Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
17. KECEWA


__ADS_3

Arbhy segera memeriksa keadaan Zafia. Lelaki itu terlihat sangat khawatir terhadap gadis itu.


"Kamu gak papa 'kan?"


Zafia menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku gak papa."


Mereka masih belum melihat kearah depannya. Padahal didepan mereka saat ini ada sepasang manusia yang sedang mematung ditempatnya.


"Yakin, gak ada yang luka?"


Sekali lagi Arbhy bertanya kepada Zafia. Memastikan bahwa gadis disebelahnya itu benar-benar baik-baik saja.


"Iya, aku sungguh tidak apa-apa."


"Syukurlah."


Arbhy merasa lega setelah mendengar jawaban Zafia untuk kedua kalinya. Lelaki itu kemudian melihat kearah depannya. Diikuti oleh Zafia beberapa saat kemudian.


Saat itulah Zafia melebarkan matanya. Kala melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini. Sejurus kemudian Zafia segera meraih lengan Arbhy.


Gadis itu bergelayut manja pada lengan Arbhy dengan sengaja. Arbhy yang merasa terkejut hendak melayangkan protes. Namun, sebelum itu terjadi kata-kata yang keluar dari bibir Zafia selanjutnya membuat Arbhy mengurungkan niatnya.


"Eh, Arsha, Ardian! Kalian apa kabar?"


Zafia bertanya dengan mengulas senyuman yang dibuat semanis mungkin.


"Zafia, siapa dia?"


Bukannya menjawab sapaan dari Zafia. Ardian justru melayangkan pertanyaan lainnya. Nada suaranya pun terdengar tidak bersahabat. Ada rasa tidak suka dalam bicaranya.


"Oh iya, kenalkan. Dia Tuan Arbhy, calon tunangan aku. Papa sudah mengatur pertunanganku dengannya."


Zafia menjawabnya dengan dusta. Sementara Arbhy sebisa mungkin untuk menahan rasa terkejutnya. Lelaki itu berusaha untuk tampil dengan sikap yang normal. Mencoba menguasai diri dan juga keadaan yang ada.


"Halo, Tuan. Apa kabar?"


Arbhy bertanya kepada Ardian sambil mengulurkan tangannya. Namun, apa yang Arbhy lakukan nyatanya tidak mendapatkan sambutan dari Ardian.


"Kamu jangan membohongiku. Kamu kira dengan mengatakan kalau dia adalah tunanganmu. Aku akan percaya begitu saja?"


Ardian berdecak seraya tersenyum sinis. Lelaki itu bahkan tidak mengindahkan tangan Arbhy yang menggantung di udara.


"Tidak semudah itu, Fi. Aku bahkan belum menerima keputusan kamu. Aku juga tidak ingin kita putus! Sampai kapan pun, aku gak mau kita putus!"


Mendengar ucapan Ardian yang begitu percaya dirinya. Zafia tersenyum miring seraya mencibir lelaki itu.

__ADS_1


"Kamu jangan serakah, Ar. Cobalah untuk memikirkan perasaan wanita disebelah mu. Bagaimanapun juga, dia adalah sahabat baikku. Aku tidak mungkin tega membuatnya terluka.


"Meskipun dia sudah tega menusukku dari belakang. Aku tidak mungkin membalasnya. Dengan membiarkan hubungan kita berlanjut lebih jauh. Itu akan sangat menyakitkan untuknya."


Zafia dengan tenang berbicara kepada Ardian. Berharap lelaki itu bisa mengerti dan berhenti mengejarnya.


"Aku tidak akan membiarkan wanita lain terluka, Ar. Karena itu bukanlah sifatku. Menikam sahabat sendiri, bukanlah tradisi seorang wanita dari keluarga terhormat seperti ku."


Kalimat Zafia yang terakhir berhasil membuat hati Arsha memanas.


"Maksud kamu bicara seperti itu apa, Fi?"


Arsha menatap tajam kearah Zafia. Tapi Zafia sama sekali tidak terpengaruh. Gadis itu terlihat tenang, meskipun cengkraman tangannya semakin erat di lengan Arbhy.


"Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskannya padamu. Kamu pasti tahu apa maksud ucapanku."


Gadis itu segera berlalu dari sana dengan sedikit menarik Arbhy. Supaya lelaki itu bergerak mengikutinya. Namun, baru berapa langkah. Ardian kembali bersuara mencegah kepergiannya.


"Aku sangat mencintaimu, Zafia! Sampai kapan pun! Aku tidak ingin kita putus begitu saja!"


Zafia tersenyum sinis mendengar ucapan Ardian yang sedikit keras itu. Miris rasanya mendengar ucapan Ardian yang hanya membual itu.


"Aku tidak peduli. Berikan saja cintamu itu pada orang yang tepat. Karena aku tidak membutuhkannya. Berhentilah untuk mengganggu kehidupanku!


"Karena aku tidak ingin melihat wajahmu!"


