Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
36. APA KAMU MENYUKAI SESEORANG


__ADS_3

"Bhy, apa Mama mengganggu?"


Nyonya Damiyati menghampiri putranya yang sedang sibuk dengan beberapa berkas dihadapannya. Arbhy pun langsung menoleh kearah ibunya.


Senyum mengembang di bibirnya, "Mama, ada apa?" tanya Arbhy.


Lelaki itu menghentikan kegiatannya demi menghormati sang ibu. Membiarkan ibunya duduk di kursi sebelahnya. Arbhy menunggu apa yang ingin ibunya bicarakan.


"Apa yang kakakmu bicarakan itu benar, Nak?" tanya Nyonya Damiyati dengan lembut.


Arbhy mengerutkan keningnya merasa heran.


"Maksud Mama?"


"Ck, jangan pura-pura bodoh atau pura-pura lupa!" sergah ibunda Arbhy itu berdecak kesal.


Arbhy malah terkekeh mendengar decakan yang keluar dari mulut ibunya.


"Apa Mama merasa penasaran sekarang?" tanya Arbhy mengerlingkan sebelah matanya.


Plak.


"Jangan bertele-tele, Arbhy Yahya! Mama bertanya serius padamu. Apa benar, kamu menyukai seorang gadis?" tanya Damiyati dengan serius.


Hah! Tidak bisa lagi untuk berkilah. Arbhy mengangguk membenarkan. Raut wajah Nyonya Damiyati berbinar.


"Seperti apa gadis itu?" tuntut Nyonya Damiyati meminta putranya untuk memberitahunya.


"Dia sangat cantik dan manis," ungkap Arbhy tersenyum.


"Benarkah?" Nyonya Damiyati nampak bersemangat.


"Ya. Sangat cantik dan juga galak," kekeh Arbhy melanjutkan ceritanya.


"Lalu apa yang membuatmu menyukainya, jika dia galak?" Nyonya Damiyati mengernyit heran.


"Ya, karena dia galak, Ma. Arbhy merasa tertantang untuk mendapatkannya."


"Apa hanya karena itu?" tanya Nyonya Damiyati menyelidik.


"Tentu saja. Arbhy lebih suka gadis galak yang menawan. Dari pada gadis yang terkesan murahan," tutur Arbhy menjelaskan.


"Apa kamu punya fotonya?" tanya Nyonya Damiyati yang penasaran.


"Tentu saja." Arbhy dengan tegas menjawab.


"Coba tunjukkan pada Mama. Mama ingin melihatnya!"

__ADS_1


Nyonya Damiyati mengulurkan tangannya ke depan putranya. Arbhy tersenyum melihat ketidak sabaran ibunya itu. Tanpa merasa ragu, lelaki itu mengeluarkan ponselnya.


"Ini lihatlah, Ma. Dia sangat manis, bukan?"


Arbhy memperlihatkan fotonya dengan Zafia yang diambil dari jarak jauh.


"Kalian pergi berkencan?" Nyonya Damiyati melontarkan pertanyaan yang membuat Arbhy tersenyum.


"Menurut Mama kami sedang apa? Kami hanya melihat pemandangan dermaga. Itu setelah makan malam. Apa itu sebuah kencan?" kekeh Arbhy beralasan.


"Ck, tinggal mengakui 'iya' saja apa susahnya, sih?" Nyonya Damiyati menggerutu kesal.


Arbhy kembali tertawa mendengar ucapan ibunya.


"Dia sangat manis. Apa dia benar-benar galak seperti katamu?"


Nyonya Damiyati nampak tidak percaya dengan putranya. Karena menurut penilaiannya, foto gadis yang Arbhy perlihatkan tidak menunjukkan tanda-tanda wanita galak.


"Mmm, entahlah. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin. Tapi ...."


"Tapi, kenapa?" tanya Nyonya Damiyati mengernyit heran.


Hah! Arbhy pun menceritakan kepada ibunya. Bagaimana pertemuannya dengan Zafia. Nyonya Damiyati yang mendengarkan dibuat ternganga tak percaya. Sesekali ibu dari Arbhy itu tertawa terpingkal-pingkal. Tepatnya ketika Arbhy menceritakan bagaimana Zafia menamparnya. Belum lagi panggilan yang Zafia sematkan padanya.


"Jadi, gadis itu memanggilmu 'Tuan Mesum', begitukah?" tanya Nyonya Damiyati sambil menahan tawanya.


"Tapi kamu menyukainya, bukan?" goda Nyonya Damiyati.


"Mama jangan menggodaku seperti itu!" rajuk Arbhy.


Sebesar apapun Arbhy saat ini, meskipun usianya terbilang dewasa. Lelaki itu terap manja kepada ibunya.


