
Kesal bukan kepalang, itulah yang dirasakan seorang gadis bernama Zafia. Gadis itu merasa kesal luar biasa karena ulah seorang lelaki. Siapa lagi jika bukan Arbhy, Tuan Mesum yang sangat menyebalkan.
Semula Arbhy meminta Zafia menemaninya ke Sydney Opera House. Tapi apa yang terjadi saat ini? Arbhy justru melajukan kendaraannya menuju tempat lain. Bukan tanpa alasan Arbhy merubah haluan. Semua karena Arbhy merasa ada yang aneh.
Apalagi jika bukan karena mencium adanya gerak-gerik mencurigakan dari seseorang. Arbhy tidak ingin kencannya berantakan. Lelaki itu menjalankan kendaraannya menuju sebuah tempat.
Menempuh perjalanan selama sepuluh menit. Melewati Macquarie St, kini kendaraan Arbhy sudah sampai ditempat tujuannya.
Arbhy turun dari kendaraannya diikuti oleh Zafia. Gadis itu terus memilin ujung gaunnya. Ada perasaan ragu untuk mengikuti langkah lelaki yang ada didepannya. Gadis itu masih mematung ditempatnya berdiri.
Arbhy yang berjalan santai tidak menyadari jika Zafia tidak berada dibelakangnya. Hingga beberapa meter kemudian, entah mengapa lelaki itu tiba-tiba berhenti. Ia berbalik hendak mengatakan sesuatu.
Lelaki itu berdecak ketika pandangan matanya melihat kearah Zafia. Gadis itu masih berdiri disisi mobilnya. Dengan tangan yang masih terus memilin ujung gaunnya.
"Astaga gadis itu!"
Arbhy melangkahkan kakinya dengan langkah tak sabar, ketika kembali menghampiri Zafia.
"Hei, Nona! Bisakah Anda tidak membuang waktuku?"
Arbhy bertanya dengan nada yang cukup sinis. Membuat Zafia merasa sesak napas secara tiba-tiba. Gadis itu sampai kesulitan saat akan menjawab.
"A-a-aku ...."
Decakan kesal kembali keluar dari mulut Arbhy.
"Sudahlah. Ayo jalan!"
Tidak ingin mendengar alasan dari gadis dihadapannya. Arbhy segera meraih tangan gadis itu. Menggenggamnya dengan erat dan kembali melangkahkan kakinya.
Zafia beberapa kali mengerjapkan matanya. Ketika melihat tangannya digandeng oleh Arbhy. Begitu eratnya genggaman tangan itu. Dapat Zafia rasakan hangatnya kulit tangan lelaki yang menggandengnya.
Zafia yang baru menemukan kesadaran kembali, menghentikan langkah kakinya. Arbhy pun ikut berhenti dan berbalik melihat kearah Zafia.
"Ada apa lagi?" tanya Arbhy menahan rasa geramnya.
Entah mengapa malam ini lelaki itu gampang sekali terpancing emosinya.
"Itu ...."
Zafia menunjuk kearah tangannya dengan dagunya. Arbhy pun mengikuti arah yang Zafia tunjukkan. Sepersekian detik kemudian, Arbhy segera melepaskan genggaman tangannya.
"Ma-af, Saya tidak sengaja melakukannya."
Ada kecanggungan yang hadir begitu saja. Membuat Arbhy merasa tidak enak. Takut jika gadis dihadapannya, kembali berpikiran negatif terhadapnya.
"Lain kali jangan seperti itu, Tuan. Anda jangan seenaknya menggandeng tangan orang. Selagi orang itu bisa berjalan sendiri. Biarkan orang itu berjalan sendiri, tanpa perlu Anda gandeng tangannya."
Setelah bicara seperti itu Zafia berjalan lebih dulu. Meninggalkan Arbhy begitu saja.
"Astaga! Wanita memang sulit dimengerti."
