Miss Coollant Tuan Sangkutang

Miss Coollant Tuan Sangkutang
32. HARUS KEMBALI


__ADS_3

"Ya, aku akan membuatnya untukmu. Meskipun aku akan sedih saat kamu meminumnya nanti."


Mayra tersenyum getir ketika mengucapkan isi hatinya. Sementara Zafia langsung memeluknya dari samping.


"Kenapa kamu harus bersedih? Seharusnya kamu bahagia, karena dengan begitu kamu bisa membuatku melakukan apa yang kamu inginkan. Seperti ikut latihan bela diri yang aku tidak sukai sebelumnya."


Mendengar ucapan Zafia tiba-tiba Mayra merubah raut wajahnya.


"Ah, iya. Apa rencanamu jika nanti kamu berhasil lupa semuanya? Setelah meminum formula hilang ingatan itu?"


Dengan antusias Mayra bertanya kepada Zafia yang sedang memeluknya. Zafia lantas melepaskan pelukannya. Kening gadis itu nampak sedang berpikir keras.


"Yang jelas, jangan ingatkan aku tentang pengkhianatan bernama Ardian itu. Itu yang paling utama. Selanjutnya ajari aku tentang bisnis. Ilmu bela diri dan jauhkan aku dari orang-orang toxic. Aku ingin fokus dalam bidang bisnis."


Zafia dengan penuh keyakinan mengucapkan apa yang dia inginkan. Ketika nanti Mayra berhasil menciptakan formula untuknya.


"Hanya itu saja? Kamu benar-benar tidak ingin mengenal cinta dimasa depan, Fi?" tanya Mayra dengan serius.


"Ya, aku yakin. Dan satu lagi. Aku ingin menjadi pribadi yang dingin. Supaya semua orang tunduk dan takut padaku. E, eh ralat. Bukan takut, tapi hormat kepadaku sebagai pimpinan mereka."


Dengan tegas dan tanpa ragu sedikitpun, Zafia menyampaikan keinginannya kepada Mayra. Tak ada keraguan pada Mayra. Karena Zafia sangat percaya pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri itu.


"Apa kamu benar-benar percaya padaku, nona Zafia?" tanya Mayra dengan mata menyelidik.


"Tentu saja. Karena kamu pasti menginginkan yang terbaik. Karena kamu dan Mama itu sama. Sama-sama mempedulikan kebahagiaanku. Bukan begitu, Nona Mayra?"


Zafia mengerlingkan matanya dengan genit. Sehingga membuat Mayra tergelak.


"Kamu memang sangat mengenali diriku dengan baik." puji Mayra disela-sela tawanya.


"Tentu saja." balas Zafia dengan bangga.


Kedua wanita yang mempunyai selisih usia beberapa tahun itu nampak terus berbincang. Banyak yang keduanya bicarakan. Hingga akhirnya malam semakin larut. Saat itulah Mayra mengajak Zafia kembali ke unit apartemennya.


"Tapi kamu benar-benar akan membuatnya 'kan, May?" tanya Zafia ketika mereka keluar dari lift.


"Iya, aku janji. Kamu tenang aja. Fokus saja sama ...."


Belum selesai Mayra meneruskan ucapannya. Ada sebuah teriakan manja menusuk telinganya dan Zafia.


"Aaahhhs, Ar ... kau menyakitiku, jangan terlalu kencang. Auw!"


Suara itu terdengar begitu menjijikkan ditelinga Zafia. Mayra bahkan menggelengkan kepalanya. Sungguh manusia laknat.


"Diam Lah, Sha. Sebentar lagi ... ini sungguh nikmat. Oh, Arsha! Kamu benar-benar membuatku gila!"

__ADS_1


Mayra dan Zafia saling pandangan, ketika mendengar suara laki-laki yang sangat familiar. Dan kini mereka tahu siapa pemilik suara laknat dan menjijikkan itu. Siapa lagi jika bukan Ardian dan Arsha.


"Apakah mereka sedang bercint* diruang tamu?" ucap Mayra pelan.


"Entahlah, mungkin saja." Zafia menjawab dengan malas.


"Cih! Sungguh tidak tahu malu. Pasangan menjijikkan." ujar Mayra berdecih dengan geram.


Tak ingin berlama-lama, Mayra dan Zafia segera berlalu dari sana. Meninggalkan suara-suara yang membuat telinga panas.


♡♡♡


"Jadi, kamu benar-benar menyuruh orang untuk menjadi mata-mata?" tanya Hamdani kepada Arbhy.


"Bang Hamdan menguping pembicaraanku, ya?"


Arbhy berdecak karena ketahuan oleh Hamdan. Kakak iparnya itu ternyata masuk ke unit apartemennya tanpa mengetuk pintu.


