Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
7. TUAN MESUM


__ADS_3

Setelah melihat kliennya pergi, Arbhy dan Hamdani bisa bernapas lega.


"Kita berhasil, Bang!" seru Arbhy begitu hebohnya.


"Siapa dulu juru bicaranya? Hamdani! Jangan diragukan lagi kemampuannya." Hamdani dengan pongahnya membanggakan diri.


Arbhy tersenyum sinis ke arah Hamdani.


"Jadi, seperti itu ya, Bang?"


"Ya begitulah. Kalau kamu sendiri, aku gak yakin mereka tertarik. Secara tata bahasa kamu tadi hampir melenceng dari topik yang kita bahas," cibir Hamdani mengejek.


"Itu tadi kecelakaan, Bang. Aku gak sengaja," Arbhy berkilah.


Terang saja, ketika sedang menjelaskan materi proposal mengenai produk perusahaannya. Arbhy tiba-tiba menyebutkan tentang 'Nona Cantik'. Padahal jelas-jelas didepan mereka semua rekan bisnisnya itu laki-laki.


"Kecelakaan kok sering begitu, Bhy. Kamu lagi mikirin gadis yang tadi sore 'kan?"


Hamdani bertanya penuh selidik kepada Arbhy.


"Ah, sudahlah, Bang. Ayo kita pulang, aku mau istirahat."


Tanpa menunggu jawaban Hamdani, Arbhy berjalan lebih dulu. Mereka meninggalkan ruangan VIP itu, setelah Hamdani membayar semua tagihan.


Saat akan keluar dari restoran tersebut, Arbhy berpapasan dengan Zafia dan Mayra.


"Hai, Nona Zafia!" sapa Arbhy dengan senyum mengembang.


Zafia yang sedang berbincang dengan Mayra pun menoleh. Zafia sedikit terkejut ketika menyadari siapa yang menyapanya.


'Astaga! Kenapa laki-laki ini lagi sih," gumam Zafia membatin.


"Ah, Tuan Mesum. Ups! Maaf maksud Saya Tuan Arbhy. Kita bertemu lagi, Tuan sedang apa disini?"


Zafia bertanya dengan memasang senyum canggungnya.


"Oh, ini Saya baru saja selesai makan malam dengan klien."


'Ya Tuhan! Kenapa gadis ini mengingatku dengan panggilan seperti itu? Apakah diriku ini serendah itu dimatanya?' pikir Arbhy merasa miris.


Hamdani yang berdiri disisi Arbhy hanya bisa menahan senyumannya.


'Kasihan sekali dirimu, Bhy. Gadis kecil ini ternyata masih menganggap mu mesum,' ucap Hamdani membatin.


"Oh, begitu."


Zafia mengangguk sebentar, kemudian ia berniat untuk kembali melanjutkan langkahnya.


"Sudah malam. Kami duluan, Tuan. Maaf, atas kelancangan Saya tadi. Saya tidak bermaksud untuk memanggil Anda seperti itu."


Zafia nampak berbicara dengan tulus. Tapi, sepertinya ketulusan yang Zafia lakukan telah menumbuhkan ide gila di kepala Arbhy.


"Sebenarnya Saya tidak sebaik yang Anda pikirkan, Nona Zafia."


Arbhy berucap dengan datar. Merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Zafia menatap Mayra, sambil meminta pendapat melalui isyarat. Mayra terlihat menaikkan bahunya. Pertanda kalau dirinya juga kurang paham dengan ucapan Arbhy.


"Maksud Anda, apa Tuan?"


Zafia bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Saya akan memaafkan Anda, dengan satu syarat."


Arbhy menggantungkan kalimatnya. Hal ini membuat Zafia mengernyit heran.


"Syarat?"


"Ya, Saya akan memaafkan Anda. Dengan syarat ..., Anda harus menemani Saya besok untuk mengunjungi Sydney Opera House. Bagaimana?"


Bukan hanya Zafia dan Mayra yang terkejut. Tapi, Hamdani pun sama terkejutnya.


"Bhy ...."


Arbhy mengisyaratkan Hamdani untuk diam dengan telunjuknya.


"Bagaimana Nona? Apakah Anda bisa? Hanya kita berdua saja, tidak perlu membawa orang lain."


Ucapan Arbhy kali ini ini berhasil membuat semua orang kembali terkejut.


"Apa maksud Anda, Tuan?"


Mayra bertanya kepada Arbhy dengan tatapan tajamnya. Arbhy sampai dibuat bergidik ngeri dibuatnya. Namun, ia segera menormalkan kembali ekspresi wajahnya.


"Jujur saja, Saya kurang nyaman dengan panggilan yang Nona Zafia sematkan untuk Saya."


Arbhy menjelaskan dengan suara tegasnya yang berwibawa.


"Bukan hanya sekali, tapi ini sudah kedua kalinya. Nona Zafia memanggil Saya dengan sebutan 'Tuan Mesum'. Ini sangat menyinggung perasaan Saya."