__ADS_1
Lelaki itu menggeleng pelan kemudian menyusul Zafia.
"Kita mau kemana?" tanya Arbhy setelah berhasil menyusul Zafia. Gadis itu menaikkan bahunya dengan acuh.
"Apa tidak sebaiknya makan malam dulu?"
Zafia nampak berpikir sejenak.
"Boleh juga."
"Ya sudah. Ayo!"
Arbhy kembali meraih tangan Zafia hendak membawanya berbelok arah.
"Aku hanya takut kamu kembali berhenti berjalan. Aku sudah sangat lapar."
Kata-kata Arbhy lebih dulu keluar, menghentikan Zafia yang hendak melayangkan protes.
'Baiklah. Hanya bergandengan tangan. Dia tidak mungkin berbuat macam-macam didepan umum 'kan?" batin Zafia yang berusaha bersikap tenang.
Kali ini gadis itu tidak menolak genggaman tangan Arbhy. Ia menurut saja ketika lelaki itu mengajaknya melangkah.
Disinilah akhirnya Arbhy dan Zafia berada. Sebuah restaurant yang letaknya dekat dengan Darling Harbour. Ditempat ini mereka bisa melihat indahnya pemandangan dimalam hari. Pemandangan yang tercipta dari kombinasi pelabuhan dan juga gedung pencakar langit disekitarnya.
Lampu yang menyala dari berbagai gedung pencakar langit. Terlihat begitu indah. Bahkan dari tempat duduk Arbhy dan Zafia saat ini. Keduanya bisa melihat indahnya bentuk cangkang keong raksasa yang menyala di kejauhan sana.
Bangunan itu terlihat lebih indah diwaktu malam hari. Menciptakan suasana kencan yang lebih romantis. Kerlap-kerlip lampu yang terpancar dari beberapa gedung pencakar langit, membuat pelabuhan menjadi lebih hidup.
Cocok sekali jika menikmati pemandangan disana dengan pasangan. Selain bisa menikmati indahnya pemandangan bangunan Sydney Opera House dari kejauhan. Kesan romantis juga begitu terasa.
Mungkin hanya Arbhy yang menganggap makan malam ini sebagai kencan. Tidak dengan gadis bernama Zafia itu. Gadis itu bahkan hanya menganggap makan malam ini sebagai makan malam biasa.
Sebab, Zafia terpaksa mengikuti Arbhy. Selain itu, kebetulan wanita itu juga sedang lapar. Jadi, ia tidak masalah ketika tahu Arbhy mengajaknya makan malam.
Ini lebih baik dari pada mereka memasuki gedung Opera. Akan sangat terasa membosankan. Melakukannya dengan seorang lelaki asing. Apalagi lelaki itu berpredikat mesum seperti Arbhy.
Tubuh Zafia bergidik secara tiba-tiba ketika membayangkannya. Hal itu membuat Arbhy mengerutkan keningnya. Merasa aneh dan penasaran. Pemuda itupun bertanya, kepada gadis yang duduk di seberangnya itu.
Dimeja tempat keduanya duduk, telah tersaji berbagai macam hidangan. Semua hidangan yang dipesan adalah olahan makanan seafood. Yang tentunya terjamin kehalalannya.
"Ada apa? Apa kamu tidak menyukai hidangannya?"
"Ah, bukan apa-apa. Hidangannya terlihat enak dari aromanya. Aku menyukainya."
Zafia menjawab pertanyaan Arbhy dengan sedikit gelagapan. Gadis itu baru sadar jika Arbhy memperlihatkannya sedari tadi.
"Syukurlah kalau begitu. Oh, ya. Kau tahu ... kenapa aku tidak jadi ke Sydney Opera House?"
Zafia menggelengkan kepalanya. Gadis itu memang tidak tahu. Dan tidak mau pusing memikirkannya.
"Karena tempat itu tidak buka diwaktu malam hari. Makanya lebih baik aku mengajakmu makan malam disini saja.