"Mama tidak menggodamu. Mama hanya ingin menegaskan saja. Apa kamu benar-benar menyukainya?" tanya Nyonya Damiyati.


Arbhy mengangguk tanpa ragu.


"Kalau begitu, kejarlah!" ujar Nyonya Damiyati mengulas senyum, tangannya menepuk pelan pipi putranya.


Arbhy yang memang berniat untuk mengejar Zafia. Seperti mendapatkan angin segar, ketika mendengar ucapan ibunya.


"Apa Mama merestuiku untuk menjadikannya seorang istri nantinya?" tanya Arbhy dengan mata penuh harap.


"Tidak!" ucap Nyonya Damiyati diluar dugaan Arbhy.


"Lalu untuk apa Mama menyuruhku mengejarnya?" tanya Arbhy dengan tampang kesal.


"Untuk apalagi? Ya jelas supaya kamu mau berjuang. Kamu pikir menjadikan anak gadis orang sebagai istri itu mudah?" hardik Nyonya Damiyati mengomel.

__ADS_1


"Maksud Mama?" Arbhy tidak mengerti dengan apa yang ibunya maksudkan.


"Butuh banyak pengorbanan Tuan Arbhy! Kamu harus layak terlebih dahulu. Tingkatkan kemampuanmu dan buktikan. Jika kamu layak menjadi suaminya kelak. Menikah tidak cukup hanya dengan kata pantas. Tapi, kamu harus benar-benar mampu dalam segala bidang.


"Semua masalah pasti akan datang menjadi pemicu dalam hubungan seseorang. Apa kamu sudah mampu dan bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin, nantinya?"


Arbhy tertegun mendengar wejangan dari ibunya. Banyak yang belum dimengerti olehnya. Entah bagaimana caranya untuk bisa memahami maksud dan kata-kata ibunya.


"Aku sudah berjanji padanya, Ma. Aku akan membangun sebuah castle yang ia impikan. Dan ketika nanti aku bertemu kembali padanya. Aku akan pastikan jika aku sudah memiliki banyak tabungan untuk menjamin kehidupannya, kelak."


Arbhy berbicara dengan begitu polosnya dihadapan ibunya. Nyonya Damiyati sampai menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran putranya itu.


"Kamu memang benar-benar putra Tuan Abraham Arabica!" gerutu Damiyati.


"Darah kesombongannya bahkan mengalir padamu. Kenapa bukan sisi lembutnya saja yang kau tiru? Kenapa harus sisi kesombongannya yang menurun padamu! Astaga."


Arbhy hanya bisa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


"Mana aku tahu, Ma. Bukankah kalian yang membuatku. Mungkin saat itu kalian tidak sempat berdoa saat melakukannya. Sehingga aku menuruni sifat sombong Papa," celetuk Arbhy tanpa berpikir lebih dulu.


Nyonya Damiyati melebarkan matanya menatap putranya itu.


"Astaga, Arbhy! Apa yang baru saja kamu bicarakan pada Mama? Kamu benar-benar tidak sopan, ya!" hardik Nyonya Damiyati.


"Maaf, Ma. Kelepasan," Arbhy meringis memasang wajah memelas.


Nyonya Damiyati mengurut dadanya beberapa kali. Entah dosa apa yang telah diperbuatnya dan suaminya. Sehingga mempunyai putra seperti ini. Bicaranya terkadang tanpa filter.


"Sebentar!" tiba-tiba Nyonya Damiyati mengerutkan keningnya.


Ada sesuatu yang nampak mengganjal.


"Tadi kamu bilang apa? Membuat castle? Tabungan yang cukup? Apa maksudnya? Apa gadis itu sudah memintamu untuk memberikan semua itu padanya?" cecar Nyonya Damiyati dengan tatapan tajam.


Arbhy bisa menebak, sepertinya ibunya salah menangkap maksud ucapannya. Cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan kedua tangannya didepan dada.


"Bukan seperti itu, Ma! Mama salah paham. Bukan dia yang memintanya." Arbhy dengan tegas menyangkalnya.


"Lalu?"


Arbhy pun menjelaskan pada ibunya. Tentang pembicaraannya dengan Zafia. Mengenai apa yang gadis itu impikan. Apa keinginannya. Lalu rumah seperti apa yang menjadi impiannya. Semuanya Arbhy ceritakan pada ibunya.


"Jadi, semua itu inisiatif mu sendiri untuk melakukannya?" tanya Nyonya Damiyati pada putranya.


Arbhy pun mengangguk membenarkan. Nyonya Damiyati hanya bisa menghela napas. Entah mengapa putranya itu begitu yakin dengan pilihannya. Sebagai seorang ibu, Nyonya Damiyati hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putranya. Arbhy Yahya Arabica.


♡♡♡

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2