Mulutmu Harimaumu

Mulutmu Harimaumu
Tiga Permintaan


__ADS_3

Hari sudah sore, ibu dan ayah mungkin sudah pulang bekerja. Kalaupun mereka belum sampai rumah, kakak ku Rendy mungkin saja ada di rumah, pasti dia kebingungan kenapa aku belum pulang juga.


Kulihat ada mobil sedan melaju ke arah kami, lampu depannya menyala. Kulindungi mataku supaya tidak silau terkena cahaya terang itu dan hampir saja menjatuhkan sepedaku lagi.


Wanita itu tetap berjalan di tengah jalan , aku berjalan ke pinggir supaya ia bisa menyingkir dari jalanan mobil tadi. Tapi tampaknya dia tidak peduli. Dia tetap berjalan lurus ke depan, ekspresi wajahnya tetap tidak berubah, meskipun wajahnya terang benderang terkena sinar lampu.


"Awas !" teriakku. Aku tidak tahu apakah dia mendengarku.


Mobil itu berbelok untuk menghindarinya dan membunyikan klakson sambil berlalu.


Wanita itu tersenyum hangat padaku ketika kami terus berjalan.


"Baik sekali kau mau mengurus orang yang benar-benar tidak kau kenal." katanya


Tiba-tiba lampu menyala, jalanan yang basah jadi berkilau-kilau. Semak-semak dan pagar tanaman, rumput, trotoar semua kelihatan berkilau.


"Sudah sampai, ini Malabar," kataku sambil menunjukkan papan nama jalan. Akhirnya ! pikirku.


Aku cuma ingin mengucapkan selamat tinggal pada wanita aneh ini dan pulang secepat mungkin.

__ADS_1


Kilat menyambar, kali ini lebih dekat.


Melelahkan sekali hari ini, pikirku sambil menarik nafas.


Lalu aku teringat Yuni. Kejadian menyebalkan sepanjang hari tadi tiba-tiba memasuki pikiranku lagi. Aku merasa marah sekali.


"Arah timur kemana?" tanya wanita itu, suaranya yang gemetaran membuyarkan lamunanku.


"Timur ," kupandang kedua arah Malabar, berusaha menghilangkan Yuni dari pikiranku. Kutunjukan padanya arah timur.


Tiba-tiba angin berhembus, meniup hujan ke arahku. Hawa dingin terasa menusuk di tubuhku. Kueratkan peganganku pada setang.


"Kau baik sekali," kata wanita itu sambil melilitkan syal di lehernya. Matanya yang kelam dan tajam menatap mataku. "Kau begitu baik, kebanyakan anak-anak muda tidak baik seperti kau."


"Tidak, tunggu," pintanya. "Aku ingin membalas budimu."


"Hah !" seruku, jangan tidak usah."


"Aku ingin membalas budimu," kata wanita itu ngotot.

__ADS_1


Dicengkramnya pergelangan tanganku lagi. Dan sekali lagi kurasakan dingin yang mengejutkan.


"Kau sudah begitu baik," ulang wanita itu. Begitu baik pada orang yang tidak kau kenal."


Aku mencoba melepaskan pergelangan tanganku, tapi cengkramannya kuat sekali.


"Anda tidak perlu membalas budi padaku," sahutku


"Aku ingin membalas budi," jawabnya, ditatapnya wajahku, tangannya masih mencengkram pergelangan tanganku.


"Begini saja, akan aku kabulkan tiga permintaanmu."


Dia gila, pikirku. Kutatap matanya yang hitam. Air hujan menetes dari rambutnya, turun ke bagian samping wajahnya yang pucat. Bisa kurasakan tangannya yang dingin, meskipun tanganku tertutup mantel.


Wanita ini gila, pikirku. Dua puluh menit aku berjalan di tengah hujan lebat dengan orang gila.


"Tiga permintaanmu," ulang wanita itu, di pelankan suaranya seolah-olah tidak ingin terdengar oleh orang lain.


"Terima kasih, aku benar-benar harus pulang," kataku. Kutarik pergelangan tanganku dari cengkramannya dan kuputar sepedaku.

__ADS_1


"Akan kukabulkan tiga permintaanmu," kata wanita itu. Apa saja yang kau minta akan jadi kenyataan.


Dibawanya tas ungu ke depan dan dengan hati-hati dia mengeluarkan sesuatu. Bola kaca, warnanya merah cerah, seperti anggur besar. Bola kaca itu menyala meskipun di sekeliling kami gelap.


__ADS_2