggorokan. Matanya melebar sempurna karena terkejut.


"Kamu mau kemana, Ar?"


Arsha bertanya dengan tatapan tajam. Membuat Ardian bingung harus menjawab apa. Sungguh diluar dugaan, jika Arsha akan menemukannya.


Padahal Ardian sudah merahasiakan niatnya bepergian dari Arsha. Tapi apa, kenyataannya saat ini Arsha telah mengetahui dengan sendirinya. Bahkan berdiri tepat dihadapannya.


"Jawab Ardiansyah!"


Arsha mengeraskan suaranya, menuntut penjelasan dari Ardian.


"Sha ..., aku ...."


"Kamu mau pergi tanpa memberitahuku, Ar?"


Arsha menyela ucapan Ardian, sebelum Ardian menjawab pertanyaannya.


"Tega kamu, Ar! Kamu jahat!"


"Arshavina! Dengarkan penjelasanku dulu. Kamu jangan seperti ini, Sha!"


Ardian memegang kedua bahu Arsha ketika berbicara. Arsha langsung mengalihkan pandangannya. Tak ingin melihat wajah Ardian karena kecewa.


"Aku mau ke Aussie."


Arsha langsung menatap wajah Ardian dengan serius.


"Ke Aussie? Kamu mau apa kesana, Ar? Apa perjalanan bisnis?"


Arsha bertanya kepada Ardian dengan tatapan menyelidik.


"Aku ada perjalanan bisnis mendadak, Sha. Makanya aku gak sempat memberitahu kamu."


Ardian terpaksa berbohong kepada Arsha. Karena Ardian tidak ingin Arsha menjadi cemburu. Jika Arsha tahu kalau kepergiannya untuk menemui Zafia.


"Tapi kamu bisa kasih tahu aku lewat chat, Ar. Jangan kayak gini caranya."


Suara Arsha melunak ketika mendengar penjelasan dari Ardian.


"Maafin aku, Sha. Aku benar-benar gak kepikiran sampai kesitu. Karena penerbangannya juga tinggal beberapa menit lagi."


Ardian menatap Arsha dengan sendu. Ada rasa bersalah didalam hatinya. Ardian terpaksa berbohong kepada Arsha. Dia tidak ingin Arsha mengacaukan rencananya.


♡♡♡

__ADS_1


Disebuah restoran mewah suatu benua, dua orang gadis cantik nampak sedang menikmati makan malamnya.


"Fia, apa rencana kamu setelah ini?"


Gadis yang ditanya menghentikan gerakan tangannya.


"Aku juga belum tahu, May. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?"


Mayra yang dimintai pendapat oleh Zafia hanya bisa menghela napas.


"Semuanya yang akan menjalani adalah kamu. Bukan aku, jadi yang tahu hanya diri kamu sendiri. Bukan orang lain."


Mayra berbicara dengan penuh perhatian. Berharap Zafia bisa mengerti dan berdamai dengan perasaannya saat ini.


"Iya juga sih. Aku masih bingung, May. Tapi aku juga ingin melanjutkan pendidikan."


Zafia mengutarakan isi pikirannya kepada Mayra.


"Ya sudah. Besok aku akan menemanimu untuk mengurus semuanya."


Mayra menyahuti ucapan Zafia sambil terus melahap makanannya.


"Terimakasih banyak ya, May. Kamu memang yang terbaik."


Zafia nampak senang dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.


"Sudahlah, hentikan pujianmu itu. Cepat habiskan makananmu. Setelah itu kita pulang."


"Baiklah. Tapi, sebelum pulang aku ingin membeli sesuatu dulu. Boleh 'kan, May?"


Mayra menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Zafia.


Disisi lain di tempat yang sama dengan Zafia dan Mayra. Tepatnya disebuah ruangan VIP, Arbhy dan Hamdani sedang menyelesaikan makan malam bersama kliennya. Setelah kesepakatan kerja sama telah disetujui. Mereka memulai makan malam dengan tenang.


Tidak membutuhkan waktu lama, kini mereka telah selesai. Semua hidangan sudah habis dieksekusi.


"Terimakasih Tuan, atas makan malamnya. Dan selamat bekerjasama dengan perusahaan kami."


Arbhy mengangsurkan tangannya ke arah kliennya. Untuk bersalaman dan mengakhiri pertemuan mereka.


"Terimakasih Tuan Arbhy. Suatu keberuntungan yang besar bagi kami. Karena bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan Anda."


Arbhy tersenyum dengan ramah ketika tangannya berjabatan dengan kliennya.


"Semoga kerjasama kita saling menguntungkan dan berjalan lancar, tanpa adanya hambatan."


Arbhy menambahkan beberapa kalimat yang disampaikan kepada kliennya.


"Tentu saja, Tuan."


"Kalau begitu kami pamit duluan, Tuan Arbhy dan Tuan Hamdani. Sampai bertemu dilain waktu."


Klien Arbhy berpamitan kepada Arbhy dan Hamdani.


"Silahkan Tuan. Hati-hati diperjalanan."


Pesan Arbhy dengan ramah, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh kedua kliennya.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2