Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
35. APA DIA MENYUSAHKAN MU?


__ADS_3

"Aku selalu mendengar kakek berdebat dengan Papa. Aku benar-benar kasihan kepada Papa yang terus dimarahi seperti itu," tutur Zafia dengan sendu.


Mayra terdiam tidak langsung menjawab ucapan Zafia. Memang selama ini Mayra tahu jika hubungan kakeknya dan ayah Zafia tidaklah baik. Semua itu Mayra ketahui dari ibunya. Tapi, ibunya melarang Mayra bercerita pada Zafia.


"Jangan katakan apapun pada Zafia. Apapun yang kamu ketahui tentang Paman Damiant!" tegas ibunya saat itu.


"Termasuk tentang perselingkuhan Paman juga, Ma?" tanya Mayra pada ibunya.


"Ya. Termasuk tentang itu."


Mayra benar-benar merasa iba dengan Zafia. Karena gadis itu belum tahu bagaimana sebenarnya perilaku ayahnya.


"May, menurutmu apa yang harus aku lakukan. Supaya Papa sama kakek bisa baikan?" tanya Zafia, tiba-tiba membuyarkan lamunan Mayra.


"Entahlah, Fi. Aku tidak bisa berpikir saat ini." Mayra menjawab dengan malas.


Zafia mend*sah pelan karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Mayra.


"Yah! Padahal aku benar-benar berharap sekali sama kamu, May."


Mayra dapat melihat raut kecewa yang terlukis di wajah Zafia. Membuat wanita muda itu merasa iba. Mayra selalu tidak bisa jika melihat Zafia bersedih.


"Nanti kita pikirkan lagi, ya. Sekarang lebih baik kita istirahat. Aku lelah ingin tidur siang."


Mayra beranjak dari duduknya kemudian menarik kopernya.


"Kamu ingin tidur dimana, Fi? Lantai atas atau tidur di kamar bawah?" tanya Mayra.


"Kamu sendiri tidur di mana, May? Di lantai atas atau di bawah?"


Bukannya menjawab Zafia malah balik bertanya pada Mayra.


"Mengapa bertanya padaku?" Mayra memicingkan matanya.


"Aku gak mau jauh dari kamu, May. Kalau kamu tidur di lantai atas. Aku juga akan tidur di sana."


Mendengar ucapan Zafia, Mayra hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Aku jadi merasa lebih mirip dengan seorang ibu dari pada seorang teman," kekehnya.


"Kemanapun aku berada, sepertinya kamu paling hobi menempel padaku." Mayra mengimbuhkan.


Zafia tersenyum lebar mendengar Mayra. Karena apa yang Mayra ucapkan memang benar adanya. Zafia memang tidak bisa jauh dari Mayra. Jika mereka sudah bertemu seperti ini. Kasih sayang mereka begitu besar. Baik Zafia maupun Mayra sama-sama saling menyayangi.


"Bukankah dari dulu aku memang tidak bisa terpisahkan denganmu?" sahut Zafia dengan percaya diri.


"Hah! Baiklah. Kita akan tidur di lantai atas saja. Ayo!" ajak Mayra pada akhirnya.


"Ayo!" seru Zafia dengan riang.

__ADS_1


Keduanya kemudian berjalan dengan menarik koper masing-masing. Mayra membimbing Zafia menuju sebuah lift. Kebetulan mension yang mereka tempati saat ini berfasilitas lengkap dan mewah. Jadi, tidak perlu lagi naik-turun menggunakan tangga. Cukup dengan lift yang tersedia saja.


Ting!


Pintu lift terbuka dan kini Zafia dan Mayra sudah berada di lantai atas mansion. Tepatnya di lantai tiga yang memiliki dua ruangan. Ruangan yang sama-sama besar. Yang memang sengaja didesain seperti itu untuk kedua cucu Tuan Estell.


"Kamu yang sebelah kanan aku yang di kiri," ucap Mayra ketika mereka keluar dari lift.


"Baiklah. Selamat beristirahat!"


Keduanya berpisah dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Kleak.


Suara pintu tertutup. Zafia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Ruangan yang akan Zafia tempati didesain dengan cat berwarna soft pink. Yang ditata dengan sedemikian rupa. Sangat indah sesuai dengan kesukaan gadis itu.


"Sangat indah," gumam Seruni mengagumi kamarnya.


Gadis itu berjalan kearah tempat tidurnya. Tanpa lama-lama lagi, Zafia langsung merebahkan tubuhnya.


