Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Bertemu Yuni


__ADS_3

Kuamati pagar itu tidak tampak ada sesuatu, kucoba melihat ke bagian dalam, kupandang benda di balik tembok, benda kotak persegi berwarna putih.


"Itu bel-nya." teriakku senang.


Kumasukan tangan ku di sela-sela lubang pagar besi itu, kutekan bel itu beberapa kali tapi tidak ada orang yang keluar dari rumah. Saat aku memutuskan untuk pergi dari situ, terdengar suara pintu di buka. Kuamati dari tempatku berdiri, wanita seusia ibuku tampak keluar dari dalam rumah. Ternyata Ibu Yuni.


Ibu Yuni tampak sangat terkejut melihat ada tamu. Ia menghampiriku dan mengajakku masuk ke rumahnya. Ia bertanya siapa namaku dan ada perlu apa datang ke rumahnya. Lalu kusebutkan namaku dan kubilang ingin bertemu Yuni.


"Bagaimana kabar Yuni?" tanyaku, badanku gemetaran.


"Yah, begitulah," jawabnya sambil menarik napas cemas.


Matanya bulat seperti mata Yuni, tapi rambutnya hampir beruban semua. Diajaknya aku masuk ke ruang tengah yang terasa hangat. Tercium bau ayam panggang. Tiba-tiba aku merasa lapar.


"Yuni! Ada tamu!" teriaknya ke atas tangga.


Kudengar jawaban lemah, tapi aku tidak tahu apa yang dikatakannya.


"Naik saja," kata ibu Yuni, dipegangnya bahuku. "Kau kelihatan kedinginan," tambahnya sambil menggeleng. "Hati-hati, Sayang. Kau tidak mau sampai sakit juga, kan?"


Aku naik tangga dan melihat kamar Yuni ada di ujung lorong. Aku berdiri ragu-ragu di pintu dan mengintip ke dalam. Kamarnya remang-remang. Aku bisa melihat Yuni berbaring di tempat tidur, di atas kain pelapis tempat tidur. Kepalanya disangga beberapa bantal. Buku, majalah, dan dua buku catatan pelajaran bertebaran. Tapi Yuni tidak sedang membaca. Ia cuma menatap lurus ke depan.


"Bangau?" teriaknya ketika melihat aku berdiri di pintu.


Aku masuk ke kamar, tersenyum terpaksa. "Bagaimana keadaanmu?" tanyaku pelan.


"Buat apa kau ke sini?" tanyanya dingin. Suaranya serak.

__ADS_1


"Aku...aku sedang naik sepeda, dan aku tergagap, tetap berdiri di samping pintu. Aku terkejut mendengar ia marah begitu.


"Naik sepeda? Dingin-dingin begini?" Ia bersusah payah bangun dan duduk. Sambil bersandar di kepala tempat tidur, dipandangnya aku penuh kecurigaan.


"Aku cuma ingin tahu bagaimana kabarmu," gumamku.


"Terbang sajalah kau, Bird!" geramnya kesal. "Hah?"


"Kau tukang sihir...ya kan?" tuduhnya.


Astaga, beraninya ia bicara begitu. Aku terpesona. Terkejut! Ia tidak bercanda. Aku bisa jelas melihat ia serius!


"Kau memang memantrai kami. Aku tahu!"


"Yuni tolong," teriakku. "Bicara apa, sih, kau ini?"


itu," katanya dengan suara parau.


"Kau mempelajari mantra dan hal-hal lain."


"Gila!" kataku.


"Kau iri padaku, Shop. Pada Aku, Anna, dan yang lainnya," tuduh Yuni.


"Jadi?" teriakku marah.


"Jadi, tiba-tiba semua anak anggota tim merasa lemah dan sakit. Kecuali kau, Shop. Kau merasa sehat-sehat sajakan? Kau tukang sihir, Shop!" jeritnya, suaranya yang lemah terdengar melengking. Ia terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Yuni, bicaramu seperti orang gila saja," kataku ngotot. "Aku bukan tukang sihir. Bagaimana aku bisa jadi tukang sihir? Aku turut sedih kau sakit. Betul. Tapi..."


"Kau tukang sihir! Kau tukang sihir!" kata Yuni, suaranya berbisik melengking. "Aku sudah bicara dengan anak-anak. Mereka semua setuju. Kau tukang sihir. Tukang sihir!"


Saking marahnya, aku merasa seperti bisa meledak. Kukepalkan tanganku kuat-kuat. Kepalaku terasa berdenyut-denyut. Yuni sudah bicara dengan anak-anak lain, menyebarkan cerita bahwa


aku tukang sihir. Tega sekali ia melakukan perbuatan gila seperti itu.


"Tukang sihir! Kau tukang sihir!" ia terus berceloteh.


Karena kesal sekali, aku jadi lepas kontrol.


"Yuni..jeritku. "Aku...aku tidak akan melakukannya padamu kalau saja kau tidak jahat padaku!"


Aku langsung tersadar aku telah melakukan kesalahan fatal. Aku baru saja mengaku padanya bertanggung jawab menyebabkan ia sakit. Aku keterlepasan mengatakan aku memang tukang sihir! Tapi karena marah sekali aku jadi tidak peduli.


"Betul kan!" jerit Yuni dengan suaranya yang parau, matanya yang bulat bersinar gembira, ditudingnya aku dengan sikap menuduh.


"Ada apa, sih? Kenapa teriak-teriak?" Ibu Yuni masuk ke kamar, ditatapnya Yuni dan aku berganti-ganti.


"Dia tukang sihir! Tukang sihir!" jerit Yuni.


"Yuni...tolong. Tolong, tenanglah. Kau tidak boleh capek dulu," kata Ibunya.


"Maafkan saya. Saya pulang saja sekarang," kataku ketus.


Aku segera keluar kamar, lari menuruni tangga, dan pergi dari rumah itu secepat mungkin.

__ADS_1


"Tukang sihir! Tukang sihir!" teriakan Yuni yang parau terus mengikutiku.


__ADS_2