Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
28. APAKAH INI KARMA


__ADS_3

Dua puluh tahun hidup bersama dengan Damiant, sudah membuat Kartika sedikit banyaknya tahu apa yang menjadi kelemahan lelaki itu. Lelaki yang menjadi suaminya itu memang selalu menyangkal perasaannya. Mengatakan tidak pernah mencintainya. Tapi nyatanya lelaki itu berhasil menanam benih dirahimnya.


Benih yang sampai akhirnya terlahir sebagai seorang gadis yang cantik. Gadis yang menjadi kesayangan lelaki itu. Bukan hanya sekali, Damiant menyet*buhinya. Berulangkali lelaki itu telah berbagi kehangatan dengan Kartika. Tapi, selalu saja menyangkal perasaannya.


"Jangan merasa senang karena aku menyentuhmu. Aku melakukannya hanya sebatas untuk memenuhi kewajibanku, sebagai seorang suami. Aku juga tidak ingin merugi. Punya istri tapi tidak dinikmati. Itu sangat disayangkan, bukan?


"Untuk itu aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Apalagi kamu lumayan juga untuk memu*skan ga*rahku."


Seperti itulah ucapan Damiant kala pertama kali menyentuh Kartika. Jangan tanyakan. Bagaimana perasaan Kartika saat ucapan itu keluar dari bibir Damiant.


Sakit. Pastinya.


Ucapan Damiant yang penuh dengan ejekan juga cemoohan itu, membuat hati Kartika merasakan sakit yang luar biasa. Seperti ditusuk dengan ribuan belati. Membuat hati Kartika terluka parah. Namum, tak berdarah.


Malam pertama seharusnya menjadi malam terindah bersama pasangan. Memadu kasih dan bercumbu dengan rayuan yang memabukkan. Tapi, Kartika tidak mendapatkan momentum seperti itu. Malam pertamanya dengan Damiant diawali dan berakhir dengan kata-kata pedas dan menyakitkan.


"Kamu tahu, Mas. Kamu selalu menyangkal. Bahwa kamu tidak pernah memiliki perasaan terhadapku. Tapi dunia melihat bagaimana benih yang kamu tanam di rahimku telah lahir. Mereka bahkan tumbuh menjadi anak-anak yang cantik dan juga rupawan.


"Kamu bahkan sangat menyayangi mereka. Apa kamu masih mau menyangkal. Kalau selama ini kamu tidak mempunyai perasaan terhadapku, Mas?"


Kartika bertanya dengan suara parau. Wanita itu masih berusaha untuk tegar. Dia berusaha untuk tidak menangis dihadapan suaminya. Karena suaminya pasti akan kembali mencemoohnya. Jika ia menangis.


"Omong kosong! Aku menyayangi mereka, karena aku tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan."


Damiant menyangkal ucapan Kartika dengan suara tegasnya. Damiant selalu menegaskan kepada dirinya sendiri. Bahwa dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Kartika.


"Dan kamu menyangkal semua ucapanku. Karena alasanmu ini?"


Kartika tertawa sumbang. Sungguh heran. Mengapa di dunia ini Tuhan melahirkan manusia seperti suaminya ini. Laki-laki yang memiliki ego setinggi langit. Namun, menjadi liar ketika menginginkannya.


"Jadi, apa keputusanmu? Apa kamu bisa berjanji untuk menghilangkan kebiasaan buruk mu itu?" tanya Kartika dengan wajah serius.


"Apa kuasamu untuk mengatur segala urusanku?" tandas Damiant dengan suara datar.


"Itu berarti kamu tetap akan bermain api dengan para pelac*r mu itu?"


Kartika menatap sinis suaminya.


"Jangan pernah ikut campur dengan urusanku! Lebih baik kamu urus urusanmu sendiri. Nyonya Kartika Dewi."


"Baik. Jika itu keinginanmu, maka aku akan melakukannya. Mulai detik ini, aku tidak akan lagi mau mengurusi urusanmu.

__ADS_1


"Dan ... aku juga tidak akan menutupi lagi kebus*kanmu dari anak-anak. Camkan itu!"


Kartika segera keluar dari ruangan kerja suaminya itu. Sudah cukup kesabarannya diacuhkan oleh lelaki itu. Lelaki yang berpangkat sebagai suaminya. Lelaki yang membuatnya jatuh cinta. Lelaki yang memberikannya benih, yang kini tumbuh menjadi anak-anak luar biasa. Lelaki yang juga telah menorehkan luka, dari sejak pertama mereka mengarungi biduk rumah tangga.


"Maafkan Kartika, Pa. Kartika sudah lelah."


Kartika bergumam dengan suara lirihnya, ketika duduk didalam mobilnya. Wanita itu duduk bersandar sambil memejamkan matanya.


"Kita mau kemana, Nyonya?" tanya sopir yang berada dibalik kemudi mobilnya.


"Kita kembali ke Hotel, San!" titah Kartika kepada sopirnya.


"Baik, Nyonya."


