Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Pulang Sekolah


__ADS_3

Sepanjang siang aku memikirkan pertanyaan Colin. Nyaris tidak kudengarkan perkataan orang padaku. Satu jam menjelang pulang kami ada ulangan Bahasa Inggris dadakan. Hanya kupandangi soal-soal itu tanpa sedikitpun kukerjakan.


Sesaat kemudian, kudengar Miss.Lina, guru Bahasa Inggrisku, memanggil namaku. Ia berdiri tepat di depanku, tapi kurasa aku baru mendengar panggilannya setelah yang kelima atau keenam kalinya.


"Kau baik-baik saja, Shopie?" tanyanya, ia membungkuk ke arahku. Aku tahu ia heran kenapa aku belum mulai mengerjakan ulangan.


"Saya merasa agak kurang enak badan," jawabku pelan. "Sebentar lagi juga sembuh."


Aku akan sembuh begitu aku menemukan wanita aneh itu dan menyuruhnya menghilangkan mantranya!


Tapi di mana aku bisa menemukannya? pikirku. Di mana? Sepulang sekolah, aku pergi ke ruang olahraga untuk latihan basket. Semua anggota timku absen, jadi tidak ada latihan. Absen gara-gara aku...


Aku melangkah pelan ke lemari penyimpananku dan mengambil jaket.


Ketika membanting dan mengunci pintu, aku dapat ide. Hutan itu. Hutan Kota itu!


Di situlah aku dulu bertemu Marissa. Pasti aku bisa menemukan dia lagi di sana. Mungkin itu tempat pertemuan rahasianya, pikirku.

__ADS_1


Mungkin ia menungguku di sana. Tentu saja! kataku dalam hati, menyemangati diri sendiri. Kenapa lama sekali aku baru teringat pada hal ini? Rasanya tepat sekali.


Sambil bersenandung sendiri, aku berlari ke pintu. Lorong hampir kosong. Aku berhenti ketika kulihat ada sosok yang kukenal berdiri di pintu. "IBU!"


"Hai, Shop." Ia melambaikan tangan padaku, meskipun aku berdiri tepat di


depannya.


Ibuku mengenakan kemeja kotak-kotak dan memakai celana warna hitam.


"Ibu, buat apa ibu ke sini?" teriakku, tidak bermaksud seketus kedengarannya. Aku tidak sabar ingin mengambil sepeda dan pergi ke


"Kau tidak lupa jadwal pertemuanmu dengan Dr. Sonny?" tanyanya sambil melambai-lambaikan kunci mobil yang dipegangnya.


"Dokter gigi itu? Hari ini?" teriakku. "Aku tidak bisa!"


"Harus bisa," jawabnya tegas sambil menarik lengan jaketku. "Kau tahu betapa sulitnya memperoleh kesempatan berobat dengan Dr.Sonny."

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau pakai kawat gigi!" teriakku, sadar aku kedengaran agak berlebihan dan agak konyol.


"Mungkin kau tidak perlu pakai kawat gigi,"kata Ibu sambil menarikku ke pintu. "Mungkin kau cuma harus pakai penahan gigi. Terserah apa kata Dr. Sonny."


"Tapi, Ibu aku tidak mau”. Aku bingung mencari alasan. "Aku tidak bisa ikut Ibu. Sepedaku ada di sini!" teriakku putus asa.


"Ambillah. Kita taruh di bagasi mobil," jawabnya tanpa berkedip.


Tidak ada pilihan lain. Aku harus ikut Ibu. Sambil menarik napas kuat-kuat, kudorong pintu dan bergegas melewatinya menuju tempat parkir sepeda.


Ternyata aku harus pakai kawat gigi selama paling tidak enam bulan. Aku harus bertemu Dr. Sonny lagi minggu depan untuk memasangkannya. Kurasa aku mestinya kesal karena harus pakai


kawat gigi. Tapi susah rasanya memikirkan kawat gigi kalau di dalam pikiranku ada Yuni, Anna, dan anak-anak lain.


Aku terus saja terbayang-bayang mereka makin sakit, semakin kurus,


semakin lemah. Aku terus membayangkan hal-hal yang mengerikan ini. Aku sedang berada di ruang olahraga, mondar-mandir membawa bola, semakin lama semakin cepat. Yuni, Anna, dan anak-anak lain

__ADS_1


berbaring terlentang di bangku, berusaha melihat, tapi tidak sanggup


mengangkat kepala.


__ADS_2