Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
42. SAMA-SAMA DIKHIANATI


__ADS_3

Mayra menutup pintu kamar Zafia dengan hati-hati. Wanita itu memutuskan untuk keluar, setelah memastikan keadaan Zafia sudah membaik. Cukup lama Mayra menemani dan meyakinkan Zafia, kalau Zafia tidak sendirian. Mayra terus membujuk Zafia supaya tenang. Sampai akhirnya Zafia tertidur karena lelah menangis.


"Sam, aku butuh bantuanmu. Sekarang!" ucap Mayra dengan suara tegasnya, melalui sambungan telepon.


Hanya itu yang Mayra ucapkan pada sahabatnya itu. Setelahnya, wanita itu langsung mematikan panggilannya secara sepihak.


"Maafkan Mayra, Tante. Mayra telah gagal," lirih Mayra, sembari meremas tangannya sendiri.


Hah! Mayra mengatur napasnya yang tiba-tiba terasa memburu. Karena mengingat sosok laki-laki yang sangat dibencinya.


"Damiant!" desis Mayra. "Aku akan membuat perhitungan denganmu!"


Mayra segera bergegas pergi. Berjalan dengan langkah lebar. Tatapan mata yang tajam mengiringi langkahnya. Menuju garasi mobil. Mayra mengeluarkan sebuah mobil sport. Masuk kedalamnya dan segera meluncur dengan kecepatan penuh.


"Sam, apa kau sudah menemukan lokasinya?" tanya Mayra, yang kembali menghubungi Samuel.


"Sangat mudah ditemukan," terdengar suara Samuel memberikan jawaban.


Mayra pun mendengar dengan seksama. Ketika Samuel memberitahu dimana orang yang sedang dicarinya.


"Terimakasih, Sam. Aku ingin menyelesaikannya saat ini juga. Sudah cukup laki-laki itu membuat Tante menangis. Dan sekarang, dia juga berani membuat Zafia menangis. Aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja."


Mayra langsung memutus panggilannya, tanpa menunggu Samuel berbicara lagi.


♡♡♡


"Ma," suara Zafia terdengar serak ketika menghubungi kontak ibunya.


"Zafia, Sayang! Kamu kenapa, Nak?" suara Kartika terdengar panik.


"Kamu baik-baik saja 'kan?" imbuh Kartika bertanya pada putrinya.


"Ma, Zafia sedih. Sangat-sangat sedih, Ma," ungkap Zafia sambil terisak.


"Sedih? Apa yang membuatmu sedih? Coba ceritakan sama Mama," Kartika menginterupsi dengan suara lembut.


"Ma, Papa ... Papa," Zafia nampak ragu-ragu ketika menyebut ayahnya.


"Apa kamu bertemu dengan Papa di Aussie?" Kartika terdengar hati-hati, ketika bertanya pada Zafia.


"Iya, Ma." Air mata Zafia kembali berderai.


Sementara di belahan bumi lainnya, seorang ibu memejamkan matanya. Merasakan nyeri menusuk hatinya. Meskipun awalnya dirinya bertekad, tidak akan menyembunyikan apapun lagi dari putrinya. Namun kenyataannya hatinya tetap merasa tidak rela. Jika putrinya bersedih seperti ini.

__ADS_1


"Maafkan Mama, Fia," pinta Kartika dengan suara parau.


"Mama tidak menduga, kamu akan mengetahuinya secepat ini."


Setetes air mata jatuh membasahi pipi Kartika. Ibu dari dua orang anak itu, merasa hatinya tersayat sembilu. Sementara di seberang telepon sana, hening. Kartika yakin, pasti saat ini Zafia sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang Mama bicarakan? Kenapa ... kenapa Mama minta maaf seperti itu?" Zafia bertanya dengan nada bingung.


"Apa Mama sudah tahu sebelumnya tentang perbuatan Papa?" imbuh Zafia kembali bertanya.


Tapi Kartika masih diam. Ibu dari Zafia itu sedang berusaha untuk menguasai diri. Karena saat ini, ia juga merasakan hal yang sama dengan Zafia. Apa yang putrinya rasakan saat ini. Kartika merasakan sakitnya berkali-kali lipat.


"Ma! Mama tolong jawab Fia, Ma. Apa Mama sudah tahu semuanya?" tanya Zafia menuntut.


Kartika menghapus air matanya dengan salah satu tangannya. "Ya. Mama sudah tahu semuanya," ungkap Kartika dengan jujur.


"Sejak kapan?" tanya Zafia dengan dingin.


"Sejak lama. Jauh sebelum kamu tumbuh dewasa. Seperti saat ini," terang Kartika, yang berusaha menekan rasa sesak di dadanya.


Kekecewaan Zafia kian menguar ke udara. Bagaimana bisa ibunya menyembunyikan semuanya. Sekian lamanya.


