Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
20. LUPAKAN YANG TELAH TERJADI


__ADS_3

Zafia segera melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan pertanyaan Arbhy.


"Astaga! Wanita itu kenapa? Aku ini sedang bertanya padanya. Tapi lihatlah! Bukannya memberiku jawaban malah pergi begitu saja.


"Apa dia tidak merasa bersalah sama sekali? Setelah apa yang dilakukannya?"


Arbhy menggerutu ditempatnya berdiri. Pemuda itu kemudian berjalan menyusul kepergian Zafia.


"Lihatlah aku akan terus mengawasi mu. Karena kamu sudah membuatku terjebak oleh pesonamu," gumam Arbhy dengan serius.


Pemuda itu segera mempercepat langkahnya. Ia segera meraih tangan Zafia dan menyentaknya. Sejurus kemudian tubuh Zafia limbung berbalik dan membentur tubuh Arbhy.


Secepat kilat Arbhy melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Zafia. Keduanya saling bertukar pandangan. Dengan Zafia yang menahan dada Arbhy supaya ada jarak diantara mereka.


"Kenapa Anda terburu-buru, Nona?" tanya Arbhy dengan suara pelan.


Pemuda itu membingkai wajah Zafia lekat-lekat. Tidak ingin melewatkan seinci pun pahatan indah didepannya. Arbhy ingin merekam wajah cantik itu dalam ingatannya.


"Su-su-sudah malam. Ki-kita harus segera kembali."


Zafia menyahuti ucapan Arbhy dengan suara terbata-bata. Gadis itu bahkan tidak berani untuk melihat wajah Arbhy. Rasa malunya mengingat apa yang telah dia lakukan. Membuat Zafia merasa kehilangan muka dan rasa percaya dirinya.


"Aku tahu, ini sudah malam. Aku hanya ingin bertanya padamu. Apa kau baik-baik saja?" tekan Arbhy sekali lagi bertanya pada Zafia.


Gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Ya, aku baik. Aku baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir, Tuan."


Zafia menjawab dengan tegas. Meyakinkan Arbhy bahwa keadaannya baik. Meskipun debaran jantungnya kian berdetak lebih cepat. Zafia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada lelaki didepannya saat ini.


"Apa kau yakin, Nona?"


Zafia sekali lagi menganggukkan kepalanya.


Tangan sebelah kiri Arbhy tergerak meraih dagu Zafia. Membuat gadis itu sedikit tersentak.


"Jika kamu baik-baik saja. Kenapa kamu tidak melihat kearah ku, ketika sedang berbicara dengan ku?"


Tatapan mata Arbhy begitu intens mengunci pandangan mata gadis dihadapannya.


"I-i-itu ... karena ak-aku malu padamu," ungkap Zafia pada akhirnya mengakui apa yang dirasakannya.


Arbhy menyunggingkan senyumannya mendengar jawaban Zafia.


"Malu?" ulang Arbhy.


Zafia sekali lagi mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa harus malu. Memangnya Anda membuat kesalahan padaku?"


Arbhy terkekeh kecil, hal itu membuat Zafia kesal. Gadis itu menepis tangan Arbhy. Kemudian melepaskan diri dari lelaki itu. Arbhy tidak menahannya, lelaki itu membiarkan jarak tercipta kembali antara dirinya dan Zafia.


Melihat Arbhy yang masih tertawa kecil, Zafia berdecak kesal.


"Apa yang kau tertawakan, Tuan?" tanya Zafia dengan sinis.


"Apa ada yang lucu?" imbuhnya.


"Tentu saja. Anda sangat lucu, Nona. Aku sampai tidak menyangka."


Zafia merajut alisnya merasa aneh juga heran. Lucu, katanya? Apa yang lucu dari Zafia menurut Arbhy?


Arbhy menghentikan tawanya. Kemudian menatap Zafia.


"Apa Anda masih ingat, Nona ... panggilan apa yang Anda sematkan untukku?" tanya Arbhy.


"Tentu saja. Kau adalah Tuan Mesum yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan," ujar Zafia dengan sengit.


"Tepat sekali!" sahut Arbhy dengan semangat.


Lelaki itu kali ini mengakui dan menerima ucapan Zafia dengan sadar. Lelaki itu bahkan menampilkan senyuman. Senyuman yang penuh arti kearah Zafia.


"Tapi, apa kau tahu Nona? Ada seseorang yang ternyata lebih mesum dariku," ucap Arbhy dengan suara pelan.


