
"Fi, apa kamu merasa ada yang aneh?"
Mayra bertanya kepada Zafia yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Apa, May?" sahut Zafia tanpa mengalihkan perhatiannya.
Sepertinya benda yang berada ditangannya lebih menarik dari pada melihat wajah Mayra.
"Apa kamu menyadari sesuatu?"
Mayra kembali melontarkan pertanyaan yang sulit dipahami oleh Zafia. Zafia mengernyit, heran. Gadis itu dengan terpaksa melihat kearah Mayra. Mayra kini sudah duduk disebelahnya.
"Sebenarnya apa sih, May, yang mau kamu bahas?"
'Hem, ternyata Zafia benar-benar polos dan kurang waspada. Dia bahkan tidak menyadari kondisi disekitarnya,' gumam Mayra didalam hatinya.
Mayra menggeleng pelan, sepertinya ia harus memberikan banyak pelajaran untuk adik kecilnya ini. Pikir Mayra.
"May! Kok malah diam aja sih!" Zafia menggerutu.
"Ada yang mengawasi mu."
Kalimat yang cukup pendek yang Mayra ucapkan membuat Zafia terperangah.
"Kamu serius?"
Mayra menganggukkan kepalanya. Zafia mengerjapkan matanya kembali. Siapa yang mengawasinya? Pikir Zafia merasa penasaran.
"Apa mereka orang suruhan Ardian?" gumam Zafia mencoba menebak.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."
Mayra dengan acuh menjawab gumaman dari Zafia.
"Lalu bagaimana menurutmu?"
Zafia bertanya dengan serius kepada Mayra. Mayra nampak sedang berpikir. Zafia menanti jawaban dari Mayra dengan penuh harapan.
"Nanti aku akan mencaritahu. Kamu fokus saja pada pendidikanmu."
Zafia sedikit tidak puas dengan jawaban Mayra. Namun, Zafia juga tidak bisa memaksa. Jika itu yang Mayra sarankan. Maka itu pasti yang terbaik untuknya. Zafia perlahan mengangguk.
"Istirahatlah jangan terlalu membuang waktu dengan bermain ponsel. Apalagi hanya untuk hal-hal yang tidak jelas."
Zafia mendengus mendengar ucapan Mayra.
"Aku sedang mencari hiburan. Apa itu juga tidak boleh?" kilah Zafia dengan wajah cemberut.
"Boleh saja asal jangan terlalu lama. Kamu juga butuh istirahat. Besok kamu sudah mulai kuliah."
Diingatkan kembali oleh Mayra, membuat Zafia menghela napas. Benar apa yang Mayra katakan. Besok dirinya mulai kembali mengenyam pendidikan.
"Terimakasih sudah mengingatkanku, May."
Zafia berucap dengan tulus yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Mayra.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku mau kembali ke kamar dulu."
Mayra beranjak dari tempatnya. Ia berjalan pergi ke kamarnya. Zafia memandang kepergian Mayra dengan lesu.
"Siapa yang sedang mengawasi ku? Apa mungkin Ardian menyewa seseorang untuk memata-matai ku?" gumam Zafia.
Gadis itu masih penasaran dengan pembahasannya bersama Mayra barusan.
"Jika itu orang suruhan Ardian. Orang itu benar-benar sangat keterlaluan!"
Zafia berucap dengan geram. Merasakan kekesalan yang luar biasa. Lagi-lagi Ardian masih terus berusaha mengganggu hidupnya. Zafia sungguh tidak senang dibuatnya.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Pendirian pun tidak punya. Hanya pikiran picik yang terus dipelihara. Menyewa mata-mata untuk mengawasi ku?
"Hei! Tuan ARDIANSYAH, Anda pikir aku akan membiarkanmu begitu saja? Tidak akan!"
Dengan nada berapi-api Zafia berbicara sendirian. Seakan dihadapannya itu ada laki-laki yang sedang dibicarakannya.
♡♡♡
"Apa kamu sudah mendapatkannya, Sam?" tanya Mayra kepada seseorang.
Setelah memasuki kamarnya, Mayra segera menghubungi sahabatnya. Samuel nama sahabat Mayra. Seorang laki-laki yang seumuran dengannya. Samuel memiliki kemampuan di bidang IT.
"Apa kamu bisa menemukan identitas lengkap orang-orang itu?" tanya Mayra.
Mayra meminta bantuan Samuel untuk meretas cctv, dimana ia dan Zafia berada hari ini. Disaat Mayra tanpa sengaja melihat gerak-gerik orang yang mencurigakan.
"Jadi, mereka tergabung di sebuah organisasi detektif? Menarik sekali, lalu apa kamu bisa mencaritahu siapa yang menyuruh mereka?"
Mayra terus mengobrol dengan Samuel melalui sambungan telepon. Meskipun begitu tangan wanita itu tidak tinggal diam. Wanita itu sedang meracik sesuatu.
"Kamu tahu 'kan. Aku sudah menganggap Zafia seperti adikku sendiri. Aku sangat menyayanginya. Aku sudah cukup geram mendengar jika dia dikhianati oleh kekasihnya. Oleh karena itu, aku sangat bahagia ketika dia memutuskan untuk tinggal bersamaku disini."
Mayra masih terus mempelajari beberapa materi dihadapannya. Meskipun sambil berbicara dengan Samuel. Mayra sudah terbiasa melakukannya. Jadi, obrolannya dengan Samuel sama sekali tidak mengganggu aktivitasnya.
