Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
37. KAMU BISA MENGANGGAP KU SAUDARA


__ADS_3

Bruk!


Dua orang wanita tanpa sengaja bertabrakan, ketika keduanya akan memasuki bangunan sebuah gedung universitas.


"Oh, ****!" umpat salah satunya yang berpakaian seksi.


Sementara wanita satunya memakai pakaian elegan tanpa memperlihatkan bentuk tubuhnya. Sangat berbeda jauh dengan pakaian yang wanita satunya tadi gunakan.


"Apa kamu tidak punya mata?" hardik wanita berpakaian seksi itu dengan bahasa asing.


"Maaf, Nona. Bukankah Anda sendiri yang menabrak saya? Saya sudah berusaha menghindar. Tapi, Anda nampaknya lebih tertarik dengan layar ponsel. Dari pada melihat jalan didepan Anda," sahut wanita yang berpakaian elegan itu.


"Kamu berani sama saya?" suara wanita berpakaian seksi itu menggelegar.


"Maaf, Nona. Saya disini untuk mengecam pendidikan. Bukan untuk mencari musuh. Jika saya salah, tolong maafkan saya. Permisi."


Tanpa menunggu jawaban lawannya. Wanita yang berpakaian elegan itu segera berlalu begitu saja. Sehingga membuat wanita berpakaian seksi itu semakin murka.


"Dasar wanita si-alan! Bisa-bisanya dia pergi begitu saja. Gak sopan banget, sih."


Wanita seksi itu menggerutu dengan bahasa kenegaraannya sendiri. Merasa kesal dengan lawannya yang berlalu. Tanpa mendapatkan kemenangan maupun kepuasan.


"Awas aja kalo ketemu lagi. Aku akan kasih dia pelajaran!" ucapnya berdesis penuh dendam.


♡♡♡


Hari ini adalah hari pertama Zafia menempuh pendidikannya. Berangkat sendiri tanpa didampingi oleh Mayra. Zafia nampak santai dan begitu menikmati aktivitasnya. Kecuali insiden yang menimpanya beberapa menit lalu. Ketika akan memasuki gedung universitas tempatnya menuntut ilmu sekarang.


"Dasar wanita aneh. Dari planet mana sih dia itu. Berpakaian seperti itu ketika masuk universitas. Yang benar saja? Dia itu lebih mirip wanita penggoda dari pada seorang mahasiswi," gerutu Zafia sambil terus berjalan.


"Dia yang nabrak, dia juga yang marah. Dasar tidak waras. Apa dia itu anak pejabat disini. Tapi, kurasa bukan. Melihat dari perilakunya yang arogan seperti itu. Sepertinya dia itu bukan asli negara ini. Mana mungkin ada mahasiswa angkuh seperti dirinya dari sini," Zafia terus berbicara sendiri.


"Hah! Sudahlah. Dari mana pun asalnya bukan urusanku untuk repot-repot memikirkannya. Lebih baik aku fokus pada kuliahku hari ini."


Tekad Zafia menegaskan pada dirinya sendiri. Bahwa dirinya harus bersemangat hari ini. Karena ini adalah hari pertamanya kuliah.


♡♡♡


"Bagaimana dengan adik kesayanganmu?" tanya Samuel pada Mayra.


Keduanya baru saja bertemu sesuai dengan kesepakatan mereka. Mayra tidak bisa mengantar Zafia kuliah dihari pertamanya. Karena pagi-pagi sekali Samuel sudah menghubunginya meminta bertemu. Lebih tepatnya lelaki itu menagih janji pada Mayra.


"Bagaimana apanya?" tanya Mayra dengan santai.

__ADS_1


Wanita itu menyeruput minumannya tanpa melihat bagaimana wajah Samuel.


"Apa dia sudah bisa _move on_ dari mantannya itu?" tanya Samuel.


"Hm, entahlah. Aku tidak tahu. Tapi sepertinya saat ini dia jauh lebih baik. Dari pada sebelum kami pindah tempat," terang Mayra.


"Jadi, kalian tidak lagi tinggal di apartemen itu lagi?" tanya Samuel.


"Ya. Kami tinggal di mension yang telah kakek Estell sediakan."


Samuel berdecak mendengar ucapan Mayra. Bukan karena kesal melainkan merasa iri dengan keberuntungan sahabatnya itu.


"Kalian benar-benar beruntung memiliki kakek yang sangat perhatian. Berbeda dengan diriku ini. Karena aku sudah tidak lagi memiliki keluarga," ujar Samuel.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Sam? Bukankah aku sudah sering bilang, jangan pernah merasa sendiri. Kamu bisa menganggap ku saudara. Kita sudah berteman lama, bukan? Apa sangat sulit bagimu untuk melakukannya?"


Mayra berbicara dengan sinis pada Samuel. Sementara pemuda itu nampak terkekeh. Ucapan Mayra sama sekali tidak menyakiti perasaannya. Karena meskipun Samuel berbicara seperti itu. Tapi jauh didalam lubuk hatinya. Samuel sudah menganggap Mayra seperti saudara. Sesuai dengan keinginan wanita itu.


