
"Tergantung."
Zafia tersenyum ketika mengucapkan satu kata itu. Arbhy mengerutkan keningnya.
"Itu berarti Anda baru saja membual dan mempermainkan Saya, Nona?"
Arbhy nampak tidak senang. Laki-laki itu memalingkan wajahnya. Tidak lagi melihat kearah Zafia. Dia merasa kecewa dengan jawaban gadis itu. Padahal dia bertanya dengan serius. Karena Lelaki itu sudah tertarik dengan gadis itu. Sejak pertama kali bertemu.
"Tuan, buat apa Aku berjanji padamu. Aku tidak ingin membuatmu berharap terlalu jauh."
Zafia berbicara sambil mengulas senyum. Pandangan gadis itu masih senantiasa melihat kearah depan. Begitu juga dengan Arbhy.
"Tapi setidaknya jangan mempermainkan perasaanku, Nona."
Hati Arbhy benar-benar kecewa saat ini.
"Siapa yang mempermainkan Anda, Tuan?" tanya Zafia seraya mengerutkan alisnya.
"Ya, Anda. Memangnya siapa tadi yang membicarakan tentang membuat istana. Jika aku bisa membuat istana dan mempunyai banyak tabungan. Bukankah itu syarat yang kamu ajukan padaku?"
Zafia mengalihkan wajahnya untuk memandang Arbhy.
"Jadi, Tuan menganggap ucapanku itu serius?"
"Tentu saja. Asal kau tahu Nona Zafia Estella. Seorang laki-laki sejati pantang menyerah jika sudah diberikan tantangan."
Arbhy dengan suara tegas memberitahu Zafia. Zafia merasa kagum dengan apa yang Arbhy ucapkan.
"Jika kita berjodoh. Tanpa aku berjanji, suatu hari nanti pasti kita akan dipertemukan lagi."
Entah mengapa kalimat itu lolos begitu saja dari bibir indah Zafia.
"Jika saat itu tiba. Aku pastikan tabunganku sudah menggunung. Dan istana yang kamu inginkan sudah siap untuk dihuni."
Arbhy pun dengan sungguh-sungguh menimpali.
"Sekarang katakan padaku. Istana seperti apa yang kau inginkan?"
Zafia merasa konyol dengan pertanyaan lelaki yang ada disebelahnya itu.
"Yang pastinya istana yang sangat indah. Asri dengan keindahan taman bunga. Halaman yang luas dengan kolam renang yang besar. Mempunyai kamar yang indah juga luas.
"Seperti bangunan di negeri dongeng. Seperti itu!"
Meskipun tidak yakin dengan pembicaraan mereka. Zafia tetap memberitahu Arbhy tentang istana impiannya.
"Apa aku juga perlu membuatkan alat penghasil salju?" tanya Arbhy yang kembali terdengar konyol ditelinga Zafia.
"Aku tidak begitu suka dengan dingin. Aku lebih suka tempat yang sejuk. Tapi terasa hangat."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku hanya perlu memasang beberapa mesin pendingin ruangan. Sedangkan untuk menghangatkan. Aku rasa diriku sendiri sudah cukup untuk menghangatkan mu."
Arbhy mengerlingkan matanya dengan genit kearah Zafia. Membuat gadis itu sedikit bergidik.
"Ah, terserah Anda mau seperti apa."
Zafia memilih mengakhiri obrolan mereka mengenai istana impiannya. Karena Zafia merasa bahwa Arbhy sudah mulai tidak beres. Dari segi ucapannya saja sudah mulai aneh.
Tapi, niat Zafia itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kenyataannya Arbhy tidak sesederhana itu. Lelaki itu dengan beraninya mengajukan pertanyaan yang menurutnya terlalu ... rand*m.
"Berapa anak yang Anda inginkan ketika menikah nanti, Nona?"
'Astaga! Lelaki ini apa tidak mempunyai urat malu? Kenapa dia menanyakan persoalan anak dengan seorang gadis sepertiku? Apakah ot*knya masih waras?' batin Zafia menggerutu.
"Saya rasa itu tidak perlu dibicarakan. Masih terlalu awal bagi Saya untuk membicarakan masalah anak."
"Begitukah?" tanya Arbhy dengan memasang wajah polosnya.
Zafia hanya melihatnya sekilas. Tanpa mengiyakan ataupun menyanggahnya.
"Sepertinya sudah malam. Apa kita bisa kembali sekarang, Tuan Arbhy?"
Arbhy tidak langsung menjawabnya. Lelaki itu melihat kearah pergelangan tangannya. Jam tangannya menunjukkan hampir setengah sepuluh malam.
"Anda benar, Nona. Baiklah, ayo kembali."
Zafia mengangguk. Keduanya segera bangkit dari tempatnya. Arbhy membiarkan Zafia memimpin jalan mereka.
"Kemana mereka pergi sebenarnya?" gumam Hamdani.
"Mungkin mereka sedang menyisir beberapa tempat disekitar sini."
Mayra menyahuti ucapan Hamdani tanpa mengalihkan perhatian dari telepon genggamnya.
Merasa sependapat dengan Mayra, Arbhy pun menganggukkan kepalanya.
