
Setelah mengetahui siapa dalang dibalik orang-orang yang mengintai Zafia. Mayra tidak lagi penasaran. Wanita itu juga tidak memberitahu Zafia tentang ini. Biarlah cukup dia yang tahu. Zafia hanya perlu fokus pada pendidikannya.
Ceklek.
Tanpa ada ketukan, tiba-tiba pintu kamar Mayra terbuka. Menampilkan Zafia dengan pandangan terkejut.
"Mayra! Kamu sedang apa?" tanya Zafia sembari melangkahkan kakinya.
Gadis itu menghampiri Mayra yang kembali fokus pada pekerjaannya. Mengamati berbagai macam formula yang berada di mejanya.
"Kamu menjadikan kamarmu sebagai tempat eksperimen?"
Zafia bertanya dengan raut wajah terperangah. Kagum dan rasa terkejut itu berbaur menjadi satu.
"Eksperimennya tidak disini. Ini aku hanya sedang menghapalkannya. Membedakan warna dan jenis reaksinya. Kau lihat apa yang sedang kupegang ini?"
Mayra menunjukkan buku catatannya.
"Catatan?" tanya Zafia.
Mayra mengangguk.
"Ya. Ini adalah catatan dari profesor Saragih. Sebagai tugas akhir pekan."
"Apa kamu udah pernah praktek dan membuat formula, May?"
Mayra mengangguk.
"Pernah."
"Apakah berhasil?" Zafia bertanya dengan mata berbinar.
"Cukup berhasil membuat orang kena radang tenggorokan. Dan kena bintik-bintik merah seperti alergi."
Zafia melongo mendengar penuturan Mayra. Beberapa kali kedua matanya mengerjap.
"Kenapa?" tanya Mayra yang melihat Zafia menatapnya seperti sapi ompong.
"Aku kira kamu bisa membuat formula yang menakjubkan."
Nada bicara Zafia terdengar kecewa. Membuat Mayra menghentikan gerakan tangannya.
"Jadi, menurutmu itu tidak menakjubkan?" tanya Mayra dengan mata memicing.
Zafia mengedikkan bahunya.
"Menurutku itu bukan suatu keberhasilan. Tapi formula yang gagal, May."
Zafia menyuarakan protesnya. Mayra terkekeh.
"Itu kamu tau."
"Jadi?" Zafia menyipitkan matanya.
"Tidak ada keberhasilan yang diraih sebelum terjadi kegagalan, Nona Zafia."
Mayra membereskan peralatannya. Menyimpannya ditempat yang aman. Mayra duduk menghampiri Zafia dan duduk disampingnya.
__ADS_1
"Itu hanya sebagian kecil kegagalanku."
Zafia menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Mayra.
"Begitu."
"Yups."
Mayra melihat kearah Zafia.
"Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Mayra.
"Mmm. Apa kamu bisa membuat formula yang bisa membuat orang lupa ingatan?"
Mayra mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan pertanyaan Zafia.
"Mengapa kamu bertanya tentang formula yang seperti itu?" tanya Mayra dengan penuh selidik.
"Mmm. Penasaran aja. Siapa tahu kamu bisa membuatnya."
Zafia tersenyum kearah Mayra.
"Apa kamu ingin melupakan sesuatu? Seseorang? Atau ...."
"Aku ingin melupakan orang yang melukaiku, May."
"Ardian?" tanya Mayra memperjelas.
Zafia menganggukkan kepalanya.
"Iya."
♡♡♡
"Apa maksud ini semua?"
Wanita itu berbicara dengan suara keras. Ketika melemparkan beberapa lembar poto tepat ke meja kerja suaminya.
"Apa? Itu hanya editan. Kamu ini selalu membesarkan masalah, Kartika. Membuatku muak saja."
Tanpa perasaan suami dari wanita bernama Kartika itu berkilah. Membuat hati wanita itu terasa mendidih.
"Sampai kapan kamu akan terus berperilaku seperti ini, Tuan Damiant?"
Kartika dengan suara tinggi membentak suaminya. Namun, lelaki yang dibentak oleh Kartika terlihat acuh. Senyumnya menyeringai.
"Apa masalahnya? Aku hanya bersenang-senang. Apa itu salah?"
Hah? Kartika menatap Damiant dengan sinis. Sungguh tak menyangka jika suaminya masih saja bermain api dibelakangnya. Untuk kesekian kalinya.
Kartika baru saja mendapatkan bukti poto perselingkuhan suaminya. Tapi, suaminya itu tidak merasa bersalah sama sekali.
"Bersenang-senang katamu?" berang Kartika.
"Tanpa memikirkan bagaimana perasaanku?"
Tak ada lagi air mata ketika Kartika berbicara dengan suaminya itu. Selama menjadi istri Damiant, Kartika mencoba untuk tegar. Berulangkali di selingkuhi oleh lelaki itu. Kartika bertahan karena permintaan ayah mertuanya.