Arbhy berbicara dengan menampilkan wajah datarnya. Sikapnya pun terlihat dingin saat ini.


"Saya sudah minta maaf kepada Anda, Tuan. Saya benar-benar tidak bermaksud untuk membuat Anda tidak nyaman."


"Jika Zafia tidak mau menemani Anda. Apa konsekuensinya yang harus kami tebus?"


Mayra bertanya kepada Arbhy dengan tenang. Arbhy nampak tersenyum miring melihat kearah Mayra.


"Saya akan menuntutnya dengan tuduhan pencemaran nama baik."


Ancam Arbhy dengan serius yang disertai dengan tatapan tajam. Zafia yang melihatnya langsung meraih tangan Mayra. Menggenggam erat tangan wanita yang sudah Zafia anggap sebagai kakak.


"May, ini bagaimana?"


Zafia berbisik kepada Mayra.


"Kamu tenanglah, aku gak akan membiarkannya menyakitimu. Apalagi berniat untuk memanfaatkan mu."


Mayra berucap dengan tegas meskipun suaranya begitu pelan.


"Baik, jam berapa Anda ingin bertemu?"


Mayra bertanya dengan datar.


"Jam tujuh malam. Saya harap Nona Zafia sudah siap. Karena Saya secara pribadi akan menjemputnya. Kalian sebutan saja alamat kalian tinggal."


Zafia menatap Mayra dengan bingung. Namun, Mayra mengeratkan genggaman tangannya kepada Zafia.


"Kami tinggal di Sydney Cosmopolitan CBD Apartment."


Setelah menyebutkan alamat tempat tinggal mereka, Mayra dan Zafia segera pergi. Tanpa menghiraukan keberadaan Arbhy dan juga Hamdani lagi.

__ADS_1


"Yes! Yuhuu!"


Arbhy berseru kegirangan setelah Zafia dan Mayra menghilang dari pandangannya.


"Dasar gila!" umpat Hamdani mencemooh adik iparnya itu.


"Iri bilang, Bang! Cari bini lagi sana."


Arbhy dengan sinis membalas umpatan Hamdani.


"Tidak semudah itu, Bhy."


Setelah berucap seperti itu Hamdani berlalu begitu saja. Meninggalkan Arbhy sendirian. Arbhy yang ditinggalkan oleh Hamdani, menatap iba kearah bahu kokoh yang telah menjauh itu.


"Terimakasih, Bang." Arbhy bergumam sambil tersenyum getir.


♡♡♡


Ardian memandangi wajah yang terlelap disampingnya. Helaan napas lesunya berulang-ulang keluar dari bibirnya.


Niatnya menyusul Zafia ke Aussie terancam berantakan. Meskipun kini ia sedang duduk didalam pesawat menuju benua Australia. Namun, hati juga perasaannya tidak tenang. Semua itu karena, wanita yang sedang terlelap disampingnya.


'Bagaimana caraku mencari keberadaan Zafia. Jika Arsha ikut bersamaku seperti ini?' Ardian bergumam dalam hatinya.


Nyatanya Ardian tidak bisa dengan mudah mengelabuhi Arsha. Arsha dengan keras meminta ikut serta. Ia bahkan mengancam Ardian. Karena tidak ingin Arsha menaruh curiga padanya. Ardian akhirnya mengizinkan Arsha untuk ikut.


Sekarang setelah Arsha ikut dengannya. Ardian sendiri yang merasa dirugikan. Entah bagaimana cara Ardian untuk mengelabuhi Arsha nantinya. Setelah mereka tiba di Aussie. Ardian belum bisa memikirkan caranya sampai detik ini.


'Lebih baik aku tidur. Aku akan memikirkan caranya setelah tiba di Aussie.' pikir Ardian dalam benaknya.


Akhirnya Ardian memutuskan untuk memejamkan matanya.


Waktu bergerak begitu cepat, terasa begitu cepat berlalu. Kini pesawat yang Ardian naiki telah mendarat. Semua penumpang dengan sabar menunggu giliran untuk turun dari pesawat.


Singkat cerita Ardian dan Arsha kini telah berada di luar bandara. Mereka menunggu jemputan yang Ardian pesan.


"Mana sih jemputannya? Lama banget!"


Arsha mengerucutkan bibirnya. Nampak sekali jika ia tidak sabaran.


"Itu mobilnya sudah datang."


Ardian menunjuk ke arah mobil berwarna hitam yang mendekat kearah mereka.


"Silahkan Tuan dan Nona."


Arsha lebih dulu memasuki mobil itu. Mengabaikan Ardian yang sedang berbicara dengan sopir.


"Langsung ke hotel terdekat."


Ardian menginstruksikan kepada sopir tersebut, ketika mereka sudah berada didalam mobil.


"Baik, Tuan."


'Zafia, tunggu aku. Kamu harus mendengarkan penjelasanku.' Ardian menggumam didalam hatinya.


♡♡♡


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2