Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Menunggu Orang Tuaku Pulang


__ADS_3

Aku menonton televisi di ruang tengah sambil tiduran di sofa. Aku menonton film kartun. Saat sedang asik menonton televisi, tiba-tiba telepon rumahku berdering. Kubiarkan saja, tak kuangkat. Paling itu Colin. Deringpun terhenti. Tapi hanya dalam hitungan detik telepon itu berdering kembali. Aku penasaran, akhirnya aku angkat.


"Halo, Siapa?" desakku.


"Shopie, ini aku Yuni" jawabnya dengan suara gembira.


Aku banting telepon keras-keras. Kembali merebahkan tubuhku di sofa. Menonton film kartun dan menunggu orangtuaku pulang. Aku mulai berfikir keras bagaimana caranya mengakhiri semua ini. Harapan satu-satunya cuma ada pada Marissa, wanita aneh itu. Aku akan secepatnya mencari dia, akan kuminta ia untuk membatalkan permintaan terakhirku. Apapun akan aku lakukan. Kalau perlu aku akan membersihkan rumahnya selama sebulan penuh.


Tapi dimana rumahnya? Ia sangat misterius. Apa ia punya rumah? Seperti apa rumahnya? Aku membayangkan rumahnya pasti seram, bangunanya pasti mirip rumah-rumah penyihir yang sering aku lihat di film kartun. Besar dan gelap dengan banyak kelelawar terbang memenuhi seluruh ruangan. Aku bergidik ngeri.


Aku juga sedang merencanakan untuk pindah sekolah ke tempat nenekku saat kenaikan kelas nanti, dengan begitu Yuni akan kehilangan jejakku. Tidak mungkin kan ia akan ikut pindah bersamaku. Kalau Yuni masih seperti itu, akan aku lakukan rencana itu.


Aku tahu itu sulit, Ayah dan Ibuku pasti akan bertanya apa alasanku. Kalaupun aku bercerita, belum tentu mereka percaya. Bisa-bisa mereka akan mentertawakan aku. Tapi aku akan berusaha membujuk orang tuaku untuk mengabulkan keinginanku. Kita lihat saja nanti.


Terdengar suara derap langkah dari atas. Kulihat kaki Rendy satu demi satu menuruni anak tangga. Saat dirinya terlihat sempurna, aku segera bangkit, kuambil bola basket yang tadi diberikan kepadaku.


Aku langsung melemparkan bola itu ke arahnya. Ia tampak kaget menerima bola itu, hampir saja ia terhempas jatuh karena hilang keseimbangan. Tapi ia berhasil menangkap bolanya. Makanan yang di bawanya terpental, dan aku tertawa melihat kejadian itu. Lucu sekali, pikirku.


Rendy terlihat marah, wajahnya merah padam. Ia berusaha melemparkan kembali bola itu kepadaku. Aku segera mengangkat tangan kananku dan mengibasnya di udara.


"Jangan...jangan!" jeritku sambil menatap tajam matanya, sementara tangan kiriku menunjuk ke perjuru ruangan.

__ADS_1


Untungnya Rendy menyadari kode yang aku berikan. Ia tidak jadi melempar bola itu. Ia memungut makanannya dari lantai dan melangkah menuju ruang sempit tempat kami bermain tenis meja. Ia menaruh bolanya disana.


Aku tidak bisa membayangkan jika bola itu di lempar dan aku tak berhasil menangkapnya. Bolanya akan memantul liar membuat seisi ruangan hancur. Di ruang tengah terdapat meja kaca dan vas bunga, televisi juga lemari tempat menaruh macam-macam benda koleksi orang tuaku, ada juga aquarium. Entah apa jadinya nanti.


Rendy muncul dan duduk di sebelahku. Wajahnya tampak kesal karena kejadian tadi. Akupun segera meminta maaf. Tapi ia diam saja.


"Sampai kapan kau akan menyukai film kartun?" tiba-tiba ia bertanya padaku. Tangannya sibuk membuka makanan yang di bawanya tadi.


"Kenapa dengan film kartun? Apa ada yang salah?" protesku. Aku melihat ia memasukan makanannya ke dalam mulut.


Rendy menatapku, "Film kartun itu tidak ada manfaatnya, lebih baik kau melihat siaran berita".


"Apa menariknya berita?" ucapku.


"Tapi aku tak ingin tahu apa yang terjadi di luar sana." Aku menjawab sekenanya. "Kenapa kau selalu sibuk mengurusi aku? Sedangkan aku tidak pernah peduli dengan urusanmu."


Rendy tak menjawab. Ia malah menyorongkan makanannya kepadaku, dan aku langsung mengambilnya. Ayah dan Ibuku selalu mengajarkan kami saling berbagi. Dan kami mengikuti perkataannya.


"Bagaimana pertandingan basketmu?" Rendy mengganti topik pembicaraan.


"Payah" jawabku singkat.

__ADS_1


"Menang atau kalah?"


"Kalah," kataku. Mulutku sedang penuh makanan saat menjawab pertanyaannya.


"Aku sudah tahu jawabannya, pasti tim basketmu kalah," ejek Rendy.


Aku mendengus kesal, "Kalau kau sudah tahu, buat apa kau bertanya padaku, hah!"


Rendy mengambil remote televisi dan mematikannya. Aku berusaha merebut kembali remote tersebut. Tapi ia segera menyembunyikan di balik bantal sofa.


"Ingat pesan Ibu, kita tidak boleh menonton televisi dari jam enam sampai jam sembilan malam," katanya. "Kau ingat pesan itu kan, Shop"


Aku malas berdebat dengan Rendy, ucapannya memang benar. Jam menunjukan pukul 06.15 petang saat kudengar suara klakson mobil ayahku. Aku berlari ke depan untuk membuka gerbang, Rendy mengikutiku di belakang.


"Bantu Ibumu membawa belanjaan, cepat!" perintah Ayahku saat ia turun dari mobil.


Kulihat ibu kesulitan membawa banyak belanjaan, kurasa ia habis berbelanja keperluan bulan ini. Aku membantu membawakan sebagian belanjaanya.


"Kau buka bagasi, Ren." kudengar Ibu memerintah Rendy. "Disana masih ada beberapa belanjaan, kau bawa masuk ke dalam, segera!"


Aku membawa belanjaan langsung ke dapur, yang disusul oleh Rendy.

__ADS_1


"Letakkan dimeja, terus rapihkan juga," perintahku. "Susun semua di tempat biasa Ibu menyimpan belanjaan itu"


Aku tak bermaksud menyuruhnya, aku hanya inggin menggodanya. Tapi Rendy langsung bereaksi, ia mengambil kain serbet dan melemparnya ke arahku. Aku bergerak cepat menghindar, jadi kain serbet itu tidak mengenai aku. Sebelum Rendy mengambil kembali serbet itu, aku segera berlari ke ruang tengah.


__ADS_2