
"Bagaimana keadaan Zafia saat itu, San?" tanya Kartika kepada Santi.
Pandangan Kartika nampak sendu saat itu juga. Pasti gadis cantiknya itu sangat sedih. Tidak mungkin tidak.
"Nona terlihat biasa ketika di bandara. Tapi, sebelumnya Nona Zafia sempat bersedih ketika berada dikediaman. Menurut cerita Bagas, Nona sempat menangis di kamarnya."
Hah! Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Kartika.
"Kenapa Zafia harus merasakan apa yang aku rasakan, San. Apakah ini karma?"
Kartika kembali meneteskan air matanya. Pedih rasanya jika berbicara tentang karma.
"Nyonya, tidak baik Nyonya bicara seperti itu. Karena setiap ucapan kita adalah doa. Lebih baik kita mendoakan supaya Nona Zafia bisa melepaskan masalahnya. Jangan kita berpatokan kepada karma. Meskipun karma itu ada. Tapi, kita juga bisa mengharapkan karma baik dari pada karma yang buruk."
Santi berusaha mengingatkan juga menghibur nyonyanya. Kartika tersenyum mendengar ucapan Santi. Setidaknya gadis itu selalu memberikan kata-kata yang bisa menenangkannya.
"Terimakasih banyak, Santi. Karena kamu selalu mengingatkan saya."
Santi menganggukkan kepalanya.
"Hanya hanya bisa mengingatkan Nyonya. Supaya bisa terus berpikiran positif. Ingat kesehatan Nyonya. Jangan terlalu berpikir yang berat-berat. Selalu berpikir yang positif. Agar tetap awet muda dan tetap cantik."
Santi sedikit menunjukkan senyuman ketika melirik nyonyanya dari kaca spion. Kartika terkekeh mendengar ucapan Santi.
"Aku sudah berumur, San. Jangan membuat kata-kata untuk menggodaku."
Santi kembali tersenyum samar.
"Nyonya, umur tidak bisa menyurutkan semangat seseorang. Umur boleh bertambah. Wajah boleh berubah menjadi keriput.
"Tapi, jiwa harus tetap bersemangat seperti anak muda. Tidak boleh surut ataupun mengerut."
Tawa Kartika benar-benar pecah saat itu juga. Santi pun ikut tertawa ringan.
"Kamu bisa saja, San. Untung kamu bekerja sama saya. Saya jadi ada yang menghibur disaat sedih seperti ini."
Hah! Helaan napas kembali keluar dari mulut Kartika.
"Nyonya. Saya sangat senang bisa menghibur Nyonya. Tidak perlu sungkan jika Nyonya ingin berbagi dengan saya. Saya akan dengan senang hati mendengarkan."
Santi berbicara seraya mengulas senyuman.
"Terimakasih banyak, San. Saya akan memikirkannya."
Kartika menjawab dengan gurauan. Kartika sudah menganggap Santi seperti adik sendiri. Karena gadis itu tidak pernah berbuat macam-macam selama bekerja dengannya. Santi juga tidak begitu akrab dengan laki-laki. Jika ditanya mengapa. Santi selalu menjawab, dia trauma dengan laki-laki. Karena ayahnya dulu selalu melakukan kekerasan. Baik itu terhadap dirinya maupun almarhum ibunya.
"Saya juga berterimakasih, karena Nyonya sudah merekrut saya menjadi pelayan disisi Nyonya."
Kartika berdecak, wanita itu tidak suka ketika mendengar Santi menyebut dirinya sebagai pelayan.
__ADS_1
"Sudah saya katakan beberapa kali. Jangan pernah menyebut dirimu sebagai pelayan. Kamu adalah asisten saya. Lebih Keren lagi kamu juga merangkap sebagai bodyguard saya. Ingat, Santi! Jangan pernah merendahkan dirimu didepan orang lain.
"Supaya kita tidak dipandang rendah oleh mereka."
Kartika berbicara dengan suara tegas. Ini membuat Santi merasa seperti memiliki seorang ibu. Rasa rindu akan ibunya kembali hadir dibenak gadis itu. Kartika memperhatikan dari pantulan kaca spion.
"Apa kamu merindukan seseorang?" tanya Kartika.
"Saya selalu rindu kepada ibu saya. Ketika mendengar nasehat dari Nyonya."
Santi menjawab dengan jujur. Senyum tipis terlukis dibibir gadis itu. Kartika baru ingat, jika Santi sudah tidak memiliki seorang ibu. Gadis dihadapannya dipaksa menjadi sosok yang tegar dan juga tegas. Karena keadaan keluarganya yang begitu keras. Ekonomi keluarganya yang minim. Membuat Santi tumbuh menjadi gadis yang kuat.
