
Gadis bernama Zafia Amita Estella itu, keluar dari kamarnya dalam keadaan lesu. Lingkaran disekitar matanya sedikit menghitam. Entah jam berapa semalam gadis itu tidur. Yang jelas Zafia tidak bisa tidur nyenyak seperti biasanya.
Mayra sedang menyiapkan sarapan pagi. Hanya sebuah roti panggang dengan mengoleskan selai kesukaannya. Tak lupa Mayra juga membuatkannya untuk Zafia. Roti panggang dengan selai strawberi. Tak lupa dua gelas susu putih, juga Mayra sediakan.
"Kau sudah bangun?"
Zafia menganggukkan kepalanya saat mendapatkan pertanyaan dari Mayra. Menarik kursi dan duduk tanpa ga*rah. Itulah yang Zafia sedang lakukan. Membuat Mayra mengerutkan alisnya.
"Apakah ada masalah? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?"
Mayra duduk berseberangan dengan Zafia. Ia memberikan roti kepada Zafia. Zafia pun menerimanya dengan malas.
"Aku tidak bisa tidur semalam," ungkap Zafia.
Gadis itu menggigit roti yang Mayra berikan.
"Pantas saja lingkaran matamu terlihat menghitam. Sudah mirip dengan mata panda saja," Mayra mencibir sambil mengulas senyum.
"May," panggil Zafia.
"Ya."
"Aku merasa tidak nyaman." Zafia berucap dengan lesu. Meskipun mulutnya mengunyah roti buatan Mayra.
Mayra mengerutkan keningnya kembali. Ketika mendengar ucapan Zafia.
"Kau tidak nyaman tinggal denganku disini? Begitu maksudmu?"
Mayra menatap Zafia penuh selidik. Yang terakhir hanya bisa mendengar d*sahan kecil dari bibir mungil itu.
"Bukan itu! Aku sangat nyaman tinggal bersamamu. Ada sesuatu yang terjadi semalam."
Zafia mematahkan kesalahan pahaman yang Mayra tuduhkan.
"Syukurlah. Aku kira kau tidak nyaman tinggal bersamaku. Lalu, kejadian apa yang membuatmu tidak nyaman?"
Mayra jadi penasaran, namun Zafia nampak termenung sebelum memberikan jawabannya. Sementara Mayra dengan sabar menunggu jawaban dari Zafia. Gadis itu memakan rotinya.
"Aku semalam makan malam dengan Tuan Arbhy," ucap Zafia.
"Ya, aku tahu itu. Bukankah tadi malam kau sudah memberitahu kami," Mayra menyahut dengan tenang.
Zafia berdecak kesal mendengar tanggapan Mayra.
"Jangan menyela ucapanku, May. Aku belum selesai bercerita!" Zafia memanyunkan bibirnya.
Mayra merajut alisnya bingung. Apakah ada yang salah dengan ucapannya. Pikir Mayra.
"Kau sedang bercerita? Aku kira kau sedang mengadu padaku. Seperti biasanya."
Zafia memutar bola matanya dengan malas. Tidak tahukah Mayra jika Zafia benar-benar sedang galau.
"Aku sedang serius, May!" ujar Zafia.
"Aku juga serius. Apa kamu pernah melihatku becanda? Tidak 'kan?
"Lanjutkan! Aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu."
Dengan jahilnya Mayra mengedipkan sebelah matanya. Membuat Zafia mendengus karena merasa dipermainkan. Tapi, gadis itu tetap melanjutkan ceritanya.
"Aku bertemu dengan Ardian. Dan ... Arsha ," ungkap Zafia berhasil membuat Mayra terkejut.
__ADS_1
"Kau serius?" Mayra nampak tidak percaya, dengan apa yang baru saja Zafia sampaikan.
Zafia mengangguk.
"Awalnya aku seperti tidak percaya, May. Tapi itu memang mereka."
"Apa yang mereka lakukan disini?" tanya Mayra.
"Mana kutahu, May. Yang aku tahu dengan jelas dan pasti. Kami sempat berdebat dan aku segera pergi dari sana.
"Kau tahu, May. Karena pertemuan tidak sengaja itu. Aku dengan sadar dan sengaja memanfaatkan Arbhy."
Zafia bercerita dengan begitu lancar kepada Mayra.
"Kau memanfaatkan Tuan Mesum itu?" Mayra nampak tak percaya dengan pengakuan Zafia. Tapi semua itu terpatahkan dengan anggukan kepala dari gadis yang berhadapan dengannya itu.
"Kau sungguh berani mengambil resiko, Nona Zafia." Mayra menyindir Zafia dengan nada ejekan.
"Mau bagaimana lagi, May. Aku terpaksa," keluh Zafia.
"Kau tahu, May. Ternyata Ardian itu laki-laki yang sangat egois. Lebih parahnya lagi. Dia itu tidak tahu malu!"
"Apa kau baru menyadarinya, Nona?" tanya Mayra dengan santai.
"Ya, aku baru menyadarinya. Bahkan sudah ku katakan padanya. Kalau aku sudah bertunangan dengan Arbhy.
"Tapi laki-laki itu tidak percaya. Bahkan dia tidak terima. Dan kau tahu, May?"
Mayra menggeleng, Zafia berdecak dengan kesal.
"Dengan percaya dirinya, dia memintaku untuk kembali padanya. Padahal disampingnya ada Arsha. Apakah dia itu tidak waras?
"Astaga! Ingin sekali aku mencakar wajahnya saat itu," ujar Zafia dengan sewot.
