
Ardian yang sedang menyetir sesekali melirik kearah Arsha. Arsha terlihat sedang memainkan jemari tangannya. Ardian menebak jika Arsha masih syok dengan kejadian yang dialami gadis itu.
"Sha," Ardian memanggil Arsha dengan lembut.
"Ya," Arsha seketika melihat kearah Ardian.
"Kamu menginap dimana? Biar aku antarkan."
Arsha kembali memainkan jemari tangannya. Ia nampak gelisah, tapi bingung untuk mengutarakannya. Ardian yang sedang fokus menyetir menunggu jawaban Arsha.
Hening!
Sudah beberapa saat dari Ardian bertanya. Arsha belum juga memberikan jawaban. Ardian kembali melirik kearah Arsha.
"Sha, kenapa? Kok pertanyaanku tidak dijawab. Apa ada masalah?"
Dengan hati-hati Ardian kembali bertanya kepada Arsha.
"Ar ..., a-a-aku gak mau kembali ke penginapan."
Arsha menjawab pertanyaan Ardian dengan suara gemetar. Ardian mengerutkan alisnya ketika mendengar jawaban Arsha.
"Kenapa? Apa karena laki-laki tadi?" tanya Ardian.
Arsha menundukkan kepalanya. Gadis itu tidak mau membuka suaranya kembali. Itu sudah cukup membuat Ardian yakin. Jika Arsha mengalami trauma.
"Sha," panggil Ardian dengan lembut.
Ardian bahkan sampai meminggirkan kendaraannya untuk berhenti. Sementara Arsha masih setia menunduk.
"Laki-laki yang tadi tidak akan mengganggu kamu lagi. Jadi, kamu tidak perlu takut."
Ardian dengan lembut memberikan pengertian kepada Arsha. Namun, apa yang Ardian lakukan ternyata tidak membantu. Arsha malah terisak dengan tubuh yang terguncang.
"Hei, kenapa kamu menangis?"
Ardian terlihat panik ketika Arsha menangis sesenggukan. Lelaki itu meraih kedua bahu Arsha. Membuat Arsha menghadap kearahnya.
Ardian dengan lembut menghapus air mata yang meleleh di pipi gadis itu.
"Semua sudah berlalu, kamu sekarang aman. Jangan nangis, oke. Sekarang aku antar kamu ke tempat penginapan, ya."
Mendengar ucapan Ardian, Arsha segera menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Aku gak mau, Ar. Aku takut sendirian di penginapan. Aku gak mau!"
Kepanikan dan ketakutan Arsha menjadi satu. Ardian tentu bingung harus bagaimana.
"Terus kamu mau tidur dimana, Sha?"
Arsha bungkam ketika Ardian kembali bertanya padanya.
__ADS_1
Hah! Ardian menghembuskan napasnya lelah. Merasa tidak akan menemukan jawaban dari Arsha. Akhirnya Ardian mencoba untuk berpikir sejenak. Mencoba mencari solusi untuk Arsha.
"Apa kamu ikut denganku saja?" ucap Ardian dengan hati-hati.
Takut jika apa yang diucapkan olehnya membuat Arsha kembali ketakutan. Tapi, diluar dugaannya. Arsha langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku mau, Ar. Itu lebih baik, dari pada aku sendirian. Aku masih takut, Ar."
Arsha berbicara dengan pandangan mengiba. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Ardian menjadi tidak tega jika membiarkan Arsha sendiri.
"Ya sudah, kalau begitu. Kita akan pulang ke apartment, tempatku menginap."
Setelah mendapatkan persetujuan dari Arsha. Akhirnya Ardian melajukan kendaraannya, kembali ke tempatnya menginap.
Perjalanan yang mereka tempuh hanya sekitar sepuluh menit. Kini Ardian dan Arsha sudah sampai ditempat tujuan.
"Ayo."
Arsha mengikuti Ardian yang berjalan lebih dulu. Sesekali Arsha melihat ke kanan dan kiri. Tempat yang mereka lewati begitu terawat dan terkesan mewah.
'Pasti sangat mahal biaya menginap disini,' batin Arsha.
Karena terlalu larut dalam pikirannya. Arsha sampai tidak menyadari jika mereka sudah sampai. Tepat di depan unit Apartment yang Ardian tempati. Tidak memperhatikan situasi, Arsha tanpa sengaja membentur punggung Ardian.
"Ash, maaf," cicit Arsha sambil mengusap bagian tubuhnya yang berbenturan dengan Ardian.
"Ayo masuk."
