
Tak terasa sudah satu bulan Zafia menjalani aktivitasnya, sebagai seorang mahasiswi universitas ternama di negara yang ditempatinya saat ini. Semuanya berjalan lancar. Zafia sama sekali tidak merasa kesulitan. Bahkan ia bisa menerima materi dengan begitu mudahnya.
Meskipun begitu tak semata-mata Zafia bergerak tanpa sandungan. Karena beberapa kali gadis itu selalu bersinggungan, dengan wanita yang pernah menabraknya. Entah apa modus wanita itu. Karena setiap kali berpapasan dengan Zafia, wanita itu selalu memancing keributan.
Akan tetapi, Zafia tidak pernah menanggapinya dengan serius. Selalu mengabaikannya begitu saja. Memilih pergi ketika ada kesempatan. Lebih tepatnya menghindari wanita yang menurutnya aneh. Bahkan sangat aneh.
Bagaimana Zafia tidak menganggapnya aneh. Wanita yang Zafia ketahui bernama Catherine itu selalu berpakaian seksi. Padahal mereka pergi kesebuah universitas. Tempat untuk menuntut ilmu. Bukan clubbing.
Tapi, wanita yang kerap dipanggil Chath itu nampaknya begitu tidak menyukainya. Sehingga selalu membuat keributan, ketika tanpa sengaja berpapasan dengannya.
"Lihatlah! Bukankah itu Catherine?" ucap seseorang bertanya pada teman-temannya.
"Apakah itu ayahnya?"
Mendengar kata ayah disebutkan oleh orang-orang disekitarnya. Zafia lantas mengalihkan perhatiannya. Mengikuti arah pandang orang-orang disekitarnya. Mata Zafia menyipit, ketika melihat siluet yang berada didalam kendaraan yang menghampiri Catherine.
"Aku kayak kenal, deh. Itu seperti ...."
Zafia menajamkan penglihatannya. Mungkin saja dia salah lihat. Tapi, semua pikirannya itu terpatahkan. Ketika sosok itu turun dari kendaraannya. Berbincang dengan Catherine begitu akrab.
Tak hanya itu, Catherine bahkan mencium kedua pipi orang itu. Terkesan begitu akrab. Hal ini membuat Zafia terkejut bukan kepalang.
'Siapakah sebenarnya Catherine? Apa hubungan mereka?' batin Zafia bertanya-tanya.
Sementara wanita bernama Catherine itu langsung memasuki gedung universitas. Tak peduli pada pandangan orang-orang. Catherine terlalu percaya diri dan nampak acuh.
"Cath!" panggil seorang laki-laki pada wanita itu.
"Harry, ada apa?" tanya Catherine menghentikan langkahnya.
"Siapa laki-laki tadi? Apakah itu orang tuamu?"
"Dia pamanku," Catherine memberitahu Harry.
Tanpa banyak bertanya lagi, Harry percaya begitu saja. Keduanya pun terus berbincang sambil berjalan. Sementara Zafia telah mendengarnya dengan jelas. Ketika Catherine mengatakan jika lelaki yang mengantarnya adalah pamannya.
"Masak iya, sih?" gumam Zafia pelan.
Rasanya seperti tidak mungkin. Zafia yakin pasti wanita itu berbohong. Bagaimana mungkin dirinya mempunyai sepupu lain, selain Mayra. Bahkan ayahnya tidak pernah mengenalkannya pada Catherine sebelumnya.
♡♡♡
Di belahan bumi lainnya, seorang pria baru saja menerima kabar dari orang-orangnya.
"Siapa wanita ini? Kenapa dia seperti tidak menyukai Zafia?" gumamnya pelan.
"Ada apa, Bhy?" tanya seseorang mengejutkannya.
"Bang Hamdan!"
__ADS_1
Yang disebut namanya nampak acuh. Dengan santainya Hamdani duduk dihadapan bosnya.
"Ck, bisa tidak, Abang ketuk pintu dulu sebelum masuk ruangan orang?" tanya Arbhy dengan wajah sinis.
"Benarkah ini ruangan orang? Aku kira ruangan biawak. Karena tidak ada jawaban ketika aku mengetuk pintu dan memanggil beberapa kali," Hamdani dengan sinis menyindir Arbhy.
"Ck, janganlah kau berdusta, Bang!" cetus Arbhy mencibir.
"Untuk apa aku berdusta pada seorang pendusta sepertimu. Tidak bermanfaat sama sekali," sanggah Hamdani.
Hah! Memilih mengalah untuk tetap menjadi orang yang waras. Itulah yang Arbhy lakukan.
"Hm, lalu untuk apa Tuan sekretaris kesini?" tanya Arbhy.
Hamdani langsung menyodorkan map yang tadi dibawanya.
"Ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani."
Arbhy melirik map yang sudah berada dihadapannya. Dengan malas Arbhy meraih map tersebut. Melihat sekilas isi dalam lembaran berkas di dalamnya.
"Aku langsung tanda tangan saja 'kan?" tanya Arbhy.
"Ya. Kalau kamu sudah merasa yakin dengan isi di dalamnya." Hamdani menjawab dengan santai.