"Lelahnya," gumam gadis itu seraya memejamkan matanya.


Gadis itupun memilih untuk istirahat sejenak. Berharap rasa lelahnya bisa berkurang setelah tidur beberapa saat.


Di tempat lain, Arbhy dan Hamdani baru saja keluar dari bandara. Keduanya sudah ditunggu sebuah taksi, yang dipesan Hamdani secara _online_.


"Kita langsung pulang, Bang?" tanya Arbhy.


Kakak beradik itu sudah duduk di dalam taksi. Sementara sopir sedang menata koper mereka di bagasi.


"Ah, iya juga. Aku juga lelah. Ingin segera tidur."


Arbhy menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Ketika sopir taksi masuk dan duduk dibalik kemudi pun. Tidak banyak perbincangan. Sopir itu hanya bertanya kemana tujuan mereka dan Hamdani langsung memberitahunya.


Membiarkan sopir taksi mengemudi dengan nyaman. Hamdani dan Arbhy sendiri memilih untuk memejamkan mata mereka. Memilih untuk mengistirahatkan diri selama perjalanan pulang.


Sementara itu dikediaman Tuan Arabica hari ini nampak riuh. Karena seorang gadis belia yang sedang bermain di taman.


"Delima, Sayang! Jangan lari-lari nanti jatuh!" teriak neneknya.


"Biarkan saja, Dami. Berlari bagus untuk membentuk otot kakinya," sang kakek menyela.


Nyonya Damiyati hanya bisa menghela napas berat. Karena suaminya yang tak lain Tuan Abraham melarangnya, ketika hendak mengejar cucunya.


"Surti!" panggil nyonya Damiyati pada pembantunya.


"Saya, Nyonya."


Surti menyahut seraya mendekat.

__ADS_1


"Tolong kamu temani Delima. Takutnya dia terjatuh dan terluka," titah Damiyati kepada Surti.


"Baik, Nya."


Menjawab dengan patuh, Surti langsung berlari kecil mengejar Delima. Anak kecil berusia tiga tahun.


"Kamu jangan terlalu memanjakannya, Dami. Itu tidak bagus untuknya dimasa depan," ucap Tuan Abraham mengingatkan istrinya.


"Mana aku tega bersikap seperti itu," sahut Damiyati dengan pelan.


"Delima sangat mirip dengan ibunya. Itu membuatku selalu teringat pada putri kita." Damiyati mengutarakan pikirannya.


Tuan Abraham yang sedang menyeruput tehnya, berhenti sejenak sambil menatap raut wajah istrinya.


"Dami, aku tidak ingin karena rasa sedihmu itu. Cucu kita menjadi pribadi yang manja. Itu sangat tidak baik. Di masa depan nanti, Delima kecil kita akan menjadi gadis manja. Aku tidak ingin cucuku menjadi seperti remaja di kebanyakan diluar sana."


Nyonya Damiyati langsung menatap balik suaminya dengan tatapan heran.


"Maksudmu apa, Aber?"


Aber adalah panggilan kesayangan Damiyati untuk Tuan Abraham.


"Ayah tidak ingin cucunya menjadi manja, Ma. Sehingga ia hanya bergantung pada orang-orang didekatnya."


Belum sempat Abraham menjawab suara seseorang sudah lebih dulu menyahut. Abraham dan Damiyati langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


"Arbhy!"


Nyonya Damiyati terlihat sumringah ketika melihat putranya. Arbhy berjalan menghampiri kedua orang tuanya itu. Diikuti oleh Hamdani dibelakangnya.


"Kalian sudah kembali?" Nyonya Damiyati menyambut uluran tangan putranya.


"Belum, Ma. Sepertinya aku masih di Aussie," sahut Arbhy sekenanya.


Plak.


Nyonya Damiyati memukul pelan lengan putranya itu dengan gemas. Arbhy meringis sambil terkekeh kecil.


"Apa Arbhy menyusahkan mu?" tanya Abraham pada Hamdani.


"Mana mungkin aku menyusahkan kakak ipar. Aku bukan anak kecil lagi, Yah." Arbhy segera menyela dengan cepat, sebelum Hamdani mendahuluinya.


"Tidak, Yah. Dia hanya sedikit membuatku panik," ujar Hamdani.


"Benarkah?" kening Tuan Abraham berkerut.


Pandangan matanya menelisik kearah Arbhy.


"Jangan menatapku seperti itu, Yah!" ucap Arbhy salah tingkah.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2