"Ah, mana mungkin aku menolak tawaranmu itu, Mayra. Kamu adalah saudariku yang terbaik dan istimewa," Samuel berucap dengan tulus.


Meskipun pemuda itu bicara sambil menebar tawa. Tapi, Samuel benar-benar serius dengan ucapannya.


"Kamu juga sangat luar biasa, Sam. Sekali membual membuatku terasa mual," cibir Mayra.


"Oh ya, May. Bagaimana dengan orang-orang yang mengintai Zafia? Apa menurutmu mereka tidak berbahaya untuknya?" tanya Samuel serius.


Ikut khawatir dengan keamanan Zafia, Samuel benar-benar bertanya dengan serius pada Mayra. Tapi Mayra nampak tenang dan menggeleng pelan.


"Mm, mereka tidak akan pernah menyentuh adikku."


Mendengar ucapan Mayra Samuel tentu merasa heran. Meskipun Samuel tahu semua identitas mendetail tentang orang yang menyewa para pengintai Zafia. Tetap saja pemuda itu merasa curiga.


"Maksudmu? Aku gagal paham dengan kalimatmu itu, May," ungkap Samuel yang merasa bingung.


"Arbhy bukan laki-laki seperti Ardian. Aku rasa lelaki itu menyukai Zafia. Tapi, karena permintaan Zafia. Membuatnya harus menyewa mata-mata. Karena lelaki itu tidak bisa muncul secara langsung dihadapan adikku," terang Mayra.


"Mengapa begitu? Itu sama saja seperti mengagumi diam-diam. Pasti sangat menyakitkan untuknya."


Samuel tidak habis pikir dengan tindakan yang Arbhy lakukan.


"Zafia meminta Arbhy untuk melupakannya, Sam. Karena suatu alasan yang tidak bisa aku beritahukan padamu. Tapi, sepertinya Arbhy tidak sepenuhnya mengabulkan permintaan Zafia. Buktinya, dia menyewa mata-mata seperti saat ini. Kau tahu sendiri bukan."


Samuel mengangguk paham dengan apa yang Mayra ucapkan.

__ADS_1


"Aku hanya bisa mengawasinya. Jika dia lebih baik dari Ardian si kepar@t itu. Maka aku akan membiarkannya. Tapi, jikalau dia tidak ada bedanya dengan Ardian. Aku adalah orang pertama yang akan menyingkirkannya," tegas Mayra dengan serius.


"Dan aku akan selalu mendukungmu. Aku akan carikan informasi tentang laki-laki itu. Lebih rincinya lagi, supaya bisa memudahkan mu." Samuel tersenyum penuh arti pada Mayra.


"Terimakasih, Sam. Kamu memang terbaik," ujar Mayra membalas senyum pemuda itu.


♡♡♡


BRAK!


"Nanti aku hubungi lagi," ucap seseorang pada lawan bicaranya yang ada diseberang telepon.


Lelaki paruh baya itu langsung mematikan sambungan teleponnya. Perhatiannya beralih pada sosok wanita seksi yang baru masuk kedalam ruangannya.


Wanita itu menghampirinya dengan bibir cemberut.


"Ada apa, Babe? Kenapa wajahmu masam seperti itu? Apa universitas yang kamu pilih tidak bagus?" tanyanya merasa heran.


"Bukan itu. Universitasnya sangat bagus. Tapi hari pertama ku sangat menyebalkan. Ada seorang wanita yang membuatku kesal hari ini," rajuk wanita itu sambil duduk dipangkuan lelaki itu.


"Benarkah? Siapa dia? Apa kamu tahu namanya?" tanya lelaki itu.


Si wanita menggeleng pelan dengan penuh sesal. Karena ia benar-benar tidak tahu nama wanita yang membuat harinya tidak menyenangkan.


"Aku tidak bertemu dengannya lagi. Aku benar-benar kesal!" sungutnya.


Lelaki yang menjadi tumpuan wanita itu mengulas senyum tipis. Karena merasa gemas pada sang wanita. Wanita yang duduk di pangkuannya itu membuat lelaki itu selalu ingin menyentuhnya.


"Jangan tersenyum seperti itu, Tuan Damiant. Anda terlihat sangat menyebalkan. Aku benar-benar sedang kesal. Tapi kenapa kamu terlihat tenang saja. Apa kau tidak berniat untuk menghiburku?" tanya wanita yang masih merajuk.


"Chetty, Sayang! Apa yang harus kulakukan supaya bisa membuatmu terhibur?" tanya Damiant dengan lembut.


"Aku ingin _shopping_," rajuk Chetty pada Damiant dengan manja.


"Tentu saja. Tapi, sebelum itu ...." Damiant melemparkan senyuman nakal pada Chetty.


"Tidak bisakah kita melakukannya nanti malam saja?" tanya Chetty memelas.


"Tidak. Karena aku ingin melakukannya sekarang," bisik Damiant dengan suara seraknya.


♡♡♡


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2