"Tentu saja aku bahagia. Dengan dia disini, aku bisa terus mengawasinya. Melindunginya setiap saat. Aku juga ingin melatihnya menjadi wanita yang kuat dan tangguh.
"Supaya tidak ada lagi laki-laki yang berani mempermainkannya."
Mayra tertawa renyah ketika mendengar Samuel memujinya.
"Sudahlah jangan memujiku terus. Aku bisa besar kepala jika terus kamu sanjung seperti itu," kelekar Mayra begitu ringannya.
Tak lama kemudian Mayra memilih untuk memutuskan sambungan teleponnya.
♡♡♡
"Cih, memuji katanya? Dasar Mayra, apa dia tidak bisa membedakan mana kalimat pujian dan ejekan. Astaga!"
Lelaki bule dengan perawakan atletis itu hanya bisa mendengus. Ketika mengingat pembicaraannya dengan sahabatnya. Dia adalah Samuel orang yang dihubungi oleh Mayra.
"Mayra begitu menyayangi gadis bernama Zafia itu. Tidak kusangka, wanita super cuek seperti dirinya mempunyai hati nurani."
Samuel menggeleng tak percaya. Lelaki itu kembali teringat bagaimana ia melontarkan pertanyaan kepada Mayra.
__ADS_1
"Aku sudah mendapatkannya."
Itulah jawaban Samuel ketika mengangkat sambungan telepon dari Mayra.
"Mereka tergabung dalam organisasi detektif ternama. Mereka sangat profesional dalam bekerja. Mereka sering disewa untuk melakukan pengintaian."
Samuel menjelaskan dengan rinci tentang hasil peretasannya kepada Mayra.
"Masalah mencaritahu siapa yang menyuruh mereka. Aku akan berusaha, tapi ini tidak gratis."
Samuel tidak bersungguh-sungguh mengucapkan kalimat itu. Ia hanya bergurau. Tapi, Mayra sepertinya tidak keberatan. Karena Samuel mendengar jika wanita itu akan mentraktirnya.
"Sepertinya kamu begitu menyayangi Nona dari keluarga Estell itu, May."
Samuel masih ingat bagaimana dia melontarkan pertanyaan itu kepada Mayra. Samuel juga tidak percaya jika Mayra akan menjawab pertanyaan dengan tenang. Wanita itu bahkan tidak tersinggung dengan pertanyaannya.
"Baiklah. Aku akan membantumu. Karena kamu juga sangat baik pada orang-orang di sekitarmu."
Samuel menghela napasnya. Lelaki itu mengakhiri lamunannya tentang pembicaraannya bersama Mayra. Dia segera memulai mengotak atik-atik komputer dihadapannya.
Jari-jari tangannya dengan lincah menari-nari diatas papan keyboard. Memasukkan beberapa sandi dan juga kode. Mencoba meretas informasi yang diperlukannya.
"Ayo ... sedikit lagi, kita lihat siapa sebenarnya orang itu."
Samuel bergumam sambil menunggu layar komputernya yang sedang memuat sebuah informasi. Beberapa detik kemudian. Sebuah deretan tulisan terpampang dengan jelas dilayar komputernya.
"Dapat!" seru lelaki itu dengan rasa puas.
"Wow! Sungguh diluar dugaan. Tidak hanya tampan. Ternyata pria ini juga anak dari konglomerat. Hem, Mayra pasti senang mengetahuinya. Pria ini sepertinya akan cocok dengan adik Mayra itu.
"Yang satu tampan dan mapan. Satunya lagi cantik. Pasangan yang idealis!" puji Samuel sambil terus membaca informasi yang didapatkannya.
Tak lupa Samuel juga menyalin data-data itu. Tanpa terlewatkan satu informasi. Samuel berhasil menyalin semuanya dan langsung mengirimkannya kepada Mayra.
"Selesai. Sudah kukatakan, ini hanya misi kecil untukku. Berterimakasih 'lah dengan benar nantinya. Nona Mayra."
Samuel mengirimkan pesan itu kepada Mayra. Setelah itu ia memilih untuk pergi beristirahat.
♡♡♡
Sebuah notifikasi pesan muncul dilayar ponsel Mayra. Mayra segera mengambil ponselnya itu. Melihat dan membukanya.
"Cih, memangnya bagaimana cara berterimakasih yang benar menurutnya? Ada-ada saja."
Mayra berdecak setelah membaca pesan di ponselnya. Mayra segera membuka pesan e-mail. Karena orang yang mengirim pesan padanya. Juga telah mengirimkan e-mail.
Mayra menyipitkan matanya ketika pesan e-mail itu terbuka.
"Jadi, ... dia?"
Sudut bibir Mayra terangkat membentuk sebuah senyuman. Sungguh diluar dugaannya. Zafia pun sepertinya tidak tahu menahu soal ini.
"Baiklah! Kita lihat apa tujuanmu sebenarnya. Jika tujuanmu baik, aku tidak akan menghalangi. Tapi, jika niatmu tidak baik. Aku adalah orang pertama yang akan mematahkan tulang-tulang mu!"
Mayra sangat menyayangi Zafia. Dia tidak akan membiarkan Zafia kembali dipermainkan oleh laki-laki.
__ADS_1
♡♡♡
Bersambung ....