"Dan Mama menyembunyikan semuanya dari Fia? Sekian lama? Kenapa Mama melakukannya?" suara Zafia terdengar sendu.


"Karena Mama sangat menyayangi kamu. Mama kira, papamu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tapi ...." Kartika tidak bisa meneruskan ucapannya.


"Tapi, Papa masih terus menyakiti Mama. Sampai saat ini." Zafia terisak.


Keduanya sama-sama menangis di tempat yang berbeda.


"Maafkan Zafia, Ma. Seharusnya dari dulu Mama memberitahu Fia, tentang semua ini. Supaya Fia bisa menjadi tempat berbagi kesedihan yang Mama rasakan saat itu." Zafia berbicara disela isak tangisnya.


Kartika menggelengkan kepalanya, seakan putrinya sedang berada dihadapannya.


"Semuanya sudah berlalu. Mama sudah berusaha untuk mengabaikannya. Rasa sakit Mama tidak seberapa. Berbeda dengan rasa sakit yang kamu rasakan saat ini. Kamu pasti sangat kecewa saat ini. Iya 'kan?" ucap Kartika menyangkal permintaan maaf putrinya.


"Sakit yang Zafia rasakan saat ini, pasti sama sakitnya dengan yang Mama rasakan saat itu," ujar Zafia menebak perasaan ibunya dimasa lalu.


"Mungkin," sahut Kartika seraya terkekeh sumbang. "Kita sama-sama dikecewakan." Kartika menambahkan.


"Sama-sama dikhianati," sambung Zafia. "Kenapa takdir begitu jahat sama kita ya, Ma?" ratap Zafia terdengar ngilu.


Kartika merasakan hatinya perih mendengar pertanyaan putrinya. Ia juga tidak tahu. Mengapa mereka berdua bisa dikhianati oleh kaum laki-laki seperti ini.

__ADS_1


"Mungkin, Tuhan ingin kita menjadi wanita yang kuat. Wanita yang tangguh. Untuk memberikan hukuman pada mereka yang berkhianat pada kita." Kartika menjawab asal pertanyaan putrinya itu.


♡♡♡


BRAK!


Sebuah pintu kamar mewah dibuka paksa oleh seorang wanita. Tak ada yang bisa mencegah tindakan wanita cantik itu. Karena kejadiannya begitu cepat dan kilat.


"Siapa kamu?" teriak salah satu penghuni kamar yang merasa terganggu. Sementara satu penghuni lainnya, tersenyum sinis ke arah wanita cantik yang baru saja mengganggu aktivitasnya.


"Tuan Damiant Estell. Maaf karena telah mengganggu kesenanganmu," ucap wanita cantik itu dingin.


Tak menghiraukan teriakan yang mengandung pertanyaan, dari orang sebelumnya. Karena tujuannya hanya ingin berbicara dengan Damiant.


"Mayra. Apa kabar, keponakanku tersayang?" tanya Damiant sambil mengulas senyum.


"Ck, hentikan bualanmu itu, Tuan. Aku tidak sudi menjadi keponakanmu," desis Mayra.


Menatap tajam kearah Damiant yang nampak tenang. Bahkan tidak merasa terganggu, dengan kehadiran Mayra. Sama sekali.


"Ah, aku tidak menyangka. Ternyata kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik. Bahkan kamu terlihat begitu tangguh," ujar Damiant dengan senyuman, yang menurut Mayra sangat menyebalkan.


"Aku tidak butuh penilaianmu, Tuan. Dan jangan pula memujiku. Aku ingin bicara sesuatu. Lebih tepatnya memperingatkan mu. Tuan Damiant yang terhormat," terang Mayra dengan nada tegasnya.


"Kau ingin memperingatkan ku?" ulang Damiant.


"Apa Anda tidak malu, Tuan. Tertangkap basah sedang bergumul dengan wanita muda seperti ini?" ejek Mayra mencemooh.


"Ck, lebih tidak tahu malu lagi, orang yang mengganggu kesenangan orang lain." Damiant menyeringai, sementara Mayra mendengus kesal.


"Berhentilah melukai Tante Kartika seperti ini, Tuan Damiant. Aku sudah cukup bersabar mendengar kebiasaanmu, yang menjijikkan seperti ini.


"Tapi, kesabaranku kali ini cukup sampai disini. Aku hanya ingin mengingatkan. Berhentilah bermain-main. Jangan kamu membuat Zafia semakin terpuruk. Karena hal ini!" ujar Mayra dengan tegas.


"Apa maksudmu?" Damiant nampak bingung.


"Aku tidak ingin Zafia menangis lagi. Cukup hari ini kamu memberinya kejutan."


Deg.


Jantung Damiant seakan berhenti berdetak. Ketika mendengar ucapan Mayra yang terakhir.


Sementara Mayra langsung berbalik dan pergi dari hadapan Damiant.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2