Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Permintaan Pertamaku Tak Terkabul


__ADS_3

Aku benar-benar menerima kejutan.


Tembakanku semakin parah! Ketika kulemparkan bola ke ring, tembakanku meleset jauh dari garasi dan aku harus mengejar-ngejar bola di rumput basah.


Rendy tertawa. "Ternyata kau sudah berlatih!" godanya.


Kudorong bola basket basah ke perutnya kuat-kuat. Ia pantas menerimanya. Ucapannya tadi tidak lucu. Aku kecewa sekali. Kukatakan berulang-ulang pada diriku permintaan tidak akan terkabul, terutama permintaan yang diajukan pada wanita gila yang keluyuran di tengah hujan.


Tapi aku tetap saja berharap. Maksudku, Yuni, Anna dan anggota tim lainnya jahat sekali padaku. Pasti hebat rasanya kalau besok ikut bertanding melawan


Sekolah lain dan tiba-tiba jadi bintang tim.


Bintang. Ha-ha.


Rendy membawa bola ke ring dan menembak dengan mudah. Ditangkapnya pantulan tembakannya dan diserahkannya bola padaku. Bola itu lewat di sela-sela tanganku dan membal ke jalan masuk. Aku lari mengejarnya, terpeleset karena licin, dan jatuh tersungkur ke genangan air.


Bintang apaan! Permainanku semakin parah! kataku dalam hati. Jauh lebih parah. Rendy membantu aku berdiri. Kubersihkan diriku.


"Ingat, ini idemu sendiri!" katanya.


Sambil berteriak penuh tekad, kusambar bola, melesat melewati Rendy, dan cepat-cepat kubawa bola ke ring. Aku harus memasukkannya ke ring. Harus! Tapi ketika aku melompat untuk menembakkaan bola, Rendy berhasil menyusul aku. Ia melompat tinggi, mengangkat tangannya, dan

__ADS_1


melemparkan bola.


"Aaaaaagggh!" Aku berteriak frustrasi. "Aku berharap tinggimu cuma tiga puluh senti!" teriakku.


Ia tertawa dan lari mengejar bola. Tapi aku gemetar ketakutan. Apa yang baru kulakukan? tanyaku dalam hati menatap halaman belakang yang gelap, menunggu Rendy kembali membawa bola. Apakah aku sudah mengucapkan permintaanku yang kedua?


Aku tidak sengaja! kataku pada diri sendiri, jantungku berdebar-debar


kencang. Tadi itu kecelakaan. Bukan permintaan yang sebenarnya. Apa aku telah menciutkan kakakku jadi setinggi tiga puluh senti?


Tidak. Tidak. Kukatakan berulang-ulang, menunggu ia muncul lagi. Permintaan pertama tidak terkabul. Tidak ada alasan untuk mengharapkan permintaan kedua akan jadi kenyataan.


"Rendy di mana kau?" tanyaku.


Aku lalu tersentak ketika ia datang berlari-lari mendekatiku di atas rumput tingginya cuma tiga puluh senti seperti permintaanku tadi!


Aku berdiri kaku seperti patung. Badanku rasanya dingin seperti es. Lalu, ketika sosok kecil itu keluar dari kegelapan, aku jadi tertawa.


"Pussy" teriakku. "Kok kau bisa keluar?"


Aku bahagia sekali melihatnya, bahagia sekali karena ternyata bukan Rendy yang berlari-lari di rumput sehingga kuangkat kucing kecil itu dan kupeluk erat-erat. Tentu saja aku jadi penuh lumpur karena kakinya kotor. Tapi aku tidak peduli.

__ADS_1


Shop, tenangkan dirimu, kataku mengejek diri sendiri, sementara Pussy meronta-ronta. Harapanmu mengenai Rendy tidak akan jadi kenyataan karena Marissa dan bola merah menyalanya tidak ada di sini.


Kau harus berhenti memikirkan tiga permintaan itu, kataku dalam hati. Konyol sekali. Dan kau jadi gila karena memikirkannya.


"Ada apa? Kok dia bisa keluar?" teriak Rendy, muncul dari garasi sambil membawa bola.


"Pasti menyelinap ke luar," jawabku sambil mengangkat bahu.


Kami main lagi selama beberapa menit. Tapi udara dingin dan basah. Dan sama sekali tidak asyik, terutama buatku.


Aku tidak berhasil memasukkan satu bola pun. Kami mengakhiri permainan dengan lomba tembakan penalti,


permainan pendek seperti KUDA. Rendy menang mudah. Nilaiku masih


nol besar. Ketika kami berlari ke rumah, Rendy menepuk punggungku.


"Mau main lempar-lemparan ke dalam gelas saja?" godanya. "Atau mungkin


Bekel?"


Aku mengeluh kesal. Tiba-tiba aku ingin sekali menceritakan padanya kenapa aku merasa begitu kecewa, menceritakan tentang wanita aneh tadi dan tiga permintaanku.

__ADS_1


__ADS_2