"Dasar penguntit!" desis Arbhy mendengus kesal.


Hamdani berjalan dan duduk di sofa ruang tamu. Mengabaikan raut tidak menyenangkan dari Arbhy.


"Bisakah Abang masuk ruangan orang dengan mengetuk pintu lebih dulu?" tanya Arbhy dengan sinis.


"Apakah kamu kehabisan air mineral? Sehingga memberikan seseorang kekeringan?"


"Cih, bilang saja kau minta dibuatkan minuman, Bang. Tak perlu menyindirku seperti itu."


"Baguslah kalau kamu peka."


Hamdani menanggapi dengan acuh. Sementara Arbhy kembali mendengus. Bos muda itu segera berlalu ke arah dapur. Menyeduh dua gelas kopi espresso untuknya sendiri dan juga kakak iparnya.


"Kenapa Abang kesini?" tanya Arbhy, seraya menaruh segelas kopi dihadapan Hamdani.


"Lusa kita kembali ke Indonesia. Ada acara penting di kantor pusat."


Arbhy nampak terkejut mendengar ucapan kakak iparnya.


"Secepat ini?" tanyanya dengan suara enggan.


"Ya, begitulah. Kenapa dengan wajahmu? Begitu bermuram durja. Sangat menggelikan," ejek Hamdani mencemooh Arbhy yang berwajah masam.


"Tidak apa. Baiklah, atur saja semuanya."


Hamdani mengangguk sambil menyeruput kopi buatan Arbhy.

__ADS_1


'Padahal aku masih ingin melihat Zafia. Hah! Aku pasti sangat merindukannya setelah ini,' batin Arbhy dengan lesu.


♡♡♡


"Pemberitahuan kepada seluruh penumpang pesawat. Pesawat akan segera mendarat. Pastikan menegakkan kursi, membuka penutup kaca jendela, pasang sabuk pengaman dan melipat meja.Terima kasih."


Pemberitahuan dari petugas membangunkan seorang pria paruh baya, yang baru saja terlelap beberapa menit yang lalu. Terpaksa pria itu harus membuka matanya. Setelah bisa menguasai kesadarannya secara utuh. Damiant segera membangunkan wanita yang tertidur disebelahnya.


"Cathy, babe ... bangunlah. Pesawat akan landing sebentar lagi."


Wanita yang dibangunkan oleh Damiant mel*nguh. Mengucek kedua matanya beberapa kali.


"Kita sudah sampai?" tanyanya pelan.


"Ya, sebentar lagi pesawat akan mendarat." Damiant menyahut seraya tersenyum.


"Akhirnya! Aku ingin segera istirahat di tempat yang nyaman," ungkap Cathy.


"Tentu saja. Tapi setelah kita turun dari pesawat. Aku akan memesan hotel yang termewah untuk kita berdua." Damiant tersenyum kearah Cathy.


"Oh, Damiant. Terimakasih banyak. Kau memang paling pengertian."


Cathy bergelayut manja di lengan Damiant sesaat. Setelah itu, mereka menegakkan tubuh masing-masing. Sesuai arahan petugas.


Pesawat pun mendarat dengan sempurna. Damiant dan wanita bernama Cathy itu sudah keluar dari pesawat. Keduanya berjalan keluar dari bandara, dengan diikuti petugas yang membawakan barang-barang mereka.


"Damiant, kita akan naik apa ke hotelnya?" tanya Cathy dengan suara manja.


Damiant tersenyum sambil terus melangkahkan kakinya. Dengan tubuh mereka yang masih menempel beriringan seperti di lem.


"Sudah ada taksi yang menunggu di luar bandara," terang Damiant memberitahu Cathy.


"Kamu memesan taksi? Tidak adakah mobil mewah juga sopir pribadi?" tanya Cathy menyelidik.


"Babe, please! Itu bisa kita pikirkan nanti. Sekarang kita harus naik taksi dulu. Karena aku tidak mungkin menyuruh seseorang kesini. Hubungan kita tidak bisa diketahui orang yang mengenalku. Kau mengerti?"


Damiant memberikan peringatan kepada kekasihnya. Supaya bisa menjaga sikap. Meskipun nada bicaranya tidak terlalu keras. Tapi kalimatnya begitu tegas.


"Hah! Baiklah ... aku akan mengikuti apa maumu." Cathy memasang senyum manis.


Meskipun dihatinya merasa kesal dan mencibir ucapan Damiant.


'Dasar tua bangk*! Seandainya aku tidak membutuhkan uangmu. Sudah pasti ku tinggal sejak dulu. Sungguh menyebalkan!' gerutu Cathy di dalam hati.


♡♡♡

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2