Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
38. OM DAMIANT KE AUSSIE


__ADS_3

"Bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Mayra pada Zafia.


"Semua berjalan dengan lancar."


Kedua wanita itu sedang duduk bersantai diruang tengah. Bermalas-malasan sambil menonton acara televisi.


"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir membiarkanmu pergi sendiri. Oh ya, apa kamu sempat menemui kesulitan?" tanya Mayra dengan hati-hati.


"Tidak ada. Hanya sempat berdebat dengan seseorang sebentar."


Mayra mengerutkan keningnya, "Berdebat dengan seseorang? Karena apa?" tanyanya penasaran.


"Dia menabrak ku. Setelah itu marah-marah dengan gaya sok. Kamu tahukan, aku paling malas berurusan dengan orang seperti itu." Mayra mengangguk paham.


Karena Zafia memang bukan tipikal gadis yang suka membesarkan masalah. Apalagi dengan orang tidak dikenal. Orang yang dikenalnya saja, Zafia abaikan.


"Jadi, kau mengabaikannya, Fi?" tebak Mayra dan Zafia mengangguk membenarkan.


"Aku tidak ingin terlibat masalah yang berkepanjangan, May. Apalagi dihari pertamaku masuk kuliah," tutur Zafia apa adanya.


"Itu sih bagus. Tapi, apa orang itu sama seperti dirimu?" Mayra berbicara sambil memakan camilan.


Zafia mengerutkan keningnya, "Maksudmu?" nampak bingung.


"Kalau aku mendengar cerita kamu barusan. Kayaknya orang itu tidak mudah mengalah," tebak Mayra menjelaskan pada Zafia.


"Semoga aja tidak seperti itu. Karena aku udah minta maaf sama dia. Masak iya tuh perempuan masih mau debut lagi ma aku, sih?"


Zafia dengan santai ikut menikmati camilan yang berada di meja. Tanpa ingin pusing-pusing memikirkan orang yang tidak dikenalnya.


♡♡♡


Seusai memuaskan h4sratnya, Damiant memenuhi keinginan Chetty untuk _shopping_. Berkeliling menuju pusat perbelanjaan yang menyediakan barang-barang _branded_ berkualitas fantastis.


"Pilihlah barang-barang yang kamu inginkan. Aku ingin menemui klienku di lantai atas. Gunakan kartu itu untuk membayarnya," Damiant memberikan kartu berwarna _gold_ pada wanitanya itu.


"Terimakasih banyak, Sayang! Kamu memang paling mengerti aku," sahut Chetty dengan manja.


Damiant tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Lelaki itu kemudian pergi dari sana. Meninggalkan Chetty sendirian. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Chetty saat ini.


"Yes! Akhirnya tua bangka itu kasih aku kartu ini juga," Chetty bersorak dengan suara pelan.


Wanita cantik dengan pakaian seksi itu benar-benar bahagia. Bukan hanya bisa shopping dan belanja apa yang diinginkannya. Chetty juga mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkannya. Kartu berwarna emas ditangannya saat ini. Ini adalah alat yang bisa menjamin kepuasan sosialitanya.


"Gak sia-sia aku berkorban banyak. Cukup bikin dia puas dan tidak membantah setiap keinginannya. Maka semua yang kamu inginkan pasti bisa kamu miliki, Chetty!" gumam wanita itu menyeringai sinis.

__ADS_1


"Jika bukan karena kekayaannya. Mungkin aku sudah meracuninya. Aku tidak bisa gegabah. Karena aku belum menemukan data-data penting miliknya," ucap Chetty dengan suara pelan.


Ambisi wanita itu adalah mendapatkan apa yang diinginkannya. Harta yang berlimpah yang dimiliki oleh Damiant adalah tujuannya. Keluarga besarnya sudah bangkrut. Chetty yang terbiasa hidup mewah. Pada akhirnya harus memutar otak. Mencari cara supaya bisa memenuhi kebutuhannya.


Hingga pada suatu hari, dirinya dipertemukan dengan Damiant. Meskipun usia Damiant terbilang sebaya dengan ayahnya. Tapi bagi Chetty tidak masalah. Demi menunjang kebutuhan dan gaya hidup mewah. Chetty bersedia menjadi wanita penghang4t ranjang untuk Damiant.


"Aku tidak menyangka ternyata wanita simpanan Tuan Damiant begitu cantik," ucap seseorang dari belakang tubuh Chetty.


Chetty yang tadinya sedang berbicara sendiri, tentu tersentak kaget dibuatnya. Wanita cantik dan seksi itu segera berbalik.


"Siapa Anda? Apa maksud Anda berbicara seperti itu?" tanya Chetty yang sudah berhadapan dengan orang yang tadi membuatnya terkejut.


