Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
21. KEBRUTALAN ARDIAN


__ADS_3

Warning!!!


Ada sedikit kekerasan ya di part ini. Mohon bijak dalam membacanya. Terimakasih.


♡♡♡


Wanita yang sedang merasakan sakit hati sekaligus kecewa itu, nampak acuh ketika mendapatkan pertanyaan dari orang yang melukainya.


"Bukan urusanmu!"


Memilih menyeret kopernya dan hendak pergi begitu saja. Sampai pada saat melewati tempat dimana Ardian berada. Arsha merasakan cengkeraman yang cukup kuat pada pergelangan tangannya.


Saat wanita itu berbalik, ternyata Ardian sudah berdiri dari duduknya. Pria itu juga yang telah mencengkeram pergelangan tangannya.


"Lepas!" ucap Arsha dengan suara tegas.


Ardian menatap tajam wanita yang hendak pergi itu.


"Tidak akan pernah!"


Ardian sama kerasnya dengan Arsha ketika sedang marah. Mendengar ucapan Ardian, Arsha tersenyum sinis kepada laki-laki itu.


"Apa mau mu sebenarnya? Bukankah tujuanmu kesini untuk mencari Zafia? Kau baru saja bertemu dengannya, bukan?


"Lanjutkan 'lah pengejaran mu. Biarkan aku pergi!"


Arsha berucap dengan tegas. Wanita itu menahan rasa kesalnya. Dia benar-benar marah pada laki-laki dihadapannya itu. Tidak menyangka jika Ardian membohonginya. Urusan bisnis katanya?


Nyatanya itu hanya alasan juga bualan nya saja. Arsha benar-benar kecewa. Hatinya sakit, perih dan sekali lagi kenyataan menamparnya begitu keras.


Laki-laki yang katanya mencintainya. Tak ubah hanya lelaki hidung b*lang. Yang hanya menginginkannya ketika di atas ranjang. Sangat miris.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi!" tegas Ardian sekali lagi.


"Aku tetap akan pergi."


Arsha mencoba melepaskan cekalan Ardian. Namun, laki-laki itu tidak membiarkannya berhasil. Ardian memperkuat cengkeraman tangannya. Sampai Arsha merasakan tangannya perih.


"Lepas Ardian! Kamu menyakitiku!" sentak Arsha.


Namun, sekali egois tetaplah egois. Ardian tidak peduli melihat wajah Arsha yang meringis menahan sakit.


Lelaki itu justru menyeret paksa wanita itu kembali masuk ke dalam kamar. Arsha meronta sambil berusaha untuk melepaskan diri. Tapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Ardian.


Ardian menghempaskan tubuh Arsha ke atas ranjang. Mengabaikan wajah meringis wanita itu. Ardian menatap nyalang wanita yang menjadi penghangat ranjangnya itu.


"Kamu pikir, aku akan membiarkanmu pergi begitu? Tidak akan pernah!"

__ADS_1


Ardian melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Arsha beringsut memundurkan tubuhnya. Jika sebelumnya wanita itu akan senang saat melihat Ardian akan menyentuhnya.


Tidak dengan malam ini. Malam ini wajah Ardian yang menggelap membuat Arsha takut. Wanita itu terus beringsut mundur. Kepalanya bahkan beberapa kali menggeleng.


"Ar, kamu mau apa?" tanya Arsha dengan ketakutan.


Ardian tersenyum menyeringai. Lelaki itu mendekati ranjang dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Tentu saja menghabiskan malam panjang bersamamu. Bukankah kita sering melakukannya?"


Arsha menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan, Ar. Aku tidak mau melakukannya."


Ardian menatap sinis ke arah Arsha. Lelaki itu nampak mencemooh wanita yang ketakutan dihadapannya saat ini.


"Tidak mau? Kamu pikir aku peduli dengan semua itu?"


Ardian berdecak. Mengabaikan sikap waspada yang Arsha tunjukkan. Ardian menarik kaki wanita itu dengan paksa. Hingga membuat Arsha terl*nt*ng dipembaringan.


Sejurus kemudian Ardian sudah berhasil mengukung tubuh langsing itu.


"Aku sama sekali tidak peduli dengan penolakanmu. Arsha, Sayang. Karena aku tidak menerima penolakan! Kamu dengar itu?"


Arsha menggeleng dengan keras.


Arsha berusaha mencari alasan. Berharap Ardian bisa menghentikan niatnya. Jujur saja, Arsha sedang tidak ingin disentuh Ardian. Wanita itu sedang kecewa pada lelaki itu.


"Siapa yang emosi, hem? Aku sama sekali tidak sedang emosi. Aku akan melakukannya dengan lembut. Dan ... lebih mengg**r*hkan dari malam-malam sebelumnya."


Ardian tersenyum menyeringai dengan tangannya yang sudah bergerilya kemana-mana. Arsha berusaha menepis tangan Ardian ketika lelaki itu hendak melepaskan gaunnya. Namun, apa yang terjadi?