__ADS_1
"Apa kamu tahu? Bagaimana perasaan ayah ketika mengetahui semua ini?"
Kartika menatap suaminya itu dengan tajam.
"Kamu pikir aku peduli dengan hal itu?"
Damiant berbicara sambil menatap sinis kearah istrinya. Dia tidak peduli bagaimana perasaan ayahnya. Karena bagi Damiant, ayahnya bukan lagi ancaman untuknya.
Terlahir dari keluarga Estell tidak membuat Damiant bangga. Karena ayahnya tidak pernah memikirkan perasaannya. Ayahnya hanya peduli pada istrinya. Kartika bahkan mempunyai kendali penuh atas beberapa saham milik ayahnya. Itulah yang membuat Damiant tidak suka.
"Aku sama sekali tidak peduli! Karena apa? Karena orang tua itu hanya peduli padamu. Jadi, lebih baik aku mencari kesenanganku sendiri. Dari pada memikirkan keinginan orang tua itu."
Damiant dengan sinis berbicara kepada istrinya. Lelaki begitu muak melihat wajah istrinya. Karena istrinya bukanlah wanita yang Damiant inginkan. Namun, karena paksaan kedua orang tuanya. Damiant harus menikah dengan Kartika.
"Mas! Dia adalah orang tuamu." tegas Kartika.
Wanita itu tidak terima ketika suaminya berbicara tidak sopan mengenai mertuanya. Karena bagi Kartika Tuan Estell adalah seorang ayah yang pengertian dan penyayang. Apalagi jika anaknya menurut dengan segala perintahnya. Tuan Estell tidak akan menolak segala permintaan yang diinginkan oleh anaknya.
Sayang seribu sayang, diantara kedua anak Tuan Estell. Hanya satu yang bisa menurut dengan segala macam peraturannya. Dia adalah Ameera, putri bungsu Tuan Estell. Sementara Damiant sebagai anak sulung, selalu membangkang kepada orang tua.
"Orang tua yang egois."
Kartika menghela napasnya dengan berat. Suaminya masih saja bersikap seperti ini. Sejak dulu, Damiant tidak pernah menaruh hormat kepada ayahnya.
"Mas, ayolah. Tolong ... berhenti mengatakan hal seperti itu. Ayah sama sekali tidak egois. Dia bahkan sangat menyayangimu. Dia selalu memikirkan yang terbaik untuk anak-anaknya."
Kartika sekali lagi harus melunakkan suaranya. Berusaha berbicara dari hati kehati dengan suaminya. Mencoba memberikan pengertian kepada suaminya itu.
"Memikirkan yang terbaik katamu? Dengan memaksaku untuk menikahi mu? Itu yang kamu sebutkan memikirkan yang terbit untuk anaknya?"
Damiant menatap sinis Kartika. Lelaki itu benar-benar merasa muak. Muak dengan kata-kata yang diucapkan oleh wanita dihadapannya. Wanita yang berstatus sebagai istrinya.
"Mas, bukankah kita pernah membicarakan masalah ini sebelumnya? Bukankah kamu dulu juga sudah berjanji kepada Mama. Kamu akan menerima ku. Kamu waktu itu telah berjanji, akan berusaha menerima kehadiranku. Apa kamu lupa, Mas?"
Kartika menatap sendu lelaki yang menjadi suaminya itu.
"Lalu, apa menurutmu aku sungguh-sungguh mengucapkannya?"
Damiant tertawa mencemooh kepolosan yang dimiliki istrinya. Sungguh konyol.
"Apa maksud perkataanmu itu, Mas?"
Kartika bertanya dengan raut wajah bingung.
"Aku sama sekali tidak bersungguh-sungguh mengucapkannya. Itu aku lakukan hanya untuk membuat Mama bahagia."
Damiant berucap dengan raut wajah datar dan dingin.
"Sekeras itukah hatimu yang sebenarnya, Mas?"
Kartika tertawa sumbang. Sungguh, Kartika tidak menyangka. Jika selama ini hanya dibodohi oleh suaminya. Baiklah jika seperti itu. Maka tidak ada cara lain lagi.
"Jika bukan untukku ataupun ayah. Bisakah kamu berhenti demi Zafia?"
Kartika memperhatikan raut wajah suaminya. Damiant terdiam ketika mendengar nama putri sulungnya. Meskipun dia tidak pernah mencintai istrinya. Tapi, untuk anak-anaknya. Damiant selalu melakukan yang terbaik demi kebahagiaan anak-anaknya.
"Apakah kamu pernah memikirkan. Bagaimana perasaan Zafia, jika mengetahui perbuatan b*jatmu ini?"
__ADS_1
♡♡♡
Bersambung ....