
Wajah Ardian yang semula penuh n*psu langsung berubah tegang begitu saja. Sudah basah oleh kebohongan sebelumnya. Kini pria itu kembali kuyup karena terciduk oleh kekasihnya dulu. Disaat momentum yang panas dan penuh gelora menggila pula.
"Zafia!"
Ardian bergumam memanggil nama gadis yang memergokinya sedang bercumbu dengan Arsha. Didepan pintu apartemen yang disewanya. Dari jarak satu meter saja. Ardian bisa melihat sorot mata Zafia yang begitu datar.
"Apa kamu ingin mengejarnya lagi, Ar?" tanya Arsha dengan suara lirih.
Pria itu nampak diam mematung ditempatnya. Tubuhnya seakan kaku dan sulit digerakkan.
"Kalian berdua benar-benar menjijikkan," ucapan pedas penuh dengan cemoohan diucapkan oleh Mayra.
"Jaga bicara kamu! Apa yang kamu tahu tentang kami. Kami sepasang kekasih, tidak masalah berc*uman dimana saja yang kami inginkan."
Arsha menyahuti ucapan Mayra dengan suara penuh amarah. Benar-benar tidak tahu malu. Mungkin saja urat malu wanita itu sudah tidak berfungsi lagi.
"Sudah, May. Tidak perlu meladeni orang-orang seperti mereka ini. Hanya akan mengotori akal dan pikiran kita. Ayo pergi!"
Zafia segera menarik lengan Mayra. Berjalan melewati Ardian dan Arsha yang memandangnya dengan ekspresi yang berbeda.
"Zafia. Tunggu!" Ardian hendak menyusul kepergian Zafia yang sudah memasuki lift.
"Ar, please!" cegah Arsha memelas. "Jangan buat aku sakit terus-menerus. Dengan sikap kamu yang selalu seperti ini. Setiap kali kamu bertemu dengan Zafia. Aku selalu kamu abaikan. Aku sakit, Ar!"
Arsha berseru diakhir kalimatnya. Wanita itu meluapkan uneg-unegnya. Perasaannya yang sakit karena terus dipermainkan oleh Ardian.
"Kamu tahu bagaimana hubunganku dengan Zafia, Sha. Bagaimana aku bisa memiliki seluruh kekayaan gadis itu. Jika hubunganku dengannya berakhir seperti ini!" sergah Ardian menggebu-gebu.
Terbongkar sudah apa yang Ardian kejar dari Zafia. Arsha menggelengkan kepalanya.
"Jadi ini ... alasan kamu terus mengejar Zafia?" tanya Arsha.
"Ya! Aku mengejarnya karena kekayaan yang dimiliki oleh keluarga gadis itu. Kamu mengerti sekarang?"
Ardian segera membuka pintu apartemennya dengan kasar. Arsha tersenyum masam mendapati kenyataan yang baru saja Ardian ungkapkan.
"Hanya demi kekayaan katanya? Mustahil."
Merasa tidak percaya dengan apa yang Ardian sampaikan. Arsha hanya bisa meratap nyeri dalam hati. Wanita itu segera menyusul Ardian. Masuk kedalam apartemen. Menutup pintunya dan menguncinya. Bersandar pada pintu seraya memejamkan matanya sebentar.
"Kenapa begitu sakit. Aku tidak percaya jika Ardian hanya menginginkan kekayaan Zafia. Aku rasa dia sebenarnya menyukai Zafia. Lalu ... apa artinya diriku baginya?" lirih Arsha sembari meremas pakaian di bagian depan dadanya.
"Aku tak ubah p*lacur dan juga penghangat ranjangnya saja. Sungguh miris."
Arsha tersenyum sinis mencemooh dirinya sendiri. Bagaimana bisa hidupnya terus bergantung pada hubungan toxic seperti ini. Tak terasa bulir bening menetes di pipinya. Dengan segera Arsha menghapusnya.
__ADS_1
"Air mata s*alan. Kenapa harus terjatuh juga. Seharusnya kamu bisa mencari cara untuk membuat Ardian melupakan Zafia juga obsesinya itu."
Arsha terdiam setelah berhasil menyingkirkan air mata di pipinya. Wanita itu nampak sedang berpikir. Bagaimana caranya membuat Ardian melupakan Zafia. Sementara Arsha tidak memiliki orang tua sekaya orang tua Zafia.
"Aku harus bagaimana?" gumamnya.
♡♡♡
Zafia dan Mayra duduk disebuah taman. Satu gelas cup kopi sudah di genggaman gadis cantik itu. Mayra membelikan kopi untuk mereka, sebelum mereka memutuskan pergi ke taman.
"Apa kamu masih merasa kecewa? Ketika melihat mereka bercumbu secara langsung, seperti kejadian barusan?"