"Pemuda itu benar-benar tidak bisa ditebak. Bisa-bisanya dia mengelabuhi ku," gumam Hamdani pelan.
"Bos Anda memang aneh, Tuan."
"Tunggu ... bukan dia yang aneh. Tapi aku yang terlalu bodoh. Kenapa aku tidak mencaritahu dulu. Bisa-bisanya aku tidak tahu kalau gedung Opera tidak buka dimalam hari.
"Astaga! Hamdani! Bagaimana bisa kamu melewatkan masalah sepenting ini!"
Hamdani mengumpati dirinya, yang tidak mencaritahu tentang tempat yang semula Arbhy ingin kunjungi. Mayra pun terdiam. Wanita itu nampaknya sependapat dengan Hamdani.
"Kenapa aku juga tidak kepikiran kearah sana?" gumamnya.
Hamdani melihat kearah Mayra sekilas. Rupanya bukan hanya dirinya yang teledor. Nyatanya wanita yang sedang menunggu bersamanya itu juga, mereka berdua sama-sama telah dikelabui oleh Arbhy.
__ADS_1
Ardian masih berusaha mencari keberadaan Zafia. Keluar dari restaurant itu, Ardian tidak langsung pulang. Laki-laki itu masih berusaha keras untuk mencari keberadaan Zafia. Mantan kekasih yang masih dianggapnya sebagai miliknya.
Semua itu karena laki-laki itu sangat keras kepala. Keegoisannya menolak kenyataan. Jika Zafia telah memutuskannya.
Laki-laki berjalan menyusuri tempat-tempat disekitar pelabuhan. Entah mengapa firasatnya menyatakan, bahwa Zafia pasti masih berada disekitar sana.
"Zafia ... kamu kemana? Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku tidak akan membiarkanmu bersama orang lain.
"Tidak akan pernah semua itu terjadi. Selama aku masih hidup."
Laki-laki itu bertekad untuk terus mengejar wanita itu. Meskipun Zafia telah menolaknya. Ardian tidak peduli itu. Ardian yakin, Zafia seperti itu karena merasa cemburu.
Ardian sangat yakin, jika cinta gadis itu masih ada untuknya. Tidak mungkin Zafia bisa melupakannya begitu saja. Mengingat berapa lama hubungan mereka terjalin.
"Aku sangat yakin, jika di hatimu masih tersimpan namaku. Kamu hanya berpura-pura marah. Karena kamu kecewa sama aku.
"Aku yakin itu!"
Laki-laki itu masih percaya diri. Jika Zafia masih memiliki perasaan padanya. Padahal pada kenyataannya, Zafia benar-benar telah menutup rapat-rapat hatinya. Apalagi untuk laki-laki bernama Ardian itu.
Tidak ada lagi rasa cinta untuk pengkhianat seperti Ardian. Karena Zafia sangat membenci pengkhianatan.
Saat mengedarkan pandangannya, Ardian melihat siluet yang Ardian kenal. Ardian menyipitkan matanya. Tubuh ramping itu sangat familiar dimatanya.
Ardian sangat yakin, itulah gadis yang sedang dicari olehnya. Laki-laki itu segera melangkahkan kakinya. Dengan cepat berjalan menghampiri gadis yang Ardian yakini, itu adalah Zafia.
Semakin dekat jarak yang Ardian kikis. Laki-laki itu dapat melihat dengan jelas. Jika gadis itu memang benar Zafia-nya. Sungguh egois memang. Ardian masih menganggap Zafia adalah miliknya.
"Zafia! Ternyata itu benar kamu. Aku mencari mu kemana-mana. Ternyata kamu berada disini."
Ardian dengan tenang menyapa gadis yang nampak acuh melihat kehadirannya. Gadis itu dengan sengaja meraih tangan Arbhy. Kembali bersandiwara dihadapan Ardian.
"Zafia, sayang. Tolong kamu lepaskan tangan laki-laki itu. Aku tidak menyukainya."
Zafia tersenyum miring mendengar kalimat berupa perintah itu. Tidak pernah menyangka jika laki-laki dihadapannya itu benar-benar tidak punya rasa malu.
"Apa urusanmu. Kita tidak ada hubungan apapun. Jadi, kamu tidak berhak mengaturku. Terlebih dengan siapapun aku bergandengan tangan.
"Aku rasa itu tidak akan menyakitimu. Karena diantara kita tidak ada ikatan apapun!"
Zafia mengajak Arbhy untuk pergi dari sana. Namun, Ardian menghalangi langkahnya.
"Aku tidak percaya jika dia adalah tunanganmu. Cincin saja kalian tidak memakainya. Setidaknya kamu harus lebih mempersiapkan skenario yang matang. Sebelum kamu ingin bermain sandiwara di hadapanku.
"Aku tidak akan mudah dibohongi begitu saja olehmu. Kamu pasti melakukan semua ini, hanya untuk membalas ku. Iya 'kan?"
Ardian mengejek kearah Zafia dan juga Arbhy. Karena Ardian melihat tidak adanya cincin yang tersemat dijari tangan keduanya.
♡♡♡
__ADS_1
Bersambung ....