Gadis itu kembali melangkahkan kakinya. Diikuti oleh Arbhy yang masih digandeng olehnya.


Sekarang Arsha mengerti, mengapa Ardian sempat menolaknya untuk ikut. Ternyata ini jawabannya. Ardian pergi bukan untuk perjalanan bisnis. Melainkan untuk menyusul Zafia.


Sungguh miris sekali nasibnya. Ternyata ia masih belum bisa sepenuhnya mengisi hati Ardian. Tanpa banyak bicara, wanita itu berlalu begitu saja. Melewati Ardian tanpa sepatah kata pun.


"Arsha! Kamu mau kemana?"


Tanpa merasa bersalah Ardian masih bisa bertanya kepada Arsha mau kemana. Arsha benar-benar tidak habis pikir. Tidak tahukah Ardian jika Arsha merasa kecewa padanya saat ini?


"Kamu tidak perlu tahu. Mau kemana pun aku, apa peduli mu. Bukankah kamu kesini karena ingin mencari Zafia?


"Jadi, untuk apa kamu mempedulikan ku. Urus saja Zafia mu itu. Sungguh menyebalkan!"


Arsha segera pergi dari tempat yang membuat dadanya sesak.


"Aaaargh! S*al!" umpat Ardian.


Lelaki itu mengacak rambutnya karena frustasi. Ardian tidak terima melihat Zafia bersama dengan laki-laki lain. Belum lagi sikap Arsha yang sudah jelas kecewa padanya. Menambah rasa kesal dalam hati laki-laki itu.


♡♡♡

__ADS_1


Zafia dan Arbhy berada dipinggiran pelabuhan. Keduanya sedang duduk ditempat yang biasa dijadikan spots foto para wisatawan.


Gadis itu terdengar beberapa kali membuang napas. Memandang di kejauhan luasnya samudra. Melihat kerlap-kerlip lampu dari gedung disekitarnya.


"Maaf," ucap Zafia setelah beberapa lama terdiam, sejak mereka tiba ditempat itu.


"Untuk?" Arbhy menyahutinya dengan raut bingung.


"Untuk yang tadi. Aku sudah mengatakan kalau Tuan adalah tunanganku. Padahal kenyataannya, bukan," ucap Zafia pelan pada kata terakhirnya.


Arbhy tersenyum mendengar ucapan Zafia.


"Tidak masalah. Jangankan untuk berpura-pura jadi tunangan. Menjadi tunangan yang sungguhan pun aku mau."


Arbhy berucap dengan tulus. Namun, Zafia tidak menanggapinya. Gadis itu justru terkekeh kecil.


"Tuan Arbhy terlalu berlebihan. Mana mungkin gadis sepertiku ini pantas bersanding dengan orang seperti Anda.


"Anda terlihat bukan seperti orang biasa. Pastilah Anda ini seorang pengusaha sukses."


Arbhy merasa tersanjung mendengar ucapan Zafia. Tapi, ia juga tidak senang. Karena Zafia secara tidak langsung merendahkan dirinya sendiri.


"Siapa yang bilang Anda tidak pantas untuk Saya? Semuanya akan pantas-pantas saja. Asalkan kita merasakan kecocokan.


"Tentang pekerjaan, aku sudah memiliki pekerjaan tetap. Aku rasa gajiku sudah lebih dari cukup untuk menghidupi mu."


Zafia terkekeh kecil mendengar ucapan Arbhy. Yang menurutnya terkesan sombong.


"Apa Tuan sedang mencari calon istri?" tanya Zafia dengan iseng.


"Ya. Eh, tidak juga. Maksudku kalau kamu mau. Aku tidak keberatan menjadikanmu istri."


Tawa Zafia seketika itu pecah. Arbhy melihat betapa cantiknya Zafia yang sedang tertawa saat itu. Laki-laki begitu menikmati pemandangan disampingnya.


Dimana seorang gadis sedang tertawa begitu lepas. Tanpa pura-pura dan ekspresi wajahnya begitu natural. Tidak dibuat-buat sedang bahagia. Itu benar-benar lepas.


'Sepertinya perasaannya sudah lebih baik. Tawanya begitu menawan,' batin Arbhy yang sedang memandang kearah Zafia.


"Tuan, dengar ... menjadikanku istri. Anda harus mempunyai banyak tabungan. Karena aku ini sangat boros dan royal.


"Jadi, bekerjalah lebih giat lagi. Supaya Anda bisa membangunkan sebuah istana yang megah untukku. Karena aku tidak ingin tinggal dirumah yang kecil."


Zafia dengan santainya berbicara seperti itu. Tanpa berpikir panjang, gadis itu seakan memberikan sebuah harapan kepada Arbhy.


"Apa jika aku bisa membangun sebuah istana dan memiliki banyak tabungan. Anda mau menjadi istriku?"


Kali ini nada bicara Arbhy terdengar serius. Zafia pun menghentikan tawanya. Gadis itu memandang wajah Arbhy lekat-lekat.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2