__ADS_1
"Selain bisa menikmati makan malam romantis. Kita juga bisa melihat pemandangan yang indah. Iya 'kan? Bagaimana menurutmu, Nona?"
Zafia yang akan menyuapkan makanan ke mulutnya berhenti sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.
"Apa kita bisa makan sekarang? Bukankah tadi kamu bilang sudah sangat lapar?"
"Oh, iya. Aku sampai lupa. Karena terlalu asyik melihat wajahmu yang cantik malam ini. Sampai tidak ingat kalau perutku perlu diisi.
"Supaya tubuhku kuat ketika berlama-lama dengan gadis cantik. Aku tidak mau pingsan tanpa menikmati keindahan apapun malam ini. Mari kita makan, silakan!"
Arbhy dengan semangat untuk makan. Berbeda dengan Zafia, gadis itu justru kembali diam. Gadis itu kembali dilanda perasaan was-was. Karena ucapan Arbhy barusan.
'Apa maksudnya dengan mengatakan kalimat seperti itu? Apa lelaki ini mempunyai pikiran mesum lagi kepadaku?' gumam Zafia didalam hati.
Zafia memasang sikap waspada, terhadap lelaki yang sedang menikmati makanannya dengan lahap.
Arbhy kembali melihat Zafia yang ternyata belum menyentuh makanannya.
"Nona, apa kamu tidak lapar?" tanya Arbhy.
Zafia diam saja, gadis itu masih menelisik wajah Arbhy dengan penuh selidik. Arbhy yang merasa aneh dengan cara Zafia memandangnya. Menghela napasnya sebentar.
"Berhentilah berpikiran buruk tentangku, Nona. Jika kamu terus berpikir seperti itu. Aku tidak mau disalahkan bila nanti kau terpikat oleh pesonaku. Dan ... berakhir jatuh cinta padaku.
"Karena aku memiliki sejuta pesona yang bisa memikat gadis. Jangan sampai kau menjadi salah satunya."
Zafia yang mendengar ucapan Arbhy, hanya menanggapinya dengan senyuman sinis.
"Mana mungkin aku akan jatuh cinta padamu, Tuan. Aku hanya curiga ... Anda sudah menyuruh orang, untuk menaburi makanan ini dengan obat bius. Makanya Aku merasa enggan untuk memakannya."
Gadis itu meletakkan alat makan yang tadi dipegangnya. Arbhy terkekeh kecil melihatnya.
"Untuk apa aku melakukan semua itu, Nona. Anda tidak perlu khawatir. Bukankah Anda melihat, aku juga memakan bagian yang kamu ambil. Jadi, buanglah jauh-jauh rasa curigamu itu."
Tak ingin membujuk gadis dihadapannya lagi. Arbhy memilih menikmati makanannya. Terserah gadis itu mau makan atau tidak. Percuma saja meyakinkannya. Jika pikirannya kekeh dengan prasangka buruk terus-menerus.
Arbhy menggeleng pelan sambil tersenyum masam.
'Jika lapar pasti akan makan juga. Mana mungkin dia betah menahan lapar lama-lama,' pikir Arbhy.
Hah! Merasa tidak ada hal yang mencurigakan. Zafia akhirnya kembali mengambil alat makannya. Gadis itu kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Arbhy tersenyum tipis melihatnya. Tanpa berniat untuk mengganggunya.
Sampai pada suapan terakhir, barulah Arbhy mulai kembali bersuara.
"Bagaimana, Nona. Apakah Anda sudah mulai merasa pusing, setelah memakan hidangannya?"
Arbhy tersenyum misterius kearah Zafia. Senyum yang membuat jantung Zafia seakan berhenti berdetak saat itu juga.
"Apa maksud Anda, Tuan?"
Senyuman Arbhy semakin terlihat mengerikan. Hingga membuat Zafia merasa gelisah.
__ADS_1
♡♡♡
Bersambung ....