
Yuni Bonita sengaja membuatku tersandung sewaktu pelajaran Matematika. Aku melihat sepatu putihnya terjulur di sela-sela bangku.
Terlambat..!!
Aku sedang membawa buku catatanku menuju papan tulis karena akan mengerjakan soal. Mataku menatap tulisan cakar ayam di buku catatanku. Tulisanku memang tidak rapi. Aku tidak sempat berhenti lagi ketika melihat sepatu putih itu terjulur. Aku tersandung dan jatuh di lantai, mendarat bertumpu pada sikut dan lututku.
Semua kertas beterbangan dari buku catatanku dan berserakan di mana-mana. Seluruh kelas menganggap kejadian itu lucu. Semua tertawa dan bersorak. waktu aku bersusah payah bangun. Yuni dan teman akrabnya Anna Clarissa, tertawa paling keras.
Aku mendarat di ujung siku dan sakitnya terasa sampai ke sekujur tubuh. Aku tau wajahku pasti semerah tomat waktu bangun dan memungut buku catatan.
"Gerakan hebat, Shop!" teriak Anna, ia tersenyum lebar.
"Bagus!" teriak seseorang
__ADS_1
Aku menoleh sekilas dan melihat kilatan puas di mata Yuni.
Aku anak perempuan paling jangkung di kelasku. Aku lebih tinggi dari Colin Edward, padahal dia anak laki-laki paling jangkung. Aku juga anak paling kikuk yang pernah ada di muka bumi ini. Maksudku, meskipun tinggi dan langsing, bukan berarti aku juga anggun. Percaya deh, aku sama sekali tidak anggun. Tapi, kenapa orang selalu tertawa kalau aku jatuh tersandung tempat sampah atau menjatuhkan makanan di saat jam istirahat atau tersandung kaki orang waktu pelajaran Matematika ?
Yuni dan Anna. memang jahat, itu saja.
Aku tau mereka diam-diam menjuluki aku "bangau". Colin yang memberitahu aku. Dan Yuni selalu mengolok-olok namaku, dia sengaja menambahkan kata "bird" di belakang namaku menjadi 'Shopie Wilonna Bird'
"Terbang saja bird!" Itulah yang selalu dikatakannya padaku. Paling dia dan Anna tertawa seakan-akan itulah lelucon paling lucu yang pernah mereka dengar. "Terbang sana Bird!"
Ha-ha. Tidak lucu.
Kurasa Colin cuma berusaha menyenangkan perasaanku dan sama sekali tidak berhasil. Kukumpulkan semua kertas-kertasku dan menjejalkannya ke dalam buku tulis lagi.
Ibu Selvie bertanya padaku "apa aku baik-baik saja!"
Aku menggumam "aku tidak apa-apa, meskipun siku-ku berdenyut-denyut sakit bukan main. Langsung saja kutulis soal di papan tulis.
__ADS_1
Saat aku mulai menulis kapurnya berdecit-decit, semua orang jadi mengerang dan berkeluh kesah. Yah, mau bagaimana lagi. Tiap kali aku menulis di papan tulis kapurnya selalu berdecit-decit. Mestinya orang tidak perlu ribut begitu kan !!
Kudengar Yuni berbisik membicarakan aku pada Anna., tapi aku tidak bisa mendengar apa yang dibisikkannya itu. Aku menoleh dan melihat mereka mencibir dan menyeringai. Dan yang lebih parah aku tidak bisa mengerjakan soal. Persamaannya ada yang salah dan aku tidak tahu yang mana.
Bu Selvie melangkah ke belakangku, lengannya yang kurus terlipat di depan baju warna hijau mudanya yang norak. Bibirnya bergerak-gerak ketika melihat pekerjaanku, berusaha melihat di mana kesalahanku.
Dan tentu saja Yuni mengacungkan tangan lalu berseru.
"Aku tau salahnya, Bu. Shopie tidak bisa menambah, empat tambah dua jadi enam, bukan lima."
Aku merasa wajahku merah padam lagi. Entah bagaimana nasibku kalau tidak ada Yuni yang menunjukkan kesalahanku di depan anak-anak sekelas. Semua orang tertawa lagi. Bahkan Bu Selvie pun menganggapnya lucu. Dan aku terpaksa berdiri saja, pasrah menerima ejekan begitu. Dasar Shopie, anak paling bodoh di kelas.
Tanganku gemetar dan berkeringat waktu menghapus kesalahanku dan menuliskan angka yang benar. Aku marah sekali pada Yuni dan pada diri sendiri. Tapi aku berusaha tenang saat berjalan hati-hati menuju ke tempat dudukku. Aku bahkan tidak melirik Yuni ketika melewatinya.
__ADS_1