Tempat yang begitu rapi, dengan dinding berwarna pastel. Membuat ruangan itu terkesan dinamis, lebih moderen dan lebih modis. Arsha sampai tidak menyadari telah mengedarkan pandangan sampai ke seluruh ruangan.
Sementara Ardian melangkah pergi, untuk mengambil air minum di lemari pendingin. Ardian memperhatikan gerak-gerik Arsha. Gadis itu terlihat jelas sedang mengagumi tempat tinggalnya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Sha?"
Ardian menghampiri Arsha, lelaki itu memberikan minuman dingin kepada gadis itu.
"Terimakasih. Sudah lebih tenang dari sebelumnya," ungkap Arsha.
Ardian mengangguk, "Syukurlah kalau begitu."
Suasana tiba-tiba hening. Arsha baru saja meminum air yang Ardian berikan.
"Duduklah dulu, kasihan kakimu. Pasti lelah berdiri seperti itu."
Arsha tersenyum simpul, kemudian berjalan kearah sofa. Gadis itu duduk dengan perlahan. Disusul oleh Ardian yang juga duduk disebelahnya.
Keduanya kembali terdiam, keheningan pun kembali tercipta. Sampai beberapa menit berlalu. Hah! Terdengar helaan napas dari bibir Arsha. Ardian melirik sekilas.
"Ar," panggil Arsha.
"Hem."
__ADS_1
"Terimakasih atas bantuan yang kamu berikan hari ini," ungkap Arsha dengan lembut.
"Sudahlah, itu hanya suatu kebetulan."
Arsha menoleh kearah Ardian. Tepat saat Ardian juga melihat kearahnya. Tatapan keduanya bertemu. Arsha memandang lekat wajah tampan Ardian.
"Ar, bagaimana caraku membalas semua kebaikanmu hari ini?"
Arsha bertanya dengan lirih. Matanya memancarkan kekaguman kepada sosok penolong dihadapannya.
"Aku ikhlas menolong kamu, Sha. Jadi, kamu jangan menjadikan kejadian hari ini sebagai beban pikiranmu."
Ardian berucap sambil mengulas senyum. Senyum yang begitu memesona bagi Arsha.
"Kenapa begitu, Ar? Apa tidak ada alasan lainnya? Selain itu?"
Ardian melihat pandangan mata Arsha yang begitu sendu. Entah apa maksudnya, Ardian tidak mengerti. Mengapa Arsha memandangnya seperti itu.
"Kamu adalah sahabat Zafia, Sha. Otomatis, kamu juga sahabatku."
Ardian mencoba untuk memberikan alasan lainnya. Alasan yang menurutnya masuk akal.
"Apakah tidak ada tempat untukku di hatimu, Ar?"
Mendengar pertanyaan Arsha yang menurutnya aneh. Ardian menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini ngomong apa sih, Sha. Sudah malam, lebih baik kamu istirahat. Kamu pasti lelah."
Ardian bangkit dari duduknya. Ia hendak melangkah pergi. Namun, Arsha segera meraih tangannya. Membuat Ardian mengurungkan niatnya. Lelaki itu melihat kearah Arsha, menunggu apa yang ingin gadis itu ucapkan.
"Ar ..., aku cinta sama kamu."
Ardian diam mematung ketika Arsha mengungkapkan perasaannya. Arsha berdiri dari duduknya. Berjalan mendekat kearah Ardian. Pandangan mata Arsha terlihat sayu. Gadis itu menatap lekat mata Ardian yang juga menatapnya.
Perlahan, Arsha merapatkan tubuhnya pada tubuh Ardian. Kedua tangannya meraih leher Ardian. Dengan sedikit berjinjit, Arsha mencoba meraih sesuatu yang diinginkannya.
B*b*r Arsha yang mungil berhasil bertemu dengan b*b*r tebal Ardian. Arsha m*ng***p dengan lembut benda kenyal itu. Sementara si empunya masih diam mematung. Angannya seperti melayang, kesadarannya tidak lagi ditempatnya.
Merasa tidak ada penolakan dari lawannya. Arsha mencoba untuk memperdalam k***p**nya. Mengeratkan kaitan lengannya pada leher Ardian.
Beberapa saat kemudian Arsha menyudahi tindakannya. Karena Ardian tidak membalas apa yang Arsha lakukan. Arsha menyadari jika perbuatannya salah.
'Pasti Ardian tidak menyukainya,' batin Arsha merasa menyesal sekaligus kecewa.
"Maaf," lirih Arsha sambil mencoba untuk menjauh dari tubuh Ardian.
Namun, gerakan Ardian selanjutnya membuat Arsha terkejut.
♡♡♡
Bersambung ....
__ADS_1