Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
13. MAYRA TERBAIK


__ADS_3

Kegelisahan begitu nampak jelas di wajah Zafia. Mayra yang melihatnya menghela napas sejenak. Sebelum mulai membuka suaranya.


"Fia ...," panggil Mayra dengan lembut. Zafia mengalihkan pandangannya kearah Mayra.


"Apa yang kamu khawatirkan, hem? Apa kamu tidak percaya denganku?"


Zafia nampak bingung dengan kata-kata yang diucapkan Mayra. Mayra berdecak melihat kearah Zafia.


"Dengar, Nona Zafia Amita Estella! Aku tidak mungkin menyetujui permintaan laki-laki itu. Jika aku tidak memiliki rencana. Kamu tidak perlu khawatir, percaya saja padaku. Datang saja dan temui laki-laki itu.


"Serahkan semuanya padaku, kamu jangan khawatir. Jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu ragu. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu."


Melihat kesungguhan dalam nada bicara Mayra. Zafia nampak mengembangkan senyuman. Keduanya saling melempar tatapan mata. Tatapan yang sulit diartikan , yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya.


"Apa kamu ...?" tanya Zafia memicingkan mata kearah Mayra.


Mayra memainkan kedua alisnya.


"Aaaaaa, Mayra! Kamu memang yang terbaik."


Zafia berhambur dan memeluk Mayra dari arah belakang wanita itu.


"Aku sangat menyayangimu."


Ungkap Zafia dengan tulus kepada Mayra. Mayra menepuk pelan tangan Zafia yang melingkari lehernya.


"Apa kamu berpikir aku tidak menyayangimu?"


Zafia menggelengkan kepalanya.


"Bukan begitu, aku hanya takut. Takut kalau lelaki itu kembali berbuat mesum padaku."


Wajah Zafia terlihat cemberut ketika mengungkapkan pikirannya. Mayra terkekeh kecil sambil menggeleng pelan.


"Astaga, Fia. Kamu masih saja berpikiran kalau laki-laki itu mesum?"


Zafia menganggukkan kepalanya.


"Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan."


Zafia kembali cemberut, dengan tubuh yang masih bergelayut manja kepada Mayra.


"Duduklah kembali! Aku ingin bicara sesuatu."


Zafia pun menurut, gadis itu melepaskan pelukannya. Bergerak dan duduk di tempat yang Mayra tunjukkan.


"Ada apa?" tanya Zafia.


"Aku akan ikut denganmu."


Ucapan Mayra seperti angin segar yang berhembus. Sangat menyegarkan bagi Zafia.


"Kamu serius, May?"


Zafia kembali bertanya seakan tak percaya. Namun, anggukkan kepala Mayra sudah cukup untuk meyakinkan gadis itu.


"Terimakasih banyak, Kakak! Kamu memang yang terbaik."


Zafia kembali memeluk Mayra dengan erat.


"Bukan kakak, lebih tepatnya bodyguard. Kamu selalu memanggilku Kakak, jika ada maunya."


Zafia menampilkan cengiran kudanya, ketika Mayra melepaskan pelukannya.


"Mayra ..., aku tulus menyayangimu. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Hanya kamu yang ku miliki di dunia ini."


Zafia berbicara dengan suara manjanya. Mayra hanya memutar bola matanya dengan malas. Menanggapi semua rayuan yang Zafia ucapkan.


"Ayolah, May. Apa kamu tidak percaya pada ketulusanku?"

__ADS_1


Bujuk Zafia masih terus mencoba merayu Mayra.


"Aish! Ya. Aku percaya! Apa kamu sudah puas mendengarnya?"


Zafia tersenyum sumringah mendengar jawaban dari Mayra.


"Tentu saja. Kau memang yang terbaik, Mayra. Love you more!"


"Terserah kau saja, Nona Zafia. Asal kau bahagia."


Mayra beranjak dari duduknya, hendak pergi meninggalkan Zafia. Wanita itu merasa malas mendengar rayuan manja dari Zafia. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya.


"Hai, kau mau kemana?" tanya Zafia.


