Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
43. MENANGISLAH


__ADS_3

"Brengs3k!" umpat Damiant menjambak rambutnya frustasi.


Cathy yang melihatnya beringsut sambil mengeratkan selimutnya, untuk menutupi tubuhnya yang polos.


'Bagaima bisa Zafia ada di Aussie?' batin Damiant bertanya-tanya.


Tidak habis pikir sama sekali. Jika ternyata putrinya juga berada di negara yang sama dengannya saat ini. Dunia terasa begitu sempit baginya. Apa yang harus ia jelaskan pada putrinya. Sanggupkah ia berdiri tegap di hadapan putrinya nanti?


"Si-siapa wanita tadi?" tanya Cathy mengalihkan perhatian Damiant yang sedang kalut.


Damiant menatap ke arah Cathy tanpa ekspresi. Wajahnya benar-benar terlihat datar.


"Apa telingamu tuli? Bukankah kau mendengar semua pembicaraan ku dengannya tadi?" ucap Damiant dengan nada sinis.


Cathy meneguk ludahnya sedikit kesulitan. Jawaban yang Damiant berikan seakan seperti pisau tajam. Yang bisa membuatnya tersayat, jika tidak berhati-hati.


"Cepat kenakan pakaianmu! Aku akan menyuruh seseorang, untuk mencarikan tempat tinggal yang baru untukmu."


Tak ingin dibantah, Damiant langsung memberikan tatapan tajam pada Cathy. Saat wanita itu hendak melayangkan protes.


Turun dari tempat tidur dengan berbalut selimut. Cathy berjalan sambil mengerucutkan bibirnya, menuju kamar mandi.


"Datanglah kemari! Ada tugas penting untukmu," ucap Damiant berbicara dengan seseorang, melalui sambungan telepon.


"Baik, Tuan."


Setelah mendapatkan jawaban dari orang yang dihubunginya. Damiant langsung mematikan teleponnya.


Meraup wajahnya dengan kasar. Damiant merasa pikirannya semrawut. Penuh dengan bayangan wajah putrinya.


"Aku harus segera memberikan penjelasan pada Zafia," gumam Damiant dengan serius.


Laki-laki itu tidak ingin putrinya membencinya. Mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya. Damiant mengirimkan pesan pada salah satu bawahannya.


"Jangan benci Papa, Nak," bisiknya memelas pada udara yang terasa hampa.


Sementara Cathy yang berada di kamar mandi, menatap geram pada udara kosong.


"Ck, dasar tua bangk4! Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu padaku. Dia pikir, dia itu siapa? Hah, dasar maniak *3**!" umpat Cathy meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Namun, beberapa detik berikutnya. Senyum culas terbit pada wajahnya. Seakan menyadari sesuatu.


"Bukankah tadi wanita itu mengatakan sesuatu?" gumamnya pelan.


"Kalau tidak salah dengar, wanita tadi menyebutkan nama seseorang. Dan ya, itu adalah nama dari anak tua bangka itu.


"Jadi, putrinya membututi kami sampai kesini? Ah, astaga!" Cathy menutup mulutnya sendiri. Merasa tak menyangka, jika hubungannya akan diketahui oleh seseorang.


Lebih parahnya lagi seseorang itu adalah putri dari Damiant sendiri.


"Baguslah! Kalau begitu, aku bisa memulai rencana berikutnya. Ini adalah kabar bagus. Aku akan membaginya dengan seseorang," ucap Cathy menyeringai.


♡♡♡


Ceklek.


Mayra membuka pintu kamar Zafia. Pemandangan yang Mayra tangkap saat pintu itu terbuka adalah gelap. Mayra berjalan menuju dinding yang terdapat saklar lampu. Menghidupkan saklar dengan satu kali ceklekan. Ruangan pun langsung terlihat terang.


Zafia terlihat tengkurap di atas ranjang. Mayra segera menghampirinya. Duduk di pinggiran ranjang. Menatap sendu pada punggung Zafia. Tangannya terulur menyentuh bahu gadis yang dianggapnya sebagai adik itu.


"Zafia," panggilnya lembut.


"Jangan seperti ini," pinta Mayra dengan penuh harap. "Kamu tidak pantas menangis untuk laki-laki seperti itu," imbuh Mayra.


"Air matamu terlalu berharga, Fi. Jangan biarkan hatimu menjadi lemah. Apalagi karena laki-laki brengs3k seperti mereka," tutur Mayra memberi nasehat.


Zafia masih diam, mendengarkan kalimat yang Mayra ucapkan untuknya.


"Ada aku disini, Fi. Bagilah kesedihanmu itu denganku. Jangan kamu memendamnya sendirian," ujar Mayra dengan tulus.


