
Aku berdiri di ruang tengah yang gelap, terengah-engah, pikiranku bekerja keras. Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kulakukan?
Berjam-jam kemudian aku baru bisa tertidur. Dan ketika akhirnya aku terlelap, aku memimpikan Yuni.
"Kau kelihatan lelah, Shopie," kata Ibu waktu sarapan.
"Tidurku semalam tidak nyenyak," kataku mengaku.
Selesai sarapan. Aku berpamitan pada ibuku untuk berangkat ke sekolah. Ketika aku keluar dari pintu depan, Yuni sudah menungguku di jalan masuk. Ia tersenyum dan melambai penuh semangat.
"Kurasa kita bisa berjalan ke sekolah pagi ini," katanya riang. "Tapi kalau kau mau naik sepeda, aku akan senang sekali berlari di sampingmu."
"Tidak!" jeritku. "Tidak! Tolong…tidak!"
Aku benar-benar frustrasi! Aku sudah tidak tahan lagi. Kujatuhkan tas ranselku dan segera berlari. Entah ke mana aku lari. Aku tidak peduli. Aku cuma tahu aku harus lari dari dia.
"Shopie…tunggu!" Aku menoleh dan melihat Yuni berlari mengejarku.
"Jangan…tolong! Pergi! Pergi!" jeritku.
Tapi kulihat ia lari semakin cepat, sepatunya berdetak-detak di trotoar, semakin mendekatiku. Aku berbelok ke halaman rumah orang dan lari ke balik pagar tanaman, berusaha bersembunyi dari dia.
Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku tidak punya rencana, tidak punya tujuan. Pokoknya aku harus lari!
Sekarang aku lari di halaman belakang, menyeberangi jalan masuk, di belakang garasi-garasi. Dan Yuni terus mengikuti, lari sekuat tenaga, buntut kudanya yang pendek bergerak-gerak ketika ia lari.
"Shop…tunggu! Shop!" panggilnya
terengah-engah.
__ADS_1
Tiba-tiba aku lari menembus hutan, pohon-pohon dan rumput tinggi saling berbelit. Aku lari menembusnya, mula-mula jalan sini, lalu ke sana, melompati dahan-dahan yang jatuh, melewati tumpukan tebal daun-daun cokelat kering.
Aku harus lari dari dia! kataku dalam hati. Aku harus lari!
Tapi aku lalu tersandung akar pohon yang menonjol dan jatuh, tersungkur di atas hamparan daun-daun mati. Dasar kikuk.
Dan sedetik kemudian, Yuni sudah berdiri di atasku. Aku mengangkat kepala dan terkejut ketika melihat ternyata orang itu bukan Yuni.
Marissa membungkuk ke arahku. Syal merahnya melilit bahunya, matanya yang hitam menatapku tajam.
"Kau!" teriakku marah, dan segera lompat berdiri.
"Kau tidak senang," katanya pelan sambil mengerutkan kening.
"Permintaan Anda telah menghancurkan hidup saya!" teriakku sambil menyingkirkan daun-daun mati dari bagian depan bajuku.
"Kalau tahu sekarang jadi begini. Dulu saya tidak ingin bertemu dengan Anda!" teriakku marah. "Tidak akan menolong Anda."
"Baik."
Dengan satu tangan diangkatnya bola kristal merah. Sambil mengangkat bola kristal itu, matanya yang kelam menyala, merah seperti warna kristal itu.
"Aku akan membatalkan permintaan ketigamu. Ucapkanlah satu permintaan terakhir. Karena kau tidak senang, aku akan mengabulkan satu lagi permintaanmu."
Aku bisa mendengar suara daun-daun bergemerisik di belakangku. Yuni berlari-lari mengejarku.
"Saya…saya tidak ingin bertemu dengan Anda!" teriakku pada Wanita Kristal itu. "Saya ingin Yuni saja yang bertemu dengan Anda!"
Bola kristal itu menyala semakin terang sampai cahaya merahnya menyelubungiku. Ketika cahaya itu memudar, ternyata aku sedang berdiri di pinggir hutan.
__ADS_1
Fiuh! pikirku. Leganya! Untung lolos.
Aku beruntung sekali!
Aku bisa melihat Yuni dan Marissa berdiri di bawah pohon besar. Mereka berdiri berdekatan sambil berbicara serius. Ini baru balas dendam yang sempurna! kataku dalam hati.
Sekarang Yuni yang akan mengucapkan permintaan dan hidupnya yang akan hancur total! Sambil tertawa terkekeh-kekeh, aku berusaha mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Aku ingin tahu apa yang diinginkan Yuni.
Aku yakin sekali mendengar Yuni berkata, "Bird, terbang sajalah kau!"
Tapi itu tidak masuk akal.
Aku sangat bahagia! Amat sangat bahagia! Aku bebas, benar-benar bebas!
Tiba-tiba aku merasa sangat berbeda. Lebih ringan. Lebih bahagia. Biar Yuni mengucapkan permintaannya! pikirku girang. Biar dia tahu seperti apa jadinya.
Sambil memiringkan kepala kulihat seekor cacing tanah gemuk berwarna cokelat menjulurkan kepalanya dari dalam tanah. Tiba-tiba aku merasa sangat lapar. Kujulurkan kepalaku dan kutangkap ujung cacing itu. Lalu kumakan. Lezat sekali.
Kukepakkan sayapku, merasakan angin. Lalu aku terbang rendah di atas hutan. Angin dingin terasa begitu menyegarkan di bulu-buluku.
Sambil mengepakkan sayap lebih kencang, terbang semakin tinggi di langit, aku memandang ke bawah dan melihat Yuni. Ia berdiri di samping Marissa.
Yuni menatapku dari bawah, dan kurasa permintaan pertamanya telah dikabulkan karena ia tersenyum lebar sekali.
Dan sekarang, aku Shopie Willona telah berubah menjadi "SEEKOR BURUNG", seperti permintaan Yuni pada Marissa.
**TAMAT
Terimakasih yang sudah membaca dari awal sampai akhir**.
__ADS_1