Mayra dengan hati-hati bertanya kepada Zafia. Sementara Zafia nampak termenung mendengar pertanyaan Mayra. Karena Zafia tidak tahu seperti apa perasaannya sebenarnya.
"Entahlah, May. Aku sendiri bingung. Yang jelas, aku merasa jijik melihat mereka berdua."
Hanya itu yang bisa Zafia ungkapkan. Mayra mengangguk pelan. Kembali menyeruput kopi dalam cup-nya.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?"
Zafia mengerutkan keningnya. Ketika mendengar pertanyaan Mayra.
"Apa aku pernah melarang mu untuk bertanya padaku? Ku rasa tidak pernah, bukan?"
Zafia terkekeh pelan sembari menggeleng. Mayra ini ada-ada saja. Sejak kapan wanita yang Zafia anggap sebagai kakak sendiri ini, mulai meminta izin dulu untuk bertanya.
"Perasaanku pada Arbhy?" ulang Zafia dengan raut keheranan.
"Ya. Bagaimana perasaanmu kepada pria itu? Apa kamu tidak merasakan sesuatu? Apa kamu tidak tertarik pada pria itu?"
Mayra memberondong Zafia dengan banyak pertanyaan. Tentu saja ini membuat Zafia merasa heran sekaligus bingung.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa ini karena makanan yang Arbhy pesankan untukku?"
Mayra menggeleng.
"Bukan hanya karena itu. Tapi aku merasa jika orang yang terus mengawasimu, ada hubungannya dengan pria itu."
Zafia tentu terperangah mendengar pemikiran Mayra.
"Benarkah seperti itu?"
Mayra mengangguk.
"Tentu saja. Kamu lupa bagaimana seorang laki-laki jika menginginkan sesuatu? Mereka tidak akan pernah melepaskannya begitu saja." ujar Mayra.
__ADS_1
"Tapi aku sudah memintanya untuk melupakanku, May. Dia juga sudah berjanji padaku. Jadi, mana mungkin pria itu memata-matai ku."
Zafia dengan yakin menyangkal pendapat Mayra.
"Fia ... kamu itu terlalu polos. Aku tidak keberatan jika kamu mencoba berhubungan dengan pria itu. Asalkan kamu bisa berhenti memikirkan si Ardian itu."
Mayra mendengus kesal ketika menyebutkan nama Ardian di bagian terakhir kalimatnya.
"Mayra, please! Untuk saat ini, aku sedang tidak ingin berurusan lagi dengan laki-laki."
Mayra menatap Zafia lekat-lekat. Benarkah apa yang Mayra dengar saat ini. Apa adik kecilnya ini sedang patah semangat? Atau malah putus asa?
"Mengapa?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Mayra.
Zafia tersenyum tipis tanpa mengalihkan perhatiannya, yang saat ini sedang memandang langit.
"Kamu tahu, May?" tanya Zafia pada Mayra. Mayra menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana aku tahu, jika kamu saja belum memberitahuku."
Hah! Zafia menghela napas sesaat sebelum melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan.
"Jika Tuhan mengijinkan. Aku hanya ingin terlahir kembali ... Dengan ingatan yang berbeda. Aku ingin melupakan semua tentang Cinta, laki-laki dan juga hubungan yang pernah membuatku merasakan sakit yang terlalu dalam. Bila perlu aku ingin terlahir kembali tanpa memiliki rasa Cinta ...."
Meskipun Zafia berbicara dengan tenang. Namun, pernyataan gadis itu mampu membuat Mayra tertegun.
"Karena itukah, waktu itu kamu bertanya tentang formula itu padaku?" tanya Mayra.
Zafia mengangguk.
"Aku lelah terus mengingat wajah laki-laki pengkhianatan itu, May. Sungguh, aku belum bisa menghapus namanya. Di sebagian hati ini masih terisi kenangan manis yang kami lalui bersama. Aku tidak setegar itu, May. Meskipun sekuat tenaga diriku mengelak. Menolaknya, bahkan berusaha keras membencinya.
"Kenangan yang kami lewati terlalu banyak. Sulit bagiku untuk melakukannya, May."
Zafia menundukkan kepalanya. Kedua tangannya gadis itu gunakan untuk menutupi wajahnya. Isakan kecil mulai terdengar. Disusul oleh tubuhnya yang bergetar.
"Zafia ...," panggil Mayra lembut.
"Please ... jangan seperti ini. Kamu harus mencobanya. Jika kamu sudah berusaha keras dan tidak berhasil. Aku janji, aku akan berusaha untuk membuatkan formula itu untukmu."
Zafia langsung membuka wajahnya.
"Benarkah?"
♡♡♡
__ADS_1
Bersambung ....