Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Pertandingan Basket 2


__ADS_3

Sepulang sekolah aku bergegas ke gedung olah raga, ingin latihan


basket. Karena sibuk memikirkan permintaan-permintaanku, aku jadi


lupa siang ini kami akan bertanding.


Tim anak perempuan dari Sekolah Menengah Pertama Bumi Pertiwi sudah berada di lapangan, sedang melakukan pemanasan dengan menembak lay-up.


Sebagian besar tembakan mereka masuk. Mereka bertubuh tinggi besar dan kelihatannya hebat. Kami dengar tim mereka benar-benar bagus dan sepertinya memang begitu.


Aku cepat-cepat berganti pakaian dan segera keluar dari ruang ganti pakaian. Teman-teman satu tim-ku sudah berkumpul di sekeliling Pak Edi untuk menerima pengarahan terakhir sebelum bertanding. Sambil berlari mendekati mereka, kutangkupkan kedua tanganku dan berdoa semoga aku tidak membuat malu diriku sendiri dalam pertandingan ini.


Yuni tersenyum padaku ketika aku bergabung dengan mereka. Lalu ia benar-benar membuatku malu bukan main dengan berteriak, "Ini dia! Ini dia bintang kita, Shopie Wilonna!"


Tentu saja Anna dan anak-anak lain tertawa. Tapi tawa mereka segera menghilang ketika Yuni memotong


perkataan Pak Edi dan mengumumkan,

__ADS_1


"Sebelum pertandingan dimulai, kurasa sebaiknya kita angkat Shopie jadi kapten tim."


"Kau bercanda Yuni!" teriak Anna. Beberapa anak tertawa. Pak Edi menatapku, bingung.


"Pemain terbaik kita seharusnya jadi kapten," kata Yuni serius. "Jadi seharusnya Shopie, bukan aku. Yang setuju harap angkat tangan." Yuni segera mengangkat tangan, tapi yang lain tidak.


"Kenapa kau ini?" tanya Anna marah. "Mau apa kau, Yuni menghancurkan tim kita?"


Yuni dan Anna bertengkar sambil berteriak-teriak, dan Pak Edi terpaksa


memisahkan mereka. Pak Edi menatap Yuni seolah-olah ia sudah gila. Lalu ia berkata,


Pertandingannya benar-benar kacau. Yuni meniru semua yang kulakukan. Kalau aku berusaha membawa bola, dan tersandung, Yuni akan membawa bola dan tersandung.


Kalau lemparan bolaku jelek sehingga bisa ditangkap pemain lawan, Yuni juga akan melakukan lemparan jelek. Ketika aku gagal melakukan lay-up yang gampang di bawah ring, Yuni juga melakukan hal yang sama, sengaja gagal melakukannya ketika ia mendapat bola.


Kegagalan terus terjadi berlipat ganda karena Yuni meniru-niru aku! Dan ia terus-terusan bertepuk tangan dan berteriak, menyemangati aku.

__ADS_1


"Bagus, Shop! Usaha yang bagus, Shop! Kau yang paling hebat, Shop!" Menjengkelkan sekali!


Dan aku bisa, melihat pemain-pemain tim basket sekolah Bumi Pertiwi mengejek kami, dan tertawa keras ketika Yuni jatuh tersungkur ke kursi penonton hanya karena sebelumnya aku melakukannya.


Anna dan pemain-pemain lain di timku tidak tertawa. Wajah mereka kesal dan marah.


"Kau sengaja mengacau!" Anna menuduh Yuni di tengah-tengah


pertandingan.


"Tidak!" jawab Yuni marah.


"Kenapa kau tiru-tiru si *b*angau kikuk itu?" kudengar Anna marah-marah.


Yuni mencengkeram Anna dan meninjunya, dan mereka segera bergulat seru di lantai sambil menjerit dan mencakar-cakar. Terpaksa Pak Edi dan wasit memisahkan mereka. Kedua anak itu mendapat ceramah panjang lebar tentang sportivitas dan disuruh


masuk ke ruang ganti pakaian. Pak Edi menyuruhku istirahat dan duduk di bangku cadangan. Aku senang. Aku sudah tidak bersemangat main.

__ADS_1


Sambil menonton lanjutan pertandingan, aku tidak bisa lagi berkonsentrasi. Aku terus teringat pada permintaanku yang ketiga dan yang terakhir, dan bagaimana aku telah mengacaukannya lagi. Permintaan ketigaku yang awalnya hebat dan menyenangkan, kini menjadi petaka. Benar-benar petaka.


__ADS_2