Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
39. MERASA KOTOR


__ADS_3

"Ck, dasar tua-tua keladi. Makin tua semakin jadi! Ada-ada saja. Apa Om Damiant sudah tidak waras? Bisa-bisanya keluar negeri membawa selingkuhan. Astaga!"


Mayra benar-benar merasa kesal. Sungguh ingin sekali Mayra meracuni ayah dari Zafia. Laki-laki yang menjadi pamannya itu membuatnya malu. Bahkan merasa jijik sekali jika Mayra mengingat kebiasaan pamannya itu. Bermain dengan daun muda dan wanita murahan.


"Ya, Tuhan! Kapan Om Damiant bisa sadar. Apa dia tidak pernah berpikir, kalau perbuatannya itu salah?" tanya Mayra entah pada siapa.


"Bagaimana kalau Zafia mengetahuinya. Melihatnya jalan bersama wanita muda. Yang ternyata bukan ibunya? Astaga! Sungguh aku tidak sanggup untuk membayangkannya."


Mayra merasa kepalanya pusing saat itu juga.


"Aku harus berbuat sesuatu. Sebelum terlambat. Tidak mungkin aku membiarkan Zafia bertemu dengan Om Damiant. Belum saatnya Zafia mengetahui semuanya," ujar Mayra pelan.


Zafia baru saja bisa kembali dari keterpurukan. Tidak mungkin Mayra membiarkan Zafia kembali terpuruk. Hanya karena seorang ayah yang tidak berperasaan.


♡♡♡


"Aku ingin lihat bagaimana reaksi kamu ketika mengetahui semua ini," ucap seorang laki-laki dengan senyum menyeringai.


Setelah berhasil membuat Chetty percaya padanya. Serta berhasil menjalin kerja sama. Laki-laki itu segera kembali ke tempat huniannya.


Tidak seperti biasanya, laki-laki itu hari ini keluar tanpa mengajak kekasihnya. Bukan tanpa alasan, lebih tepatnya dia ingin menyembunyikan semua rencananya dari sang kekasih.


"Ah, aku harus membeli makanan. Hampir saja aku lupa."


Laki-laki itu terkekeh sendiri mengingat sesuatu. Berjalan menuju sebuah tempat penjaja makanan bergizi. Laki-laki itu memesan beberapa menu makanan sehat.


"Semoga saja Arsha menyukainya. Entah mengapa akhir-akhir ini dia susah sekali untuk makan," ucap laki-laki itu sambil menenteng makanan yang sudah dikemas sedemikian rupa.


Ardiansyah, lelaki itu melangkah dengan langkah lebar. Setelah melewati beberapa tempat. Akhirnya dia sampai di tempat mobilnya terparkir. Tak ingin berlama-lama lagi. Lelaki itu segera melajukan kendaraannya. Membelah jalanan kota menuju kediamannya. Perjalanan yang ditempuhnya sekitar sepuluh menit. Untuk sampai dikediamannya saat ini.


"Akhirnya sampai juga. Aku berharap Arsha tidak lagi merajuk seperti sebelumnya," gumam Ardian, kemudian keluar dari kendaraannya.


Ardian dan Arsha tidak lagi menginap di apartemen. Lelaki itu memilih untuk membeli sebuah hunian. Karena Ardian memilih untuk tinggal di sana untuk beberapa waktu lamanya.


Ceklek.


Ardian membuka pintu rumahnya. Sepi, itulah yang pertama kali tertangkap oleh indera penglihatan Ardian.

__ADS_1


"Arsha kemana, ya? Kok sepi banget, sih," gumamnya.


Melangkahkan kakinya masuk dan menutup pintu. Tak lupa Ardian juga mengunci pintu rumahnya. Berjalan sambil memanggil kekasihnya. Itulah yang Ardian lakukan.


"Sha! Sayang, kamu dimana? Aku udah pulang, nih. Aku bawain kamu sesuatu, loh!" seru Ardian dengan penuh semangat.


Hening.


Tak ada suara yang menyahutinya. Ardian menaruh makanan yang dibelinya tadi di atas meja makan. Lelaki itu lantas mencari sosok kekasih yang menemaninya selama ini. Berjalan menuju kamarnya, Ardian menebak jika kekasihnya itu mungkin berada di dalam kamar.


Ceklek.


"Sha, Sayang!" panggil Ardian.


Namun apa yang Ardian temukan. Jangankan mendengar suaranya, sosoknya pun tak Ardian temukan di dalamnya.


"Sha, kamu dimana? Jangan becanda, ya. Aku gak suka kamu main petak umpet kayak gini," ucap Ardian seraya masuk kedalam kamarnya.


Masih dengan harapan yang sama, juga pikiran positif. Ardian berpikir jika Arsha sedang bersembunyi darinya.