Seorang pria tampan dan rupawan dengan tatapan mata tajam, kini tersenyum mengejek kearah Chetty.


"Sudahlah, Nona. Anda tidak perlu terkejut seperti itu. Sudah bukan rahasia umum lagi. Jika seorang bos besar sepertinya menyimpan peliharaan," ucap lelaki itu dengan nada tak bersahabat.


Jelas sekali dari nada bicaranya, lelaki dihadapan Chetty saat ini membuatnya tidak nyaman.


"Katakan saja apa maumu sebenarnya! Jangan bertele-tele," tegas Chetty dengan wajah datar.


Lelaki itu tersenyum menyeringai akhirnya dirinya memiliki pion baru untuk bermain.


"Bagaimana jika kita bicara sambil minum dan makan makanan ringan?" ajak lelaki itu memberikan tawaran.


"Aku tidak punya banyak waktu," desis Chetty dengan acuh.


Chetty mulai penasaran mendengar ucapan lelaki yang ada dihadapannya.


'Kerja sama? Siapa sebenarnya laki-laki ini? Apa dia musuh dari tua bangka itu?' batin Chetty bertanya-tanya.


♡♡♡


"San, apa ada kabar dari Zafia?" tanya Kartika pada asistennya-- Santi.


Santi menggeleng pelan, "Belum ada kabar apapun, Nyonya." Santi menjawab dengan jujur.


"Tapi ...."


Kartika mengerutkan keningnya ketika Santi menggantungkan kata-katanya.


"Tapi, apa, San? Apa ada masalah lainnya?" tanya Kartika seraya menelisik wajah asistennya itu.


"Tuan Damiant beberapa hari lalu terbang ke Aussie, Nyonya. Saya khawatir jika nanti Tuan dan Nona muda bertemu, bagaimana?" terang Santi.


Kartika termangu ditempatnya, majalah yang tadi dibacanya kini diabaikan. Pikiran wanita itu tidak dapat dipungkiri. Sebagai seorang ibu, Kartika juga khawatir akan apa yang Santi utarakan.

__ADS_1


"Apa Tuan pergi bersama wanita itu?" tanya Kartika.


Santi mengangguk membenarkan. Kartika memejamkan matanya. Sebelum helaan napas berat keluar dari bibirnya.


"Biarkan saja, San. Mungkin sudah saatnya Zafia tahu. Bagaimanapun juga, Zafia sudah dewasa. Tidak mungkin aku menyembunyikan kebusukan Damiant terus-menerus dari putrinya sendiri," tutur Kartika berusaha untuk tenang.


"Apa tidak sebaiknya Nyonya menghubungi Nona Mayra?" Santi memberikan saran pada Kartika dengan hati-hati.


Kartika nampak berpikir sejenak, dia benar-benar lupa. Kenapa ia tidak menghubungi Mayra sedari awal. Meskipun Kartika yakin jika Zafia pasti aman bersama dengan Mayra. Setidaknya Kartika harus memastikan keadaan putrinya itu. Atau paling tidak sekedar bertukar kabar.


"Terimakasih sudah mengingatkan aku, San. Kamu bisa kembali pada pekerjaanmu." Kartika berbicara dengan tulus.


Santi menganggukkan kepalanya dengan sopan.


"Sama-sama, Nyonya."


Setelah itu, Santi memilih untuk undur diri dari hadapan Kartika. Menatap layar ponselnya dengan ragu. Pada akhirnya Kartika memantapkan hatinya. Mencari nomor telepon Mayra. Dan segera menghubunginya.


Tut ....


Sambungan telepon terhubung, namun belum ada tanda-tanda akan disambut oleh pemiliknya. Kartika menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya dimenit terakhir, suara kasak-kusuk terdengar dari seberang telepon.


"Halo."


Senyuman terukir dibibir Kartika ketika mendengar suara Mayra menyambut teleponnya.


"Mayra, apa kabar sayang?" sambut Kartika dengan penuh kasih.


Hening beberapa saat sebelum akhirnya suara Mayra kembali terdengar.


"Tante Kartika, maaf Mayra baru bangun tidur. Kabarku sangat baik, Tan. Tante sendiri bagaimana?" tanya Mayra.


"Apa Zafia baik-baik saja, May?" tanya Kartika.


"Khem, Tante tidak perlu khawatir soal Zafia. Dia aman bersamaku," Mayra meyakinkan ibu dari Zafia.


"Tante percaya padamu, May. Tapi, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui."


Diseberang telepon, Mayra mengerutkan keningnya.


"Apa itu, Tante?" tanya Mayra dengan serius.


"Om Damiant ke Aussie bersama wanita simpanannya," terang Kartika.


Hening.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2