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat cepat diwajahnya. Untuk pertama kalinya, Arsha merasakan kekerasan dari seorang Ardian.


"Sudah aku katakan, aku tidak menerima penolakan! Apa kamu tuli, Arshavina?"


Suara Ardian menggelegar di seluruh penjuru ruangan itu. Arsha terisak sembari memegangi pipinya. Merasakan betapa sakit hati dan juga fisiknya saat ini.


Ardian dengan kasar menarik paksa pakaian yang Arsha kenakan. Sampai pakaian itu sobek dibeberapa bagian. Sementara pemilik pakaian yang terkoyak itu, hanya bisa menangis pilu.


Ardian bagai kesetanan, lelaki itu tanpa melakukan pelumasan terlebih dulu. Dengan kasar menghujam bagian kelembutan wanitanya. Arsha meronta dan juga menjerit kesakitan. Namun, Ardian seakan tuli.


Lelaki itu terus mengg*g*hi Arsha. Tidak peduli dengan jerit dan tangisan wanita itu. Yang Ardian pedulikan adalah bagaimana cara memberikan pelajaran untuk wanitanya.


Wanita yang berniat membangkang padanya. Ardian melakukannya sampai beberapa kali. Hingga dirinya benar-benar merasakan puas. Sementara Arsha, wanita itu merasakan kehancuran yang luar biasa.

__ADS_1


Bukan hanya hatinya yang hancur. Tubuh fisik dan juga psikisnya kini telah terguncang. Akibat perbuatan brutal yang Ardian lakukan padanya. Wanita itu hanya bisa terisak. Hingga matanya terpejam membawanya ke dalam mimpi.


♡♡♡


Memandang langit bertaburan bintang diwaktu dini hari. Arbhy masih belum bisa memejamkan matanya. Arbhy memilih berdiri di balkon apartemennya. Lelaki itu masih terbayang kebersamaannya dengan Zafia.


Hanya beberapa kali pertemuan mereka. Arbhy masih ingat pertama kalinya mereka bertemu. Sampai pada akhirnya Arbhy mempunyai ide cemerlang. Untuk mengajak Zafia makan malam bersama.


Siapa sangka jika moment itu akan menjadi malam terakhirnya mengenal gadis itu. Karena gadis itu memintanya untuk melupakan semua pertemuan mereka.


Pertemuan yang memberikan kesan romantis dan luar biasa bagi Arbhy. Pertama kalinya Arbhy merasakan sebuah c**man dari seorang gadis. Pertama kalinya Arbhy mencecap manisnya bibir lawan jenis.


Bayangan bagaimana mereka saling mencecap dan berbagi kelembutan. Terus berputar-putar dalam ingatan Arbhy. Laki-laki itu masih ingat dengan jelas. Bagaimana manisnya bibir merah itu. Lembutnya ketika bersentuhan dengan bibirnya. Semua masih terasa dengan jelas.


Sayangnya, semua itu harus Arbhy lupakan begitu saja. Sungguh konyol dan terkesan egois. Arbhy tiba-tiba menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Enak saja wanita itu. Setelah mencemari isi kepalaku. Dia mau pergi begitu saja?"


Arbhy meluapkan protesnya dengan nada berapi-api. Menunjuk kearah langit dimana ribuan bintang berkedip. Seakan di sana gadis bernama Zafia itu melihatnya.


"Dia pikir, dia itu siapa? Enak saja memerintah ku. Aku tidak akan melakukannya.


"Kau dengar itu, Nona?" teriak Arbhy.


"Aku tidak akan melakukannya! Aku akan terus mengingatnya!" imbuhnya.


Arbhy meluapkan emosinya. Tanpa mengingat waktu. Apakah teriakannya itu mengganggu orang lain atau tidak.


"Hei, Bung! Kecilkan suaramu! Kau mengganggu ketenangan orang."


Arbhy tersentak kaget mendengar seseorang menegurnya. Lelaki itu segera menoleh kearah sumber suara. Ternyata disamping sana, orang yang menempati apartemen disebelahnya sedang bersantai di balkon juga.


"Ah, Tuan. Maafkan Saya, Saya tidak sengaja melakukannya. Tadi kelepasan," kilah Arbhy sambil menahan rasa malu.


Laki-laki itu berdecak, tapi mengangguk begitu saja. Kemudian berlalu pergi memasuki unit kamarnya sendiri.


Arbhy menghela napasnya sambil mengelus dadanya beberapa kali.


"Untung saja dia tidak melempar ku dengan sandal."


Arbhy bergumam sambil masuk kedalam kamarnya. Lelaki itu memilih untuk merebahkan tubuhnya di pembaringan.


"Bagaimana caraku untuk mendapatkannya?"


Arbhy memandang langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang kemana-mana. Arbhy benar-benar sedang dalam fase 'Gegana'. Gelisah, galau dan merana.


♡♡♡

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2