"Aku tahu! Kamu pasti lagi mandi, ya?"


"Sayang!" panggil Ardian dengan suara lembut.


Lelaki itu juga mengetuk pintu kamar mandi itu sebanyak tiga kali. Namun, sama seperti sebelumnya. Hening. Tak ada jawaban atas panggilannya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka dan tidak ada siapa pun di dalamnya. Ardian panik.


"Jangan bilang ...."


Ardian segera melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju lemari. Membuka lemari dengan kasar.


"Brengs3k!" umpatnya ketika mendapati, bahwa tak ada pakaian Arsha di dalamnya.


♡♡♡

__ADS_1


Di tempat lain seorang wanita berpakaian tertutup. Kepalanya mengenakan _hoodie_ dengan kacamata dan juga masker di wajahnya. Sengaja berpakaian demikian, supaya tidak terlacak keberadaannya.


"Semoga dia tidak menemukanku," bisiknya dengan suara pelan.


Berbaur bersama dengan orang-orang. Wanita itu menuju tempat untuk pemeriksaan identitas. Tidak memerlukan waktu lama. Arsha sudah bisa masuk ke dalam kabin pesawat, yang akan membawanya kembali ke tanah air.


Ya, Arsha pada akhirnya bisa keluar dari cengkeraman Ardian. Laki-laki yang dulu sangat dicintainya. Lelaki yang tidak bisa ditebak olehnya. Ternyata memiliki kepribadian mengerikan.


"Aku tidak pernah menyangka telah jatuh cinta pada orang sakit," Arsha tersenyum miris.


Menertawakan nasib percintaannya yang salah. Ya, dari awal Arsha memang sudah salah melangkah. Tak hanya itu, wanita itu juga salah melabuhkan cintanya. Ketika masih banyak lelaki lajang. Ia memilih mencintai lelaki yang sudah berlebel kekasih orang.


Kini apa yang dituainya? Sebuah kekecewaan dan rasa sakit. Karena hubungan toxic yang dijalaninya dengan Ardiansyah. Lelaki yang dikiranya adalah cinta pertama yang sempurna. Tapi, ternyata anggapan itu semua hanyalah tipuan semata.


Ardian tak ubah lelaki hidung belang yang memiliki kelainan. Sebelumnya Arsha selalu menikmati hubungan percintaannya dengan lelaki itu. Tapi, siapa sangka ketika lelaki itu memiliki masalah, yang tak kunjung bisa diselesaikan dengan mudah.


Arsha harus menjadi pelampiasan napsunya. Ya, Ardian selalu melampiaskan amarahnya dengan berhubungan intim dengannya. Jika Ardian bersikap lembut seperti sebelumnya. Mungkin Arsha tidak akan merasa tersakiti.


"Bagaimana mungkin aku bisa mencintai monster seperti dirinya?" Arsha kembali tersenyum getir.


Wanita itu kembali mengingat bagaimana kasarnya perlakuan Ardian padanya. Berhubungan sampai beberapa kali pelepasan. Kemudian melakukannya dengan kasar. Arsha merasakan, Ardian tak lagi seperti Ardian yang dulu dikenalnya.


"Kamu benar-benar berubah, Ar. Kamu anggap apa aku selama ini? Sampai kamu bisa memperlakukanku dengan begitu kasar. Bukan hanya membuatku kecewa. Tapi, kamu juga menghancurkan hatiku berkeping-keping.


"Disaat melakukannya bersamaku. Tapi, kamu menyebutkan namanya."


Tes.


Air mata mengalir begitu saja pada pipi wanita itu. Ketika mengingat bagaimana Ardian bergerak di atasnya sambil menyebutkan nama Zafia. Bukan hanya melukainya secara fisik. Tapi, Ardian juga melukai mentalnya. Psikisnya dibuat terguncang. Selama mereka berada di Aussie.


"Aku berharap semoga Tuhan tidak pernah mempertemukan kita lagi, Ar. Aku benar-benar membencimu. Aku menyesal telah mencintaimu!"


Arsha menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ketika ia kembali menangis tersedu. Sungguh malang nasibnya. Bagaimana mungkin ia jatuh pada lubang yang membuatnya kehilangan segalanya. Kini dirinya telah hancur. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan pada dirinya.


Ketika seorang gadis menjaga mahkotanya. Arsha justru memberikannya dengan sukarela pada Ardian. Kini, jangankan untuk mengangkat kepalanya. Menatap dirinya sendiri di depan cermin pun Arsha tak berani.


Arsha merasa dirinya sangat kotor dan tak pantas untuk dipandang. Karena hidupnya tak ubahnya seperti bunga layu sebelum berkembang. Putik tanpa mahkota. Bagaimana bunga bisa bunga terlihat indah. Tanpa adanya mahkota yang menghiasnya.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2