Santi adalah nama sopir sekaligus bodyguard Kartika. Gadis muda itu memiliki multi talenta. Dia sudah bekerja dengan Kartika begitu lama. Sejak usianya sembilan belas tahun. Dan kini gadis itu berusia dua puluh delapan tahun.


"Santi!" panggil Kartika.


"Saya, Nyonya."


Gadis itu menyahut dari balik kemudinya tanpa menoleh. Hanya melirik sekilas nyonyanya itu dari kaca spion. Matanya kembali fokus pada jalanan.


"Apa Zafia baik-baik saja?"


Tak ada jawaban dari Santi atas pertanyaannya. Membuat Kartika membuka matanya yang sempat terpejam.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Zafia?" tanya Kartika seraya menegakkan tubuhnya.


Pandangannya menelisik wajah Santi melalui pantulan kaca spion, yang berada di depan sopirnya itu.


"Nona Zafia tidak berada di tempat."


Ucapan Santi membuat Kartika melebarkan matanya. Ibu dari Zafia itu nampak terkejut. Tentu saja. Putri yang disayanginya tidak ada di rumah. Kabar macam apa yang Santi sampaikan padanya itu.


"Apa maksud kamu, San?" tanya Kartika dengan suara tegas.


Wanita itu bahkan telah melayangkan tatapan tajam kepada sopirnya itu. Meskipun Santi seorang wanita namun, gadis itu berperilaku seperti laki-laki. Tomboi.


"Terakhir kali Bagas melaporkan, bahwa Nona melakukan perjalanan keluar negeri ...."


"Apa?" Kartika berseru dengan suara keras.

__ADS_1


Membuat telinga Santi sedikit berdengung. Kartika terlalu kerasnya nyonyanya itu berteriak. Padahal Santi belum selesai melanjutkan laporannya.


"Nona pergi ke Aussie di dampingi Nona Mayra, Nyonya. Karena kebetulan Nona Mayra berada di Indonesia saat itu."


Lega. Itulah yang Kartika rasakan ketika Santi memberitahunya. Siapa yang menemani putri sulungnya.


"Syukurlah! Aku benar-benar terkejut ketika kamu bilang Zafia pergi. Tapi, jika dia bersama dengan Mayra. Itu tidak masalah. Karena Mayra sangat menyayangi Zafia."


Santi pun mengangguk sepemikiran dengan nyonyanya itu.


"Nona Zafia dan Nona Mayra terlihat seperti kakak beradik. Mereka berdua terlihat begitu dekat. Meskipun mereka jarang sekali berjumpa."


Santi memberanikan diri memberikan tanggapan mengenai kedekatan kedua nona mudanya. Kartika malah terkekeh mendengar pendapat Santi.


"Apa kamu lupa, Santi. Mereka berdua memang saudara. Mereka adalah sepupuan."


Kartika tertawa renyah ketika memberitahu bawahannya itu. Santi tentu saja terkejut mendengarnya. Wajar saja selama ini Santi bekerja dengan Kartika hanya di khususkan selama di Indonesia. Jadi gadis itu tidak tahu menahu tentang keluarga besar Damiant yang berada di luar negeri.


"Benarkah, Nyonya? Maafkan saya, saya tidak tahu. Saya mengira jika Nona Mayra hanyalah teman karib. Sama sekali tidak menyangka jika mereka saudara sepupuan."


"Tidak mengapa, San. Kamu tidak pernah saya ajak ke Aussie. Jadi kamu tidak tahu, di sana kami memiliki banyak kerabat. Mayra adalah putri dari adik Tuan Damiant. Dia adalah anak Ameera."


Santi menganggukkan kepalanya mengerti. Ia terus melajukan kendaraan dengan keahliannya.


"Santi, apa kamu tahu ... alasan mengapa Zafia pergi?" panggil Kartika kembali bersuara.


"Mmm ... Nyonya."


Santi kembali merasa ragu kala ingin memberitahu nyonyanya. Kartika mengerutkan keningnya.


"Ada apa? Katakan saja. Jangan menutupinya dariku. Apalagi itu menyangkut Zafia maupun Elvaro."


Meskipun Kartika tidak menjawabnya dengan suara tegasnya. Namun, kata-katanya Kartika menyadarkan Santi. Bahwa wanita dibelakangnya itu adalah orang tua Zafia dan Elvaro. Sekaligus nyonyanya yang mempekerjakannya.


"Tuan Ardian telah bermain api dibelakang Nona Zafia. Dan Nona Zafia mengetahuinya, Nyonya."


Deg.


Sungguh, demi apapun kabar berita yang Santi sampaikan pada Kartika mampu membuat hati wanita itu nyeri. Baru saja dirinya melabrak suaminya karena sebuah perselingkuhan.


Dan kini, apalagi? Kartika mendapatkan kabar bahwa putrinya dikhianati oleh kekasihnya. Ya Tuhan! Teriak hati Kartika. Apakah ini karma?

__ADS_1


♡♡♡


Bersambung ....


__ADS_2