"Aku ada pekerjaan yang belum selesai."


Zafia berdiri hendak mengikuti kemana Mayra pergi.


"Kamu mau kemana?" tanya Mayra yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.


"Tentu saja aku ingin membantumu."


Wajah Zafia begitu ceria ketika mengatakan maksudnya.


"Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Lebih baik kamu mempersiapkan diri, untuk kencanmu nanti malam."


Keceriaan di wajah Zafia sirna seketika itu juga. Sementara Mayra sudah berlalu dan memasuki ruang pribadinya.


"Aku tidak berkencan dengannya. Mayra kamu harus tahu itu!"


Zafia berteriak dengan suara keras. Gadis itu tidak terima dengan ucapan Mayra, yang menyatakan tentang pertemuannya sebagai sebuah kencan.


"Kencan? Enak saja, huh! Aku hanya terpaksa menyetujuinya. Bukankah itu juga atas kemauannya. Kenapa jadi menyudutkan ku."


Gadis itu terus menggerutu sambil memasuki kamarnya.


♡♡♡


"Yang mana, ya?"


Arbhy mencoba menempelkan pakaian yang dipilihnya pada tubuh tegapnya yang gagah. Ada dua model pakaian yang berbeda di tangan kanan dan kirinya.


Tangan kanannya memegang kemeja warna hitam polos, sementara tangan kirinya, ada kaos lengan panjang tanpa kerah.


"Aku sungguh bingung harus memilih yang mana diantara dua ini," gumam Arbhy.


Pria itu masih mematut dirinya di depan cermin, mencoba mencocokkan pakaian yang pas untuk acara kencannya nanti.


Arbhy menyunggingkan bibirnya, pasalnya mungkin hanya dirinya yang menganggap pertemuan malam ini sebagai kencan. Entah dengan gadis yang akan ditemuinya. Apakah gadis itu juga menganggap malam ini sebagai kencan? Arbhy tidak tahu.


"Hah! Biarlah apa yang dipikirkan gadis itu. Dia mau pergi denganku saja sudah suatu keberuntungan."


Arbhy kembali fokus pada pakaian yang akan dipakainya. Pada akhirnya lelaki itu memilih kemeja hitam. Mengembalikan pakaian yang tidak digunakan. Kemudian mengambil celana bahan berwana abu gelap. Arbhy segera mengenakkan pakaiannya.


Tak lupa Arbhy memakai sepatunya, usai berpakaian. Selesai memakai sepatunya, Arbhy mengambil jam tangannya yang berwana gold. Lelaki itu segera memakainya. Arbhy kembali mematut dirinya di depan cermin. Memastikan penampilannya, apakah sudah terlihat memukau atau belum.


"Akhirnya selesai juga. Oke, Arbhy selamat berjuang. Tunjukkan pesonamu pada 'Si Cantik' yang galak itu."


Raut kesombongan begitu kentara di wajah Arbhy saat ini. Ketika melihat penampilannya yang sempurna.


"Kita lihat saja nanti,. Apakah gadis itu akan tetap memanggilku 'Tuan Mesum' lagi? Jika melihat penampilanku yang rupawan ini?"


Arbhy dengan percaya dirinya mengklaim, penampilannya terlihat rupawan. Tanpa menyadari, jika gerak-geriknya sedari tadi ada yang memperhatikan.


"Cih, rupawan dari mananya? Dasarnya bermuka mesum. Ya, akui saja kalau memang seperti itu kenyataannya."


******* tidak suka dari seseorang mengalihkan perhatian Arbhy. Lelaki itu segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang mengganggunya.


"Ish, Bang Hamdan sejak kapan berdiri disitu?"

__ADS_1


Nampak sekali ketidaksenangan muncul di wajah Arbhy. Ketika melihat kakak iparnya itu berdiri diambang pintu kamarnya.


"Apa Abang mengintip saat aku sedang ganti pakaian?"


Arbhy menatap Hamdani dengan tatapan mata penuh selidik. Hamdani menatap datar adik iparnya itu.


