Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
12. SEMANGAT ARBHY


__ADS_3

Hari ini langit begitu cerah, secerah wajah seorang laki-laki yang begitu semangat menjalani aktivitasnya. Arbhy Yahya Arabica, pebisnis muda itu dengan semangat empat lima menyelesaikan semua urusannya. Bertemu dengan beberapa koleganya dengan mengembangkan senyum manisnya.


Perusahaan yang mulai dipimpin olehnya beberapa tahun terakhir ini. Nyatanya telah mengalami kemajuan yang sangat fantastis. Terbukti dari beberapa pekan terakhir, perusahaannya berhasil merambah ke mancanegara.


Arbhy dan Hamdani baru saja keluar dari sebuah gedung pertemuan. Senyuman terus tersemat dibibir Arbhy. Suasana hatinya benar-benar sedang baik. Sangat baik malahan. Hamdani sampai dibuat heran olehnya.


"Bang, berapa pertemuan lagi yang harus kita hadiri?"


Arbhy bertanya ketika mereka sudah berada didalam mobil. Hamdani yang ditanyai oleh Arbhy segera memeriksa tabletnya. Sementara itu sopir mobil yang ditumpanginya mulai melajukan kendaraan roda empat tersebut.


"Tinggal tiga pertemuan lagi, Bhy. Ada apa?"


Arbhy mengalihkan pandangannya kearah sekretaris sekaligus kakak iparnya itu. Ia memandang Hamdani dengan tatapan yang sulit dimengerti.


"Apa Abang lupa?"


Hamdani yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Arbhy mengerutkan keningnya.


"Lupa?" ulang Hamdani merasa bingung.


"Tentang apa? Apa kita ada janji dengan orang lain?"


Arbhy berdecak kesal mendengar pertanyaan Hamdani. Meskipun terlihat jelas jika kakak iparnya itu bingung.


"Astaga, Bang Hamdan! Abang beneran lupa?"


Bos muda itu bicara dengan nada tinggi. Ia benar-benar gemas kepada kakak iparnya itu.


"Ada apa sih, Bhy? Gak usah berteriak seperti itu. Telingaku ini belum tuli!"


Hamdani mengusap telinganya, karena Arbhy suara Arbhy terdengar nyaring ditelinga Hamdani.


"Memang benar telinga Abang itu belum tuli. Tapi, ingatan Abang yang sudah mulai bermasalah."


Arbhy berbicara dengan nada penuh ejekan.


"Maksud kamu apa, Bhy?"


Hamdani memicingkan matanya kearah Arbhy.


"Malam ini aku ada janji dengan seseorang, Bang."


Akhirnya Arbhy memberitahu Hamdani. Tapi, apa respon kakak ipar dari Arbhy itu, setelah mendengarnya.


"Hah? Masak sih? Dengan siapa, Bhy? Kok aku gak ingat, ya?"


Pertanyaan yang Hamdani lontarkan, terdengar sangat menyebalkan ditelinga Arbhy.


"Haish! Bang Hamdan mulai lagi pikunnya. Benar-benar parah luar biasa."


Kembali Arbhy melontarkan ejekan kearah kakak iparnya itu. Hamdani hanya bisa mendengus kesal ke arah Arbhy.

__ADS_1


"Aku ingat kalau malam ini, kamu akan berkencan dengan gadis kecil itu 'kan? Gadis kecil yang memanggilmu 'Tuan Mesum'."


Kini giliran Arbhy yang mendengus kesal. Ketika Hamdani mengingatkannya dengan sebutan yang tidak disukainya.


"Apa wajahku terlihat seperti itu, Bang?"


Jujur saja, Arbhy merasa penasaran sekali dengan wajahnya sendiri. Karena sebutan yang tersemat untuknya. Padahal Arbhy melihat dirinya biasa-biasa saja. Bahkan Arbhy sampai melewatkan waktu berjam-jam tadi malam. Hanya untuk menemukan dimana letak kemesuman yang ada pada wajahnya.


"Tidak ada yang salah dengan wajahmu. Kamu cukup tampan dan juga cool. Menurutku sih, tapi entah menurut pandangan orang lain. Setiap orang memiliki cara pandang dan penilaian yang berbeda."


Mendengar jawaban Hamdani, Arbhy mengangguk setuju. Karena apa yang kakak iparnya ucapkan, semua memang benar. Tidak semua orang memiliki cara pandang yang sama. Apa lagi tentang menilai seseorang.


"Hah! Tapi kenapa setiap kali bertemu, dia selalu memanggilku 'Tuan Mesum'. Itu membuat moodku hilang saja."


Arbhy menggerutu dengan suara rendah. Tapi masih cukup jelas ditelinga Hamdani. Seketika membuat Hamdani teringat akan sesuatu.


"Sepertinya, gadis kecil itu memanggilmu seperti itu. Karena momen pertemuan kalian, yang beberapa kali dalam situasi ...."