"Maafkan saya, Santi. Pasti saya membuat hatimu sedih."
Kartika mengusap punggung gadis yang sedang mengemudi itu.
"Nyonya jangan seperti itu. Saya sudah terbiasa seperti ini. Saya justru akan sangat merindukan ibu. Jika saya tidak mendengar nasehat dari Nyonya."
Santi tertawa, membuat Kartika memberinya tepukan pelan.
"Jadi, ocehanku bisa mengurangi rasa rindumu itu?" tanya Kartika seraya terkekeh.
"Bukan sekedar mengurangi lagi, Nyonya. Tapi lebih dari itu. Kerinduan saya kepada sosok ibu bisa terobati. Ketika mendapatkan nasehat dan juga ocehan yang Nyonya berikan kepada saya."
Santi dengan jujur memberitahu Kartika apa yang dirasakannya.
Santi mengangguk seraya tersenyum.
"Saya siap melaksanakan perintah, Nyonya. Kapanpun Nyonya butuhkan."
Kartika terkekeh mendengarnya.
"Pesankan tiket untuk penerbangan nanti malam. Kita akan kembali ke Jakarta."
"Baik, Nyonya."
Dengan patuh, Santi mengangguk.
♡♡♡
Sementara itu Zafia yang sempat menjadi pembicaraan Kartika dan asistennya. Gadis itu baru saja pulang dari kuliah. Zafia memasuki apartemennya dengan lesu. Mayra yang berada didepan televisi mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
Tanpa berlama-lama, Mayra segera menegur adiknya itu. Zafia langsung mendudukkan tubuhnya disamping Mayra.
"Aku bertemu dengan Arsha. Ternyata mereka tinggal di salah satu unit apartemen yang sama dengan kita," ungkap Zafia.
"Benarkah?"
__ADS_1
Mayra nampak terkejut mendengar jawaban Zafia. Sepertinya Mayra terlalu lengah. Sampai tidak menyadari jika mereka tinggal di satu gedung yang sama dengan wanita bernama Arsha itu.
"Apa kalian bertengkar?"
Zafia mengangguk.
"Sedikit. Hanya berdebat beberapa kata. Setelah itu aku pergi. Karena aku tidak ingin melihatnya juga Ardian."
Mayra mengangguk setuju dengan tindakan Zafia.
"Jadi, Ardian juga bersama dengan wanita itu? Tidak mengira jika mereka masih disini," Mayra menggeleng pelan.
"Arsha bilang mereka sekalian berlibur. Tapi karena Ardian bertemu denganku. Membuat acara liburan mereka kacau."
Kerutan tercetak jelas di kening Mayra. Heran mendengar cerita yang Zafia sampaikan.
"Wanita itu bilang seperti itu padamu?" tanya Mayra.
"Wanita itu namanya Arsha, May."
Zafia memberitahu Mayra dengan cukup jelas. Karena mengira Mayra tidak ingat dengan nama Arsha.
"Iya, aku tahu. Tapi aku malas menyebutkan namanya. Mau menyebut 'gadis itu', dia sudah pasti tidak lagi peraw*n. Buat apa, mending menyebutnya dengan 'wanita itu'. Aku malas menyebut nama wanita murahan."
Mayra berbicara dengan nada yang acuh. Kentara sekali jika Mayra tidak menyukai Arsha. Wanita yang telah menusuk Zafia dari belakang. Mengkhianati adik yang Mayra sayangi.
"Bagaimana bisa seorang gadis masih bisa jadi peraw*n. Ketika sudah berhubungan intim dengan seorang pria."
Zafia bergumam pelan menanggapi ucapan Mayra. Gadis itu sepertinya teringat kembali dengan video panas kedua pengkhianat itu.
"Aku benar-benar jijik kepada mereka berdua," ujar Zafia.
Rasa sakit itu kembali hadir di hati Zafia. Rasa tidak percaya akan pengkhianatan kekasih juga sahabatnya, kembali melintas. Menghadirkan rasa perih itu kembali.
"Jika jijik tidak perlu diingat terus-menerus. Menyiksa diri sendiri saja."
Mayra menegur adiknya itu dengan sedikit sinis.
"Aku sudah berusaha, May. Tapi terkadang ingatan itu muncul secara tiba-tiba. Begitu saja melintas di kepalaku. Aku harus apa dan bagaimana?"
Zafia nampak frustasi dengan dirinya sendiri. Dia juga ingin melupakan semua masalahnya. Memulai semua dari awal. Tapi nyatanya Zafia harus kembali bertemu dengan mereka. Orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu unit apartemen mereka tiba-tiba ada yang mengetuk. Zafia dan Mayra saling pandang.
♡♡♡
Bersambung ....
__ADS_1