"Untuk apa aku mengintip pria yang sedang berganti pakaian? Kurang kerjaan saja."


Hamdani dengan malas berbalik dan berlalu dari kamar Arbhy.


"Cih, dia marah. Dasar aneh."


Arbhy menggelengkan kepalanya, kemudian melangkah menyusul kepergian Hamdani.


"Ada keperluan apa Bang Hamdan kemari? Apa ada jadwal terbaru?"


Arbhy menghampiri kakak iparnya, yang sudah duduk di sofa ruang tamunya.


"Tidak ada." jawab Hamdani singkat.


"Terus, kenapa menemui ku?"


"Aku hanya ingin melihat penampilanmu. Seperti apa tampang pria sepertimu, ketika ingin pergi berkencan. Itu saja."


Arbhy mendengus mendengar pengakuan Hamdani.


'Bang Hamdan ini benar-benar menguji kesenanganku. Apa dia sedang mengejekku?' pikir Arbhy sambil memperhatikan kakak iparnya dalam diam.


"Tidak perlu memandangku seperti itu, Bhy. Aku tidak bermaksud mengacaukan pikiranmu. Aku hanya ingin nebeng saja. Aku juga ingin melihat keindahan Sydney Opera House. Kata orang, dimalam hari pemandangannya sangat indah.


"Aku hanya ingin memastikan kebenarannya saja."


Pernyataan Hamdani membuat Arbhy mendengus dingin. Namun, sekian detik kemudian senyum menyeringai terukir disudut bibir lelaki itu.


"Tidak masalah. Kalau begitu, Abang yang membawa mobilnya."


Arbhy memberikan kunci mobilnya kepada Hamdani. Hamdani hendak melayangkan protesnya. Namun, Arbhy segera menyelanya.


"Tidak ada protes!"


Hamdani mendengus, tapi tetap mengikuti perintah Arbhy. Tidak masalah menjadi sopir malam ini. Yang penting dia bisa mengawasi gerak-gerik adik iparnya itu.


"Jika bukan karena perintah Ayah dan Ibu mertua. Rasanya malas sekali mengikuti Arbhy. Apalagi hanya menjadi sopir. Belum lagi melihat kelakuannya yang sering diluar nalar. Sudahlah!"


Hamdani segera bangkit dari duduknya, usai menggumamkan keluhannya. Lelaki itu segera menyusul Arbhy.


Arbhy dan Hamdani segera memasuki kendaraannya, ketika sampai diparkiran basement. Mereka segera melaju meninggalkan penginapan. Dengan tujuan Sydney Cosmopolitan CBD Apartment.


Apalagi jika bukan, untuk menjemput gadis yang hendak diajak berkencan. Tepatnya Arbhy yang mengajaknya kencan. Bukan Hamdani yang hanya menjadi sopir malam ini.


Perjalanan yang mereka tempuh, hanya memakan waktu sekitar lima bekas menit saja. Dari jauh Arbhy melihat siluet gadis yang berpakaian anggun. Dengan balutan gaun malam berwana cream, yang panjangnya sebatas lutut. Bagian lengannya hanya sebatas siku. Belahan dadanya juga tertutup rapat. Tapi lekukan tubuhnya masih terlihat menonjol.


"Cantik dan seksi," gumam Arbhy pelan.


"Pantas saja gadis itu selalu memanggilmu mesum. Kelakuanmu saja memang seperti itu."


Hamdani menggelengkan kepalanya dengan senyum mencemooh.


"Sopir dilarang bicara!"


Arbhy dengan cepat menyela ucapan Hamdani. Lelaki itu kemudian turun dari kendaraannya. Ketika kendaraan itu sudah berhenti dengan benar.


"Selamat malam Nona. Apakah sudah siap? Mari kita berangkat."


Arbhy dengan ramah dan juga senyum manisnya menyapa gadis yang menunggunya.


"Zafia tunggu!"


Senyuman Arbhy surut seketika. Saat melihat seorang wanita datang menghampiri gadis yang bernama Zafia itu.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2