Mengusap air matanya perlahan, Zafia kemudian bangkit dan duduk. Kini Mayra dapat melihat wajahnya yang kacau. Miris sekali. Semua ini menambah rasa geram Mayra terhadap Damiant.


"Aku gak mengerti ... gak habis pikir. Ternyata Mama udah tahu semuanya," ucap Zafia sambil tertawa kecil.


Bukan sebuah tawa kebahagiaan, melainkan tawa yang menunjukkan kemirisan akan kehidupannya. Kehidupan yang penuh kebohongan.


"Kamu tahu, May. Aku merasa menjadi orang bodoh. Sangat teramat bodoh!" terang Zafia dengan amarah tertahan.


Mayra menatapnya sendu, ia dapat merasakan betapa sakitnya hati Zafia saat ini. Pasti sangat sakit. Mayra ikut merasakan nyerinya.

__ADS_1


"Zafia," ucap Mayra pelan. Zafia menggeleng pelan beberapa kali, mengisyaratkan Mayra untuk tidak menyelanya.


"Kenapa, May. Kenapa Mama bisa menyembunyikan masalah sebesar ini dari aku. Dari putrinya sendiri! Kenapa?" seru Zafia dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.


"Tante Kartika tidak bermaksud untuk merahasiakannya dari kamu, Fi." Mayra mencoba memberi pengertian pada Zafia.


Tergugu dalam tangisan pilu, Zafia masih berusaha menolak kalimat yang Mayra utarakan padanya.


"Aku pantas mengetahuinya, May! Bagaimanapun juga, seharusnya Mama memberitahu ku sebelumnya. Supaya aku bisa menguatkannya. Aku yakin, pasti selama ini Mama menderita, May." Zafia mengutarakan isi hatinya pada Mayra di sela isakannya.


"Tante Kartika bukanlah wanita yang lemah, Fi. Kamu tidak boleh seperti ini. Dia menutupi semua ini dari kamu. Karena ingin menjaga perasaan kamu. Supaya hubungan kamu dengan Om Damiant tetap terjalin baik. Tanpa ada noda. Meskipun Tante Kartika harus mengorbankan perasaannya sendiri.


"Itu semua dilakukannya demi kamu, Fi. Demi kebahagiaan kamu dan Elvaro. Supaya kalian menerima kasih sayang yang utuh. Seperti anak-anak yang lain, pada umumnya."


Bukan membuat perasaan Zafia membaik. Kata-kata Mayra justru semakin membuat Zafia bersedih. Gadis itu semakin tergugu dengan air mata yang tak henti mengalir.


Tak tega melihatnya, Mayra segera merengkuhnya. Memeluknya dengan erat. Mengalirkan energi positif pada gadis yang dianggapnya sebagai adik, dengan penuh perhatian.


"Menangislah sepuas mu, Fi. Tumpahkan semua bebanmu. Aku akan selalu di sisimu. Menemanimu di saat tersulit sekalipun. Tapi, kumohon! Setelah ini, jangan pernah lagi menangis. Apalagi untuk mereka yang telah menyakitimu."


Mendengar kata-kata Mayra, Zafia benar-benar menumpahkan tangisannya. Mayra yang selalu kuat dan anti menangis. Malam ini tak luput dari kesedihan. Dengan memeluk erat tubuh Zafia. Wanita itu ikut meneteskan air mata dalam diam.


Menahan sesak yang menghimpit dadanya secara tiba-tiba. Karena rasa iba yang mengalir dari kesedihan Zafia. Demi Tuhan! Setelah ini, Mayra benar-benar akan menjauhkan Zafia dari orang-orang yang berpengaruh buruk. Orang-orang yang pernah menyakiti Zafia. Mayra akan memasukkannya dalam daftar hitam.


'Jangan salahkan aku. Jika setelah ini, aku akan membuat jarak yang tak pernah bisa kalian sentuh," batin Mayra penuh dendam.


♡♡♡


"Apa maksudnya ini, Tuan Damiant?" tanya Cathy. "Kau ingin membuang ku, hah?" imbuhnya menatap sinis pada Damiant.


"Ini hanya sementara, Cathy. Jadi, menurut 'lah. Aku akan menemui mu lagi. Setelah urusanku selesai," jelas Damiant dengan wajah datar.


"Benarkah?" Cathy tersenyum sinis. "Lalu, bagaimana dengan kuliahku?" tanya Cathy.


Damiant nampak terdiam mendengar pertanyaan yang Cathy lontarkan. Ia lupa bahwa Cathy baru saja memasuki sebuah universitas. Untuk melanjutkan pendidikannya. Lalu, bagaimana sekarang?


♡♡♡


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2