"Mana aku kepikiran begitu, May. Yang ada dipikirkan ku, bagaimana caranya membalasnya dan segera pergi dari sana.
"Aku sangat muak melihat wajahnya. Aku dan Arbhy pergi begitu saja. Setelah berhasil memberinya pernyataan. Bahwa aku tidak membutuhkannya lagi."
Zafia sudah menghabiskan sarapannya begitu juga dengan Mayra.
"Lalu kalian pergi kemana saja? Sampai hampir larut. Kau tahu kakak dari Tuan Mesum mu itu sudah seperti kehilangan emas.
"Menggerutu tiada habisnya. Aku sampai bosan mendengar celotehnya."
Mayra menggelengkan kepalanya, kala ingat bagaimana Hamdani terus mengumpati Arbhy.
"Kami berjalan disekitar pelabuhan. Karena aku ingin menenangkan pikiran. Setelah bertemu dengan Ardian dan Arsha."
Mayra menganggukkan kepalanya.
"Tapi, kau tahu. Aku dan Arbhy kembali bertemu dengan Ardian saat ingin kembali pulang," ujar Zafia.
"Lagi?" Mayra menganga tak percaya. Zafia mengangguk.
"Gigih juga laki-laki itu. Begitu ambisius untuk mendapatkan mu kembali. Sungguh semangat yang patut diacungi jempol," ucap Mayra tapi dengan nada penuh dengan ejekan.
"Jempol kaki Kanguru. Biar ditendang sekalian," dengus Zafia dengan kesal.
"Kau kejam sekali, Nona. Itu terlalu ringan, yang lebih pantas jempol bison," kelekar Mayra tertawa renyah.
Zafia pun ikut tertawa mendengar ucapan Mayra.
__ADS_1
"Lalu apa yang laki-laki itu lakukan. Apa dia kembali mencoba merayumu?" tanya Mayra ketika tawanya mereda.
"Ardian terus memintaku untuk kembali padanya. Dia minta maaf, katanya apa yang dia lakukan dengan Arsha itu karena khilaf."
"Cih, khilaf dan terus keenakan," cibir Mayra mencemooh.
"Tidak ada namanya khilaf. Ketika perbuatan itu dilakukan berulang-ulang. Apalagi dalam beberapa kali ditempat berbeda.
"Itu namanya keenakan. Bukan ke khilafan," ujar Mayra.
"Aku juga bilang begitu, May. Tapi dia malah menyuruhku, untuk melepaskan genggaman tanganku dengan Arbhy saat itu."
"Kamu menggandeng tangan Arbhy?" Mayra memicingkan matanya. Zafia mengangguk sambil menampilkan cengiran kuda.
"Aku terpaksa, May. Itu saja tidak berhasil membuat lelaki itu percaya," ungkap Zafia dengan lesu.
"Benarkah? Mungkin akting kalian kurang meyakinkan. Makanya si curut itu tidak percaya," Mayra mencoba menebak.
"Bukan karena itu, May."
Mayra mengerutkan keningnya.
"Lantas?"
"Cincin! Ardian melihat jari kami berdua tidak memakai cincin," terang Zafia. Barulah Mayra paham.
"Ya, benar juga sih. Kalian seharusnya mempersiapkan cincin sebelumnya," ucap Mayra sambil memangku dagunya.
"Kau pikir aku akan tahu, jika aku akan bertemu dengan lelaki br*ngsek itu?" Zafia menyanggah ucapan Mayra. Membuat Mayra meringis.
"Iya juga, ya."
"Jika aku tahu akan bertemu dengan Ardian, aku tidak akan mau makan malam di sana. Jadi aku tidak perlu berc**man dengan Tuan Mesum itu.
"Hanya untuk meyakinkan lelaki br*ngsek itu. Supaya percaya bahwa kami bertunangan."
Tanpa sadar Zafia memberitahu Mayra tentang c*umannya dengan Arbhy. Yang membuat Mayra langsung melebarkan matanya. Wanita itu mengamati wajah Zafia dalam keterkejutannya.
Jujurly Mayra benar-benar terperangah dengan apa yang Zafia paparkan.
"Seorang Nona Zafia dari keluarga Estell berc*uman?" ulang Mayra.
Zafia yang menyadari jika dirinya baru saja keceplosan. Langsung memukul mulutnya beberapa kali. Merutuk dalam hati karena begitu bodohnya. Tidak bermaksud ingin membeberkan apa yang telah ia lakukan dengan Arbhy. Tapi, nyatanya lidah memang tak bertulang. Kalimatnya meluncur bebas begitu saja.
"Nona Zafia, apa aku tidak salah mendengarnya?" tanya Mayra dengan tatapan mengintimidasi.
Zafia terlihat salah tingkah. Melihat itu, Mayra bisa menebak jika apa yang Zafia ucapkan memang benar adanya.
"Sungguh luar biasa. Bagaimana rasanya? Bukankah ini adalah c*uman pertamamu?"
Mayra memainkan kedua alis matanya dengan genit.
"Mayra! Kau jangan menggodaku!" sergah Zafia.
"Aku tidak menggodamu. Aku sedang bertanya padamu. Apa itu salah?
"Tunggu! Jangan bilang ... ini yang membuatmu tidak bisa tidur nyenyak?"
Mayra kembali memicingkan matanya kearah Zafia. Tapi, hanya helaan napas lesu yang Mayra tangkap dari gadis dihadapannya. Ini membuat Mayra merajut alisnya tidak mengerti.
Ada apa sebenarnya dengan Zafia nya?
__ADS_1
♡♡♡
Bersambung ....