Arbhy yang mendengar jawaban Hamdani kemudian mendengus. Pada akhirnya ia tidak langsung menandatangani berkas tersebut. Ia memilih untuk membacanya terlebih dulu.
"Bagaimana pengintaian mu?" tanya Hamdani.
Hamdani mengangguk menanggapinya.
"Kudengar, kau sedang mencari lahan untuk proyek baru. Apa itu benar?" tanya Hamdani.
"Ya. Apa Abang punya rekomendasi?"
"Proyek seperti apa yang ingin kamu bangun?" tanya Hamdani. "Aku tidak bisa memberikan rekomendasi begitu saja. Sebelum tahu seperti apa planningnya," imbuh Hamdani memberikan alasan.
"Aku ingin membuat castle." Arbhy menjawab dengan santai.
Sementara Hamdani mengerutkan keningnya merasa heran.
"Kamu jangan becanda, Bhy," kekeh Hamdani merasa konyol.
"Aku serius!" tegas Arbhy, yang langsung membuat Hamdani terdiam.
♡♡♡
Sebelumnya Zafia dibuat penasaran oleh Cathy atau Catherine. Mengenai hubungannya dengan orang yang mengantar wanita itu ke kampus.
Entah suatu kebetulan atau memang takdir sedang berpihak pada Zafia. Karena Zafia kembali melihat Catherine dijemput oleh kendaraan yang sama. Tak hanya itu, Zafia juga melihat dengan jelas wajah orang yang menjemput Catherine.
__ADS_1
Tidak ingin menyiakan kesempatan, Zafia memutuskan untuk membuntuti keduanya. Dan, disinilah Zafia berada saat ini. Sebuah gedung hotel mewah.
"Apa yang mereka lakukan disini?" ucap Zafia pelan.
Pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi lubuk hatinya. Tak dipungkiri jika saat ini perasaan Zafia merasa tegang. Melihat bagaimana sikap kedua orang yang sedang dibuntutinya begitu dekat.
Catherine, wanita cantik itu bergelayut manja di lengan laki-laki yang dikenal oleh Zafia. Laki-laki yang merupakan cinta pertamanya. Laki-laki yang dihormatinya selama ini.
"Semoga prasangkaku ini tidak benar," gumam Zafia yang terus membuntuti Catherine.
Memasuki bangunan hotel tersebut dengan langkah pasti. Berharap apa yang dilihatnya tidaklah benar. Tapi, sebelum bisa melanjutkan niatnya. Zafia dihentikan oleh petugas.
"Maaf, Nona. Apa yang sedang Anda lakukan?" tanya petugas tersebut dengan raut curiga.
Karena sempat melihat Zafia mengendap-endap saat mengejar Catherine.
"Mm, saya sedang memastikan sesuatu," ucap Zafia ambigu, sehingga membuat petugas itu mengernyit heran.
Melihat hal itu, Zafia segera menggelengkan kepalanya. Mencari alasan yang tepat agar petugas itu tidak lagi mencurigainya.
"Maksudku. Aku seperti mengenal laki-laki yang baru saja masuk ke hotel ini. Dia bersama salah satu mahasiswi tempatku menjalani pendidikan. Nama wanita itu Catherine. Ya, benar.
"Sementara laki-laki yang bersamanya itu seperti seseorang yang aku kenal dekat."
Dengan hati-hati Zafia berusaha menjelaskan kepada petugas tersebut. Petugas tersebut seperti sedang mengingat sesuatu.
"Apa yang Anda maksud Tuan Damiant?" tanya petugas itu memastikan.
"Ah, iya. Apa itu tadi dirinya?" Zafia segera membenarkan pertanyaan petugas itu.
"Ya, benar."
"Apa dirinya ada pertemuan bisnis disini?" tanya Zafia nampak polos.
Karena kepolosannya itu, petugas yang menegurnya jadi tertawa. Sehingga membuat Zafia bingung. Apakah ada yang salah dengan pertanyaannya barusan.
"Masalah itu saya kurang paham, Nona. Tapi, Tuan Damiant adalah tamu hotel kami."
Mendengar penjelasan petugas itu semakin membuat perasaan Zafia was-was. Mungkinkah?
"Diruang nomor berapa Papaku menginap?" tanya Zafia dengan ekspresi yang berubah serius.
Melihat perubahan wajah Zafia, petugas itu baru menyadari jika gadis dihadapannya adalah putri dari Damiant. Dengan rasa bimbang petugas itu memberitahu Zafia, dimana kamar yang Damiant tempati.
Zafia yang sudah tahu kemana harus mencari keberadaan ayahnya. Gadis cantik itu segera bergegas pergi. Tak butuh waktu lama, kini Zafia telah berada di depan kamar yang ditempati oleh ayahnya.
Dengan hati yang berdebar-debar, Zafia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Namun, belum sempat tangannya menyentuh pintu. Sebuah suara erotis menghentikan gerakan tangannya.
"Oh, Babe! Kamu benar-benar nikmat!"
__ADS_1
♡♡♡
Bersambung ....