Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Sore Hari


__ADS_3

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku tampak lesu dengan rambut berantakan, sementara seragamku terlihat kusut. Seperti orang habis naik roller coaster saja, Pikirku.


Kusilangkan tanganku di atas meja rias, lalu kudaratkankan kepalaku di atasnya. Aku menguap lebar. Sebenarnya aku masih mengantuk, kalau saja Rendy tak membangunkan aku. Mungkin aku masih tertidur.


"Hei Shop, bangun! Bukannya mandi, malah tidur lagi," suara Rendy terdengar dari bingkai pintu.


Aku mengangkat kepalaku, menoleh ke arahnya. "Kau cerewet sekali, percis seperti Ibu." gerutuku.


"Tapi Shop, ini…"


"Aku tahu ini sudah sore," potongku. "Kau tahu tidak, tadi di sekolah aku habis bertanding dan waktu aku pulang, aku di kejar anjing Pak Hendry."


"O…" Rendy membulatkan mulutnya, dibuka kacamatanya yang berbingkai hitam.


Rasanya aku ingin sekali melempar jam beker yang ada di hadapanku. Tapi kuurungkan.


"Mengertilah Ren, badanku masih lelah, biarkan aku istirahat sebentar lagi. Nanti juga aku mandi." kataku pelan.


"Baiklah," balasnya. "Maaf, aku tak tahu," Rendy berlalu meninggalkanku.

__ADS_1


Aku menatap cermin kembali, kusisir rambutku yang berantakan. Rambutku terlihat kusam dan lengket. Aku rasa aku harus keramas waktu mandi nanti. Tercium aroma tidak sedap dari tubuhku, badanku juga terasa gerah. Kulirik jam di hadapanku pukul 04:45 sore. "Lebih baik aku mandi sekarang." kataku dalam hati.


Aku bangun dari kursi, melangkah gontai menuju kamar mandi. Kamar mandiku ada di bawah, pelan-pelan aku menuruni tangga. Aku tidak ingin sampai terjatuh karena kecerobohanku sendiri.


Dua puluh menit aku habiskan untuk mandi dan memakai pakaian. Badanku terasa segar sekarang, rasa lelah mulai hilang dari diriku. Biasanya selesai mandi aku langsung membuka buka pelajaranku, menatap tulisanku yang berantakan dan jelek. Hanya itu. Hanya melihat dan membuka. Aku terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah setelah makan malam. Tapi hari ini tidak ada tugas sama sekali dari guruku. Hebat.


Berada di kamar membuatku suntuk, aku memilih keluar. Saat sampai di ruang tengah, kudengar telepon rumah berdering.


Aku angkat, "Hallo, siapa?" tanyaku.


"Hai, Shop! Bagaimana pertandingan basketmu tadi?" tanyanya balik kepadaku.


"Maksudmu?" tanya Colin tidak mengerti.


"Kau pasti tahu, kan! Yuni benar-benar ingin mirip denganku, jadi bisa kau bayangkan sendiri. Yuni seperti bayangan untukku, setiap gerakan yang aku lakukan pasti di ikutinya. Benar-benar di ikutinya." kataku menjelaskan.


"Bagus dong," balasnya. Kudengar ia tertawa.


"Bagus apanya!" bentakku. "Yuni membuatku malu di depan penonton".

__ADS_1


"Kurasa itu memang bagus, Shop. Dari pada dia mengejek dan mengolok-olokmu seperti biasanya," jawabnya.


Kubanting telepon, tanpa menjawab. Aku malas menanggapi ocehannya. Ia bilang perubahan pada Yuni hal yang bagus, coba saja ia bertukar posisi denganku. Biar dia tahu bagaimana rasanya jadi aku. Apa ia akan tetap menganggap itu bagus.


Aku duduk di teras depan rumahku, kulihat Rendy sedang bermain basket sendiri. Ia mengenakan kaus tanpa lengah, di balik kausnya tertulis nomor 23, namanya tertera di atas nomor itu. Nomor itu di pilih karena alasan nomor legendaris dari pemain idolanya Michael Jordan. Siapa Michael Jordan? Setiap aku tanya, ia bukan menjawab tapi menyuruhku mencari jawabannya sendiri di google. Aku bingung, apa sih susahnya menjawab!


Aku akui Rendy memang jago bermain basket, padahal tingginya masih di bawah aku. Tapi dia memiliki skil yang hebat. Sayangnya ia tak pernah punya waktu untuk mengajariku. Bukan tak punya waktu, tapi ia tak punya niat untuk mengajari aku. Ia tahu aku tak pandai bermain basket, ia merasa percuma saja dan cuma membuang-buang waktunya saja bila harus mengajariku.


"Hei, Shop! Mau bertanding denganku? ajak Rendy.


Aku tak menjawab, aku malah jadi teringat kekacauan saat pertandingan basket hari ini. Rendy masih asik bermain sendirian, aku hanya menonton. Melihat ia melemparkan bola ke ring dan masuk. Itu mudah sekali baginya. Andaikan aku seperti dia.


"Ren, sudah sore! Mandi sana sebantar lagi Ayah dan Ibu pulang," kataku memberitahu.


Rendy berhenti, melangkah ke arahku. Lalu diberikan bolanya kepadaku. "Selamat berlatih, Shop."


"Siapa yang mau berlatih," gerutuku. "Bawa sendiri bolanya, kenapa kau berikan padaku."


Rendy benar-benar membuatku marah. Bagaimana tidak marah, ia yang bermain basket, tapi aku yang di suruh membawa bolanya ke dalam.

__ADS_1


Langit tampak berwarna jingga sejauh mata memandang, matahari hampir tumbang. Burung-burung terbang berkelompok menuju sarangnya. Akupun beranjak masuk, membawa bola basket yang diberikan Rendy.


__ADS_2