
"Kalian awasi terus gadis dari keluarga Estell itu. Jangan sampai lengah. Ingat! Laporkan setiap informasi terbaru tentang gadis itu. Kalian mengerti?"
Arbhy berbicara dengan suara tegas kepada seseorang, yang dihubunginya melalui telepon seluler.
"Tuan Arbhy tenang saja. Kami akan menjalankan tugas kami dengan baik. Selama Tuan bisa memberikan kami uang. Maka urusan memata-matai, akan berjalan lancar." tegas seseorang diseberang sana dengan yakin.
Setidaknya jawaban orang itu membuat Arbhy sedikit lega. Meskipun harus meninggalkan Aussie sekarang juga. Karena Arbhy tetap bisa memantau pergerakan gadis yang dicintainya.
Ya, meskipun Arbhy harus banyak mengeluarkan uang. Semua itu tidak terlalu menjadi masalah. Kekayaan yang dimilikinya tidak akan habis. Hanya karena digunakan untuk menyewa orang-orang penguntit itu. Selama Arbhy bisa terus mengembangkan perusahaannya. Dengan pencapaian yang fantastis.
Sudah dipastikan, kehidupannya tidak akan jatuh bangkrut. Selama Arbhy bisa berjuang demi impiannya. Demi memenuhi keinginan gadis yang pernah dikencani olehnya.
"Kalian tenang saja. Asalkan pekerjaan kalian memuaskan. Maka kalian tidak akan kehilangan sumber uang."
Arbhy sekali lagi menegaskan kepada orang itu. Bahwa mereka harus sungguh-sungguh dalam mengerjakan pekerjaan.
"Baik, Tuan. Kami akan pekerja dengan baik." sahut lawan bicara Arbhy dengan serius.
"Baiklah kalau begitu. Selamat pagi dan selamat bertugas."
Arbhy segera mematikan sambungan teleponnya, setelah urusannya selesai.
Hah! Helaan napasnya terdengar lemah. Bukan karena kurang asupan makanan bergizi. Ataupun kurang cairan dan dehidrasi. Semua karena dirinya harus kembali ke negaranya. Otomatis jarak yang terbentang antara dirinya dan Zafia akan semakin jauh.
"Kita pasti akan bertemu lagi," gumam Arbhy. "Akan ku pastikan akan langsung menikahi mu. Ketika saat itu tiba."
Seulas senyum tipis tergambar di wajah pria muda itu. Arbhy merasa yakin pada dirinya. Jika gadis bernama Zafia itu adalah jodohnya.
"Apapun yang terjadi, kelak kamu harus kumiliki. Aku bersumpah untuk bisa mendapatkan mu!" tegas Arbhy, seakan sedang berhadapan dengan gadis incarannya.
"Apa sudah siap?" tanya Hamdani yang berdiri diambang pintu.
Arbhy menoleh, kemudian mengangguk.
"Kalau begitu, ayo!" ajak Hamdani seraya berbalik dan melangkah pergi.
Arbhy segera menarik kopernya dan menyusul kakak iparnya.
Sementara itu ditempat lain, Zafia dan Mayra hari ini sedang berkemas. Keduanya sepakat akan pindah tempat tinggal. Alasannya adalah supaya tidak lagi bertemu dengan makhluk lakn*t. Siapa lagi jika bukan mantan menjijikkan dan sahabat karibnya, Dulu!
Ya, Mayra dan Zafia akhirnya berembuk untuk pindah. Karena kejadian semalam. Mereka tidak ingin terus melihat ataupun bertemu dengan Ardian dan Arsha. Sederhananya, mereka muak pada pasangan itu. Lebih baik menjauhi sumber penyakit. Dari pada terus berpapasan dengan virus. Bisa-bisa mereka terjangkit wabah yang mereka bawa. Itu mengerikan.
"Zafia! Apa kau sudah selesai?"
Mayra berseru seraya menyambangi kamar Zafia. Tepat saat itu Zafia baru saja menutup resleting kopernya.
__ADS_1
"Sudah. Kita pergi sekarang?" tanya Zafia.
"Ya. Sekalian mencari tempat untuk sarapan."
Mayra membantu Zafia menurunkan kopernya. Keduanya berjalan keluar dari kamar Zafia. Mayra menarik koper Zafia dan menyuruh Zafia berjalan lebih dulu.
Meskipun hati was-was karena takut bertemu dengan Ardian. Zafia tetap berusaha untuk bersikap biasa saja. Ralat, bukan takut lebih tepatnya malas. Ya, Zafia malas bertemu ataupun melihat wajah Ardian. Lelaki yang sangat memuakkan menurutnya.
"May, apa kamu yakin mereka belum bangun?"
Sambil berjalan keluar dari unit apartemen, Zafia bertanya kepada Mayra.
"Siapa? Manusia pengumbar syahwat itu, maksudmu?" tebak Mayra sembari berjalan.
