
Sepulang sekolah aku ikut latihan basket, meskipun segan-segan, aku tau kalau aku tidak datang, Yuni akan mengatakan pada semua orang bahwa dia berhasil menakut-nakuti aku.
Aku datang karena tau Yuni tidak mau aku datang, yang menurutku adalah alasan tepat. Selain itu, aku juga perlu gerak badan. Aku perlu berlari bolak-balik melintasi lapangan berberapa ratus kali supaya perasaan marahku bisa hilang. Aku perlu menghilangkan rasa frustasi karena tidak bisa mencekik Yuni sampai puas.
"Ayo lari cepat," teriak Pak Edi.
Berberapa anak lain mengeluh, tapi aku tidak. Aku sudah berlari sebelum Pak Edi meniup peluit.
Kami semua mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan. Pak Edi mengenakam kaus olahraga berwarna hijau yang longgar. Rambut Pak Edi keriting, tubuhnya tinggi dan kurus, dia kelihatan seperti batang bambu.
Pak Edi tidak terlalu suka olahraga. Dia memberitahu kami alasan menjadi pelatih basket anak perempuan karena dibayar ekstra dan dia perlu uangnya.
Setelah berlari di sekeliling lapangan, latihan berlangsung seperti biasanya. Yuni dan Anna sering saling memberi bola dan mereka berdua sering menembakkan bola, tembakan melompat, tembakan lay-up, bahkan tembakan melengkung.
Anak-anak lain berusaha mengikuti mereka, aku berusaha tidak perduli. Aku berdiri sendiri. Aku masih terbayang-bayang kekacauan gara-gara puding tapioka tadi dan ingin sebisa mungkin tidak berhubungan dengan Yuni atau siapa saja. Maksudku, aku sedang benar-benar suntuk.
__ADS_1
Saat mengamati Yuni menembak sejauh enam meter, menangkap pantulan bolanya sendiri dan memberikan bola pada Anna dengan teknik dua tangan sempurna, sama sekali tidak mengurangi kesuntukkanku. Tentu saja keadaan semakin parah.
Anna ternyata memberikan bola padaku, aku tidak berhasil menangkapnya. Bola itu lolos dari tanganku, mengenai dahiku, dan menggelinding ke luar.
"Bangun, Shopie !" kudengar Pak Edi berteriak.
Aku tetap berlari-lari, aku berusaha tidak kelihatan gugup karena telah menggagalkan kesempatanku berlatih.
Berberapa menit kemudian, kulihat bolanya terbang ke arahku lagi dan kudengar Yuni berteriak,
Aku terkejut sekali mendengar dia terang-terangan menyebutku "Bangau" sehingga aku jadi bisa menangkap bola.
Aku mulai membawa bola ke jaring, tiba-tiba Anna mengulurkan tangan dan dengan mudah mencuri bola. Dia berbalik dan menembakkan bola ke jaring, hampir saja masuk.
"Hebat Anna !" teriak Pak Edi.
__ADS_1
Dengan nafas terengah-engah, aku berbalik dan berkata marah pada Yuni.
"Kau bilang apa tadi?" Yuni pura-pura tak mendengar.
Pak Edi meniup peluit. "Fast break!" teriaknya.
Kami berlatih fast break sekaligus tiga-tiga. Kami membawa bola cepat-cepat, memberikan bola ke depan dan ke belakang. Lalu anak yang berada di bawah hoop sambil membawa bola harus menembak. Aku harus latihan slow break ! pikirku sendiri.
Aku tidak punya masalah untuk menyamai anak lain, kakiku kan paling panjang, aku bisa lari lumayan cepat. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa kalau sedang lari.
Ketika Yuni, Anna dan aku ribut berlari-lari di lapangan, aku bersiap semoga permainanku tidak memalukan. Keringat bercucuran di dahiku, jantungku berdebar-debar.
Kuambil bola pendek dari Anna, membawanya ke bawah jaring dan menembak. Bolanya terbang lurus ke atas lalu mental di lantai. Mendekati papan ring saja tidak.
Kudengar anak-anak di pinggir lapangan tertawa. Yuni dan Anna seperti biasa mencibir meremehkan.
__ADS_1
"Tembakkan bagus !" seru Yuni, anak-anak semakin keras tertawa.