Hamdani tidak melanjutkan ucapannya. Laki-laki itu melihat kearah Arbhy. Bersamaan dengan Arbhy yang juga melihat kearahnya. Arbhy tahu betul maksud ucapan kakak iparnya itu.


"Kamu pasti ingat 'kan? Bagaimana momen pertemuan kalian?"


Arbhy mendesah pelan. Bagaimana mungkin Arbhy tidak mengingatnya. Semua kejadian itu tidak akan pernah bisa Arbhy lupakan begitu saja.


"Bagaimana aku bisa melupakannya, Bang. Pertemuanku dengannya sangat istimewa."


Senyum kembali tersemat dibibir Arbhy. Kala dirinya mengenang pertemuannya dengan seseorang.


Hamdani menjabarkan begitu banyak pertanyaan. Membuat Arbhy kembali mendengus. Lantaran mengingat momen yang sangat memalukan baginya.


"Kau bahkan mengingat semuanya, Bang. Padahal tidak mengalaminya. Lalu bagaimana denganku yang mengalaminya? Bagaimana aku bisa melupakan momen seperti itu? Momen yang memberikan kesan terindah. Sekaligus memalukan."


Dengusan kecil kembali keluar dari bibir Arbhy diakhir kalimatnya. Sementara Hamdani terkekeh kecil. Laki-laki itu menggeleng beberapa kali. Mengingat kemalangan yang adiknya alami.


"Kita sudah sampai, Tuan."


Obrolan Arbhy dan Hamdani berhenti ketika mendengar suara sopirnya. Mereka kemudian keluar dari kendaraan itu. Bersiap untuk kembali menyelesaikan urusan mereka.


♡♡♡


"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Mayra kepada Zafia.


Zafia yang sedang menikmati makanan dihadapannya, melihat kearah Mayra. Mayra menjatuhkan bobotnya disebuah kursi. Yang letaknya berseberangan Zafia.


"Aku merasa lebih tenang disini. Karena tidak ada yang menggangguku."


Mayra menganggukkan kepalanya. Gadis dewasa itu menyeruput cappuccino miliknya beberapa kali. Sebelum kembali bersuara.


"Apa kamu sudah ada persiapan untuk pertemuan mu nanti malam?"


Zafia mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Pertemuan?" ulang Zafia dengan bingung. Karena merasa tidak memiliki janji pertemuan dengan siapapun.


"Ya, pertemuan. Di Sydney Opera House jam tujuh malam. Dengan laki-laki yang kamu panggil 'Tuan Mesum' itu. Apa kamu melupakannya?"


Seketika Zafia menepuk keningnya. Gadis itu nampaknya benar-benar lupa dengan semua itu.


"Aku lupa, May. Untung saja kamu mengingatkanku."


Mayra terkekeh kecil mendengar pengakuan Zafia. Adiknya itu memang suka pelupa. Jika tentang hal-hal yang tidak diinginkannya. Seperti pertemuan yang akan dilakukannya nanti malam. Itu bukanlah keinginannya. Zafia nampak lesu setelah mengingat pertemuan itu.


"May, apa aku harus datang?"


Wajah Zafia nampak tidak bersemangat.


"Datang saja, anggap saja kamu sedang berlibur."


******* kecil keluar dari bibir gadis itu. Zafia merasa ragu, apalagi jika mengingat momen tidak mengenakkan nya dengan seseorang. Seseorang yang mengajaknya bertemu nanti malam. Mayra mengamati perubahan ekspresi gadis di hadapannya.


"Ada apa? Apa kamu merasa ragu? Coba ceritakan padaku. Apa yang membuatmu ragu?"


Mayra seperti bisa menebak isi hati Zafia.


"Bagaimana aku tidak merasa ragu. Aku pernah memberitahumu, bagaimana pertemuan kami sebelumnya."


Mayra menganggukkan kepalanya pertanda ia mengerti dan mengingatnya.


"Lalu ..., apa masalahnya?"


Zafia kembali mendesah mendengarkan ucapan Mayra yang begitu tenang. Seakan tidak paham dengan apa yang Zafia rasakan.


"Mayra ...," ucap Zafia dengan suara manja.


"Aku merasa tidak nyaman menemuinya."


Zafia mengungkapkan apa yang dirasakannya.


"Apa yang membuatmu tidak nyaman?"


Mayra menatap wajah kesal Zafia dengan santai. Seperti tidak merasa khawatir sama sekali. Hal ini tambah membuat kesal Zafia.


"May, kenapa kamu tidak mengerti juga? Aku benar-benar tidak nyaman."


Keluh Zafia dengan lesu.


"Bagaimana aku mengerti perasaanmu. Jika tidak membicarakannya dengan jelas. Apa yang membuatmu resah? Coba ceritakan dengan jelas! Jangan setengah-setengah."


Zafia terdiam mendengar ucapan Mayra.


'Bagaimana caraku menceritakannya?' batin Zafia.


♡♡♡

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2