Nada bicara Mayra begitu santai namun terdengar acuh.
"Kamu mengganti panggilan untuk mereka, May?" tanya Zafia terkekeh pelan.
"Ah, entahlah. Jika ku pikir-pikir mungkin masih banyak julukan yang cocok untuk mereka. Tapi, aku malas memikirkannya. Tidak penting."
"Ya, kau benar sekali, May. Tidak penting memikirkan mereka."
Zafia sependapat dengan Mayra.
"Tapi anehnya, kamu masih saja membicarakan mereka sedari tadi. Aku heran, apa kamu tidak rela putus dengan laki-laki itu? Katanya benci tapi masih membicarakannya."
"Sudahlah jangan bicarakan mereka lagi."
Zafia dengan ketus menyahuti ucapan Mayra. Mayra menaikkan bahunya. Memilih mengikuti keinginan Zafia. Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka.
Bahkan ketika melewati unit apartemen Ardian. Keduanya dengan santai dan tenang terus berjalan. Sampai pada saat beberapa langkah lagi menuju lift. Seseorang memanggil salah satu diantara mereka.
"Zafia!"
Arsha nampak terburu-buru berjalan menghampiri.
"Sahabat karib mu," bisik Mayra.
"Dulu, May. Sekarang, kurasa bukan lagi." balas Zafia dengan suara pelan.
Gadis itu memasang wajah tenang ketika Arsha sampai dihadapannya.
"Ada apa?" tanya Zafia dengan suara datar.
"Kalian mau kemana?"
__ADS_1
Bukan menjawab pertanyaan Zafia, Arsha justru mengajukan pertanyaan lain kepada gadis itu.
"Bukan urusanmu!" Zafia dengan ketus memberikan jawaban.
Arsha tersenyum masam mendengar jawaban Zafia.
"Ya, kamu benar. Memang bukan urusanku. Kemanapun kamu mau pergi. Tapi, apa kamu tidak ingin memberitahu Ardian? Dia pasti akan merasa kehilangan. Sementara dia belum sempat mengunjungimu. Tapi, kamu sudah pergi begitu saja."
Bukan terharu, Zafia malah tersenyum sinis ke arah Arsha. Ucapan Arsha sangat memuakkan di telinga Zafia.
"Aku tidak peduli pada lelaki itu. Dia milikmu sekarang. Sepenuhnya. Jadi, terserah saja mau kau apakan dia. Bukan lagi urusanku. Kau hanya membuang waktuku saja.
"Ayo, May. Kita pergi dari sini. Aku sudah lapar."
Tanpa memperdulikan Arsha, Zafia segera berbalik dan masuk kedalam lift. Mayra segera menekan angka tujuan mereka. Yaitu lantai satu. Mereka ingin segera pergi dari sana. Muak mendengarkan ucapan manusia munafik seperti Arsha.
Ting.
Pintu lift terbuka ketika sampai di lantai dasar. Mayra dan Zafia segera keluar. Mereka berjalan menuju basement tempat mobil Mayra terparkir.
"Aku jadi ingat Arbhy. Waktu kamu menumpang bersama di mobilnya waktu itu. Wajah laki-laki itu terlihat masam. Untungnya dia tidak tahu, jika kamu memiliki mobil sendiri."
Mayra membuat bagasi mobilnya. Memasukkan koper mereka di sana. Mobil Mayra terlihat mewah. Namun, Mayra tidak terlalu menonjolkan kesombongannya.
"Tapi, lelaki itu sangat mengejutkan. Bahkan kakak iparnya sampai kalang-kabut. Apalagi ketika tidak bisa menghubungi adik iparnya itu.
"Kau tahu ... wajahnya benar-benar menyedihkan. Dia terlihat frustasi. Sementara kalian berdua malah enak-enakan. Bermesraan."
Mayra mencibir sembari menutup kembali bagasi mobilnya. Gadis itu segera memasuki mobil di bagian kemudi. Disusul Zafia yang masuk di bagian penumpang sebelah Mayra.
"Siapa yang sedang enak-enak, May? Kami tidak melakukan apapun!" sergah Zafia mengelak.
"Ya,ya,ya. Tidak melakukan apapun. Setelah bergulat dengan saling menautkan bibir dan berbelit lidah. Sungguh aku terkesan," ejek Mayra.
Seketika wajah Zafia merona mendengar ucapan Mayra.
"Mayra ... jangan mulai!" des*h Zafia.
"Kalau aku tidak memulainya, bagaimana aku bisa menjalankan mobilnya? Nona Zafia!"
Zafia mendengus ketika Mayra dengan sengaja menjawab ucapannya, yang tidak sesuai dengan apa yang baru saja mereka bahas.
"Kau benar-benar menyebalkan!" umpat Zafia. Sementara Mayra terkekeh.
♡♡♡
__ADS_1
Bersambung ....