Lelaki itu kembali mengikis jarak dengan Zafia. Tidak memberikan kesempatan kepada gadis itu untuk menjauh. Karena Arbhy kembali memerangkap gadis itu dengan lingkaran tangannya.


"Gara-gara kelakuan mesumnya itu. Sepertinya aku harus sering mengonsumsi obat tidur mulai malam ini. Aku khawatir tidak bisa tidur nyenyak.


"Karena selalu terbayang oleh kelakuan mesumnya."


Arbhy berbisik dengan suaranya yang sens*al membuat Zafia seketika memerah pipinya. Zafia sangat tahu siapa yang lelaki itu maksud. Arbhy sudah jelas membicarakan tentang dirinya.


Jangankan Arbhy, Zafia sendiri saja tidak tahu. Apakah ia bisa tidur nyenyak setelah kejadian malam ini. Sungguh gadis itu tidak pernah menyangka. Jika c**man pertamanya akan ia berikan pada lelaki yang baru dikenalnya.


Lelaki yang tidak Zafia kenal sebelumnya. Dari mana asalnya pun, Zafia tidak tahu. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Arbhy tergelak. Karena merasa gemas dengan wajah merona karena malu itu.


"Jangan seperti itu, aku hanya becanda. Sudahlah! Jangan menutupi wajah cantikmu itu. Aku tidak akan mengingatnya lagi."


Arbhy berusaha membujuk Zafia. Lelaki itu berusaha melepaskan tangan Zafia yang menutupi wajahnya.


"Lepaskan! Kau tidak tahu betapa malunya diriku," ucap Zafia dengan suara serak.


Gadis itu menahan isakannya. Arbhy yang mendengar suara serak Zafia menjadi panik. Lelaki itu segera meraih tubuh Zafia. Membawanya kedalam dekapan hangatnya.


"Jangan menangis. Maaf, aku tidak bermaksud menggoda mu."

__ADS_1


Arbhy mengelus punggung Zafia dengan lembut. Gadis itu berusaha untuk menenangkan dirinya. Ketika aroma maskulin dari tubuh Arbhy memasuki indera penciumannya.


"Aku juga minta maaf, karena telah memanfaatkan Anda, Tuan."


Zafia mengakui kesalahan yang menurutnya mungkin merugikan Arbhy.


"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkan itu lagi. Aku senang bisa membantumu," ucap Arbhy dengan tulus.


"Tuan, boleh aku meminta pertolonganmu sekali lagi?"


Zafia mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Arbhy. Lelaki itu nampak menganggukkan kepalanya.


"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Nona?" tanya Arbhy.


"Bisakah Anda melupakan apa yang telah terjadi? Tolong lupakan semua pertemuan kita. Tentang semua yang telah kita lakukan.


"Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi."


Sakit, itulah yang Arbhy rasakan ketika kalimat itu lolos dari bibir mungil Zafia. Gadis itu begitu teganya mengucapkan permintaan yang membuat hati Arbhy terluka.


Disaat benih cinta mulai bersemi dihatinya. Arbhy juga dibuat patah saat itu juga. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa melupakan kejadian yang telah terjadi. Apalagi Arbhy sudah merasakan manis dan juga lembutnya sentuhan dari gadis itu.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku akan melupakannya."


Meskipun bertentangan dengan hati kecilnya. Arbhy tetap mengabulkan permintaan gadis itu. Zafia nampak tersenyum manis. Ketika mendengar jawaban Arbhy.


"Terimakasih banyak, Tuan Arbhy."


Arbhy menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum.


♡♡♡


Membuka pintu dengan kasar dan membantingnya dengan kesal. Ardian melenggang masuk kedalam penginapannya dengan hati bergemuruh.


Hatinya benar-benar panas dan terasa sesak. Ketika mengingat apa yang Zafia lakukan. Bayangan bagaimana gadis itu berc**man didepan matanya terus berputar di kepala Ardian.


Laki-laki itu berteriak dengan keras sambil mengacak rambutnya karena frustasi. Ia menghempaskan tubuhnya pada sofa yang berada diruang tamu.


Menyandarkan tubuhnya sambil mendongakkan kepala dengan mata terpejam.


"Zafia, kenapa kamu lakukan ini semua?" gumam Ardian.


"Apa kamu tahu, aku tidak suka melihatmu dengannya!" seru Ardian berteriak.


Lelaki itu kembali menegakkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu seorang wanita keluar dari kamarnya dengan menyeret sebuah koper.


"Mau kemana kamu?" tanya Ardian dengan tatapan tajam.

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2